
Cia lengkap dengan seragam sekolahnya itu nampak terdiam di depan pintu kamar Devan yang terlihat tertutup rapat. Cia tak tau apa yang terjadi dengan Devan sehingga semalam ia tak ikut makan malam bersama. Devan juga tak pernah keluar dari kamar walau hanya sebentar.
Fatima melangkah keluar dari kamar Devan sambil membawa segelas air yang nampak kosong. Langkah Fatima terhenti menatap Cia yang kini menatapnya dengan begitu tulus, ini tatapan seorang ibu.
"Ayah kenapa?" tanya Cia.
"Ayahmu demam," jawabnya.
"Demam?"
Fatima mengangguk.
Cia kini terdiam mendengar perkataan Fatima. Sudah jelas jika, kemarin Devan pasti sangat ketakutan sampai-sampai Devan demam seperti ini.
"Ma!" Panggil Cia pelan dan penuh keraguan.
Cia ragu untuk menanyakan hal ini kepada Fatima tapi, nama pria itu seakan menghantuinya semalam hingga tak bisa tidur.
Fatima kembali menatap serius melihat kejanggalan.
"Abraham siapa?" Tanya Cia ragu.
Fatima terbelalak kaget, bagaimana bisa Cia tau nama pria brengsek itu. Fatima tertunduk dengan salah tingkah seakan tak tau harus berbuat apa, sementara Cia mengamati.
"kenapa, Ma?"
Fatima melangkah maju mendekati Cia lalu menoleh menatap pintu kamar Devan, memastikan Devan tak mendengar percakapan mereka.
"Cia." Menatap Cia penuh serius dengan nada berbisik nya sambil sesekali menatap pintu kamar Devan.
"Dari mana kamu tau tentang nama itu?"
"Cia kemarin denger."
Fatima menghembuskan nafas berat lalu kembali menatap pintu kamar Devan yang masih tertutup rapat. Semoga saja Devan tak mendengar hal ini
"Ma, Abraham itu-"
"Husst, jangan sampai Devan tau kamu sebut nama Abraham!" ujarnya.
"Tapi, Cia cuman mau tau, Ma."
"Kamu nggak perlu tau!"
" Tapi, kenapa?"
"kamu nggak perlu tau, Ci!" bentak Fatima.
Cia tersentak kaget mendengar bentakan itu. Jujur Fatima tak berniat untuk membentak Cia tetapi, mulut Cia memang harus disumbat dengan bentakan.
Kedua sorot mata Cia memanas sampai terasa ke pipinya. Bentakan itu membuatnya sakit.
"Mama minta maaf!"
Cia hanya terdiam.
"Mama antar Cia ke sekolah, yah?".
"Nggak usah " jawab Cia cepat.
Cia melangkah pergi meninggalkan Fatima yang masih menatap Cia dengan raut wajah sedih. Seharusnya ia tak perlu membentak Cia seperti itu dan membuatnya sedih.
...____****_____...
"Jadi, anak sekolah enak yah, Ci."
Deon tersenyum sambil mengendalikan laju motor metik berwarna hitam milik Deon sementara Cia tersenyum di belakang Deon yang sedari tadi mendengar ocehan Deon yang seakan tidak ada habisnya.
"Enak apanya?"
"Yah, iya lah enak. Banyak temen, banyak pengalaman dan-"
"Banyak tugas," tambah Cia.
Deon tertawa ringan mendengar tambahan Cia. Motor kini secara perlahan berhenti di depan gerbang sekolah yang sudah diramaikan oleh murid-murid SMA Garuda bangsa yang juga baru tiba di sekolah.
Baru kali ini Cia datang sepagi ini ke sekolah. Biasanya Cia datang setelah pelajaran pertama selesai, itu pun Cia masuk lewat jendela.
Cia Turung dari motor lalu merapikan roknya yang kusut setelah duduk beberapa menit di atas motor.
"Ci, titip salam yah, sama si Fika." Deon tersenyum.
"Apa? Nggak salah lo?" Tatap Cia tak percaya.
"Loh? kenapa? nggak boleh?"
"Eh, ingat Deon! Si Fika itu umurnya udah mau tujuh belas tahun nah, lo berapa?"
"Yah, cinta kan nggak kenal usia, Ci. Yah, walaupun umur gue baru lima belas tahun dan si Fika umurnya tujuh belas tahun kalau, gue cinta yah, bisa ajah," Jelas Deon membuat Cia melongo.
Cia menghela nafas berat lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Deon! si Fika itu idolanya oppa-oppa Korea, nggak kayak lo!" Tunjuknya.
