Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 95



Adelio menoleh menatap Cia cepat lalu mengerakkan jari-jari tangannya. Cia yang melihat hal itu dengan cepat berlari menuju barisan.


"Wah gila," ujar Cia ketika telah berdiri di tengah-tengah Adelio dan Fika.


"Cia!" Tatap Fika terkejut. Entah dari mana Cia ini datang dan membuat Fika kini berjauhan oleh Adelio.


"Pagi Ka," ujar Cia berbinar sambil memberi senyumnya.


"Topi lo mana, Ci?" bisik Fika menatap ke arah kepala Cia.


"Aa?" Cia kini merambah kepalnya, betul saja tak ada topi di kepalanya.


Cia betul-betul sangat lupa dengan topinya itu, jika begini pasti pak Yanto melihatnya pasti pak Yanto akan memarahinya dan memberi hukuman.


"Kebiasaan kamu ini, dasar anak IPS," gerutuh Pak Yanto kesal lalu mulai memutar tubuhnya.


Adelio yang kini masih terdiam, wajahnya nampak khawatir melihat pak Yanto yang kini ingin memutar tubuhnya menatap ke arah mereka. Jika pak yanto melihat Cia tanpa menggunakan topi pasti Cia akan mendapat hukuman lagi.


"Lari Ci!" ujar Fika sebelum pak Yanto menoleh.


Cia mengangguk lalu membalikkan tubuhnya berniat untuk berlari meninggalkan barisan upacara.


Syut.


Langkah Cia terhenti ketika seseorang menyentuh pergelangan tangannya membuatnya tak bisa berlari dari barisan. Cia menoleh menatap Adelio yang kini memegang pergelangan tangannya.


Adelio tak menatap Cia sama sekali membuat Cia semakin kebingungan ditambah lagi Adelio yang menghalangi larinya.


Adelio meraih topi dari kepalanya lalu meletakkan topi milikinya itu ke atas kepala Cia yang kini terdiam.


"Heh, ngapain kalian?" tanya Pak Yanto menatap bingung ke arah Adelio dan Cia yang kini saling berpegangan.


Adelio dengan cepat melepas pegangannya dari pergelangan tangan Cia yang kini merabah topi yang kebesaran itu di atas kepalanya.


"Loh Cia?" Tunjuk Pak Yanto bingung.


"Sejak kapan kamu ada di sini?"


"Sa...saya-"


"Dia udah dari tadi di sini, Pak," jawab Adelio cepat.


"Loh kok saya nggak liat?"


"Dia tadi ada di sebelah saya pak jadi, mungkin pak Yanto nggak ngeliat Cia," jelas Adelio berbohong.


"Kamu nggak bohong kan?" Tatap Pak Yanto penuh curiga.


"Apa Betul yang dikatakan Adelio, Fika?"


"Iya Pak?" Fika yang sedari tertunduk kini tersentak kaget.


"Apa betul Cia sudah dari tadi di samping Adelio?" Tatap Pak Yanto serius.


Fika terdiam rasanya ia tak berniat untuk melindungi Cia dari Pak Yanto tetapi, jika Fika jujur pasti Adelio akan menyalahkannya dan membuat Adelio berfikir buruk kepadanya. Sebenarnya Fika sangat kesal dengan Cia yang berdiri di tengah-tengah memisahkan jarak antara ia dan Adelio, Fika benci.


Cia terdiam menatap Fika dengan  wajah kebingungan. Entah mengapa rasanya ada yang aneh dari Fika. Sahabat terbaiknya sepertinya ragu untuk melindunginya.


"Bagaimana, Fika?" tanya Pak Yanto.


"I...iya, Pak," jawab Fika dengan berat hati.


Pak Yanto mengangguk percaya dengan apa yang Fika katakan. Pak Yanto yang berniat untuk melangkah pergi kini tertahan menatap Adelio yang tak menggunakan topi. 


"Kenapa kamu nggak pake topi?" tanya Pak Yanto.


"Sa...saya lupa, Pak," ujar Adelio.


"Lupa?"


"Iya, Pak." Adelio mengangguk.


"Sini kamu!"


Pak Yanto kini meraih pergelangan tangan Adelio keluar dari barisan melangkah dengan langkah tergesaa-gesa ke arah barisan Andi dan Tegar.


"Sini kamu berdiri!" Tunjuk Pak Yanto kejam.


Tanpa sepata kata Adelio berdiri tepat di samping Tegar yang nampak menatapnya dengan lirikan pelan.


