Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 196



"You orang makassar?" tanya Baby yang kini berusaha untuk menyandarkan kepalanya di bahu Adelio yang hanya mampu mengangguk.


"Wah jauh juga yah," ujar Baby lagi.


"Heh!!! Sono! Sono!" tarik Jojon ke pergelangan tangan Baby berusaha untuk menjauhkan Adelio dari Baby.


"Ih apha sih? Ekye kan cuman mau kenalan," kelas Baby sambil menghentakkan kakinya secara bergantian.


"Nggak usah banyak alasan lo! Gue tahu otak lo isinya apaan," cerocos Jojon.


"Eh Adel...Adel... Siapa sih nama lo?" tanya Jojon sambil merangkul bahu Adelio.


"Adelio," jawab Baby membuat para montir melirik tajam pada Baby yang kini tersenyum sok manis.


"Yang ditanya Adelio bukan kuntilanak," cerocos Jojon membuat Baby cemberut.


"Adelio, jangan mau dekat-dekat sama dia! Dia banyak virusnya," bisik Jojon membuat Adelio tersenyum lalu mengangguk.


"Jangan angguk-angguk aja lo! Ngerti nggak lo?"


"Saya mengerti, Bang," jawab Adelio dengan sopan.


"Yah cara ngomongnya saya kamu, nggak gau banget," ujar Jojon lalu melangkah pergi menuju karpet lalu membaringkan tubuhnya.


"Pret, lo aja tuh yang nggak sopan manggilnya lo gue," cerocos Haikal.


"Ah, masih mending gue cara ngomongnya lo gue, nah ono sih Tara manggilnya absen nama-nama hewan dari anjing sampe zebra," jelas Jojon.


...___***___...


Semuanya kini nampak duduk dengan rapi di hadapan TV yang masih asik diperbaiki oleh Adam yang begitu sangat fokus merombak setiap kabel.


"Ini masih lama nggak sih Dam?" tanya jojon kesal yang kini telah lelah untuk harus menunggu.


"Sabar Mas Jon! Ini sepertinya udah mau selesai," jawab Adam tanpa menoleh menatap Jojon.


"Dari tadi jawabannya itu mulu, nggak ada yang lain apa?" kesal Haikal yang kini duduk di atas karpet sambil memetik tali gitarnya.


"Sabar Mas Kal! Ini sepertinya udah mau selesai," jawab Adam lagi tanpa menoleh menatap Haikal.


"Lama amat," tambah Haikal.


Adelio tersenyum menatap satu persatu montir yang ada di sini. Yah mereka yang berjumlah banyak itu begitu sangat berisik kecuali pria yang memiliki tubuh berotot, tinggi dan besar itu. Pria yang bernama Tara itu sejak tadi tak bicara ataupun marah seperti montir-montir lainnnya yang tak henti-hentinya bicara. Pria bernama Tara itu sepertinya adalah pria yang baik dan sabar.


Kini jam sudah menunjukan pukul sembilan malam dimana pertandingan bola sedang berlangsung namun saat ini para penonton yang telah siap itu tak mampu menyaksikan pertandingan pasalnya TV yang rusak itu masih diotak-atik oleh Adam.


Ikan yang telah di bakar pun kini telah ludes di santap para montir dan para anggota Exoplanet yang kini membuat semuanya duduk kekenyangan di atas karpet sambil sibuk menatap Adam dan TV yang tak kunjung selesai itu.


"Dam, itu kapan selesainya sih?" kesal Jojon dengan wajah mengantuknya.


"Sabar Jon!" ujar Adam membuat Jojon cemberut lalu menghempaskan tubuhnya ke atas karpet.


Haikal bangkit dari karpet dengan gitar yang masih ada di pelukannya. Sudah banyak lagi yang ia nyanyikan untuk menghilangkan kebosanannya menanti Adam.


"Masih lama nggak sih?" tanya Haikal membuat Adam menoleh dengan pecinya yang terlihat miring.


"Sa-"


"Dam, kalau lo bilang hampir, sabar atau udah nggak lama lagi itu TV bagus nih gue banting gitar di kepala lo, Dam!" potong Haikal membuat Adam mengurungkan niatnya untuk bicara dan kembali membalikkan badan lalu fokus pada TV itu.


Kini suasana mendadak diam dan tak ada lagi yang bicara kali ini bahkan Jojon kini sudah tertidur di bahu Haikal yang masih memetik tali gitarnya yang tak berurutan nada itu. .


