Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 23



Devan tetap melangkah sambil menunutung langkah Yuang pelan tak memperdulikan pertanyaan Yuang yang masih menatapnya dengan serius.


"Saya minta maaf !!!" Teriak Adam menatap punggung pria yang Adam pukul tadi sembari menatapnya menjauh pergi dengan gerombolannya.


"Si kampret, Lo nggak niat bantu gue bangun ?" Ujar Haikal yang mulutnya masih terdapat darah walau sudah tak mengalir lagi dari mulutnya.


"Oh, iya." Adam sedikit tersenyum lalu jongkok tepat di samping Haikal. Adam mulai melingkarkan tangan kanan Haikal ke lehernya lalu melangkah ke arah Alex dan gerombolannya yang nampak memarkirkan motornya tepat di hadapan Devan.


"Bos nggak apa-apa kan ?" Tanya Alex.


"Bang Alex tadi Baby dipukul agian ipi atit nih ipi atu," Aduh Baby manja sambil bergelantungan di lengan Alex.


"Ih, najis" ujar georgi geli.


"Eh, kampret Lu nggak liat gua ? gua hampir mati tau nggak !" Ujar Haikal dengan nada lemas tetapi cukup keras.


"Istighfar, Kal !" Sahut Adam.


"Astagfirullah ya Allah."


"Kok bisa ngumpulin anak-anak ?" Tanya Devan yang masih memegang erat Yuang yang kini melemah.


"Si Mamat yang telfon tadi."


Mendengar perkataan Alex semua mata tertuju pada Mamat yang berdiri di samping Jojon. Mamat terdiam sambil melirik menatap para sahabatnya itu yang kini menatapnya.


"Emang salah ?"


"Jadi, yang Lo telpon tadi si Alex?" Tanya Jojon.


"Yah, iya lah dari pada mati. Noh kayak si Haikal hampir aja mati," tunjuknya.


"Kampret, Lo setan!" Sahut Haikal membuat mereka semua tertawa.


...    ...


...____*****_____...


"Hahahaha," Deon tertawa di tengah-tengah keheningan setelah menceritakan semuanya.


Deon masih tertawa sambil memperlihatkan gigi putihnya di tengah-tengah para montir yang kini terdiam menatapnya dengan tatapan polos. Deon menarik nafas panjang lalu menghentikan tawanya menatap yang lain hanya terdiam.


"Selesai," ujar Deon lagi lalu tertunduk dengan rasa penyesalan setelah tertawa.


Cia mengangguk paham setelah mendengar cerita Deon. Pantas saja mereka semua berkelahi di malam itu dan itu semua ada alasannya. Cia cukup menyesal telah bersikap kasar kepada mereka dan menjawab pertanyaan mereka dengan emosi padahal mereka sudah berbuat banyak untuk menjaga bengkel Ayahnya, yah walaupun mereka semua tak tau jika Cia adalah anak kandung dari Devan yang sering dipanggil Ceo itu.


"Karena, itu kalian semua berantem, gara-gara ada yang mau ngerusakin bengkel ?"


Deon mengangguk sendiri sementara yang lain hanya terdiam. Cia menghela nafas dan menatap pintu pagar bengkel yang nampak sudah bagus kembali setelah diperbaiki.


"Lo nggak apa-apa kan Kal ?" tanya Cia.


"Hehe, nggak kok." Haikal terkekeh.


"Gue juga nggak apa-apa kok," Sahut Jojon lalu tersenyum lebar.


"Yang lain nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Cia lagi sambil menatap para montir.


Mereka menggeleng kecuali Devan yang duduk terpatung di sana.


"Si Ceo kenapa nggak luka ?" Tatap Cia penuh serius menatap Devan yang kini menatapnya.


"Si Ceo mah jagonya, yang nggak Yuang?" Mamat menepuk bahu Yuang pelan.


"Ah, sakit, bego !!!" Jerit Yuang menatap tajam Mamat dengan mata sipitnya.


"Iya, dia jagonya kalau matematika dia bodohnya." Cia melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka yang kini saling bertatapan.


"Sabar bos, gue juga bodoh kalau masalah matematika." Deon menepuk pundak Devan pelan.


"Mas Ceo, Yuhuuu !!!" suara gadis manja terdengar membuat mereka semua menoleh.


Senyum mengembang di sana. Pakaian seragam kerja khusus londry ketat berdiri kokoh di depan pagar rumah yang tidak terkunci.


"Neng Mita," Ujar Jojon berbinar lalu bangkit dari lantai.


Gadis bersuara manja itu ternyata adalah Mita si janda tanpa anak itu.


"Hay, neng Mita," Sapa Haikal.


"Astagfirullah ya Allah ampunilah hamba." Adam berbalik sambil menutup mata dengan telapak tangannya membelakangi Neng Mita yang berpakaian ketat di depan pagar.


"Mas Ceo !!!" Teriak Mita manja.


