
Sebuah ember hitam berukuran sedang nampak terhempas di lantai toilet ketika dengan susah payah Cia menjinjing ember tersebut dari dalam WC. Suasana kini nampak hening, tak ada suara percakapan di sana. Kali ini yang terdengar hanya suara sikat yang nampak menggosok permukaan lantai toilet yang licin.
"Ah capek," aduh Tegar yang begitu kelelahan.
Tegar mencuci wajahnya merasakan kesegaran dari air yang mengalir dari kerang wastafel toilet yang baru saja ia putar.
"Ciee, dihukum lagi," ujar Andi sambil menyikat lantai dengan begitu semangat.
"Salah siapa coba kalau kayak gini?" tanya Tegar sembari menatap serius ke arah mereka yang terlihat masih sibuk menyikat lantai toilet.
"Si Cia, tuh!" Tunjuk Andi dengan ujung bibirnya ke arah Cia.
Cia yang sedari tadi menyikat lantai kini mengangkat pandangannya menatap Andi tajam. Entah mengapa ini semua disalahkan kepadanya. Lagipula jika Cia tertawa itu pun gara-gara Tegar yang menjawab pertanyaan Pak Yanto dengan jawaban yang bodoh. Apa ini salah? Jawabnya terlalu lucu untuk tak tertawa. Siapa yang tak geli jika berada di kondisi seperti itu.
"Apa lo bilang?" tanya Cia.
"Nggak, bukan gue, si Adelio tuh!" Tunjuk Andi ke arah Adelio membuat Cia dan Tegar menoleh menatap Adelio.
Adelio tak angkat bicara sedikit pun terlebih lagi Adelio tak akrab dengan dua pria ini, yah, walaupun Adelio sudah pernah dihukum bersama tetapi, tetap saja Adelio tak nyaman jika banyak bicara bersama mereka. Adelio hanya terdiam sambil mengusap cermin di depan wastafel dengan kain lap yang sudah di basahkan dengan sabung pencuci.
Cia melirik Adelio secara sembunyi-sembunyi. Rasanya Cia masih penasaran mengapa Adelio mau melakukan ini kepada Cia.
Apakah alasan Adelio melakukan ini? Memakaikan topi sekolah ke kepalanya lalu membiarkan dirinya dihukum oleh pak Yanto. Apakah ini semia karena Fika? Jadi, Adelio memang suka dengan Fika tapi, apakah itu yang dipikiran Adelio dan apakah yang pikirkan Cia adalah benar. Apakah benar jika alasan Adelio melakukan itu untuk terlihat baik dan berusaha mencuri perhatian Fika dan hal itu Adelio bersikap baik dengannya.
Cia menutup rapat matanya yang tak sanggup lagi memikirkan hal yang memenuhi pikirannya itu. Sebuah nafas berat berhembus dari hidung Cia, kali ini ia benar-benar tak sanggup untuk berfikir.
"Kenapa lo?" tanya Tegar yang sedari tadi menatap Cia yang nampak melamun.
Cia mengangkat pandangannya menatap Tegar yang terlihat sangat serius menatapnya.
"Capek gue," ujarnya.
"Kira-kira pak Yanto makan apa, yah, sampe segalak itu?" Suara Tegar kembali terdengar.
"Gue juga bingung sama Pak botak itu," ujar Cia sambil melangkah mendekati Adelio yang nampak begitu serius membersihkan permukaan cermin. Adelio dengan sikap dinginnya itu menggerakkan kakinya selangkah memberi ruang untuk Cia yang kini berdiri di depan wastafel.
Cia terdiam melirik Adelio yang sama sekali tak mengajaknya bicara. Adelio tetap saja membersihkan permukaan cermin tanpa berbicara sedikit pun kepada Cia atau bahkan melihatnya sebentar saja.
Cia kini benar-benar sangat bingung. Cia tak tahu apa kesalahan Cia kepada Adelio sehingga bersikap dingin seperti itu. Pria ini memang sangat menjengkelkan, cuek dan pendiam.