Cia terdiam menatap kasihan kepada Adelio yang kini berdiri di barisan murid bermasalah di hari Senin ini. Seharusnya Cia yang ada di sana bersama Andi dan Tegar bukan Adelio.


Mengapa Adelio melakukan hal itu? Apa alasan Adelio? Kini pikiran itu seakan berbisik di telinganya.


Sementara Fika kini semakin kesal dengan apa yang ia lihat saat ini. Mengapa Adelio sangat peduli dengan sahabatnya itu. Seandainya Fika yang ada di posisi itu apakah Adelio akan melakukan itu juga seperti yang di lakukan Adelio kepada Cia.


"Ka, gue titip dasi gue yah!" bisik Cia menjulurkan dasi itu ke telapak tangan Fika lalu berlari.


Fika dengan tatapan heran itu memegang dasi Cia sambil menatap Cia yang kini berlari keluar dari barisan.


Lari Cia cepat melewati barisan yang kini sedang mengheningkan cipta yang diiringi dengan musik yang terdengar merdu.


"Pak!" panggi Cia ngos-ngosan menghentikan larinya menatap Pak Yanto.


Adelio, Andi dan Tegar kini menoleh menatap Cia dengan tatapan bingung.


"Loh kamu kenapa?"


"Saya nggak pake dasi, Pak," ujar Cia masih ngos-ngosan.


...____***____...


Panas matahari kian memanas menghantam atap sekolah yang bertingkat. Barisan dari siswa dan siswi kini telah bubar ketika upacara telah selesai.


Para siswa dan siswi nampak sibuk ke kantin sekolah bahkan ada beberapa guru yang telah masuk ke kelas masing-masing sesuai dengan jadwal pelajaran yang telah ditentukan.


Ratusan siswa dan siswi nampak berteger di balkon sekolah tingkat atas sambil menatap ke bawah menyaksikan murid bermasalah hari ini yang nampak berdiri di depan tiang bendera sambil memberi hormat.


Sebenarnya hal ini sudah biasa terjadi apa lagi dengan Andi, Tegar dan Cia tetapi, kali ini berbeda, ada pria tampan di sana, Adelio.


"Kalian tahu kan apa kesalahan kalian?" ujar Pak Yanto melangkah di hadapan mereka sambil meletakkan tangannya ke belakang.


Semuanya tertunduk kecuali Cia yang mengerakkan matanya mengikuti langkah Pak Yanto yang terus mondar-mandir tak jelas.


"Saya sangat kecewa sama kalian semua."


"Ini bukan yang pertama kali kalian berbuat kesalahan."


"Mau jadi apa kalian?"


"Tidak berguna."


"Kalian ini harusnya malu berbuat seperti ini."


"Nggak punya masa depan kalian ini."


Ocehan Pak Yanto terdengar sambil masih mondar-mandir di hadapan mereka yang kini terdiam, tak ada di antara mereka yang angkat bicara.


"Kamu." Tunjuk Pak Yanto ke arah wajah Tegar yang kini menelan ludah.


"Mau jadi apa kamu? Mau kerja apa kamu nanti?"


Tegar terdiam tak menanggapi pertanyaan Pak Yanto.


"Heh saya bertanya, kalau saya bertanya, yah, harus dijawab!"


"Iya, Pak."


Tegar mengangguk dengan senyum hambar yang menghias di bibirnya.


Pak Yanto ikut mengangguk lalu melangkah berniat melewati Tegar namun, dengan cepat Pak Yanto terhenti menatap Tegar lagi.


"Mau kerja apa kamu nanti?"


"Kerja di bagian penerbangan, Pak."


"Penerbangan?"


Tegar mengangguk mengiyakan ucapan pak Yanto.


"Pesawat maksud kamu?" Tatap Pak Yanto tak yakin.


"Iya, Pak."


"Tinggi juga cita-cita kamu, Pilot?"


"Bukan, Pak."


"Terus?"


"Bagian angkat-angkat barang penumpang, Pak."


Andi melipat bibirnya ke dalam berusaha menahan tawanya setelah mendengar kalimat bodoh yang Tegar baru saja ucapkan.


"Hahaha," tawa Cia meledak di tengah keheningan membuat Andi ikut tertawa.


Tegar ikut tertawa bahkan suara tawanya nampak terbahak membuat Pak Yanto yang berniat akan menegur Cia dan Andi kini terdiam melirik Tegar tajam.


"Diam!!!" bentak Pak Yanto.