Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 89



Syur!!!


Air kopi yang berada di mulut Tara kini tersembur keluar menghantam wajah jojon yang terbelalak tak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Devan.


Semua yang berada di warung Neng Maya kini hanya terdiam memasang wajah syok. Mereka semua tak menyangka jika pria ketua gang exoplanet ini datang larut malam ke warung hanya untuk membeli barang pribadi khusus wanita. Sementara Neng maya nampak menganga tak mengedipkan matanya.


Devan ikut terdiam menatap heran ke arah orang-orang yang menatapnya dengan tatapan syok. Devan tak mengerti mengapa mereka terkejut seperti itu. Apa pembalut yang Devan katakan tadi merupakan barang yang berbahaya.


"Ada nggak?" tanya Devan di tengah keheningan.


"A...a...anu Kak, maaf Kak ta...tapi kakak serius ma...mau beli pembalut?" Tatap neng maya masih tak percaya.


"Iya," jawabnya cepat diiringi anggukan dari kepalanya.


Neng maya tersenyum hambar lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dengan langkah cepat ia mencari pembalut di dalam lemari lalu, tak lama ia kembali dengan tatapan yang masih syok.


"Kak pembalutnya habis," ujar Neng Maya menghampiri.


Devan mendecapkan bibirnya lalu mengangguk memutar tubuhnya membelakangi Neng Maya serta montir-montir lain yang masih menatap Devan yang kini melangkah pergi dengan tatapan serius.


"Itu bos Ceo nggak salah ngomong kan?" Ujar Yuang di tengah keheningan.


"Si bos Ceo sakit kali yah?" tebak Jojon.


"Si bos Ceo apanya yang berdarah?!!!" teriak Tara menatap serius ke seluruh sahabatnya.


Devan meraih handphonenya dari saku celananya lalu kembali menyentuhnya cepat. Tak lama Devan kembali mendekatkan handphonenya ke telinga. Kembali berdering.


Handphone Cia menyala diiringi nada dering menandakan panggilan masuk. Cia mengangkat handphonenya lalu mendekatkan ke telinganya.


"Ada nggak?" jawab Cia cepat.


"Habis katanya."


"Kok habis?"


"Yah mana gue tau."


"Gue nggak mau tahu, lo harus cari pembalut buat gue!"


Devan menghentikankan langkahnya tepat di pinggir jalan setelah mendengar ujaran Cia.


"Yah gue mau cari di mana?"


"Terserah. Gue nggak tahan lama-lama di WC," ujar Cia lagi.


"Yah lo keluar aja! Apa susahnya sih?"


"Van, lo nggak ngerti."


Devan terdiam. Devan dari tadi memang tak mengerti dengan hal tersebut.


"Emangnya pembalut itu apa sih?"


Cia terdiam.


"Terus kok harus pake sayap?"


Cia masih terdiam.


"Kenapa harus pake sayap?"


Cia menyentuh dahinya seakan tak sanggup mendengar pertanyaan dari Devan.


Tut Tut Tut


Sambungan terputus.


Devan menghembuskan nafas berat. Tak mendapat jawaban dari Cia mengenai pembalut itu, sebenarnya pembalut itu apa?


..._____***______...


Devan mendorong pintu supermarket  yang nampak masih terbuka. Supermarket ini memang buka 24 jam melayani pembeli dan tak pernah tutup. 


Hawa dingin nampak terasa dari AC supermarket ketika Devan kini telah berada di dalam.


"Eh ada cowok."


"Ih ganteng banget," bisik karyawan supermarket berseragam merah ketika melihat Devan yang kini melangkah ke arahnya.


"Selamat datang Kak," sambut wanita itu.


"Kakak mau beli apa?" tanya salah satu wanita karyawan supermarket.


"Pembalut," jawan Devan santai.


Tak ada lagi di antara mereka yang bicara, suasana nampak hening. Hanya ada suara cicak yang merayap di dinding supermarket yang terdengar.


Devan mengkerutkan alisnya menatap mereka dengan tatapan tidak mengerti. Entah mengapa mereka semua terkejut seperti itu, tak beda jauh dengan Neng Maya serta para montir-montirnya yang terkejut tadi setelah Devan mengatakan itu. Devan tak tahu sebenarnya pembalut itu apa.


