
Devan terdiam di kursi menatap Haikal yang memaingkan gitarnya sambil mengisap rokok yang ia sumbatkan di sela jarinya.
"Setiap memulai sesuatu harus baca bismillah dulu!" Jelas pak Sulaiman.
Tara mengerakkan bibirnya seakan mengejek penjelasan Pak Sulaiman yang tak lain adalah ayah Adam. Lagi-lagi pak Sulaiman menceramahi Tara yang tak jauh beda dengan kebiasaan Adam. Jojon dan Mamat berusaha menahan tawa di belakang sana melihat Tara si pemilik tubuh kekar dan besar itu yang diceramahi habis-habisan oleh Pak Sulaiman.
"Ini rambut kok panjang banget?" Pak Sulaiman menyentuh rambut gondrong Tara .
"Ini apa ini?" Menunjuk tato ular kobra yang terdapat di tangan kanan Tara yang kini sibuk memperbaiki ban motor pak Sulaiman yang bocor.
Tara masih terdiam walau sudah begitu terusik dengan perkataan pak Sulaiman mengenai dirinya.
"Pantesan ajah kamu belum kawin, loh kamunya nyeremin!"
Mamat dan Jojon membulatkan matanya sambil secara serentak menutup mulutnya yang menganga begitu terkejut dengan kalimat yang sungguh menyakitkan dari Pak Sulaiman.
"Maksud lo apa, hah?!!!" Teriak Tara sambil menghempas ban ke lantai membuat semua orang yang berada di bengkel tersentak kaget sambil menatap serius Tara.
"Wah gila," Bisik Deon yang tiba-tiba berada di belakang Jojon dan Mamat membuat keduanya menoleh.
Tara dengan kasar meraih baju Koko putih pak Sulaiman dan menjambaknya dengan kasar seakan sudah kehilangan kesabaran yang sedari tadi diuji.
Adam yang melihat Ayahnya diperlakuan seperti itu dengan cepat berlari menghampiri Tara.
"Astagfirullah, mas Tara!" teriaknya berusaha melepas jari-jari Tara dari baju Koko Ayahnya.
Devan bangkit dari kursi lalu melangkah menghampiri keributan itu yang sepertinya merusak kenyamanan pengunjung bengkel.
"Ah, si kampret lagi," Ujar Haikal lalu membaringkan tubuhnya di pos ronda seakan bosan dengan pertikaian ini sembari memaingkan tali gitarnya.
Di bengkel ini, kalau bukan Baby yang berkelahi pasti Jojon dan pelakunya adalah Tara.
"Neng Mita, oh Neng Mita," Memaingkan gitar lalu bernyanyi merdu.
"Abi saya ini, Mas Tara!" Adam mengingatkan namun, tak berhasil membuat Tara melepaskan pegangannya yang sangat keras itu.
"Terserah, mau abi kek, mau babi kek, gue nggak peduli!"
"Astagfirullah, ya Allah!!!"jerit pak Sulaiman ketakutan.
"Heh, heh lepas, Tar!" Pintah Devan memegan pelan Tara yang masih emosi.
"Heh, anak lo ajah nggak kawin-kawin, kenapa masalah kawin lu bahas ke gue?!!!" Teriak Tara lagi.
"Hajar, Mas Tara!" Teriak Deon.
Dengan serentak semuanya menatap Deon yang masih jongkok di belakang Mamat dan Jojon yang juga menatap Deon kebigungan.
"Gila lu, yah?" Tatap Mamat.
"Nggak waras nih orang." Jojon menggeleng.
"Loh, bukannya mau latihan ceramah, yah?" Tatapan bodoh Deon itu menatap Jojon dan Mamat lebih serius.
"Dongo, lu."
"Udah, Tar lepasin!" Devan kembali menangkan membuat Tara melepas genggamannya itu.
"Astagfirullah." pak Sulaiman menarik nafas panjang.
"Abi, nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Adam penuh perhatian membuat pak Sulaiman menggeleng.
"Berantem mulu kerjaannya ekye jadi, puswing deh," ujar baby cemberut ketika sudah duduk di samping tubuh Haikal yang masih terbaring.
"Dunia emang kayak gitu, Baby, kalau nggak berantem nggak seru."
"Lo kapang mau kawin?"Haikal melirik Baby sambil berusaha menahan tawanya.
"Nggak usah bahas, yah !" Baby melirik tajam Haikal lalu melangkah pergi.
Cia melangkah masuk melewati pagar bengkel sambil menjinjing kresek hitam berisi kotak nasi untuk para montir yang telah Fatima sediakan. Baju hitam dengan tulisan love Jakarta, celana panjang hitam yang Cia kenakan. Rambut hitam nan panjang Cia nampak hanya dikuncir ke belakang tak lupa juga tas samping kecil berwarna abu-abu yang menyilang di tubuhnya.