"Dam!!!" teriak Tara membuat semua orang tersentak kaget lalu menoleh menatap Tara yang kini sedang melotot dengan wajah sangarnya. Bahkan Jojon yang sudah masuk ke dalam mimpi itu kini terbangun dengan kedua matanya yang memerah.


Adelio tersentak kaget suara Tara cukup membuatnya hampir jantungan. Adelio tak menyangka jika suara pria yang ia sangka sabar itu ternyata memiliki suara yang besar. Diam-diam Cia tertawa tipis setelah melihat ekspresi wajah Adelio yang begitu sangat lucu saat terkejut. Suara tawa itu membuat Adelio menoleh menatap ke arah Cia yang kini dengan cepat menghentikan tawanya lalu memasang wajah datar dan fokus ke arah TV.


Adelio ikut tersenyum, ia tahu apa yang membuat Cia tertawa tadi. Adelio tertunduk sejenak lalu ia kembali menatap Cia yang diam-diam mencuri pandang ke arahnya.


Adam melangkah mundur lalu segera menyalakan layar TV.


"Udah, Dam?" tanya Jojon bersemangat.


"Iya, Alhamdulillah," jawab Adam membuat semua orang bersorak karena bahagia, akhirnya penantian yang sangat lama ini akhirnya akan segera terbayarkan.


"Nyalain Dam!!!" teriak Tara membuat Adelio kembali tersentak kaget.


Adam tersenyum lalu mengangguk sambil memegang remote TV bersiap untuk menyalakan tombol on.


"Bismillah," ujar Adam lalu menekan tombol on hingga nampaklah layar TV yang nampak berbintik-bintik berwarna abu-abu serta suara yang terdengar seperti guyuran hujan.


Semuanya berseru ini seperti penantian yang sangat sia-sia, tak ada gunanya lagi.


"Yang bener dong Dam!!!" kesal Mamat yang sudah lelah menunggu.


"Ini sudah benar mas Mamat," jawab Adam.


"Ah, bubar! Bubar!" teriak Jojon lalu bangkit dari karpet dan melangkah pergi.


"Oi, mau kemana lo?" tanya Haikal membuat semuanya kini menatap Jojon yang tak menghentikan langkahnya.


"Balik!!!" teriak Jojon.


Semuanya kini saling bertatapan lalu beberapa menit kemudian semuanya berhamburan dari tempat duduknya. Acara nonton bola di batalkan.


Beberapa menit kemudian bengkel kini sudah Sunyi yang menyisahkan Devan yang tengah menutup gerbang bengkel.


Cia terdiam sembari menatap Adelio yang nampak tengah memasang helm ke kepalanya. Cia melangkah menghampiri Adelio dan tersenyum sambil mengerakkan ujung sendalnya di permukaan aspal.


"Kenapa?" tanya Adelio.


Cia menoleh lalu tersenyum menatap Adelio.


"Maaf yah," ujar Cia.


"Maaf untuk apa?"


"Yah karena tadi acara nonton bolanya di batalin. Ini pasti ngebuang waktu lo kan?" jelas Cia ragu sambil menggerakkan ujung sendal jepitnya di permukaan aspal.


"Nggak apa-apa kok," ujar Adelio sambil tersenyum.


"Yuk balik?" ajak Devan sambil meraih pergelangan tangan Cia.


Cia tersentak kaget dengan tarikan itu lalu ia segera menahan tarikan Devan membuat Devan menoleh.


"Emmm lo hati-hati yah, Lio," ujar Cia.


Ini kalimat penutup yang Cia sempat sampaikan setelah Cia kini dtarik oleh Devan dan beranjak pergi.


Adelio tersenyum sembari terus menatap kepergian Cia yang sesekali menoleh lalu melambaikan jari-jarinya namun dengan cepat Devan menahan lambaian tangan itu.


Adelio kini tersenyum lalu segera menyalakan motornya. Alis Adelio mengkerut ketika sesosok bayangan hitam nampak melintas begitu cepat. Seperti orang yang bersembunyi di balik tembok tepat samping bengkel.


Adelio terdiam sesaat. Apakah mungkin itu pencuri atau hanya sekilas bayangan hitam saja. Apakah perlu ia melihatnya? Tapi mungkin saja itu tak perlu ia lakukan, lagipula mana ada pencuri yang mau masuk ke bengkel sementara masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Adelio menggeleng dan mengabaikan hal tersebut lalu segera menancapkan gas dan melaju meninggalkan bengkel yang kini sudah sunyi.