Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 208



"Kalian udah pacaran?"


Surrrrr


Semburan air mineral yang berada di dalam mulut Cia kini tumpah ruah membasahi kursi yang berada di samping Cia. Fika terbelalak sambil mengangkat mangkuk yang nyaris di nodai oleh semburan Cia sementara Adelio kini menjadi salah tingkah dengan ucapan Fika.


"Ih jorok banget sih lo," kesal Fika yang kini kembali meletakkan mangkuknya ke meja.


Cia mengusap bibirnya yang basah itu lalu sesekali ia melirik Adelio. Betul saja Adelio terlihat masih salah tingkah dan memilih untuk berpura-pura minum.


"Udah pacaran belum?" tanya Fika lagi.


"Apaan sih lo, Ka?" kesal Cia dengan kedua pipinya yang nampak memerah persis seperti kepiting rebus.


"Belum yah?" tanya Fika sambil menatap Adelio dan Cia secara bergantian.


Cia dan Adelio kini terdiam membuat Fika kini mengangguk perlahan, tingkah mereka sepertinya menandakan jika mereka belum menjalin hubungan yakni pacaran.


"Jadi kalian belum pacaran yah?" tebak Fika lagi.


"Eh Lio!" panggil Adelio membuat Adelio menoleh menatap Fika. 


"Kenapa si Cia nggak ditembak aja?"


Adelio menoleh menatap Fika sejenak dan kembali tertunduk sambil mengaduk pelan kuah baksonya.


"Eh denger yah! Lo kalau kelamaan nembak Cia, nanti Cia diambil orang, mau lo?"


"Ka, apa-apaan sih lo?" Tatap Cia sambil melempar sebuah tisu yang telah di remas oleh Cia ke arah tubuh Fika yang kini dengan cepat menghindar.


"Yee marah, kan gue cuman nanya emang gue salah?"


Cia kini begitu sangat kesal sekaligus malu dengan ucapan Fika terhadap Adelio, ditambah lagi Adelio kini sesekali meliriknya. 


"Eh Lio, lo kalau kelamaan nembak si Cia bisa-bisa si Cia diambil sama orang, nih gue udah dua kali ngomong kayak gini!" oceh Fika sambil menunjuk bibirnya.


"Ih Fika ngeselin banget deh," ujar Cia dengan sangat kesal lalu segera melangkah meninggalkan Fika dan Adelio.


"Heh, mau kemana? Cia!" teriak Fika sembari menatap Cia yang masih melangkah.


"Loh, kok ngambek sih? Cia!" teriak Fika lalu segera bangkit dari kursi dan memakan bulatan bakso terakhirnya dan berlari mengejar kepergian Cia yang belum jauh.


"Cia!!! Tungguin gue!!!" teriak Fika.


Adelio kini terdiam. Mungkin yang dikatakan Fika juga ada benarnya, lagi pula Adelio juga tidak mau jika ada yang merebut Cia darinya. Sepertinya Adelio harus berbuat sesuatu kali ini.


...___***___...


Bel jam pulang kini terdengar membuat semua siswa dan siswi kini dengan serentak bergegas keluar dari kelas masing-masing setelah para guru yang mengajar berpamitan keluar. Suasana sekolah SMA Garuda bangsa terdengar bising dipenuhi dengan suara kebisingan motor yang baru saja dinyalakan.


"Gue pamit dulu yah Ci " ujar Fika yang kini sudah berada di atas motornya yang sudah sejak tadi menyala.


Cia mengangguk sambil tersenyum.


"Hati-hati yah, Ka!"


"Em, iya. Eh lo nggak mau nebeng gitu?"


"Nggak, gue pulangnya dana Adelio."


"Cieee," goda Fika sambil mencolek perut Cia.


"Mulai lagi deh, udah sana balik!"


"Iya, Iya. Marah-marah melulu deh."


"Hati-hati yah!"


Fika mengangguk lalu segera menancapkan gas meninggalkan Cia yang kini masih menatapnya dari kejauhan.


Beberapa detik kemudian kini tatapan Cia beralih menatap Adelio yang kini sedang menstarter motornya dengan susah payah. Cia menghembuskan nafas berat, Adelio sudah sejak tadi berusaha menyalakan motornya.


Cia kini terdiam, rasanya ia jadi teringat dengan Devan yang selalu membuatnya menunggu karena motornya yang tak mau menyala walaupun sudah distarter ribuan kali. Hal itu yang selalu membuat Cia kesal dan marah kepada Devan namun, sekarang Cia rindu dengan masa-masa itu.