"Yes makanan," ujar Haikal kegirangan lalu bangkit dari papan membuka kresek itu cepat.
Tara yang masih dibakar amarah itu seketika melangkah kearah tempat nongkrong mereka yang lebih mirip pos kamling seakan melupakan kejadian tadi .
"Lauknya apa ajah, Cia?" tanya Tara sembari meraih kotak makan itu.
"Telur," jawab Cia.
"Telur lagi." Wajah Haikal nampak cemberut mendengar hal tersebut.
"Masi untung lo makan, lo ajah nggak kerja di bengkel," Ujar Jojon sembari mencuci tangannya di air mengalir yang tak jauh dari pos kamling.
"Menurut buku trisakti perbengkelan salah hukumnya orang yang memakan makanan pembagian dari bengkel," jelas Mamat ketika kotak makan sudah ada di pangkuannya.
"Pasal berapa, Mas Mamat?" Tambah Deon lagi.
"Pasal dua ayat 130."
"Ih, berisyik banget sih!" Gerutuh Baby kesal sambil mengunyah makanan yang telah di sediakan di dalam kotak makan.
"Minggil lu kal!" Yuang mendorong siku Haikal pelan namun, berhasil membuat Haikal terhempas.
Devan terdiam menatap montir-montirnya itu yang kini duduk melingkar rapi di pos kamling. Pertengkaran memang selalu menjadi kegiatan bahkan kebiasaan sehari-hari diantara mereka tetapi jika, masalah makanan mereka akan selalu kompak, yah seperti saat ini.
"Waalaikum salam!!!" teriak Adam sambil melambaikan tangannya menatap Ayahnya yang pergi menggunakan motor milik Adam.
Rasanya membiarkan Ayahnya berlama-lama di bengkel adalah sesuatu yang buruk ditambah lagi si Tara yang memang tak suka diceramai oleh siapa pun sementara Ayahnya yang memang suka menceramahi orang-orang yang dia temui tanpa mengenal waktu dan tempat.
"Makan, Dam!"
"Iya, Bos."
Adam melangkah pergi menuju pos kamling yang telah dipenuhi oleh montir-montir yang sedang mengisi lambung mereka masing-masing dengan lahapnya.
"Yuk!" ajak Cia tersenyum ketika berdiri tepat di hadapan Devan.
Devan mengangguk lalu menatap dari ujung kaki Cia sampai ujung ubun-ubun Cia yang nampak sudah rapi.
"Udah mandi belum?"
"Udah!!!" jawabnya semangat dengan nada berteriak.
Devan mengangguk percaya lalu melangkah menaiki Jok motor merah miliknya yang ia selalu gunakan untuk membeli perlengkapan bengkel, motor yang bisa dikatakan sudah tua itu karena motor itu termasuk peninggalan Ayah dokter Yusuf. Cia melirik motor Devan yang berada di garasi bengkel yang jauh lebih keren, motor berwarna hitam itu merupakan motor Devan yang selalu ia gunakan untuk balapan liar dan termasuk motor unggulan geng motor exoplanet yang selalu menjadi imam ketika ugal-ugalan di jalan raya bersama dengan anggota geng exoplanet.
"Kenapa nggak pake yang itu, sih?"
Devan melirik motor yang terparkir di garasi itu sambil memasang helm ke kepalanya.
"Nggak usah kebanyakan gaya!" Devan menjulurkan helm hitam ke arah Cia.
Cia memonyongkan bibirnya setelah mendengar perkataan Devan. Dengan kesal ia meraih helm itu dengan kuat membuat Devan sedikit tersentak.l ke arah Cia. Semoga saja dengan cara itu Devan tau jika, Cia sedang kesal dengan keputusannya.
"Mau kemana, Bos?!!!" Teriak Jojon yang menatap Devan dan Cia yang sudah di atas motor.
"Cia mau dibeliin tas baru!" teriak Cia semangat.
"Bos titip bakso, yah!" Deon mengacukan jari telunjuknya.
"Oe juga, Bos," tambah Yuang.
Devan menggeleng lalu sedikit tersenyum sambil menstarer motor merah itu yang nampak belum menyala. Cia beberapa kali tersentak ketika Devan berusaha menyalakan motor tua itu.
"Udah Cia bilangkan pakai motor yang itu ajah!"
Breeeeeeemmmm!!!
suara motor itu terdengar berteriak seakan sudah tak mampu lagi menyala dan menopang tubuh Devan dan Cia.
"Yang penting sampai!" tegas Devan lagi lalu menancapkan gas meninggalkan bengkel yang di penuhi dengan asap hitam dari knalpot motor merah itu.