Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 152



Suara lantunan ayat suci Al Qur'an terdengar cukup merdu dari barisan pria-pria remaja yang berpakaian serba putih dan berpeci. Aroma kapur barus tercium begitu menyengat ketika salah satu dari petugas mesjid wanita memberikan kapur barus di kain kafan itu membuat sebagian para pelayat yang berdatangan itu menutup hidungnya dengan ujung kerudungnya.


Para montir-montir bengkel mobepan juga ada di sana, ikut bersedih dengan kepergian Fatima. Mereka semua tak menyangka jika Fatima, wanita yang telah mereka anggap Mama kandung itu telah tiada. Mereka semua tak percaya jika wanita yang selalu memasakkan makanan setiap istirahat di bengkel itu telah pergi untuk selamanya.


Cia terpaku sambil menyandarkan tubuhnya di dinding rumah menatap Fatima yang kini tengah di bungkus dengan kain kafan putih itu. Kini suaranya sudah serak dengan matanya yang sudah bengkak bahkan kini matanya sudah lelah untuk menangis lagi.


Kini Cia telah menukar pakaiannya setalah memandikan Fatima bersama dengan Devan lalu menukarnya dengan pakaian hitam serta kerudung yang mengalungi kepalanya.


Haruskan Cia merelakan kepergian Mamanya itu begitu saja? Tuhan, tak semudah itu. Di dunia ini, Cia hanya memiliki satu wanita yang Cia anggap sebagai Ibu kandungnya yang selalu menjadikan wanita itu tempat pengaduannya. Wanita hebat yang selalu mengantarnya ke sekolah setiap pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, kini benar-benar semua telah pergi, sosok Ibu dan Nenek itu telah tiada. Dia lergi untuk selamanya.


"Kasian yah si Cia, masih muda tapi udah di tinggalin sama Fatima," bisik salah satu wanita yang kini tengah menatap Cia.


"Iya yah kasihan, jadi yatim piatu dong dia," bisik wanita yang satu lagi.


"Dokter Yusuf udah meninggal juga kan?" tanya salah satu wanita paruh baya.


Suara bisikan Ibu-ibu itu mampu Cia dengar dengan jelas di telinganya namun, tak membuat Cia untuk menegur mereka karena telah menyebut namanya. Kini bagi Cia Itu semua tak penting lagi baginya. Hati Cia dan kebahagiannya telah runtuh begitu saja.


"Mari Pak kita angkat dan kita shalatkan di masjid!" ajak Pak Sulaiman.


Semuanya mengangguk lalu segera mengangkat tubuh Fatima yang sudah terbalut dengan kain kafan dan meletakkannya ke dalam keranda.


Mamat, Jojon dan Deon berada di sisi kiri keranda. Tara, Haikal dan Adam kini berada di sisi kanan bersama dengan Devan.


Pak Sulaiman menoleh menatap Devan yang terlihat melamun, matanya tak bengkak atau bahkan menangis tapi dari wajahnya yang merah itu membuat pak Sulaiman tahu jika Devan sedang berusaha untuk tidak menangis.


"Mari Nak!" ujar Pak Haji Sulaiman sambil menepuk bahu Devan yang sedari tadi terdiam.


Devan berkedip ketika pak haji Sulaiman menepuknya membuatnya tersadar.


"Ayo!" ajak Pak Haji Sulaiman


Apakah ini semua benar-benar terjadi?


Devan melangkahkan kakinya yang gemetar hebat itu lalu segera berdiri paling depan di sisi kanan keranda. Mamat, Jojon dan Deon berada disisi kiri keranda. Tara, Haikal dan Adam kini berada di sisi kanan bersama dengan Devan sementara Yuang kini tengah memegang sebuah bingkai foto Fatima di sana.


Semuanya mulai membagi tugas untuk menggotong keranda jenazah milik Fatima.


"Hitungan ketiga semuanya angkat!" ujar Pak Haji Sulaiman.


Semuanya mengangguk lalu mereka bersiap-siap untuk mengangkat keranda.


"Satu!" sebutnya mulai menghitung.


"Dua!"


"Tiga! Angkat!" pintah Pak Haji Sulaiman.


Keranda itu terangkat dan segera membawanya keluar sambil melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan serentak, menggetarkan setiap orang yang mendengarnya.


Hujan rintik-rintik itu kini menetes terlihat samar-samar menghantam bumi yang kini penghuninya nampak sedang bersedih.


Tatapan Devan kosong menatap jalan dengan padangan yang buram. Sorot mata yang terlihat lemah, kedua mata yang telah lelah setelah sedari tadi menahan aliran air yang berusaha ia tahan. Kakinya yang masih gemetar itu sekuat tenaga ia tahan agar tak lemah.


"Gue harus kuat! Gue harus bisa!"


