
Kasya tak menoleh, sepertinya Kasya tak mendengar teriakan Devan. Tanpa pikir panjang kini Devan berlari lalu mengejar kasya.
"Kak!!!" teriak Devan sambil berlari.
Lari Devan terhenti, ia lupa dengan nama gadis itu.
"Namanya siapa yah?" tanya Devan pada dirinya sendiri.
"Em, Kak ketua OSIS!!!" teriak Devan lalu kembali melanjutkan larinya.
Teriakkan Devan kini berhasil membuat Kasya terhenti dan menoleh ke belakang.
BRUK
Suara hempasan tubuh Devan terdengar secara bersamaan ketika kasya menoleh. Kasya terbelalak menatap pria yang telah ia hukum tadi kini telah terbaring di atas tanah dengan tangannya yang masih memegang gantungan kunci beruangnya.
Angin berhembus pelan membuat dedaunan pohon mangga kini terlihat bergoyang pelan membuat dedaunan yang telah mencoklat itu berguguran ke tanah.
"Ah!" aduh Devan ketika sesekali sebuah kapas yang telah di beri obat menyentuh sikunya yang terluka.
Kasya ikut meringis seakan ikut merasakan sakit yang Devan rasakan sambil terus memberikan obat pada luka berdarah Devan.
"Kenapa harus lari sih?" tanya Kasya dengan tatapan marah namun hanya dibalas senyum dari Devan. Tak ada wajah marah dari gadis ini, yang Devan tahu dan yang Devan lihat adalah gadis cantik itu peduli kepadanya.
"Ini," ujar Devan sambil mengangkat gantungan kunci itu.
Kasya menarik nafas singkat lalu menghembuskan nafas berat dan segera meraih gantungan kunci dari tangan Devan.
"Lain kali nggak usah lari!" tegur Kasya lagi semakin membuat Devan tersenyum.
"Kamu kenapa?" Tanya Kasya keherangan menatap Devan yang kini mulai mengurangi takaran senyumnya.
"Tidak apa-apa," jawabnya.
"Nama Kakak siapa?" tanya Devan dengan kedua matanya yang terus menatap wajah Kasya dengan serius.
"Kasya," jawab Kasya membuat Devan mengangguk.
"Kakak cantik," ujar Devan sambil tersenyum seakan tak menyesal setelah mengatakannya.
Kasya terdiam dengan matanya yang membulat menatap wajah Devan yang kini masih tersenyum lebar.
Kasya menghembuskan nafas berat, berusaha menyingkirkan kalimat Devan tadi. Kasya meraih boneka beruang miliknya lalu segera bangkit dan melangkah pergi tanpa berpamitan kepada Devan atau pun mengucapkan kata terimakasih. Menurutnya ia telah membayar perbuatan baik Devan dengan membantu mengobati luka Devan.
"Kak!" panggil Devan namun, tak berhasil membuat kasya menghentikan langkahnya.
"Kakak tau cinta?!!" teriak Devan.
Kasya tak menghentikan langkahnya. Ia terus saja melangkah.
"Aku jatuh cinta, Kak!!!" teriak Devan.
Devan mendecapkan bibirnya saat Kasya tak kunjung menoleh atau menghentikan langkahnya.
"Kak!!! Saya Cinta sama Kak Kasya!!!" teriak Devan.
Kasya mampu mendengar apa yang baru saja Devan katakan kepadanya tadi, rasanya jantung Kasya berdetak begitu cepat. Dengan cepat Kasya berlari meninggalkan Devan yang kini tersenyum. Devan tahu gadis itu malu.
...___***___...
Devan melepas sepatu di teras rumah lalu berlari masuk ke dalam rumah. Langkahnya sempat terhenti saat menatap mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya. Devan ingat betul dengan mobil itu, itu mobil Pamannya.
Devan berlari dan tersenyum menatap Paman, Bibi dan sepupunya, Dava yang kini telah duduk bersama Mama dan Bapaknya di ruang tamu.
"Eh Devan sudah pulang," ujar Bibinya.
Devan tersenyum lalu menyalimi satu persatu orang yang ada di ruang tamu.
"Sudah daftar SMP yah, Van?" tanya Bibinya.
"Sudah, Bi," jawab Devan.
"Va, kamu nginep tidak?" tanya Devan.
"Iya aku nginap," jawab Dava dengan senangnya membuat Devan tersenyum gembira.
"Serius?" tanya Devan.
"Iya dong," jawab Dava.
"Wah bagus dong, nanti kita tidur sama-sama," ujar Devan.
"Bibi sama Paman mau nginep juga?" tanya Devan begitu antusias.
"Tidak, Van. Cuman Dava yang menginap," ujar Pamannya.
"Sudah, Van! Cepat masuk dan ganti seragam kamu terus ajak Dava makan sama kamu!" pintah Bapak Devan.
"Baik, Pak," jawab Devan lalu berlari masuk ke dalam kamarnya.
...___***___...