Ternyata masih ada pria sedingin es balok seperti ini. Seharusnya pria semacam ini tak berada di samping Cia yang tak suka dengan suasana sunyi seperti Adelio.
Cia memutar kerang air di wastafel khusus pencuci tangan sambil melirik Adelio yang kini masih sibuk dengan cermin itu. Cia menghembuskan nafas berat. Ada sesuatu yang Cia ingin tanyakan kepada Adelio mengenai topi itu tapi Cia ragu. Cia ragu untuk menanyakan hal itu.
Cia terus menatap Adelio yang nampak terlihat sangat cuek kepadanya.
"Ehem." Cia menoleh menatap Adelio yang sama sekali tak memperdulikannya.
Cia melongo. Pria ini memang tak punya telinga atau tak punya pita suara untuk berbicara.
"Gue mau tanya sesuatu," ujar Cia memberanikan membuka percakapan di antara mereka. Cia telah lelah untuk menikmati suasana sunyi ini.
Cia memaingkan lidahnya pelan membuat pipinya nampak bergerak-gerak sambil menatap kesal ke arah Adelio dengan perasaan tak sabarnya.
"Ok, lo nggak jawab berarti lo setuju gue nanya sama lo," ujar Cia.
Hening, tak ada jawaban dari Adelio.
"Lo kenapa ngasih topi lo ke gue?" tanya Cia walau Adelio tak merespon.
Tak ada jawaban dari Adelio, ia tetap saja mengusap permukaan cermin itu yang kini sudah terlihat bersih.
"Ci, gue ke kantin, yah," ujar Andi setelah meletakkan sikat di belakang pintu toilet.
Cia mengangguk, mengiyakan sambil memberikan senyumnya ke arah Andi yang kini melangkah bersama dengan Tegar keluar dari toilet.
Kini hanya mereka berdua di dalam toilet itu, diiringi susana yang nampak hening, hanya ada suara air yang mengalir dari kerang air. pertanyaan Cia belum terjawab oleh Adelio.
Cia mengkerutkan dahinya menatap Adelio dengan tatapan tak mengerti mengapa Adelio tak menjawab pertanyaannya.
"Lo denger kan gue tanya apa?"
Adelio masih terdiam, tetap tak ada jawaban. Cia mendecapkan bibirnya lalu memutar kerang air di wastafel itu lagi.
Cia menatap serius ke arah Adelio. Mungkin, waktu ini tepat untuk menanyakan apakah Adelio benar-benar suka dengan Fika.
"Lo suka, yah sam-" Cia menghentikan ucapannya ketika Adelio yang tiba-tiba menatapnya dengan tatapan tajam.
Adelio kini tediam. Tak mengerakkan tangannya lagi di permukaan cermin itu. Rasanya Adelio malu jika Cia mengatakan jika ia suka kepada Cia. Adelio tak tau harus menjawab apa jika Cia mengatakan itu.
Adelio meletakkan kain pel itu di atas wastafel tepat di hadapan Cia lalu melangkah keluar dari toilet membuat Cia mengernyit keherangan.
"Heh tunggu!!!" teriak Cia lalu berlari mengejar kepergian Adelio yang kini masih belum jauh darinya.
Lari Cia memelan ketika tubuhnya itu berdiri berdampingan di samping Adelio yang nampaknya takut degan pertanyaan Cia.
"Lo kenapa?" tanya Cia sembari melangkah menyesuaikan langkah Adelio dengan langkahnya.
Adelio tak menjawab, Adelio tetap saja melangkah walaupun ia telah mendengar pertanyaan Cia.
"Lo kenapa sih?" Tanya Cia lagi sambil berlari kecil di samping Adelio yang berjalan dengan tergesa-gesa berusaha menjauhi pertanyaan Cia.
Cia menghentikan langkahnya dengan nafas yang ngos-ngosan menatap Adelio yang masih melangkah.
"Gue jadi yakin kalau lo itu suka sama-"
"Cia!!!" Suara teriakan gadis-gadis terdengar dari belakang sana membuat Cia terbelalak setelah menoleh menatap kaget dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Cia!!!" teriak mereka lagi.