"Yah, si Fika belum liat gue ajah tuh, makanya ngeidolain Korea. Coba kalau, si Fika liat gue yah, pasti Fika sukanya sama oppa Deon."
"Ah, terlalu pede lo jadi, orang."
Cia memutar tubuhnya membelakangi Deon yang masih menatapnya lalu ia melangkah pergi tanpa berpamitan dengan Deon yang kini menatap Cia.
Cia melangkah melewati pintu-pintu kelas berurutan sesuai tingkatan kelas dengan penuh lemas. Sepertinya tak melihat sosok Ayahnya di pagi hari adalah suatu kesedihan baginya.
"Itu si Cia kan?".
"Iya, tumben datangnya pagi."
"Kesambet apa tuh si Cia?" bisik mereka yang melihat kedatangan Cia melintasi mereka tepat di depan pintu kelasnya.
Cia terdiam menghentikan langkahnya ketika bisikan itu terdengar di telinga Cia dengan begitu sangat jelas. Cia menoleh menatap tiga gadis yang kini terkejut menatap Cia yang kini menatanya tajam.
"Apa?!!" tanya Cia dengan nada tegas.
Tiga gadis itu menggeleng cepat menatap Cia ketakutan, bagaimana mereka tidak ketakutan jika, harus berhadapan dengan anak berandal yang setiap sekali dalam seminggu keluar masuk ruang BK. Hal yang paling mereka ingat disaat Cia yang memimpin tauran antar sekolah SMA bahkan Cia adalah satu-satunya gadis yang ikut tauran pada saat itu.
"Masi berani lo ngomongin gue di belakang?!!!"
Mereka menggeleng sambil tertunduk takut.
"Kalau, lo mau ngomongin orang itu di depan bukan di belalang! ngerti lo?"
Cia membalikan tubuhnya lalu melangkah dengan gagahnya ke arah kelas yang sudah dekat dari Cia. Zandi dan revan si pria penjaga pintu kelas itu berlari masuk ke dalam kelas setelah menatap Cia yang semakin mendekati ruangan kelas.
"Eh, si Cia dateng!" ujar zandi yang kini telah berdiri di depan papan tulis menatap murid-murid lain.
"Ah, yang bener kamu?" Tatap Cahaya tak percaya.
Adelio terdiam di kursi mendegar ujaran mereka. Entah mengapa mereka seheran itu kepada gadis bernama Cia itu yang datang pagi ke sekolah.
Cia muncul di pintu masuk menatap mereka semua yang nampak terdiam menatap kehadiran Cia yang seperti hujan deras di yang terik, rasanya membingungkan.
Langkah Cia terhenti dengan tatapan yang tak menyenangkan itu berpusat ke padanya. Apakah seperti ini reaksi orang-orang jika, si juara terlambat nomor satu di sekolah datang lebih pagi dari biasanya.
Rasanya mengapa aneh sekali?
"Kesambet apa tuh, si cia?" Bisik Faririn ke telinga Yena yang nampak menganga sedari tadi seakan tak menyangka jika, Cia datang sepagi ini.
Langkah Cia yang pelan itu nampak penuh hati-hati melintasi murid-murid yang masih menatapnya dengan tatapan serius. Rasanya Cia telah melakukan tindak kejahatan sehingga ditatap seperti itu. Cia duduk di kursi milik Fika masih dengan wajah yang kebingungan sembari berusaha mengatur nafasnya yang gugup setelah sedari tadi ditatap seperti itu.
"Apa?!!!" Bentak Cia mengelegar di dalam ruangan kelas membuat semuanya tersentak kaget lalu segera berpaling mengalihkan pandangannya membelakangi Cia.
Adelio yang sedari tadi juga ikut menatap Cia juga ikut tersentak mendapati bentakan dari Cia yang tiba-tiba. Gadis ini memang suka berteriak.
"Gila, heran gue. Datang terlambat di katain berandal, giliran datang pagi malah heran," oceh Cia sambil meletakkan tas barunya itu di meja.
Adelio menatap tas hitam yang Cia letakkan di atas meja. Adelio baru ingat jika, tas Cia masih ada di rumahnya. Adelio benar-benar lupa dengan tas itu hingga tak membawanya ke sekolah.
Haruskah Adelio memberi tahu gadis pemarah itu jika, tasnya ada di rumah sementara dalam kondisi gadis itu yabg sedang mengoceh. Jika, gadis ini tau kemungkinan gadis ini akan menelannya didetik ini juga.
"Heh!" bentak Cia menatap sembari menyentuh kasar bahu Adelio.
Adelio menoleh cepat.