"Lo kuat Van! Lo pasti bisa!"


"Semua orang yang hidup pasti akan meninggal dan pergi."


"Semua yang berasal dari Tuhan juga akan kembali kepada Tuhan, ini kenyataan Van."


"Lo pasti bisa!"


"Gue harus bisa tapi sekarang lo udah nggak punya sosok wanita hebat lagi di dunia ini. Sekarang Cia udah nggak punya sosok Mama lagi."


Cia masi terpatung menatap dinding rumah dengan suasana sunyi dan tanpa ia sadari jika keranda itu baru saja beranjak pergi.


"Cia," panggil Maya menyentuh bahu Cia.


"Ma...Ma...Mama Cia mana?" tanya Cia menatap ke arah kasur itu.


"Cia," panggil Maya menyentuh bahu Cia.


Cia menatap cepat wajah Maya yang nampak menangis itu. Maya mampu merasakan rasa sakit dan kesedihan di hati Cia.


"Ya Mama, Mama Cia mana, Ya?" tanya Cia yang kini setengah terisak.


"Mama Cia mana?!!" jerit Cia.


Maya hanya mampu menangis, tak mampu untuk berkata-kata atau bahkan menjawab pertanyaan Cia.


Suara kalimat ayat suci Alquran itu terdengar sambil menggotong keranda yang di balut dengan kain berwarna hijau. Kini hujan rintik itu berganti menjadi hujan yang cukup deras membuat semua para pelayat basah kuyup.


"Mamaaaaaaaaa!!!" Suara teriakan itu terdengar dari belakang sana membuat semua orang menoleh menatap berusaha mengetahui dari mana asal teriakan itu. Dari kejauhan mereka semua dapat melihat Cia yang kini sedang berlari.


Lari Cia yang gemetar itu dengan lari yang begitu lemah menghantam lantai teras rumah berusaha mencegah orang-orang membawa Fatima pergi.


"Cia!" panggil Maya sembari mengejar, berusaha mencegah lari Cia.


"Mamaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi.


Pandangan Cia yang sedari tadi jelas menatap gerombolan orang-orang yang tak berhenti menggotong keranda Fatima walaupun Cia telah berteriak cukup keras tapi tak membuat mereka berhenti. Kini kedua mata Cia memburam membuat larinya memelan menuruni anakan tangga dan membuat tubuhnya basah di kuyup diterpa guyuran air hujan.


BRUK


Tubuh Cia terhempas cukup keras di atas permukaan tanah yang basah dan dihiasi dengan kerikil-kerikil kecil yang menggores telapak tangan Cia yang menghantam kasar permukaan tanah. Lututnya pun ikut berdarah ketika sebuah kerikil tertancap di lutut Cia namun darah yang mengalir itu kini tersapu oleh derasnya air yang turung dari atas sana.


"Ma...Ma...Mamaaaaaa!!!" teriak Cia merentangkan tangannya berusaha mencegah gerombolan itu yang kini sudah semakin menjauh.


"Jangan bawa mama Ciaaaa!!!"


"Jangaaaan!!!"


"Jangan bawa Mama Ciaaaa, dia belum meninggal!!!"


"Cia mohon!!!"


"Maaaaaaa!!! Mamaaaaaa!!! Jangan pergi, Maaa!!!" teriak Cia.


Mata Cia kini terasa perih diterpa guyuran hujan membuatnya tersedak dengan air hujan yang masih turung dengan derasnya. Kini air mata Cia sudah tercampur dengan air hujan yang menghantam kasar wajah Cia.


"Mama nggak boleh ninggalin Ciaaaaaa!!!"


"Mamaaaaaa!!!"


Jari-jari tangan Cia berusaha untuk menggapai keranda itu dari kejauhan. Ia berharap jika Mamanya datang, menyentuh tangannya dan membantunya untuk bangkit dari tanah.


"Cia sabar Cia!" Suara lembut itu terdengar ketika Maya mulai mendekap tubuh Cia dan menyadarkan kepala Cia ke dadanya lalu mengusapnya lembut.


Cia menoleh menatap Maya dengan serius.


"May, tolong! Tolong! Suruh mereka berhenti! Mama Cia belum meninggal!" pintah Cia.


Maya menggeleng berusaha untuk memberitahu Cia jika Fatima memanglah telah meninggal.


"Tolong, Mayaaaa!!!"


"Mamaaaaaa!!!" teriak Cia dengan nada suaranya yang kini telah melemah di akhir teriakannya.


Tubuh Cia yang terasa lemah itu kini lemas hingga tubuhnya jatuh dari dekapan Maya membuat kepala Cia terhempas ke tanah yang basah dengan sangat keras. Cia pingsan dan hal ini membuat semua orang-orang yang melihat hal itu dengan cepat berlari mengerumuni tubuh Cia yang terkapar di tanah.