Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 113



Kini Devan menghembuskan nafas berat lalu duduk di sofa sambil menatap kertas berwarna putih yang berada di meja, di mana gambar batik yang mereka gambar itu belum diwarnai.


Dengan tatapan malas ia menatap gambar di kertas itu. Tiba-tiba senyum Devan mengembang, yah, rasanya ide kreatifnya muncul, mendapatkan ide mengenai warna yang cocok untuk warna motif batik yang akan indah bila diberikan kepada batik ini.


Dengan semangat Devan duduk di lantai lalu mulai mengeluarkan beberapa pensil warna dari tempat kotak pensil milik Cia yang masih baru. Devan tak mengerti mengapa pensil warna Cia masih terlihat baru padahal pensil warna ini Devan beli waktu Cia masih SD.


...____***_____...


Suara deringan handphonenya nampak terdengar di telinga Adelio cukup jelas. Jantung Adelio berdetak cukup kencang, ia sangat-sangat gelisah sekarang. Setelah beberapa minggu pacarnya tak membalas chat dan mengangkat telfonnya kini Adelio bersikeras untuk terus menelfonnya terus tanpa henti agar pacarnya itu mau mengangkat telfonnya.


Adelio berharap jika pacarnya itu mau mengangkat telfonnya dan menanyakan mengapa dia tak pernah membalas chat darinya.


Tut Tut Tut


Suara terakhir yang Adelio dengar. Adelio menghembuskan nafas berat, Putus asah dengan semuanya. Sudah ribuan kali Adelio menelfon tapi tak sekali pun berhasil membuat pacarnya itu mengangkat telfonnya. Sebenarnya apa yang terjadi kepada pacarnya itu.


Adelio mengacak-acak rambutnya, Adelio sangat kesal dengan apa yang telah ia hadapi di malam ini. Dengan berat hati ia merebahkan tubuhnya ke kasur lalu menatap langit-langit kamarnya dengan cahaya lampu yang menyilaukan mata Adelio.


Kini Adelio memejamkan matanya berusaha untuk bersabar. Tiba-tiba Adelio bangkit dari kasurnya, Adelio teringat sesuatu. Dengan cepat ia meraih handphonnya lalu menghubungi seseorang.


Nafas Adelio rasanya sesak, jantungnya kembali berdetak dengan cepat setelah handphonenya berdering. Kali ini Adelio memberanikan diri untuk menghubungi sahabat pacarnya itu.


"Halo." Suara dari sebrang berhasil membuat Adelio tersenyum bahagia. Ini semua tidak sia-sia.


"Ha... Halo," ujar Adelio terbata-bata.


"Iye, Siapa Ini?"


"Em ini aku Adelio."


"Adelio?"


"I...iya aku pacarnya Harni."


"Oh Adelio ini, hahaha, maaf yah saya lupa. Eh kamu apa kabar di Jakarta?"


"Saya baik, Kamu?"


"Oh Alhamdulillah, aku juga baik, eh tapi bukannya kamu sudah putus, yah, sama si Harni?"


"Putus?" tanya Adelio sangat terkejut dengan apa yang sahabat pacarnya itu katakan.


"Loh? Si Harni sendiri yang bilang bahkan dia sekarang udah pacaran sama Teno."


"Teno?" tanya Adelio lagi tak percaya.


"Iye dia udah pacaran."


Adelio terdiam. Rasanya Adelio ingin berteriak sekarang juga tetapi dengan sekuat tenaga Adelio menahannya.


"Eh sudah dulu, yah, aku mau cuci piring dulu!"


Tut Tut Tut


Suara akhir yang adelio dengar. Tubuh Adelio gemetar sambil meremas handphone miliknya. Ternyata ini yang terjadi.


"Aaaaaa!!!" teriak Adelio.


Adelio melempar handphone ke kasur. Nafas Adelio seakan berhenti sesaat, Jantungya pun seakan ingin berhenti begitu saja tanpa disuruh.


Bagaimana bisa gadis yang paling ia cintai telah mengatakan jika mereka berdua telah putus, sedangkan mereka belum putus sama sekali tapi tanpa Adelio duga pacarnya itu telah berpacaran dengan Teno, sahabatnya sendiri.


Adelio menjambak rambutnya sendiri sambil menatap sebuah fotonya yang nampak tersenyum sambil merangkul seorang gadis berwajah cantik.