Suara jangkrik dan katak terdengar memenuhi suasana malam yang begitu sejuk. Kini jam telah menunjukkan pukul 9 malam dimana kini Devan dan Dava telah berada di dalam kamar. Dava ada salah satu sepupu laki-laki Devan yang paling akrab dengan Devan. Setiap libur sekolah atau ada acara khusus Dava selalu datang ke rumah Devan untuk liburan.
Dava kini telah berusia 15 tahun dan telah memasuki kelas satu SMA semetara Devan baru berusia 12 tahun.
Devan kini menutup jendela kamarnya setelah sejak tadi menatap langit yang terlihat indah dengan hiasan bintang di sana. Devan tersenyum, setelah bersemedi dan merangkai kata untuk menulis pesan dan kesan untuk anggota OSIS itu kini Devan telah menemukan kata-kata yang akan ia tulis. Dengan cepat Devan menarik kursi dan duduk dengan tangannya yang meraih cepat sebuah pulpen dan sehelai kertas.
Jujur Devan selalu melakukan apa yang ia lihat di TV. Rasanya ia juga ingin merasakan apa yang ia lihat seperti halnya apa yang ia lihat di TV.
"Kamu tulis apa, Van?" tanya Dava.
"Tulis pesan dan kesan untuk Kakak OSIS," ujar Devan memberitahu.
"Oh," ujar Dava yang kini meraih handphone dari saku bajunya.
"Van!" panggil Dava.
"Em," sahur Devan tanpa menoleh.
"Lihat ini," ujar Dava sambil mengangkat handphone.
Devan menoleh menatap handphone yang berada di tangan Dava.
"Wah, kamu sudah punya handphone?" tanya Devan.
"Iya, Papa sama Mamaku belikan ini," jawab Dava.
"Hebat, ada gamenya?"
"Ada."
"Wah, nanti aku pinjam yah!" ujar Devan.
"Ini." Julur Dava ke arah Devan.
"Tunggu ini selesai yah!" ujar Devan lalu kembali menulis.
Kini suasana kamar Devan menjadi sunyi. Jam telah menunjukkan pukul 10 malam, dimana semua orang yang ada di rumah ini telah tidur kecuali Devan dan Dava.
"Aaaaaah," suara des*han terdengar membuat Devan dengan mata terbelalak menatap Dava yang kini ikut terkejut, ia lupa mengundur volume suara handphonenya.
"Itu apa, Dav?" tanya Devan kaget.
"Hust!" tegur Dava sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Itu suara apa?" tanya Devan dengan berbisik.
"Sini!" panggil Dava membuat Devan bangkit dari kursinya lalu duduk di samping Dava yang kini menutup layar handphonenya.
"Kamu jangan bilang siapa-siapa yah!" Tunjuk Dava.
"Emang itu suara apa?"
"Hust!" suruhnya sambil menatap pintu berusaha untuk memastikan jika tak ada yang mendengar atau melihat mereka berdua.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Aku nonton Vidio b*kep," jawab Dava dengan berbisik.
"B*kep? Apa itu b*kep?" tanya Devan.
"Hust!!! Vidio b*kep, perempuan sama laki-laki yang saling tidur terus yang di bawah kita dimasukin ke dalam punya dia," jelas Dava membuat Devan melongo. Jujur Devan tak mengerti.
"Ngerti tidak?" tanya Dava membuat Devan menggeleng.
"Haduh, yah udah aku kasih liat vidionya tapi jangan kasih tau siapa-siapa! ok?"
"Ok," jawab Devan.
Dava kini menyalakan handphonenya membuat Devan duduk lebih dekat dengan Dava. Kedua mata Devan terbelak menatap apa yang ia lihat pada layar handphone milik Dava. Di layar itu dengan sangat jelas Devan melihat seorang pria yang melakukan hubungan intim yang tak layak untuk ditonton oleh Devan dan Dava yang masih berusia dini.
Vidio yang tak patut untuk dilihat oleh kedua bocah laki-laki ini. Vidio yang memberi sisi negatif bagi mereka.
"Memangnya boleh melakukan seperti ini?" tanya Devan.
"Boleh," jawab Dava dengan santai.
Devan mengangguk setelah mendengar jawaban Dava.
"Tapi kenapa perempuan itu menangis?" tanya Devan lugu.
"Bukan menangis, dia itu merasakan kenikmatan," jawab Dava
"Oh yah?" Tatap Devan serius membuat Dava mengangguk.
"Kamu dapat Vidio begini dari siapa?" tanya Devan.
"Dari teman ku, dia punya banyak," jawab Dava.
Devan menghembuskan nafas pajang saat Vidio itu telah habis ia tonton.
"Sudah?" tanya Devan.
"Sudah, tapi aku punya banyak Vidio lagi," jawab Dava.
"Oh yah?"
"Mau lihat?"
"Mau," jawab Devan membuat Dava dengan cepat kembali menekan layar handphone hingga Vidio tak layak tonton itu dilihat oleh keduanya lagi dan lagi.