Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 63



"Iya dong ci, ekye gitu loh, ekye nomor whaaaaaan!!!" Centil Baby mengangkat jari telunjuknya.


"Pinter juga lo masak, tapi kita nggak tau nih, yah rasanya gimana. Em, penampilannya udah ok sih."


"Cus deh ahh!!! Dicoba dulu! Hihihi." Baby tertawa lagi.


Cia mengangguk lalu segera menarik kursi dan duduk di depan meja makan sambil menatap makanan buatan Baby dengan mata yang berbinar.


Ini sungguh membuat perut Cia kelaparan.


Cia tak menyia-nyiakan kesempatan ini membuatnya dengan cepat meraih piring putih yang tak jauh darinya lalu menyendok nasi dan meletakkannya di atas piring tak lupa juga telur dan sayur tumis kangkung buatan Baby yang begitu wangi.


Cia tak menyangka jika Baby, si bencong kampret ini pandai dalam memasak.


Cia mengaduk nasinya itu yang masih panas, dengan cepat Cia mengangkat sendok berisi nasi putih yang di campur potongan kecil telur. Cia membuka mulut mengarahkan sendok itu ke mulutnya membuat Baby ikut membuka mulutnya.


Cia terdiam menatap Baby yang menatapnya dengan tatapan serius sambil ikut membuka mulutnya mengikuti gerakan mulut Cia.


"Kok berhenti?" tanya Baby.


"Ini nggak ada racungnyakan?" tanya Cia penuh curiga.


"Ih dosa deh suudzoon banget sama ekye, ekye nggak gitu loh yah!"


Cia mengangguk lalu segera memasukkan suapan itu kedalam mulutnya. Cia terbelalak merasakan sesuatu dari lidahnya itu.


"Gimana?" tanya Baby penasaran.


Cia terbelalak membuat semuanya ikut terbelalak.


Devan yang duduk di depan Cia nampak mengkerutkan alisnya tak mengerti dengan ekspresi wajah Cia. 


Apa yang terjadi?


"Enak kan?" tebak Baby dengan wajah penasarannya.


"Kenapa Ci?" bisik Devan dengan penuh antusias.


"Enak!!!" ujar Cia cepat.


Baby tereyum gembira mendengar perkataan Cia, baru kali ini Cia, si gadis pemarah itu dengan segala omongan kasarnya memuji masakannya.


Ini momen langkah!


"Oh, ya tuh kan kalau ekye yang masak pasti enak!" Jawab Baby kegirangan.


"Emm rasa bencong!" ujar Cia lagi.


Senyum Baby sirna begitu saja setelah mendengar perkataan Cia, gadis ini tetap saja seperti itu. Awalnya Baby  dipuji seakan mengangkat hati Baby dengan setinggi-tingginya ke langit yang paling tinggi lalu setelah sampai di atas sana ia pun dibuang ke tanah.


Oh sakit!!!


..._____***______...


Cia terdiam menopang dagunya di jendela kamar sembari tatapannya yang menatap pohon mangga yang kini sudah berbuah. Dahan pohon serta buahnya yang lebat itu nampak menjulang melewati tembok pembatas rumah. Tetangga Cia itu memang sudah tua jadi tidak sanggup lagi memangkas dahan pohon mangganya itu. 


Di saat Cia masih kecil Cia sering mencuri buah mangga itu secara sembunyi-sembunyi atas dasar hasutan bejat Devan dan memakannya di belakang rumah dengan sembuyi-sembuyi pula. Saking marahnya pria bernama pak aji Susno yang kini sudah tua itu sampai-sampai mengejar Devan dan Cia dengan sapu lidi saat tahu mangganya habis di gondol Devan dan Cia.


Pada saat itu Fatima sangat marah dan memarahi Devan dan Cia. Saat itu Devan mengaku akan kesalahannya tapi keesokan harinya Devan kembali mencuri buah mangga.


Sekarang pak aji Susno sudah tua bahkan ia sudah jarang memberi makan ayamnya jantangnya yang Devan selalu lempar setiap pagi, kerena menganggu tidur Devan.


Cia menarik nafas panjang, kini ia kembali memikirkan tentang isi pengumuman di mading itu membuatnya semakin pusing.


