
18 Tahun yang lalu ....
Suara hentakan sepatu ketika seorang pria berlari cukup kencang terdengar sambil melewati jalan beraspal..Di tubuhnya kini terdapat sebuah kresek hitam serta sebuah kardus mi yang bertuliskan nama Devan Alwiyora yang menggantung di lehernya.
Wajah pria berumur 12 tahun ini begitu sangat tampan dilengkapi dengan lesung pipinya. Dia adalah Devan Alwiyora, seorang bocah dengan paras tampan yang lahir dari wanita bernama Fatima Alwiyora dan Ayahnya Farhan Alwiyora.
Hari ini adalah hari pertama pengenalan siswa dan siswi baru untuk SMP Bangkit yang akan segera di gelar jam 7 pagi semetara sekarang jam sudah menunjukan pukul 8, Ini sudah betul-betul terlambat.
Devan mungkin saja akan mendapatkan hukuman. Jika ia tidak masuk hari ini maka akan banyak pertanyaan yang menghampirinya esok hari.
"Di sini harus mengikuti peraturan!" teriak salah satu anggota OSIS yang berpakaian rapi dengan kartu tanda pengenal yang menggantung di lehernya sambil menatap ke seluruh calon siswa dan siswi yang kini nampak berbaris rapi.
Dia adalah Kasya Brahmana, seorang gadis yang berparas cantik yang telah menjabat sebagai ketua OSIS di SMP bangkit.
Kasya merupakan gadis berumur 14 tahun yang memiliki kepribadian disiplin. Ia lahir dari keluarga kaya raya dan amat sangat terhormat di kota ini. Firdha Brahmana dan Abraham brahmana merupakan orang tua kandung dari Kasya yang telah membimbing Kasya menjadi gadis yang juga sangat dihormati di sekolah ini, tidak salah lagi, Kasya kini menjabat sebagai ketua OSIS di SMP bangkit.
"Kalian mengerti?!!" teriak Kasya berhasil memecah keheningan.
Lari Devan begitu kencang ketika menatap gerombolan siswa dan siswi yang seumur dengannya kini tengah berbaris. Ini akan menjadi masalah besar bagi Devan karena telah datang terlambat.
"Di sini tidak ada yang boleh terlambat!!!" teriak kasya lagi.
Devan kini berlari dan segera bergabung di barisan. Devan kini menghembuskan nafas panjang saat ia berhasil berdiri paling ujung di barisan panjang tanpa sadar jika ia kini telah berdiri di barisan perempuan.
Semua calon siswi SMP bakti itu kini menoleh menatap Devan dengan tatapan bingung. Sebagian dari mereka nampak tersenyum menatap Devan. Beberapa dari mereka ada yang saling berbisik membicarakan tentang ketampanan Devan.
"Nah itu siapa itu?" Tunjuk kasya ke arah Devan yang kini menoleh menatap Kasya.
Kasya kini melangkah lalu berdiri tepat di hadapan Devan yang kini tersenyum menatap Kasya yang kini terlihat sangat serius menatapnya.
Kasya mengkerutkan alisnyaenarao heran pada pria ini yang telah memberikan senyum kepadanya. Apakah pria ini senang atau ia tidak merasa bersalah setelah datang terlambat.
"Kenapa kamu senyum?" tanya Kasya.
Devan menghentikan senyumnya lalu menggeleng. Ia pikir dengan senyum itu membuatnya tak dapat amukan karena telah datang terlambat. Devan kini menggeleng lalu tertunduk.
"Maaf Kak," ujar Devan.
"Kamu perempuan?" tanya Kasya membuat Devan mengakat pandangannya menatap heran ke arah Kasya.
"Aaa?" Tatap Devan heran.
"Kamu sadar tidak kalau kamu berdiri di barisan perempuan?"
Devan yang mendengar akan hal itu dengan cepat menatap ke sekelilingnya menatap gadis-gadis yang kini sedang tertawa menatapnya.
"Diam!!!" teriak Kasya membuat semua orang menghentikan tawanya.
"Tidak ada yang lucu di sini!!!" teriaknya lagi lalu Kasya menoleh menatap Devan yang kini dengan cepat menghilangkan senyum dari bibirnya, yah saat Kasya tak menatap Devan, Devan malam tersenyum menatap serius wajah Kasya yang terlihat begitu sangat cantik.
"Sadar tidak kamu?" tanya Kasya begitu tegas.
Devan menggeleng sambil sedikit tersenyum.
"Maju kamu!" pinta Kasya.
Devan masih terdiam, apa yang membuatnya harus melangkah maju.
"Maju!!! Berdiri di sana!!!" Tunjuk Kasya ke arah depan barisan rapi itu.
Devan kini mendecapkan bibirnya lalu segera melangkah ke arah depan membuat semuanya terbelalak menatap paras tampan Devan yang kini menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kamu blasteran yah?" tanya salah satu anggota OSIS itu membuat Devan menggeleng.