Devan tertunduk menggosok dahinya pelan dengan jarinya seakan bosan dengan janda yang satu ini yang selalu berteriak manja memanggil namanya. Memang setiap hari si Mita selalu berteriak manja di sebelah bengkel di tempat londrynya mungkin, karena tempat bengkel kosong makanya si Mita ke rumah tanpa mengetahui jika, Cia sudah ada di dalam rumah. Jika, Cia tau kalau Mita ada di depan rumah pasti si Mita akan di marahi habis-habisan oleh Cia.


"Rusak, Sayang," Jawab Jojon lalu tertawa cekikikan.


Mita memonyongkan bibirnya sambil memasang wajah kesal karena, pertanyaannya tak satupun dijawab oleh Devan bahkan Devan tak menatapnya walau hanya sekilas.


"Neng Mita masuk, yah ?"


"Iya, neng masuk ajah," jawab Jojon sambil mengangguk cepat.


"Jangan !!!" Teriak Devan.


Mita tersenyum sok seksi di depan pagar. Akhirnya Devan bicara juga setelah dari tadi ia diam saja seperti orang bisu.


"Kenapa ?"


"Neng mita masuk, yah ?" Ujarnya lagi berusaha mendorong pagar.


Cia terdiam di atas kasurnya setelah mendengar suara wanita yang seakan tak asing lagi di telinga Cia dari luar rumah. Cia bangkit dari kasur lalu terpatung di pinggir kasur berusaha mengingat siapa pemilik suara itu.


Mulut Cia sedikit terbuka, ia ingat betul suara manja dan sok seksi ini. Siapa lagi jika, bukan si janda kecentilan itu. Cia bangkit dari kasur lalu melangkahkan kakinya  keluar kamar dengan terburu-buru. Betul saja si janda itu ada di depan pagar berusaha untuk masuk kedalam pekarangan rumahnya.


"Heh, ngapain Lo ?!!" Teriak Cia.


Mereka dengan serentak menatap ke arah Cia yang nampak menopang pingangnya sambil memasang wajah sangar di sana.


Devan bangkit dari lantai lalu meraih tangan Cia lembut berusaha menenangkan Cia. Devan tau betul bagaimana sifat Cia yang berani berkata kasar tanpa memandang bulu.


"Apa sih?" kesal Cia sembari menghempas kasar tangan Devan.


"heh, situ punya masalah apa ?!!" Teriak Mita.


"Eh, janda gatel ! kurang ajar Lo, yah ?!!"


"Udah, Ci !" Bisik Devan pelan.


"Apa, Lo?"


"Berani Lo, yah sama gue ?!!" Teriak Cia.


"Emang gue takut sama Lo ? hah ? sini Lo maju !"


Cia membulatkan matanya. mulutnya nampak menganga seakan tak percaya ada orang yang berani menantangnya.


"Oh berani Lo, yah ?"


Cia melangkah maju seakan tak kuasa menahan amarah. Si janda itu memang harus diberi pelajaran. Devan meraih pergelangan tangan Cia lalu memegangnya cukup erat.


"Nggak usah diladenin, Ci !" Bisik Devan pelan sambil berusaha menahan tangan Cia yang agak memberontak.


"Eh, ada apa kenapa teriak-teriak ?" Tatap Fatima yang berdiri di pintu masuk setelah terusik dengan keributan di luar rumah.


"Nggak kok, Ma," jawab Devan berusaha menahan Cia yang masih memberontak di sana.


"Sini, Lo maju !!!" Teriak Mita lagi.


Fatima menoleh menatap Mita di luar pagar. Sudah jelas pasti Cia marah karena, mita si janda itu yang memang selalu menggoda Devan.


"Aduh, bawa si Cia masuk ! Nggak enak kalau, diliat tetangga."


Fatima melangkah masuk seakan tak tahan melihat keributan ini.


Devan mengangguk lalu mengendong Cia yang masih memberontak itu ke dalam rumah tak lupa juga pintu rumah di tutup rapat olehnya meninggalkan para montir yang nampak terdiam di teras rumah. Mita terdiam di depan pagar menatap para montir itu yang kini menatapnya kecuali, Adam yang masih membelakanginya sambil menutup mata.


"Neng Mita sini, yuk sama mas Jojon ajah." Jojon mengedipkan matanya lalu tersenyum sok manis di sana.


"Ih najis."


Mita melangkah pergi meninggalkan Jojon yang kini terdiam setelah mendengar ucapan Mita.


Mendengar perkataan Mita mereka semua tertawa terpingkal-pingkal sambil menatap Jojon yang kini hanya mampu terdiam. Adam membuka matanya pelan menatap Mita yang kini sudah melangkah pergi.


"Alhamdulillah," ujarnya sembari mengusap dada.


"Kasian banget Lu di katain najis."


"Di kira anjing Lo sama si Mita," tambah Haikal.


"Balik, yuk !" Mamat menepuk lutut Haikal pelan lalu segera bangkit dari lantai.


"Ya udah, yuk !"


"Yuk !"


Mereka semua bangkit dari lantai meninggalkan rumah yang pintunya kini sudah tertutup rapat.