Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 150



"Maaa," panggil Cia menghampiri Fatima dan segera memeluknya dengan erat, tak ada bedanya seperti tadi.


"Mama, kayaknya mau hujan deh, Ma. Mama, Mama tahu nggak? Sekarang di luar anginnya kenceng banget terus nggak ada satupun bintang di langit," jelas Cia memberitahu.


"Ma!" panggil Cia lagi sambil mengelus pipi Fatima yang terasa hangat.


"De...ev...vaaaaan!" Suara rintihan itu terdengar gemetar.


"Ayah ada di bengkel, Ma," jawab Cia.


"Devan," ujar Fatima.


"Mama mau ketemu sama Ayah?" tanya Cia.


"Ciaaaaaa!" panggil Fatima.


"Iya Ma, Cia di sini," jawab Cia.


"Devaaaaan," panggil Fatima lagi.


"Ayah di bengkel, Ma," jawab Cia namun kini dengan nada yang khawatir.


Suara pintu kamar Fatima yang terbuka itu terdengar membuat Cia menoleh menatap Devan yang kini berdiri sambil memegang ganggang pintu kamar.


"Loh Cia?" Tatap Devan keherangan.


"Apa sih?" tanya Cia sinis.


"Kenapa Cia? Kok lo ada di sini? kenapa nggak masuk kamar? Ini udah malam loh," tanya Devan sambil menatap jam tangannya.


Cia kembali memeluk tubuh Fatima sambil membelakangi Devan.


"Cia mau tidur sama Mama," ujar Cia mempererat pelukannya.


"Tidur sama Mama? Tumben mau tidur di sini?" tanya Devan.


Suara atap kencang yang terhempas karena angin itu terdengar membuat Devan yang masih berdiri di pintu masuk itu terperanjat kaget.


"Gila anginnya kenceng banget," ujar Devan lalu melangkah masuk dan duduk di pinggir kasur.


"Van, tadi Mama sebut nama lo dari tadi," ujar Cia memberitahu.


Devan tak berkata apa-apa lalu segera membaringkan tubuhnya di samping tubuh Fatima yang masih terbaring dengan kedua mata yang masih tertutup rapat.


Devan yang berniat untuk menyadarkan pipinya ke pipi Fatima itu mulai menyentuh jari-jari Cia yang masih menempel di pipi Mamanya itu.


"Dih tangan siapa nih?" tanya Devan sembari meraba permukaan tangan Cia dan dengan cepat ia menggerakkan tangan Cia berusaha menyingkirkan sesuatu yang menghalanginya.


"Em," tegur Cia tak terima.


"Minggir dong!"


"Ahh Jangan!" ujar Cia cepat lalu segera memeluk apa yang menghalanginya.


"Gue mau sandarin pipi gue," ujar Devan.


"Nggak!"


"Sana!" Dorong Devan.


PLAK


Tamparan keras kini mendatar di dahi Devan membuat Devan meringis. Cia tertawa kecil dengan hal itu lalu kembali menyentuh pipi Fatima dan memeluknya lagi.


Devan kini menarik nafas berat lalu ikut memeluk tubuh Fatima namun baru saja tangannya mengalungi perut Fatima dengan cepat pula cia menangkisnya, membuat pelukan itu gagal.


"Loh kenapa sih Cia?" tanya Devan tak terima.


"Nggak boleh!" ujar Cia.


"Loh tuh yang boleh!" larang Devan.


"Mama gue ini," ujar Cia.


"Apaan sih Devan?" Tatap Cia sinis.


Kini tangan mereka saling berpegangan kuat seakan tak senang jika tangan yang mereka anggap lawan itu menyentuh perut Fatima.


"Lo tuh yang kenapa?" tanya Devan dengan kesal.


"Lepas nggak?" ancam Cia penuh tekanan.


"Nggak!" jawab Devan.


"Lo itu-" Ucapan Cia terhenti sambil berusaha menyingkirkan kaki panjang Devan yang kini tengah melintang di atas kaki Fatima.


"Ngeselin tau nggak!" Lanjut Cia lalu menendang pelan kaki Devan.


Tenaga Cia yang kuat itu tak sebanding dengan kekuatan Devan yang berusaha tak goyah setelah belasan kali Cia menyingkirkan kaki Devan yang menyilang itu.