Rasanya Cia ingin berteriak. Cia sangat menyesal! Sangat ! Sangat menyesal!


Cia sungguh sangat menyesal atas ucapannya kepada Loli. Sekarang Cia harus mencari pacar untuk di bawa ke acara ulang tahun Loli, tapi siapa?


"Ci, lo kenapa?" Suara Devan kini terdengar membuat Cia menoleh menatap Devan yang berdiri di pintu masuk kamar.


Cia menatap tajam ke arah Devan. Mungkin Devan bisa membantunya untuk keluar dari masalah besar ini, tapi Cia malu untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Devan.


Cia tak mampu membayangkan bagaimana jadinya jika Devan tahu apa yang Cia inginkan.


"Ci!" panggil Devan.


"Cia!!!" teriak Devan membuat Cia menoleh menatap Devan.


"Lo kenapa sih?"


Cia masih terdiam diiringi helaan nafas panjang membuat Devan semakin kebingungan.


"Gue punya salah, yah sama lo ?" tanya Devan lagi.


Cia masih terdiam di sana tak menjawab pertanyaan Devan. Devan mengeluh lalu melangkah mendekat ke arah Cia yang masih berdiri termenung di jendela kamar.


"Gue minta maaf deh, kalau gue punya salah," ujarnya disuasana yang begitu hening.


Cia menoleh menatap jelas wajah Devan yang berdiri di sampingnya. Tak lama Cia kembali mengalihkan pandangannya. Cia dapat melihat jelas wajah Ayahnya itu yang nampak terlihat sedih ketika Cia berusaha melihat wajah Ayahnya.


Cia menghela nafas dan menggeleng. Dasar bodoh! Cia tak tahu mengapa Devan mengucapkan kata maaf kepada Cia. Devan bahkan tidak punya salah dengan Cia.


Devan melangkah kearah kasur dan duduk di pinggir kasur sambil menatap Cia dari belakang. Hari ini Cia sangat-sangat aneh.


"Lo kenapa sih, Ci?"


"Kalau lo punya masalah, lo bilang sama gue!"


"Lo kenapa sih?"


Cia menarik nafas panjang, mungkin ini waktu yang tepat memberi tahu Devan tentang mesalah yang ia hadapi.


"Van!" Cia menoleh menatap Devan sekejap dan memejamkan kedua matanya seakan tak berani menatap Devan. Cia malu!


"Iya Cia," jawab Devan cepat setelah dengan cepat ia bangkit dari kasur dan melangkah mendekati Cia.


"Emm... Gue-"


"Apa?" tanya Devan serius.


"Gue," ujar Cia ragu.


Devan mengkerutkan alisnya tak mengerti dengan perkataan Cia yang nampak begitu berat untuk mengatakannya.


"Yah, apa Cia?" Tatap Devan kesal.


"Ya sabar dong!! Bisa sabar nggak sih?!!!" bentak Cia.


"Ya lagian lo lama banget ngomongnya. Apa susahnya sih tinggal ngomong doang?" oceh Devan.


"Ya sabar dong!!! Bisa nggak sih ngerti dikit?!!" bentak Cia.


Devan segera terdiam lalu memoyongkan bibirnya ke depan, lagi-lagi ia mendapat bentakan itu dari Cia. Sebenarnya salahnya apa?


"Iya," jawab Devan tertunduk.


Cia terdiam membuat suasana menjadi sunyi. Tak ada diantara keduanya yang angkat bicara, hanya ada suara detakan jam Cia di dinding kamar Cia yang terdengar.


"Gue.... em...gue-"


Kedua bibir Devan menganga seakan tak mengerti mengapa Cia sangat sukar untuk mengatakan hal tersebut.


Apa yang sebenarnya ingin dikatakan oleh Cia kepada Devan.


"Apa?" tanya Devan dengan raut penasarannya.


"Em, gue... gue mau ngomong sesuatu," ujar Cia gugup.


"Iya," ujar Devan sambil mengangguk. "Apa?"


"Gue... Hah gue... em... gue-"


"Apa Cia?!!!" teriak Devan membuat Cia tersentak kaget.


"Beliin gue pacar!!!" teriak Cia cepat.


"Hah?" Tatap Devan tak percaya.