
"Kampret lu, Yah!!!" Tara menarik kerah baju Deon seakan tak kuasa menahan amarahnya.
Yuang yang melihat kejadian itu langsung memeluk tubuh kekar Tara berusaha untuk melerai.
"Jangan Tala!" teriak Yuang.
"Eh, udah-udah woy!!!" teriak Devan dengan tubuh lemasnya.
"Hajar ajah tuh, Tara!" tambah jojon yang juga ikut kesal.
"Iya, dasar kampret. Bilangnya sakit kanker padahal enggak."
Adam bangkit dari lantai lalu berlari cepat dan berdiri di tengah-tengah antara Tara dan Deon yang berusaha melepas genggaman kasar Tara yang mencengkeramnya kuat.
"Istighfar, Mas Tara!!!" teriak Adam.
"Minggir lo, Dam! Biar gue bunuh, Si Deon!!!" teriak Tara.
"Salah saya apa?" tanya Deon membuat semua orang melongo.
"Pura-pura nggak tau lagi lu, Deon." Tatap Jojon yang ikut kesal.
"Iya nih, Si Deon. Udah lalot pintar bohong lagi," tambah Mamat .
"Udah-udah! Eh, Tara lepesin!" pintah Devan.
"Yayang Bos!!!" Suara teriakan manja terdengar dari luar membuat semuanya menoleh menatap pintu masuk kamar.
Baby tiba-tiba muncul dari pintu masuk lalu terdiam sejenak di pintu menatap kerumunan yang tidak ia harapkan di dalam kamar Devan.
Devan mengusap dahinya pelan seakan tak kuasa menatap kedatangan Baby yang muncul dengan pakaian serba pink ditambah lagi rok sebatas paha yang memperlihatkan bulu-bulu lebat di betisnya itu yabg terlihat menyeramkan.
"Bos, aaaahh, Bos!!!" Baby menggeliat seperti cacing kepanasan di pintu dengan raut wajahnya yang dibuat sesedih mungkin.
Tara yang melihat kejadian itu langsung melepas jambakkannya dari kerah baju Deon. Sementara yang lain menatap jijik dengan ekspresi lebay yang Baby lakukan.
"Ih, kenapa tuh, Si Baby?" Bisik Jojon lalu duduk di pinggir kasur tepat di samping Mamat yabg sedari tadi menahan muntah.
"Kesurupan tuh si bencong," bisik Mamat.
"Bos Ceo!!! Ouh, Bos Ceo!!! Mengapa Bos Ceo bisa swakit khanker?"
"Misi!!!" Teriak dua orang pria dengan pakaian yang sama seperti Baby melangkah masuk ke dalam kamar.
Mereka semua terbelalak menatap penampakan yang begitu menyeramkan di bandingkan ribuan hantu dari segala penjuru hantu menyeramkan yang ada di dunia ini. Para montir yang ketakutan itu langsung berlari ke belakang Ceo secara berdesakan.
"Oi!!! Turung dari ranjang lo semua!!!" teriak Devan.
"Si baby tuh bawa pasukannya yang nyeremin!!!" bisik Deon.
"Oi, ngomong apa lo?!!!" Teriak pria yang memiliki tubuh paling kekar diantara mereka dengan suara lantangnya.
Deon menggeliat ketakutan setelah mendapati bentakan dari pria bencong itu di belakang Mamat yang ikut bersembunyi di balik tubuh Devan.
"Ah, Bos Ceo!!!" desah Baby sembari melangkah berniat mendekati Devan.
"Aaaaaaaaa!!!" Teriak montir histeris membuat langkah Baby terhenti.
"Kenapa sih?" Tanya Baby heran.
"Eh, Baby itu makhluk dua ekor siapa?"
Mamat menyikut cepat perut Jojon yang nekat bertanya seperti itu kepada Baby yang kini memiliki dua anggota bencong.
Baby menatap kedua sahabatnya yang berdiri di belakangnya memastikan mereka tak tersinggung dengan ucapan Jojon.
"Heh mulut lo tuh yah dijaga!!!" Baby menatap sinis Jojon diiringi suara teriakannya.
"Ja tu de di i tu de ni bo tu de os ka tu de mu?" Ujar pria itu dengan lancar menatap baby.
"I tu de ya."
"Emang aneh nih orang," bisik Jojon lagi.