Keduanya saling beraduh dengan kakinya yang betengkar di bawah sana, tangan kanan Cia dan tangan kiri Devan masih beradu seakan tak mau kalah.


"Lo itu kenapa sih nyebelin banget?" tanya Cia kesal.


"Lo itu yang nyebelin," balas Devan.


"Gue lagi, lo tuh," ujarnya.


"Lo tuh, Dasar anak durhaka," ujar Devan.


"Enak aja, lo tuh nggak bisa masak, masak nasi aja angus." Tunjuk Cia.


Devan menjambak ujung jari tangan Cia dan meremasnya membuat Cia meringis.


"Ih," ringis Cia lalu memukul tangan Devan.


"Taik lo," ujar Cia, menyerah menyudahi peraduan itu.


Beberapa menit kemudian ketiganya tertidur membuat suasana kamar yang disinari dengan paparan lampu itu nampak sunyi. Tak ada lagi teriakan dari Cia dan Devan yang betengkar.


Beberapa kali suara gemuruh dari langit itu terdengar namun, tak berhasil membuat ketiganya tersadar dari tidurnya yang kini tertidur lelap.


Hembusan angin bertiup kencang menghasikan suara atap yang terhempas ketika paku penahannya terlepas dari atap milik tetangga sebelah. Sepertinya memang benar akan turung hujan di malam ini.


Suara rintik hujan terdengar berjatuhan dari atas atap rumah menambah rasa nyenyak tidur mereka.


Suara azan berkumandang dari sebuah masjid yang tak jauh dari rumah Devan membuat Cia mengkerutkan alisnya setelah mendengar suara Azan masjid. Kedua mata Cia itu masih tertutup rapat, rasanya ia belum berniat untuk bangun dari tidurnya.


Tak lama Cia mengangkat tangannya dan segera menguap lembar. Cia mengerakkan tubuhnya membuat tangannya menyentuh pipi Fatima.


Alis Cia mengekerut hebat ketika merasakan pipi Fatima yang terasa sangat dingin tak hangat seperti malam tadi, tak sehangat saat Cia menyentuh pipi Fatima terakhir kalinya sebelum ia tidur. Cia membuka kedua matanya dengan sangat cepat, kedua matanya terbelalak lalu menjauhkan tangannya dari dinginnya pipi Fatima.


Kedua bibir Cia terbuka seakan tak percaya dengan apa yang telah ia rasakan. Apakah itu benar-benar dingin atau hanya karena hawa dingin dari luar sehingga tubuh Cia terasa dingin. Dengan cepat Cia menyentuh pipinya yang hangat itu lalu kembali menyentuh pipi Fatima yang memang terasa dingin.


Cia kembali menarik tangannya, menjauhkan jari-jarinya yang telah merasakan dinginnya tubuh Fatima. Jantung Cia berdetak cepat, tubuhnya gemetar hebat diiringi nafas yang terasa sesak seakan ada yang mengganjal tengorokanya. Entah apa yang terjadi sekarang ? Cia sama sekali tidak mengerti dengan hal ini.


Cia kini menggerakkan tubuhnya yang masih terbaring itu berusaha menjauhi Fatima. Cia kini mengerakkan bola matanya menatap setiap sudut tubuh Fatima yang masih terbaring.


Cia yang tangannya masih gemetar itu mulai memberanikan menyentuh perut Fatima dan meletakan telapak tangannya di sana.


"Hah!" kejut Cia.


Cia yang masih terkejut itu menjauhkan tangannya lagi dari Fatima. Perut Fatima tak bergerak sedikit pun, tak seperti biasanya.


Cia menelan ludahnya dengan paksa lalu bernafas dari mulutnya yang terbuka itu. Bibir cia bergetar hebat seakan suaranya yang berniat memanggil Fatima seakan terkunci rapat. Apa yang sedang terjadi?


"M...mm...m...Mama!" panggil Cia dengan suara seraknya yang seakan nyaris tak terdengar.


Tak ada jawaban dari Fatima.


Cia menarik nafasnya yang sesak itu, rasanya ada yang menekan dadanya begitu sangat keras hingga membuatnya tak mampu untuk bernafas.


"Mamaaaa!!!" panggil Cia lagi.