Bola mata Cia terbelalak, tersadar dari lamunannya. Untuk pertama kalinya seorang pria pendiam berteriak. Ini mungkin biasa saja tapi ini cukup mengejutkan bagi Cia.


"Ah?" Tatap Cia, seakan bertanya.


"Ayo naik!" pintah Adelio sambil memberikan kode kepada Cia agar segera naik ke jok motor.


"Iya, iya," jawab Cia cepat lalu segera naik ke motor.


Cia terdiam, mematung di tempat duduknya sembari menanti Adelio untuk menancapkan gas. Cia terdiam lalu beralih menatap Adelio di balik kaca spion motor yang nampak menatapnya.


"Kok nggak jalan?" tanya Cia.


"Itu." Tunjuk Adelio ke arah tas Cia yang masih berada di belankang punggung Cia.


"Apa?" tanya Cia tak mengerti.


"Tasnya nggak disimpan di tengah?" tanya Adelio.


Cia menghembuskan nafas berat.


"Eh, lo santai aja dong! Lagian kan Ayah gue nggak ada di sini," ujar Cia dengan tatapan kesalnya.


"Yah tapi kan-"


"Aah ngomong melulu, terus ini apa?" tanya Cia sambil menepuk-nepuk keras tas Adelio membuat Adelio sesekali memejamkan kedua matanya secara bersamaan ketika Cia menepuk tasnya. Entah mengapa Cia punya kekuatan yang besar untuk memukulnya sekeras itu. Sepertinya kekuatan tubuh Cia ia dapat dari Devan, yah Adelio masih ingat saat ia dihajar habis-habisan oleh Devan.


"Udah cepet jalan!" pintah Cia lalu berpegangan di tas Adelio yang berada di punggung Adelio.


Adelio masih terdiam membuat Cia kembali mengkerutkan alisnya lalu kembali menatap Adelio.


"Lo jenapa lagi sih?" tanya Cia dengan nada kesal.


Tanpa sepata kata kini Adelio menjulurkan helm yang sedari tadi ia pegang ke arah Cia yang kini wajahnya yang awalnya marah kini berubah menjadi datar .  


  


"Demi ke amanan," ujar Adelio yang masih menjulurkan helm itu.


Cia meghembuskan nafas lelah lalu, meraih helm itu dengan cukup keras, membuat Adelio sedikit terkejut dengan tarikan itu.


Cia yang masih kesal itu kini segera memasang helm itu ke kepalanya lengkap dengan wajah datarnya.


Adelio terdiam sembari terus menatap wajah Cia yang nampak dibuat sepolos mungkin. Cia yang sadar dengan tatapan mata Adelio kini ikut terdiam, rasanya Cia sangat bahagia dengan tatapan Adelio yang masih menatapnya. 


Perlahan senyum Cia terlihat membuat kedua pipinya memerah karena rasa malu dengan tatapan Adelio.


"Kenapa?" tanya Cia, masih terus menatap Adelio yang nampak masih menatapnya cukup serius.


"Itu." Tunjuk Adelio.


"Apa?" Tatap Cia berbinar.


"Tali helmnya nggak dipasang." Tunjuk Adelio lagi.


Senyum Cia kini secara tiba-tiba langsung menghilang, rasanya Cia ingin memukul wajah pria di hadapannya ini detik ini juga. Cia menyangka jika Adelio menatapnya karena rasa sukanya ternyata tanpa Cia duga Adelio menatapnya karena tali helm yang belum terpasang.


Cia menghembuskan nafas berat lalu segera memasang tali helm itu dengan cepat.


"Nih! Nih! Udah! Udah! Puas lo?" tanya Cia sambil menepuk permukaan helm yang telah berada di kepalanya.


Tanpa sepata kata Adelio kini memutar tubuhnya membelakangi Cia lalu segera menancapkan gas meninggalkan area parkiran.


Ujung-ujung rambut Cia kini terlihat bergerak-gerak saat ditiup oleh angin yang berhembus lembut. Motor kini terus melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan beraspal kota Jakarta yang nampak ramai dilalui berbagai macam kendaraan. 


Cia yang sedari tadi asik menatap setiap bangunan yang ia lalui kini beralih menatap punggung Adelio. Senyum Cia terlihat, walau terlihat tipis. Cia mampu mencium aroma parfum Adelio yang dibawa oleh angin dan menerpa wajahnya cukup lembut.


Cia sama sekali tak mengerti, bagaimana bisa ia jatuh cinta dengan pria pendiam dan tak memiliki sikap romantis seperti Adelio. Adelio memang berbeda dengan pria lainnya.


Cia meghembuskan nafas berat lalu beralih menatap suasana kota Jakarta yang ia lalui bersama dengan Adelio.