Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 104



Devan terdiam lalu meraba pipinya yang terasa berminyak itu. Devan menatap jari-jarinya itu yang nampak berwarna merah lalu membuatnya sedikit tersenyum.


"Ih gila lo, yah? Mana senyum lagi. Seneng lo dicium?"


"Apa sih Cia? Emang kenapa sih kalau gue dicium sama mereka?"


"Malah nanya lagi lo! Lo suka yah?"


"Yah, Yang penting kan gratis."


"Gila," ujar Cia sinis. 


Devan terdiam lalu mulai melirik kresek hitam yang nampak terbuka lebar memperlihatkan ribuan coklat, biskuit dan masih banyak lagi di dalam sana. Devan dengan pelan mulai mengerakkan jarinya berusaha mengambil sebuah coklat yang dekat dengan gapaiannya.


"Heh!!!" tegur Cia cepat sambil menarik kresek hitam itu membuat Devan melongo. Kali ini ia gagal.


"Mau ngapain lo?" tanya Cia sinis.


"Minta," ujar Devan dengan wajah polos persis seperti bocah yang meminta sebuah coklat.


"Nggak boleh!" Tolak Cia sinis.


"Pelit amat sih lo."


"Terserah," balas Cia.


Devan meghembuskan nafas berat lalu segera bangkit dari jalanan, langkahnya pelan menuju arah motornya yang kini masih Devan harapkan untuk menyala.


Lagi dan lagi Devan kembali menstarter motor bututnya yang itu dengan penuh tenaga dan harapan. Tak berselang lama Devan mengkerutkan dahinya ketika mencium bau membuatnya mengendus, mencium bau hangus yang berasal dari motor bututnya itu. Lagi-lagi masalah bermunculan, baru saja Devan terselamatkan dari kejaran gerombolan gadis-gadis itu kini motornya berbau hangus. Mungkin, kabel motornya itu terbakar setelah Devan paksa melaju dengan kecepatan tinggi tadi.


"Haaaaaa!!!" teriak Devan kesal lalu menendang ban motornya yang telah gundul.


"Aaah!!! Kenapa harus di saat seperti ini lo rusak?!!! Dasar bego!!!" oceh Devan kesal sambil menendang ban motornya.


"Heh!!! Lo kalau punya masalah sama gue dan mau balas dendam sama gue, gue terima dengan penuh hati tapi nggak kayak gini goblok!!!" oceh Devan sambil menunjuk motor bututnya.


"Lo punya dendam pribadi sama gue? Hah?!!!"


"Jangan sampai gue cekik Lo, yah!" Tunjuknya mengancam.


Cia melirik Devan dengan tatapan bingung, entah mengapa otak bodoh Ayahnya itu kembali muncul dan membuat Ayahnya marah-marah tak jelas dengan motor bututnya.


"Gila," bisik Cia pelan lalu kembali memakan wafer yang sisa sedikit.


"Apa?" tanya Devan yang ternyata mendengar bisikan Cia.


"Gila," ujar Cia tanpa menoleh menatap Devan sambil mengunyah wafer coklatnya.


"Apa lo bilang? Gue gila?" tanya Devan sambil melangkah maju mendekati Cia.


Cia mendecapkan bibirnya lalu menatap Devan yang nampak memasang wajah sok sangar di sana.


"Iya, lo gila karena Lo ngomong sendiri."


"Hah?"


"Yah, iya lah. Mana ada orang waras yang ngomong sama motor? Lo kira kalau lo marah-marah nggak jelas terus motor lo bakalan nyala gitu?" Ocehnya.


"Bukan gue yang gila, tapi tuh yang gila!" Tunjuk Devan pada motor bututnya.


Cia menghela nafas lalu kembali duduk di atas pangkuan boneka beruang pemberian Loli.


"Terserah deh!" ujar Cia lelah.


Devan ikut mendecapkan bibirnya lalu melangkah ke arah motor bututnya dan kembali menendang motornya dengan keras sambil berteriak.


"Dasar motor gila!!!"


"Motor gila!!!"


"Itu dia!" Tunjuk salah satu gerombolan gadis-gadis yang mengejar Devan tadi sambil berdiri di atas motor dengan wajah yang nampak menyeramkan.


