Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 221



Cia menoleh, mendapati para montir-montirnya yang kini berlari ke arahnya dengan raut wajah yang nampak gelisah.  


"Cia, ada apa dengan bos Ceo?"


"Bos Ceo dimana sekarang?"


"Ini beneran, Cia?"


"Bos Ceo baik-baik aja kan?"


"Dia nggak kenapa-kenapa kan?"


"Apa yang terjadi?"


Pertanyaan itu kini langsung menyambar satu persatu untuk Cia dari montir-montir yang kini sudah berada di depan Cia.


"Bos Ceo masih di dalam operasi," jawab Cia membuat semuanya terkejut.


"Innalilahi," ujar Adam membuat para montir kini terbalalak kaget sembari dengan kompak mereka menatap Adam yang hanya diam tanpa ada rasa bersalah.


"Hayya!!! Bos Ceo masih diopelasi belum meninggal!" tegur Yuang.


"Lo jangan asal ngomong gitu lo!" Tunjuk Jojon dengan mata melotot nya ke arah Adam yang kini mengernyit heran.


"Heh Adam!!! Jangan sampai gue pindahin bibir lo yah ke dagu pake ngomong sembarangan!!!" Tunjuk Tara sambil berteriak membuat para suster menoleh dan menatap serius ke arah Tara.


"Weh! Weh! Udah! Udah! Maksud Adam itu bukan kayak gitu. Dia nggak maksud ngomong seperti itu kepada bos Ceo," jelas Mamat menenangkan.


Adam mengangguk cepat, sudah sejak tadi lututnya gemetar karena takut.


"Jelasin Dam!" suruh Mamat.


"Jadi gini dalam agama Islam kalau kita mendengar kabar buruk kita harus mengucapkan inalillahi. Saya nggak bilang innalilahi wainnailaihi Raji'un, saya bilangnya innalilahi," jelas Adam membuat semuanya mengangguk paham.


"Ini nih gara-gara si Yuang kita juga ikutan salah paham," ujar Jojon.


"Soli-soli, oe minta maaf. Oe nggak tau soalnya oe Cina," jelas Yuang.


"Oh iya yah," jawab mereka dengan kompak sambil mengangguk.


Kini susana menjadi sunyi dikala tak ada lagi diantara mereka yang angkat bicara.


"Hah? Apa?" tanya Deon membuat para montir yang keherangan menoleh menatap Deon yang kini terlihat sangat terkujut.


"Kenapa lo?" tanya Jojon.


"Jadi Bos Ceo meninggal," ujar Deon dengan kedua mata yang telah menangis.


"Astagfirullah," ujar semua para montir dengan kompak sambil mendecapkan bibirnya dengan perasan malas. Otak lalot Deon akhirnya kambuh lagi.


"Heh!!!" tegur Jojon sambil menepuk bahu Yuang yang kini menoleh.


"Apa?"


"Lu ngapain istighfar, lu kan Cina," ujar Jojon berusaha mengingatkan.


Yuang terdiam sejenak lalu menepuk jidatnya.


"Oh iya Oe lupa kalau oe Cina, astagfirullah," ujar Yuang membuat semuanya menggeleng.


"Yayang Ceeooo!!!" jerit Baby yang kini berlari dari kejauhan membuat semua orang menoleh. Bukan hanya Baby tapi para suster dan para pengunjung juga ikut menoleh. Bagaimana tidak jika Baby mengunakan baju seksi berwarna pink yang memperlihatkan perut berlemak nya, rok pendek sebatas lutut serta wajahnya yang dipoles seperti biasanya yah terlihat sangat menyeramkan.


 


"Oh ya ampyung ekye cwapek," aduh Baby yang kini berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah dirinya berlari ke rumah sakit. Yah sejujurnya tak ada angkot yang mau menerima Baby karena mereka semua takut jika Baby adalah pria gila yang berpakaian aneh sehingga Baby memutuskan untuk berlari saja ke rumah sakit.


Baby membuang tubuhnya ke kursi panjang tepat di samping Kasya yang kini melirik Baby dengan tatapan penuh ketajaman.


"Aaaaa Hantu!!!!" jerit Baby lalu melompat dan memeluk tubuh Jojon dengan rasa ketakutan.


