
"Gue juga nggak tahu, Ci."
Cia terdiam lalu tertunduk.
"Tenang aja! Entar orangnya datang juga kok, yah tapi baru kali ini sih mereka datang terlambat biasanya kan mereka paling cepat," jelas Yuna.
Cia mengangguk, ujaran Yuna juga ada benarnya. Biasanya ketika Cia masuk ke dalam kelas sudah ada Adelio dan Fika di kursinya masing-masing tapi sekarang mereka dengan kompak tak datang sekolah.
Cia kini terdiam mematung sambil menopang dagunya di atas meja, kini Cia terasa menyendiri sambil menatap kursi Adelio dan Fika yang nampak kosong secara bergantian. Hari ini tak ada bedanya dengan apa yang Cia rasakan semalam, sunyi. Sangatlah sunyi.
Disatu sisi lain gerombolan Loli dan dua sahabatnya itu terlihat menatap bingung pada bangku Adelio dan Fika yang kosong. Sepertinya mereka juga menyadari hal itu.
"Kok Fika nggak ada?" bisik Marisa.
"Iya, si Adelio juga nggak ada," Ujar Loli sambil menatap kursi Adelio dan Fika secara bergantian.
"Kok bisa kompak sih? Kayak orang pacaran aja," tanya Marisa lagi.
Loli mendecapkan bibirnya lalu mendorong dahi Marisa pelan membuat Marisa meringis lalu mengusap dahinya.
"Aduh, apaan sih?"
"Lo lupa?"
"Apa?" Tatap Marisa serius.
"Adelio sama Fika kan emang pacaran," ujar Loli.
"Apa?" Kaget Marisa dengan kedua matanya yang terbelalak.
"Astaga, Ris. Lo lupa kalau si Adelio bilang gitu di acara ulang tahun gue?" jelas Loli.
Cia mampu mendengar suara bisikan Marisa dan Loli itu, yah suara mereka cukup jelas di telinga Cia. Lalu apakah benar mereka sudah pacaran sejak dulu atau mereka memang merasakan cinta setelah berpura-pura pacaran untuk hadir di acara ulang tahun Loli. Kini Cia begitu sangat sunyi, betul-betul sangat sunyi.
Cia yang terdiam itu kini menoleh menatap Yuna dan Faririn yang kini saling tertawa dan bercanda gurau di depan sana membuat Xia semakin terpuruk.
...___***___...
Langkah pelan Cia kini melangkah di jalan trotoar diiringi suara kendaraan yang berlalu lalang di jalan beraspal. Kini jam pelajaran telah usai dan kini jam pulang membuatnya melangkah sendiri. Semuanya terasa sangat hampa.
Cia tertunduk sedih sambil sesekali menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. Rasanya Cia rindu suasana yang dulu, suasana yang begitu membahagiakan.
Kini Cia sendiri. tak ada sahabatnya, Fika yang selalu memboncengnya pulang ke rumah, mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, merangkul Cia seperti biasanya, semuanya itu kini telah lenyap begitu saja. Kini Cia harus merasakan kesendirian.
Tak ada lagi Adelio yang selalu membantunya ketika Cia sedang merasa kesusahan dan sedih. Cia tak tahu mereka kenapa tak datang ke sekolah secara bersamaan. Kemana mereka?
PIP
PIP
PIP
Suara klakson motor itu terdengar tepat di belakang Cia lalu tak lama sebuah motor berukuran besar berhenti tepat di samping Cia yang kini menghentikan langkahnya.
"Hay Cia," sapa Ogi tersenyum manis.
Cia terdiam, bagaimana bisa Ogi menghampirinya di pinggir jalan lalu di mana gadis-gadis yang selalu Ogi bonceng itu bahkan kedua teman Ogi, bastian dan Dirga pun ada tepat di belakang motor Ogi.
"Kok bengong?" tanya Ogi sedikit tertawa seakan menebak wajah Cia jika Cia merasa terkejut dengan kehadirannya.
"Aa?" Tatap Cia kebingungan.
"Kayaknya lo udah mulai pikung deh," Ujar Bastian lalu tertawa.
"Bas, gue nggak suka lo ngomong kayak gitu sama si Cia!" ujar Ogi menatap kesal ke arah Bastian.
Bastian kini terdiam setelah mendapat teguran itu dari Ogi.
"Udah sana lo pergi!" pintah Ogi.
Bastian dan Dirga kini hanya mampu mengangguk lalu segera beranjak pergi setelah menancapkan gas melajukan motornya cukup kencang hingga tak terlihat lagi dari pandangan Cia.
