Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 108



Adelio terdiam menanti Bu Lia menyebut nama itu, Adelio harap nama itu adalah Cia.


"Dia adalah..."


"Ashia Akanksha," sebutnya.


Cia dengan spontan menatap Bu Lia yang telah berhasil menyebut namanya.


"Yeeeeee!!!" sorak Yuna dan Faririn kompak sambil melompat-lompat kegirangan.


Semuanya melirik Yuna dan Faririn dengan tatapan terkejut, teriakan kegirangan itu berhasil menyita perhatian semuanya.


Cia mengerakkan kepalanya cepat menatap Yuna dan Faririn yang kini masih melompat-lompat kegirangan. Cia tak mengerti mengapa kedua gadis ini nampak sebahagia itu, biasanya mereka yang selalu komplain jika disatukan dalam satu kelompok bersama Cia tapi kali ini mereka terlihat begitu sangat bahagia.


Entah mengapa perasaan Fika sekesal ini disatukan dengan Cia, biasanya Fika sangat bahagia jika bisa satu kelompok dengan Cia. Fika menarik nafas panjang ketika Cia yang kini memeluknya meluapkan kebahagiaannya


Adelio tersenyum tipis karena bahagia, yah, perasaan itu yang ia sekarang rasakan. Namun, Adelio hanya memasang wajah biasa saja sambil memaingkan pulpen di jarinya. Sejujurnya ia ingin melompat kegirangan.


Suara bel berbunyi menandakan jam memasuki waktu istirahat untuk SMA Garuda bangsa. Ribuan siswa dan siswi dari berbagai tingkatan berbondong-bondong ke kantin untuk mengisi lambung mereka yang kosong. Beberapa ada yang nampak ke perpustakan, taman sekolah, belakang kantin, lapangan basket dan masih banyak lagi.


Bu Lia segera merapikan buku bimbingan pelajaran lalu melangkah keluar ruangan setelah berpamitan dengan murid-murid.


Cia bangkit dari kursinya lalu merentangkan tangannya sambil menguap tak menyadari jika Adelio sejak tadi menatapnya.


"Cia!" panggil Yuna yang kini telah berada di depan Cia bersama dengan Faririn serta tatapan semangatnya.


Cia terdiam menatap kedua gadis berprestasi ini yang nampak begitu bahagia, entah apa yang meracuni otak mereka sehingga begitu sangat bahagia.


Yuna dan Faririn segera meraih kursi milik Reno lalu duduk tepat di hadapan Cia, Fika dan Adelio yang nampak terdiam menanti keduanya angkat bicara.


"Jadi kalian udah tahu kan kalau kita semua satu kelompok di kelompok dua?" tanya Yuna membuka percakapan.


Semuanya nampak terdiam, begitupula dengan Cia yang nampak kebigungan dengan wajah bahagia mereka.


"Iya," jawab Fika singkat dengan wajah malas tak bersemangatnya.


"Kenapa sih kok kayak nggak semangat gitu?" tanya Faririn menatap Fika serius.


"Nggak kok," jawabnya dengan wajah datarnya.


"Jadi kita mau gambar apa nih?" tanya Yuna tak henti-hentinya tersenyum.


"Gambar batik, Na," ujar Faririn mengingatkan.


"Ih bukan! Maksudnya itu kita gambar motif batiknya itu apa?" jelas Yuna.


"Itu tuh yang aku pikirin juga," ujar Fika.


Suasana nampak hening tak ada lagi di antara mereka yang angkat bicara, sementara Cia kini hanya duduk di meja Fika sambil memaingkan kakinya. Kali ini Cia tak mau ikut campur masalah motif batik itu lagian mereka semua itu pintar dan mungkin mereka juga tak pernah meminta pendapat Cia.


"Mungkin kita cari di internet aja, kan di internet itu banyak terus kita ikut di situ aja," usul Fika.


"Iya sih, tapi kita kan nggak bawa handphone," ujar Yuna sedih.


"Eh tapi kita entar kerja kelompok di rumah siapa?" tanya Fika menatap wajah-wajah ke empat sahabatnya itu. Kali ini Fika berharap ia bisa berkunjung ke rumah Adelio.