Semuanya menoleh lalu menatap serius ke arah Baby yang masih terlihat histeris.


"Lu kenapa?" tanya Yuang.


"Kuntilanak!!!" Tunjuk Baby sambil menjerit membuat semuanya menatap ke arah Kasya yang kini hanya terdiam.  


"Hah!!!" Kejut mereka semua lalu dengan cepat melangkah mundur seakan terasa terancam dengan tatapan Kasya yang menyorotnya.


Bagaimana bisa mereka tidak terkejut setelah melihat Kasya. Baju putih yang terlihat kotor terpasang di tubuh kurus gadis itu yang kini menjadi sorotan semuanya. Bukan hanya itu yang mereka lihat tapi kaki dan tangan gadis yang terlihat terluka, memar dan ada yang bahkan berdarah, ini lumayan menyeramkan bagi mereka semua.


"Astagfirullah," ujar Adam yang kini terbalalak kaget.


"Hantu, Cok," sahut Mamat yang kini memeluk Tara. Mamat menoleh menatap Tara yang kini terasa gemetar dengan wajah pucatnya.


"Badan doang yang gede giliran ngeliat yang ginian malah gemetar."


"Hantu dari pekuburan mana nih?" Tunjuk Jojon dengan tatapan polosnya ke arah Kasya.


"Heh!!! Enak aja kamu ngomong yah! Ini itu Anak saya! Dia bukan hantu Jadi kamu jangan sembarangan ngomong!!!" geretak Firdha dengan nada emosi.


"Bisa nggak sih nggak ribut?!!" teriak Cia dengan nada emosi membuat semuanya kini menoleh menatap Cia.


"Ayah Cia ada di dalam dan lagi dioperasi. Harusnya kalian bisa ngerti keadaan," jelas Cia lagi membuat nya kembali terisak dan duduk di kursi panjang lalu menangis.


"Nggak usah ada yang berisik!!! Harusnya kalian bisa bantu doa untuk Ceo bukan malah berisik kayak gini," jelas Cia membuat semuanya kini tertunduk sedih.


"Sabar Cia, kamu juga jangan emosi. Kita semua harus sabar dan lo juga," ujar Fika lalu kembali memeluk Cia.


"Jadi bos Ceo benelan diopelasi?" Tatap Yuang yang masih tak menyangka.


Semuanya nampak terkejut dengan tatapannya yang tak menyangka. Jadi benar jika mantan bosnya itu telah berada di dalam ruangan operasi.


     


"Siapa yang udah berani nembak bos Ceo?!!" teriak Tara dengan tatapan melototnya yang menatap ke segala arah.


Semua orang yang berada di sekitar area tunggu luar operasi melongo menatap terkejut setelah teriakan Tara itu berhasil menggema di dalam koridor rumah sakit, ini sudah yang kedua kalinya Tara menjadi pusat perhatian bahkan beberapa keluarga pasien yang sedari tadi menangis karena keluarganya yang baru saja meninggal langsung terdiam dan memasang wajah datar ke arah Tara yang kini masih melotot.


       


Plak!!!


Pukulan keras dari telapak tangan Haikal   menghantam kepala Tara cukup keras hingga Tara nampak meringis dan menoleh menatap Haikal yang memasang wajah sok sangarnya yang berdiri di belakang Tara .


    


"Apa lo?!!" teriak Tara.


"Hust! Ini rumah sakit nyet," bisik Haikal penuh tekanan.


"Iya nih si Mas Tara," tambah Deon.


"Diam lo!!!" teriak Tara lagi.


Cia mengembuskan nafas berat seakan tak sanggup lagi menahan kesalnya. Baru saja ia menegur mereka semua kini mereka kembali bjvata.


"Stop! Ayah Cia masih ada di dalam ruang operasi," ujar Cia dengan tatapannya yang nampak kosong.


Semuanya yang mendengar hal tersebut secara bersamaan langsung menghembuskan nafas berat. Ini berita buruk bagi semuanya.


Pintu ruangan operasi akhirnya terbuka memperlihatkan seorang dokter yang melangkah keluar dari ruangan operasi. 


"Keluarga saudara Devan," ujar dokter itu.