"Kakak serius?"


"Emangnya kenapa?" jawab Devan cepat masih tak mengerti.


"Eh anu kak itu-"


"Ada atau nggak ?" potong Devan tanpa basah basi.


"Ada Kak. kakak mau berapa?" tanya wanita itu ragu.


Devan mengkerutkan alisnya tak mengerti. Cia tidak memberi tau berapa pembalut yang Cia butuhkan.


"Kakak mau yang ukuran besar atau yang sedang?" tanyanya lagi.


Devan semakin tak mengerti. ternyata pembalut juga punya ukuran yang berbeda-beda.


"Emm yang sedang ajah terus pake sayap," jawab Devan ragu.


Para karyawan itu melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawanya. Baru kali ini ada seorang pria yang datang ke supermarket hanya untuk membeli pembalut.


"Tunggu, yah, kak saya ambilkan!" ujar karyawan itu lalu beranjak pergi.


Devan hanya mengangguk lalu menatap barang-barang yang terpajang di rak besi.


"Kakak romantis banget deh," ujar salah satu karyawan yang duduk di sebuah kursi besi.


"Romantis?"


"Iya Kak, apalagi Kakak mau beliin pembalut buat pacar Kakak." pria yang berdiri sambil memaingkan handphonenya kini angkat bicara.


"Kok dia tau sih yang mau pake pembalut itu perempuan?"


"Ini Kak pembalutnya," ujar wanita itu meletakkan sebuah pembalut di meja kasir.


"Jadi ini yang dimaksud pembalut," gumam Devan.


"Harganya dua puluh empat ribu Kak."


Devan mengangguk lalu mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya dan meletakkan uang di atas meja kasir.


"Ini Kak kembaliannya."


Devan mengangguk. Tanpa sepata kata ia meraih uang kembalian itu lalu memasukkannya ke dalam dompet sementara wanita karyawan supermarket itu mulai memasukkan pembalut itu di kresek khusus.


"Pacar Kakak pasti bahagia banget deh punya pacar seperti Kakak."


"Saya nggak punya pacar," jawab Devan cepat sambil memasukkan dompet ke saku belakang celananya. 


Karyawan supermarket itu kini saling bertatapan tak mengerti.


"Saudara Kakak, yah?" Tebak pria itu.


"Saya nggak punya saudara."


"Loh terus siapa Kak?"


Devan meraih kresek khusus pengunjung supermarket itu lalu mulai memutar tubuhnya membelakangi para karyawan yang kini terdiam menanti jawaban.


"Terus pembalutnya buat siapa Kak?!!!" teriak salah satu karyawan itu.


"Anak saya!!!" teriak Devan santai sambil menarik pintu supermarket itu dan melangkah menjauh.


Karyawan supermarket itu hanya mampu terdiam tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari pria berwajah tampan itu.


Devan melangkah pelan di pinggir jalan beraspal yang kini sudah mulai sunyi sambil mengayung-ayungkan kresek berisi pembalut itu. hanya ada beberapa kendaraan bermobil yang berlalu-lalang di jalan beraspal. 


Sesekali Devan menendang batu-batu kecil yang ia lintasi. Sekarang yang ada pikirannya adalah mengenai kegunaan pembalut yang kini sudah ada di jinjingannya. Devan tak mengerti mengapa orang-orang sangat terkejut disaat ia mengatakan hal tersebut. Apa yang salah jika ia yang membeli pembalut.


Suara hentakan bangku terdengar tak jauh dari Devan membuatnya menoleh menatap Neng Maya yang kini tengah bersiap menutup warungnya. Hanya ada Neng Maya di sana mungkin, para montir-montir yang lain sudah pulang.


Devan menghentikan langkah lalu terdiam menatap Neng Maya di sana. Neng maya mungin tahu apa arti dan kegunaan pembalut ini.


...___***___...


Devan terdiam menatap Neng Maya yang kini hanya terdiam setelah mendengar pertanyaan darinya.


Kedua pipi Neng Maya memerah menahan malu ketika pertanyaan itu terlontar untuknya.


"Pembalut itu apa?" tanya Devan lagi menatap Neng Maya serius.