Adelio melangkah mendekati foto itu dengan langkah yang gemetar, wajah gadis yang amat ia cintai. Adelio telah berkorban banyak untuk dia. Adelio rela menjauhi gadis-gadis di sekolah barunya hanya untuk memenuhi janjinya tapi apa yang ia dapatkan. Kini pacarnya itu telah punya pacar.


Prak


Bingkai foto itu patah diiringi dengan kaca yang pecah berhamburan di lantai.


"Aaaaaaaaaa!!!" Adelio yang masih emosi itu kini melempar buku-buku yang ada di rak bukunya. Perustsi. 


Kini Adelio duduk di lantai sambil menyandarkan tubuh lelahnya di pinggir kasur. Kini penglihatan Adelio kabur dihalang air mata yang kini menggantung di pelupuk matanya.


Seorang gadis berseragam putih abu-abu nampak berlari menghampiri Adelio yang kini berniat untuk masuk ke dalam mobil.


"Adelio!" panggil Harni menghampiri.


Adelio tersenyum akhirnya gadis yang sejak tadi ia tunggu akhirnya datang menemuinya.


"Adelio sudah mau berangkat kah?"


Adelio mengangguk lalu tertunduk sedih.


"Adelio jangan dekat-dekat dengan perempuan di Jakarta yah!"


"Bahkan bicara dengan perempuan di sana juga jangan!" ujar harni lagi.


Lagi-lagi Adelio mengangguk. Jari-jarinya kini mengacak-acak poni tebal pacarnya, gemas.


"Iye, saya akan lakukan itu."


Mobil hitam itu kini melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan raya yang bergerak menuju bandara. Adelio melambai sambil mengeluarkan separuh tubuhnya menatap Harni yang kini tersenyum sambil sesekali menghapus air yang membasahi pipinya. Jari-jarinya kini melambai menatap kepergian Adelio.


Adelio menghembuskan nafas setelah mengigat kejadian perpisahan di hari itu. Adelio mengira perpisahan itu hanya sebuah perpisahan jarak tapi ternyata ini menjadi perpisahan dua hati.


"Aku sayang sama kamu."


"Aku cinta sama kamu."


"Ta...ta.. tapi kenapa?"


"Kenapa, Ni?"


"Kenapa kamu sakiti aku dengan seperti ini?"


"Semuanya aku lakukan untuk kamu, hanya kamu!"


"Tapi ini balasan kamu untuk aku?"


"Kamu bahkan tak pernah membalas chat atau mengangkat telfon ku."


"Mengapa sekarang kamu memilih Teno, sahabat ku sendiri?"


"Aaaaaa!!!"


Kini Adelio bertelungkup menyembunyikan wajahnya yang kini sedang menangis. Menangisi nasib malangnya.


Sejam Adelio bertelungkup sambil menangis kini Adelio bangkit dengan matanya yang nampak bengkak. Langkah pelannya kini menatap sebuah tas hitam dan high heels hitam milik Cia. Yah, disaat high heels itu terjatuh di lantai dan ditinggalkan begitu saja oleh Cia, Adelio meraih high heels itu lalu segera pergi dari acara ulang tahun Loli.


Adelio meghembuskan nafas lalu melangkah ke balkon menatap langit yang nampak dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kerlip di langit yang menemani sang rembulan yang nampak membulat sempurna.


Angin malam itu seakan menghantam lembut wajah lelah Adelio yang kini menatap ke langit.


Jujur dari hatinya ia sakit karena pacarnya telah meninggalkannya begitu saja ditambah lagi gadis yang ia sukai ternyata telah punya pacar. Cia.


Gadis yang pertama kali memegang tangannya di sekolah baru dan membawanya keluar dari sekolah, satu-satunya gadis yang ia pernah ia bonceng melintasi jalan raya, satu-satunya gadis yang berhasil membuatnya dihukum, satu-satunya gadis yang pernah memegang tangannya sambil berlari menjauhi penagih utang, Mang Adang dan satu-satunya gadis yang telah berhasil membuat Adelio jatuh cinta dalam diam.


Mengapa Cia tak pernah bisa mengerti degan perasaanya selama ini, apakah Cia tak sadar jika disaat Adelio menolongnya di pesta ulang tahun Loli, disitu Adelio hanya ingin menunjukkan jika Adelio peduli dengan Cia. Tapi kemunculan pria itu membuatnya sadar jika cintanya itu hanya bertepuk sebelah tangan.