Cia kini hanya mampu terdiam membisu sembari menatap bingung dengan apa yang baru saja Ogi katakan kepada Bastian, Cia tak tahu mengapa Ogi mengatakan hal itu.
"Cia," panggil Ogi.
"Lo pulangnya sama siapa?" tanya Ogi.
Cia terdiam seribu bahasa.
Kini Cia benar-benar dibuat kebigungan dengan sikap Ogi yang kini berubah sangat derastis, bahkan nada bicaranya begitu terdengar sangat lembut. Entah hantu apa yang merasuki otak Ogi sampai-sampai ingin mengantarnya pulang ke rumah.
"Maaf gue nggak bisa," ujar Cia lalu segera melangkah meninggalkan ogi yang kini nampak sangat kesal karena telah ditolak lagi dan diabaikan oleh Cia membuatnya sangat marah memukul pelan helm hitamnya.
"Cia," ujar Ogi sambil melajukan motornya pelan berusaha mensejajarkan dirinya dengan Cia.
"Gue bonceng yah!" Harap Ogi.
"Gue nggak mau," tolak Cia sedikit mulai kesal tanpa menatap ogi. Ogi benar-benar cukup keras kepala sekarang.
"Cia."
"Lo masih marah sama gue?"
"Gue kan udah minta maaf sama lo."
"Cia."
Tak ada jawaban dari Cia, cia tetap saja melangkah.
"Semalam lo kok cuman read chat gue dan nggak di bales?"
"Terus kok lo matiin telpon gue padahal kan gue cuman mau minta maaf sama lo?"
"Ciaaa!"
"Ciaaaa!!!" teriak Ogi dengan nada lembut.
Cia menghetikan langkahnya dengan tiba-tiba lalu menoleh menatap ogi dengan tatapan cukup tajam.
Ogi ikut terdiam lalu menelan ludah, baru kali ini ada seorang gadis yang menatapnya dengan tatapan setajam itu.
"Gue udah maafin lo kok. Lo tenang aja!" ujar Cia dengan nada dinginnya.
Ogi tersenyum kegirangan lalu senyum itu sirna ketika Cia kembali melangkah meningalkanya.
"Ciaaaa" panggil Ogi lagi sambil mengikuti Cia dengan motornya.
"Lo tu kenapa sih?" tanya Cia kesal lalu menghentikan langkahnya membuat Ogi ikut berhenti.
"Gue cuman pengen ngomong sama lo."
"Yah udah ngomong sekarang!" suruh Cia kesal.
Ogi terdiam. Baru kali ini Ogi merasa takut untuk bicara.
"Kok diem?"
"Katanya mau ngomong?" tanya Ogi.
"Iya ini gue mau ngomong, Ciaaaa," ujar Ogi
cukup kesal.
Tenyata menghadapi gadis berandal seperti Cia cukup melelahkan dan butuh kesabaran. Ogi tak tau bagaimana bisa ketua gang exoplanet itu tahan dengan sikap Cia yang seperi ini.
"Yah udah ngomong!" suruh Cia.
...___***___...
"Sekarang lo mau ngomong apa sama gue?" tanya Cia yang kini telah berada di sebuah kursi panjang halte.
Ogi yang berada di samping Cia kini nampak terdiam. Bagaimana bisa jantung Ogi berdetak secepat ini. Ini tak seperti biasanya, bagaimana mungkin jantung pria raja fuckboy yang telah memiliki mantan sebanyak 330 bisa digetarkan hanya dengan gadis berandal ini.
"Gi," panggil Cia kesal.
"Gue udah duduk di sini sama lo udah lebih lima menit nungguin lo yang cuman bengong kayak orang bego dan lo belum ngomong sampai sekarang walau hanya satu kata," jelas Cia kesal.
Ogi kini melirik wajah Cia yang begitu jelas lalu kembali tertunduk, kini Ogi tak tahu mengapa ketua gang itu bisa tahan dengan Cia. Ogi sadar, semua itu karena Cia yang memiliki wajah yang cantik.
Baru kali ini ia bertemu dengan gadis sederhana tapi kecantikannya begitu sempurna, bahkan gadis yang bermakeup saja tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Cia.
"Lo itu sebenarnya niat nggak sih ngomong?" tanya Cia dengan nada malas.
Ogi menghembuskan nafas berat lalu segera tertunduk sambil mengacak-acak rambutnya sambil mengeluh.