
"Yeh, Cia juga nggak mau kali punya Ayah kayak Devan," ungkap Cia membuat Devan terkejut.
"Eh, harusnya lo itu bersyukur punya Ayah yang ganteng kayak gue gini. Udah masih muda, baik hati dan idola setiap wanita, nah itu," jelas Devan dengan pedenya.
"Idola apaan? Idola Nenek peot, iya."
"Heh, enak aja. Buktinya nih yah, temen-temen sekolah lo pada jatuh cinta sama gue," ujar Devan.
"Lagian siapa sih yang nggak mau punya Ayah sejenis gue?" tanya Devan sambil merentangkan kedua tangannya seakan begitu bangga dengan dirinya sendiri.
"Jenis hewan mungkin," ujar Cia tanpa ekspresi.
"Nah iya cocok. Gue itu kayak jenis hewan yang langkah, nggak semua bisa punya orang yang kayak gue, bener nggak?" Tunjuk Devan ke arah Cia.
"Nggak," jawab Cia.
"Jawab aja iya!" pintah Devan.
"Nggak! Orang Devan itu mukanya pasaran banyak tuh yang mukanya kayak Devan di dunia ini," jelas Cia.
"Yang punya muka tampan kayak gini boleh aja banyak tapi jangan salah! Pria tampan dan muda mana sih yang punya anak umur 17 tahun dan cantik kayak lo? Iya nggak?" tanya Devan sambil mengangkat sebelah alisnya membuat Cia terdiam tanpa ekspresi.
"Mimpi," ledek Cia.
"Hahaha, lagian lo dari tadi teriakin gue melulu, manggil nama gue. Ci, kalau lo mau ngomong yah tinggal ngomong aja! Apa susahnya sih?Kalau orang manggil itu mesti punya tujuan, Ci, nggak mungkin lo manggil terus ditanya bilangnya ngga."
Cia kini terdiam sambil menatap Devan yang kini mengoceh tanpa henti. kini Cia menarik nafas panjang dari ujung bibirnya dan menghembuskannya pelan. Apakah ini waktu yang cocok dan pas untuk menanyakan apakah ia bisa tinggal bersama dengan bidadari di rumah Abraham atau tidak. Rasanya Cia benar-benar sangat takut hingga ia mampu merasakan detak jantungnya berdetak sangat kencang. Oh Tuhan, tolong bantu untuk mengatakan ini.
Kini suasana kembali menjadi sunyi, ternyata Devan telah berhenti berbicara mengenai ketampanannya itu. Sepertinya dia juga telah lelah setelah dari tadi membanggakan dirinya sendiri tanpa henti.
"Em, Van," panggil Cia lagi.
"Apa?" teriak Devan, menjambak rambutnya dengan kasar, sepertinya satu kata itu telah menghancurkan suasana indah Devan yang baru saja mendapatkan ketenangan.
"Yah ini gue mau ngomong," ujar Cia berhasil membuat Devan terdiam.
"Apa? Apa? Apa Cia?"
"Gue...gue boleh nggak-"
"Boleh apa?" tanya Devan.
"Ci...Ci...cia bo....boleh nggak ti...tinggal di rumah bidadari?" tanya Cia takut dengan kedua matanya yang dipejamkan.
"Hah ?" Tatap Devan tak percaya dengan ucapan Cia.
"Cia boleh nggak nginap di rumah pak Abraham?"
"Yah nggak lah," jawab Devan tanpa pikir panjang.
"Denger dulu, Van! Pak Brahmana bilang kalau bidadari nyaman sama Cia dan nyuruh Cia buat tinggal di rumah pak Brahmana, tadi Cia sempat nolak dan-"
"Dan?" potong Devan.
"Pak Brahmana bilang kalau pak Brahmana mau ketemu sama lo dan minta izin langsung sama lo supaya Cia bisa tinggal sama bidadari," jelas Cia.
"Gue nggak setuju," jawab Devan cepat.
"Yah lo jangan kasi tahu gue! Lo Kasih tahu ke dia," ujar Cia, juga tak kalah cepat.
"Yah gue cuman kasih tau lo aja," jawab Devan lagi.
"Gue lagian bingung, lo itu bukan barang yang bisa diminta terus bisa di kasih gitu aja ke orang lain yang minta. Emang sesepesial apa sih tuh anak orang sampai harus lo yang jaga?"
"Pokoknya gue nggak setuju," ungkap Devan.
