
Suasana pagi ini cukup indah, dimana burung-burung kecil berterbangan indah di udara dan berteger di ranting-ranting pohon lalu mereka berkicau merdu. Hal itu yang Cia lihat ketika ia berhasil terpatung sambil menopang dagunya di pinggir jendela yang baru saja ia buka. Cia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata dan menghembuskannya lewat senyuman indah yang terbias di bibir Cia. Udara pagi ini begitu sangat segar.
Hari ini Cia telah siap untuk berangkat ke sekolah, walaupun jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Cia sengaja Bagun lebih pagi agar bisa menunggu Adelio di teras rumah dan membayangkan betapa indahnya saat bertemu dengan Adelio setelah Adelio mengungkapkan perasaanya kepada Cia. Hari ini rasanya Cia benar-benar tak sabar ingin bertemu dengan Adelio.
Cia tersenyum simpul lalu segera melangkah keluar dari kamarnya setelah ia meraih tas hitam dari atas meja belajarnya, tak lupa juga ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan melanjutkan langkahnya. Langkah Cia terhenti ketika berhasil mendapati Devan yang kini tengah memasang jaket hitam dengan tergesah-gesah.
Saat ini Devan terlihat sangat rapi dan sepertinya agak sibuk bahkan Devan kini tak menyadari jika Cia kini ada di sekitarnya dan tengah memandanginya.
"Ayah mau kemana pagi-pagi udah siap-siap?" tanya Cia.
"Ayah mau keluar sebentar," jawab Devan sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya lalu segera melangkah keluar dari rumah disusul Cia yang kini mengikut di belakang Devan.
"Kemana?" tanya Cia.
"Di sana!" ujar Devan sembari memasang sepatunya.
"Di sana mana?"
"Yah di sana. Pintu rumah tolong dikunci yah, Cia! Dan jangan lupa setelah pulang sekolah kamu suruh Adelio buat langsung antar kamu pulang ke rumah-"
"Tapi Ayah mau kemana buru-buru banget dan ini masih pagi," potong Cia.
"Udah, pokonya kamu setelah pulang dari sekolah langsung pulang!" jelas Devan lalu berniat untuk bangkit dari lantai namun tak lama Devan kembali duduk dan menoleh sambil menunjuk ke arah Cia.
"Oh iya, Tuan Abraham punya banyak cara untuk ngerebut kamu. Kalau aja kamu bisa nggak sekolah lagi mungkin hari ini kamu udah Ayah berhentiin kamu sekolah tapi sayang ini udah kelas tiga, kasian ijazahnya," jelas Devan lalu bangkit.
"Ayah pergi dulu," ujar Devan lalu membalikkan badannya membelakangi Cia dan melangkah namun baru beberapa langkah kini Devan kembali menoleh.
"Kalau sampai Tuan Abraham emang mau ngambil kamu, kamu marah aja, teriak, berontak atau terserah dan yang paling terpenting kalau bisa kamu bawa golok kek terus pukul kepalanya, terutama si botak itu."
"Maksudnya Pak Jef?"
"Iya terserah. Dah Ayah pergi dulu," ujar Devan dan melangkah pergi dengan tergesah-gesah seakan begitu sangat terburu-buru.
"Ayah!!! Tapi Ayah mau kemana?"
Cia terdiam kini terdiam menatap Devan pergi. Rasanya ada sesuatu yang berusaha untuk disembunyikan oleh Ayahnya itu. Entah kemana Devan akan pergi dan meninggalkannya begitu sangat terburu-buru tanpa memberitahunya.
Cia kini hanya mematung di teras rumah sembari menatap kepergian Devan yang kini semakin menjauh darinya.
Cia tertunduk lesuh. Sekarang ia teringat dengan Fatima, rasanya ia begitu sangat rindu dengan Mamanya itu.
Kata orang jika salah satu sosok keluarga yang hilang rasanya memang sakit dan tak mudah untuk diikhlaskan begitu saja. Tal ada lagi tempat Cia untuk mengadu segala semua lelah dan masalahnya yang ia rasakan.
Fatima, Nenek dari Cia adalah tempat pengaduan Cia ketika ia mendapat bullyan dari semua orang-orang karena yang orang-orang tahu jika Cia memiliki Ibu yang tua seperti Fatima.