Suara gemuruh kendaraan bermotor terdengar memasuki gang kecil sambil menunjuk Devan yang kini terbelalak kaget menatap gadis-gadis itu. Bagaimana bisa mereka semua kembali menemukan ia dan Cia di gang sempit ini.


"Ceo!!!"


"Ceooo!!! Tunggu!!!"


"Ceo!!!"


"Ceo!!!" jerit mereka lagi, persis orang pawai sambil membunyikan klakson.


Devan yang melihat gerombolan bermotor itu segera berlari melewati Cia yang masih sibuk dengan wafer coklatnya tanpa menyadari jika ada gerombolan gadis-gadis itu telah datang.


"Lari Ciaaaa!!!" teriak Devan sambil berlari  meninggalkan Cia yang kini hanya terdiam seakan tak tahu apa-apa.


"Apa sih? Kenapa lari-lari segala kayak dikejar anjing aja?!!!" teriak Cia keherangan.


"Liat ke belakang!!!" teriak Devan tanpa pernah menghentikan langkahnya.


Cia menoleh menatap ke arah suara gemuruh mesin motor yang semakin terdengar jelas di telinga Cia. Kedua mata Cia terbelakang kaget menatap gerombolan gasis-gadis itu yang kini semakin dekat ke arahnya sambil berteriak-teriak memanggil nama Devan.


Tak pikir panjang Cia segera bangkit dari boneka beruang yang sedari tadi ia duduki lalu kembali mengikat kuat kresek hitam itu. Walau pun dalam kepanikan titipan enak ini harus selamat dan aman.


Devan yang sudah jauh itu kini menghentikan larinya menatap Cia yang nampak masih sibuk dengan kresek hitamnya.


"Cia cepetan lari!!!" teriak Devan kesal.


"Iya tunggu!!!" teriak Cia sambil berlari menjinjing kresek hitam dan boneka beruang itu.


"Itu ngapain lo bawa?" Tunjuk Devan ke boneka beruang itu.


"Emang kenapa?"


"Buang!" suruh Devan lagi.


"Yah ini kan pemberian orang masa dibuang gitu aja?"


"Cia, lo liat dong ukuran bonekanya! Gedean boneka dari pada lo!" Tunjuknya.


"Cia bisa bawa kok, serius deh!" ujarnya.


"Gue nggak mau tahu."


"Pokonya Cia nggak mau!" bantah Cia kuat.


"Ih lo tuh nyebelin yah!"


Devan yang masih ingin mengoceh itu kini menatap ke arah kerumunan gadis-gadis bermotor yang semakin mendekat.


"Lari Cia!!!" Tarik Devan cepat ke pergelangan tangan Cia yang tangannya masih menjepit boneka beruang.


Lari Devan dan Cia begitu sangat cepat menghantam jalanan berpasir bekas penyimpangan campuran pembangunan yang berada di jalan gang milik warga. suara motor dan klakson yang mengejar Devan dan Cia bersorak di belakang sana membuat keributan yang seakan mengancam keduanya.


Puluhan ibu-ibu berdaster berlarian keluar rumah hanya untuk melihat pengejaran yang menegangkan itu. Gonggongan anjing terdengar meneriaki Devan dan Cia yang berlalu melintasi anjing yang terikat di salah satu depan rumah warga.


Nafas Cia ngos-ngosan, mulutnya terbuka berusaha menarik nafas lewat mulutnya dengan tenggorokan yang sudah mengering. Devan yang masih berlari itu sesekali menoleh ke belakang menatap gerombolan bermotor yang masih mengejar keduanya. Entah mengapa mereka tak menyerah untuk mendapatkan Devan.


Ting Ting Ting


Suara dentingan mangkuk yang dipukul dengan sendok mengiringi langkah penjual bakso yang mendorong gerobak hijau miliknya menyusuri jalan gang melewati rumah-rumah warga.


"Minggir!!!" teriak Devan cukup keras menatap penjual bakso yang yang menghalangi jalannya dengan gerobak.


Penjual bakso itu terbelalak lalu dengan tergesah-gesah pria itu mengerakkan gerobaknya menghindari Devan dan Cia yang kini masih Berlari dan nyaris menabrak gerobak serta penjualnya.


"Woy bocah sialan!!!" teriak penjual bakso itu penuh amarah menatap kepergian Devan dan Cia.