"Di rumah Cia!" Tunjuk Yuna dan Faririn kompak ke arah Cia yang kini terbelalak dengan mulut menganga.


"Gue?" Tunjuk Cia ke arah wajahnya seakan tak yakin jika mereka berdua telah menyebut namanya itu.


"Iya lah, siapa lagi coba yang namanya Cia di sini?"


"Yah kita berdua maunya kamu, iya kan, Rin?"


"Betul," jawab Faririn setuju.


"Tapi kan Di rumah si Fika bisa atau kenapa bukan di rumah si Adelio?"


"Yah aku setuju, mending kita di rumah Adelio, kan si Adelio murid baru jadi kita bisa tahu rumahnya di mana," ujar Fika semangat.


"Enggak! Gue nggak setuju," ujar Yuna cepat.


"Iya gue juga setuju," ujar Faririn kuat.


Cia mendecapkan bibirnya seakan tak sanggup menerima kenyataan jika teman-teman mereka akan kerja kelompok di rumahnya. Jika mereka ke rumah dan melihat Devan mungkin, mereka akan syok dan yang lebih parah lagi yang mereka tahu Devan dan Cia berpacaran. Entah apa yang akan mereka katakan jika tahu mereka satu rumah.


"Boleh juga sih sebenarnya, soalnya gue belum pernah sih masuk ke rumah si Cia. Iya kan Ci?" ujar Fika menatap Cia yang kini sudah gelisah.


"Cia, lo setuju kan?" tanya Yuna membuat Cia mengangkat pandagannya yang sedari tadi hanya tertunduk menatap gerakan kakinya.


"Iya Ci, kita mau banget ke rumah lo, kalau perlu lo ajak pacar lo juga, yah!" Senyum tipis Yuna terlihat.


Cia terdiam. Jadi alasan mereka memilih rumah Cia hanya untuk bertemu dengan Devan, hah yang benar saja.


Plak


"Nah!!! Cocok sekarang!!!" teriak Yuna diiringi dengan pukulan di meja membuat semuanya tersentak kaget terutama Adelio yang sedari tadi hanya terdiam mendengar mereka bicara.


"Jadi udah pas kan kita kerja kelompoknya di rumah sih Cia?"


"Pas dong," jawab Faririn sementara Fika mengangguk.


"Yeee!!! Entar kita ketemu sama pacarnya si Cia, namanya siapa sih Yun?"


"Ceo," jawab Yuna semangat.


"Yeee!!! Kita ketemu sama si Ceo!!!" sorak Faririn lagi dengan begitu kegirangan.


Cia mengeluh hebat, sekarang Cia tak tahu harus bagaimana lagi. Teman-temannya sepertinya telah mengambil keputusan mereka dan keputusan itu sudah bulat dan tak mungkin baginya lagi keputusan itu diganggu gugat. Tapi jika mereka bertemu dengan Devan apakah mereka juga akan seagresif gerombolan gadis-gadis yang kemarin yang mengejar ia dan Devan sampai malam.


"Emm temen-temen, mungkin pacar gue nggak bisa datang deh," ujar Cia ragu sambil menatap semua makhluk yang nampak cemberut setelah mendengarnya.


"Yah kok gitu sih?" tanya Faririn sedih.


"Kok nggak bisa?" tanya Yuna.


Cia tersenyum hambar setelah kalimat pertanyaan yang belum ia pikirkan jawabannya itu terlontar dari mulut Yuna dan Faririn.


"Emmm apa yah?" Cia memejamkan matanya memikirkan sesuatu mengenai jawaban ini, ini benar-benar serius, Cia tak punya jawaban untuk itu.


"Kenapa, Cia?" tanya Yuna.


"Oh iya dia itu sibuk banyak banget kerjaannya," ujar Cia diiringi tawa kebigungan dengan jawabannya sendiri.


"Wah, udah ganteng ternyata pekerja keras juga ahhh aku makin suka." Geliat Faririn.


Hah, dasar bodoh! Niat Cia ingin mencari alasan kepada mereka kini membuat Yuna semakin menggila-gilai dengan Ayahnya itu.


"Oh iya entar kita langsung ke rumah Cia aja."


"Hah?" Tatap Cia kaget menatap Yuna.