Fatima selalu tersenyum ketika mendengar ala yang Cia katakan dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih dan sayang. Fatima selalu bilang untuk memarahi semua orang yang telah membully nya. Fatima berpesan agar Cia menjadi gadis yang kuat dan itu sebabnya sifat Cia lebih kasar, pemarah dan nakal kepada orang yang membuatnya tak senang bahkan terkadang dengan orang yang tak punya salah pun selalu mendapat geretakkan dari Cia.
PIP
PIP
PIP
Suara klakson motor terdengar membuat Cia tersenyum menatap Adelio yang kini nampak melambai-lambaikan jari-jarinya dengan pelan ke arah Cia.
Cia bangkit dari kursi lalu dengan cepat mengungci pintu rumah lalu melangkah menghampiri Adelio.
"Selamat pagi," sapa Adelio ketika Cia sudah berdiri di sampingnya.
Cia mengangguk lalu tertunduk malu.
Sekarang Cia sangat yakin jika Adelio akan bersikap romantis kepadanya yakni dengan memasangkan helm ke kepalanya. Yah itu harapan Cia saat ini. Ini sudah jelas akan Adelio lakukan kepalanya. Tolong mengertilah! Semalam Adelio mengungkapkan perasaanya kepada Cia.
Zonk
Senyum Cia menghilang. Apa yang ia harapkan tak sesuai dengan apa yang terjadi sekarang. Cia menghembuskan nafas berat. mengharapkan Adelio bersikap romantis kepadanya merupakan sebuah harapan bodohnya. Cia menghembuskan nafas berat lalu menarik dengan kasar helm dari tangan Adelio yang kini terbalalak kaget.
"Ada apa?" tanya Adelio.
"Ada apa?" tanya Cia ikut bertanya lalu tersenyum kecut dan memasang helm hitamnya dengan kesal.
"Kamu marah?"
"Kek nya mau ujan deh," ujar Cia sambil mendongak menatap langit yang terlihat cerah membuat Adelio ikut mendongak.
"Oh yah?" tanya Adelio lalu beberapa detik kemudian ia kembali menatap Cia yang kini ternyata sedang menatapnya dengan tatapan marah.
"Kayaknya tidak mau hujan."
"Iya gue tahu, langit nggak hujan nih mata gue mau hujan!!!" teriak Cia lalu segera naik ke atas motor.
"Mata kamu ada langit?"
"Nggak."
"Terus kok bisa hujan?"
"Diaaaam!!!" teriak Cia.
...____****____...
Motor yang melaju itu kini terhenti tepat di area parkiran motor membuat Cia segera melangkah turun dari motor Adelio.
Cia menghembuskan nafas pasrah, ia tak akan lagi berharap jika Adelio akan membantunya melepas helm dari kepalanya. Itu tak akan pernah Adelio lakukan untuknya.
Cia melangkah pergi meninggalkan Adelio setelah meletakkan helm di atas jok motor Tanpa memperdulikan Adelio yang nampak menatapnya dengan heran.
"Cia!" panggil Adelio lalu segera berlari mengejar kepergian Cia.
Cia tetap melangkah pergi tanpa memperdulikan Adelio yang memanggilnya.
"Cia!" panggil Adelio lagi.
Langkah lari Adelio semakin cepat hingga berhasil memegang pergelangan tangan Cia membuat Cia berhasil menghentikan langkahnya.
"Apa sih?" Tatap Cia kesal.
Adelio terdiam sembari berusaha mengatur nafasnya. Adelio melirik ke arah sekitarnya yang nampak masih sunyi, siswa dan siswi belum banyak yang tiba di sekolah.
"Apa?" tanya cia dengan nada yang sudah sangat kesal.
Adelio terdiam beberapa saat seakan gugup untuk mengatakan sesuatu.
"Lo mau ngomong apa sih? Kalau lo nggak mau ngomong yah lepas?" pintah Cia sembari menghempas tangannya.
Adelio tersentak karena hempasan itu namun, karena tenaga Adelio yang lebih kuat membuat Cia tak mampu melepas genggaman di pergelangan tangannya.
"Aku mau ngomong," ujar Adelio akhirnya
"Yah udah ngomong! Apa susahnya sih tinggal ngomong aja! Nggak usah pake pegang-pegang!"
"Ini penting." Tatap Adelio dengan penuh penuh keseriusan.
"Yah udah ngomong!"