Devan menghembuskan nafas berat seakan tak sanggup lagi menghadapi mereka. Baru saja ia ingin beristirahat dan menangkan pikiran dari segala beban yang ada pada pikirannya, kini semuanya itu harus hancur, karena kedatangan mereka yang menambah beban pikirannya.
"Keluar By! Bawa temen-temen kamu semua keluar dari sini!" pintah Devan.
"Loh thapi knpha?" Suara manja Baby kembali terdengar.
"Apa lagi dua, betul?" potong Jojon sembari menunjuk dua pria bencong yang berada di belakang Baby lalu beralih menatap para montir-montir seakan meminta tanggapan.
"Betul?" tanya Jojon lagi.
"Betul!!!" Jawab mereka dengan kompak.
Baby menatap kedua sahabat bencongnya yang berada di kedua sisinya itu.
"Heh, lo belum kenwal sama mereka semua jadi, kalian belum nyeman," ungkap Baby.
"Emang mereka siapa, baby?" tanya Jojon penasaran.
Baby tersenyum manis menatap Jojon lalu menatap pria bertubuh kekar yang ada di sampingnya.
"Ini namanya Susanto, hehehe tapi, lebih sering dipanggil Susanti, yah kan, Ti?"
"Ehem," jawab Susanti itu sok seksi dan sok cantik dengan senyuman sok manisnya.
Baby menoleh menatap pria yang ada di sampingnya.
"Ini namanyeh swiswi yang paling bahenol!!!" jerit Baby.
Swiswi tertawa dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil tersipu malu.
"Aaah, bisa ajah sih kamyu jadi, malu ekye."
"Oe pengen muntah," Bisik Yuang mendekatkan bibirnya ke telinga Jojon ditanggapi anggukan oleh Jojon.
Jojon masih terdiam lalu menatap Adam yang bersembunyi di belakang Yuang sambil memejamkan kedua matanya. Bibirnya Adam nampak bergerak cepat entah apa yang ia katakan. Mungkin kalimat istighfar? Yah apa lagi kalau bukan itu.
"Bos suruh pulang ajah tuh, Si Baby!" Mamat berbisik.
"Iya bos, sungguh meresahkan," tambah jojon lagi.
Devan yang masih lemah itu mulai menatap ketiga bencong itu dengan tatapan malas.
"By, lo bisa nggak bawa keluar temen-temen lo ini?"
Baby cemberut.
"Lo masi maukan kerja di bengkel?"
Baby terdiam lalu menoleh menatap kedua sahabat salonnya itu secara bergantian lalu kembali menatap Devan.
Baby mengangguk pelan tanda ia mengiyakan.
"Yah udah keluar!"
Baby menghembuskan nafas berat lalu menarik pelan kedua pergelangan tangan sahabatnya itu dan melangkah keluar dari kamar.
Dengan kompak mereka yang masih duduk di atas kasur tepat di belakang Devan menoleh menatap tiga bencong itu yang kini sudah benar-benar pergi.
"Heh!" teriak Devan membuat para montir menoleh.
Para montir tersentak kaget lalu terdiam dengan tatapan tak mengertinya.
"Turun!!!" Bentak Devan membuat mereka berhamburan dari kasur menimbulkan bunyi dari papan yang membuat Devan semakin tak tahan dengan kehadiran mereka semua.
Mereka semua kini terdiam menatap Devan yang nampak pucat tak seperti biasanya membuat Jojon melirik Yuang yang masih memeluk erat kresek berisi roti dan kaleng susu yang mereka beli. Jojon menyikut pelan perut Yuang membuat Yuang menoleh.
"Rotinya!".
Yuang menunduk menatap roti yang masij ada di pelukannya itu lalu tersenyum memperlihatkan gigi puti nya ke arah Jojon.
"Bos ini roti dari kami!" Yuang melangkah lalu meletakkan roti itu di pangkuan Devan.
"Makan, yah bos! Mahal loh itu," ujar Mamat.
Devan hanya mengangguk.
"Bos sakit apa?" Tanya Adam.
"Kanker otak!" Sahut Deon.
Plak!!!
Pukulan keras dari tangan Tara menghantam kepala Deon setelah jawaban Deon yang membangkitkan amarah membara setelah Deon mengatakan jika, Devan sakit kanker.