"Emang kenapa, Ra?" tanya pria itu yang juga merupakan anggota OSIS.
"Nggak, mukanya kayak bukan produk lokal, ganteng banget," kagum anggota OSIS itu.
Mendengar hal itu, semuanya tertawa sambil berseru membuat Devan tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Diam!!!" bentak Kasya membuat semuanya terdiam.
Kasya kini melangkah ke arah Devan lalu menatapnya dengan tajam membuat Devan semakin tersenyum.
"Kenapa kamu senyum?" tanya Kasya.
"Push up sekarang!" pintah Kasya membuat Devan terbelalak.
"Apa?" tanya Devan.
"Push up!" pintah Kasya lagi.
Kini Devan menghembuskan nafas berat lalu segera melakukan apa yang telah di perintahkan oleh ketua OSIS itu.
"Untuk semua yang ada di sini, jangan ada yang kayak dia!!!" teriak Kasya sambil menunjuk ke arah Devan yang masih push up.
"Jangan ada yang berani datang terlambat karena kalau kalian berani maka kalian semua akan kamu hukum seperti ini!!!" jelas Kasya semetara semua para siswi-siswi kini terlihat tersenyum malu-malu saat menatap paras tampan Devan.
...___***___...
Suasana SMP bakti kini terdengar berisik ketika seluruh siswa dan siswi baru kini duduk di lapangan terbuka setelah membersihkan lingkungan sekolah.
"Woy!" Tepuk seorang bocah laki-laki ke bahu Devan yang kini tengah asik menatap Kasya dengan serius yang kini tengah duduk di sebuah kursi kayu.
"Apa sih?" tanya Devan kesal.
"Liat apa kamu?" tanya bocah laki-laki itu.
"Dia." Tunjuk Devan tanpa sungkan ke arah Kasya.
"Kamu suka sama kak Kasya?" tebak bocah laki-laki itu yang merupakan sahabat Devan sejak SD.
"Husst!" tegur Devan cepat sambil meletakkan telunjuknya di depan hidungnya, membuat sahabatnya itu tertawa.
"Tapi emang sih kak Kasya cantik," ujar sahabatnya sambil menatap wajah Kasya dari kejauhan.
Devan mengangguk, ternyata nama gadis itu adalah Kasya.
"Kamu tahu namanya dari mana?" tanya Devan.
"Aduh, siapa sih yang tidak kenal Kak Kasya, dia itu ketua OSIS di sekolah ini," jelas bocah laki-laki itu.
"Tapi Dev, katanya kak Kasya itu anak orang kaya," bisik sahabatnya membuat Devan semakin menatap serius ke arah Kasya.
"Semuanya berbaris!!!" teriak salah satu anggota OSIS itu membuat semuanya beranjak dari duduknya lalu segera berbaris dengan rapih.
"Yuk Van!" ajak bocah itu lalu menepuk bahu Devan dan berlari memasuki barisan semetara Devan kini melangkah dengan santai menuju barisan.
"Wah, lelet banget yah jalannya," tegur Kasya menatap Devan.
Devan hanya membalas dengan senyuman membuat siswi-siswi yang melihatnya ikut tersenyum.
"Lelet banget kayak pengantin aja kamu!" tegur Kasya lagi.
"Doain yah, Kak. Nanti saya nikah sama Kakak," ujar Devan lalu tersenyum simpul menatap Kasya.
Kasya menatap wajah Devan dengan tatapan tegang semetara Devan tak pernah sedikitpun menghentikan senyumnya. Kasya kini menggeleng lalu melangkah mundur dan kembali duduk di kursi.
"Dengar semua!!!" teriak salah satu anggota OSIS membuat semua perhatian menatap ke satu arah sementara Devan terus menatap Kasya.
"Besok saya mau kalian buat surat pesan dan kesan untuk pengurus Osis dan jika tidak memberatkan kalian bisa memberi hadiah untuk salah satu anggota OSIS yang kalian segani di sini," jelas salah satu anggota OSIS itu.
"Mengerti?"
"Mengerti Kak," jawab mereka dengan kompak.
Barisan yang rapi itu kini bubar dari lapangan ketika anggota OSIS itu telah membolehkan mereka semua pulang.
Devan kini melangkah ke arah kresek hitam yang ia letakkan di bawah sebuah pohon mangga sebelum ia membersihkan tadi. Devan yang ingin melangkah pergi setelah mendapatkan keresek hitam itu kini terdiam menatap Kasya yang kini bangkit dari sebuah kursi. Kasya kini melangkah pergi tanpa sadar jika gantungan hiasan tas berbentuk boneka beruang itu terjatuh ke tanah.
Devan kini berlari lalu segera meraih gantungan kunci itu. Devan tersenyum saat boneka beruang kecil itu ada di tangannya. Perlahan Devan menoleh menatap Kasya yang kini masih melangkah ke arah gerbang sekolah.
"Kak ketua OSIS!!!" teriak Devan menatap kepergian Kasya sambil mengangkat gantungan kunci itu.