"Emang dia nggak tau kalau gue ngebikin lo itu susah? Hah? Emang dia kira lo itu nggak punya keluarga yang juga harus dijaga?"
"Enak aja."
"Gue nggak setuju," celoteh Devan.
"Nih yah lo, jangan mau lo diajak ke rumah dia lagi! Lagian gue udah sering bilang sama lo, jangan pergi dan masuk ke rumah orang lain yang nggak jelas asal-usulnya."
"Lo hanya boleh masuk ke tiga tempat yang ada di dunia ini," ujar Devan sambil mengangkat tiga jarinya.
"Yang pertama Bengkel, tempat ibadah, rumah sakit," sebut Devan.
"Ingat! Cuman tempat itu! Nggak ada nama rumah Brahmana di daftar perizinan gue!"
Cia kini terdiam membiarkan Devan meluapkan kekesalannya, lalu segera melangkah ke arah wastafel.
"Yah yah yah, Lo ngomong aja sepuas lo di sini! Pokoknya pak Brahmana mau ketemu hari senin sepulang gue sekolah sama lo."
"Ok !, Gue penasaran siapa yang udah berani ngajak gue ketemuan," ujar Devan sambil mengangguk dengan wajahnya yang kini seakan merencanakan sesuatu.
"Lo nggak usah mukul dia! Gue tau apa isi otak lo yang bego itu," ujar Cia lagi.
Devan kini mendecapkan bibirnya, baru saja ia berfikir dan berniat untuk memukul pria itu di hari mereka bertemu, namun sepertinya Cia tahu dengan rencananya itu.
"Eh, tapi tunggu dulu! Mau ketemu?" tanya Devan yang akhirnya sadar sesuatu.
Cia mengangguk.
"Loh? Lo kasi tahu kalau lo punya Ayah?"
Cia mengangguk.
"Astaga, Cia. Bukannya gue udah kasi tahu sama lo, kalau di dalam rumah lo anak gue tapi kalau udah keluar lo itu bukan anak gue, lo anaknya Dokter Yusuf."
"Terserah, pokoknya Cia mau Devan datang ke sana karena Devan itu Ayah Cia. Lo emang nggak mau ngakuin gue jadi anak lo?"
"Gue mau, Cia tapi siapa yang bakalan percaya gue ini Ayah lo. Kalau gue ngakuin diri sebagai pacar atau kakak lo yah mungkin mereka bakalan percaya."
"Yah terserah pokoknya Cia mau Devan datang."
Devan kini menghela nafas setelah mendengar ujaran Cia. Cia kini terbelalak menatap sebuah pecahan piring yang berkeping-keping itu di dalam ember tempat sampah. Sudah jelas ini pasti ulah Devan.
"Van, lo pecahin piring lagi?" tanya Cia kejam.
Devan menghentikan makannya lalu segera menelan ludah ketika tahu jika Cia telah melihat pecahan piring yang baru saja ia pecahkan di saat ia mencuci piring tadi.
"Lo beneran pecahin piring?"
"Yah nggak sengaja," jawab Cia.
"Nggak sengaja lo bilang? Tapi lo pecahin dua piring sekaligus."
"Bukan dua itu, satu," bela Devan.
"Ini dua Van, mata lo buta?" ujar Cia lagi sambil menunjuk.
Devan kini bangkit dari kursinya lalu segara melangkah ke arah Cia yang kini masih menunjuk.
"Ini satu." Tunjuk Devan.
"Ini dua Van, astaga," ujar Cia menggeleng.
"Yah gue nggak sengaja."
Cia kini mengeleng lalu mendecapkan bibirnya. Ini bukan pertama kalinya Devan memecahkan piring Fatima tetapi sudah belasan kali.
"Awas lo! Gue aduin lo sama Mama," ancam Cia lalu segera melangkah meniggalkan Devan yang kini nampak takut.
"Aduin aja!" ujarnya santai.
Devan mengigit bibir Cia benar-benar melangkah ke arah lama Fatima.
"Yah terus! Terus aja lo aduin gue!!!" teriak Devan sambil terus menatap kepergian Cia.
"Gue heran deh. Gue ini Ayah atau Adik sih di rumah ini?" tanya Devan kebingungan.
"Mama!!! Ayah pecahin piring lagi!!!" teriak Cia sambil berlari membuat kedua mata Devan terbelalak kaget, Cia benar-benar mengadukannya pada Fatima.
"Nggak! Dia bohong!!!" teriak Devan.