
Lari pria itu kini masih melaju melewati kegelapan hingga paparan sinar dari salah satu lampu kendaraan yang lewat menerpa wajah pria itu sekilas dengan tatapan tajam. Dia Devan.
Semuanya terbelalak menatap Devan yang kini masih berlari ke arah mereka. Tubuh Ogi gemetar lalu dengan cepat melepas jambakkan dari rambut Cia yang masih menangis.
Ogi sama sekali tak menyangka jika Ceo bisa datang ke tempat ini dan bagaimana bisa Ceo tahu tempat ini.
"Ayahaaaaaaah!!!" teriak Cia cukup kencang.
"Ayah?" Tatap Ogi tak percaya sembari menoleh menatap Cia dan Devan secara bergantian.
Belum sempat Ogi berfikir lagi, kepalanya kini sudah di tendang oleh Devan membuat Ogi terhempas ke tanah dengan sangat keras.
"Ayah!!!" teriak Cia lalu segera berlari menghampiri Devan dan segera memeluknya begitu sangat erat.
Devan mengelus rambut Cia lalu segera memegang kedua pipi Cia dan menatap setiap luka yang berdarah itu. Pipi Cia terlihat berdarah, bukan hanya itu tapi dagu, dan dahi Cia juga berdarah. Devan menunduk menatap telapak tangan Cia yang kini terluka dan berdarah.
Darah Devan seakan mendidih menatap wajah anaknya itu yang terdapat banyak luka. Devan benar-benar marah kali ini. Putri kesayangannya telah dilukai oleh pria asing.
"Ayaaaaaah!!!" jerit Cia sambil menangis.
"Kenapa Cia?" Tatap Devan penuh perhatian.
"Ayah, Di...di...dia peluk Cia tadi dari belakang te...terus dia cium leher Cia," ujjar a memberi tahu.
Sorot mata Devan kini memerah menahan tetesan air mata yang seakan tak sanggup mendengar pengaduan yang telah Cia lontarkan kepadanya. Devan kini melepas pegangan jari-jarinya yang sedari tadi menempel di pipi Cia lalu menoleh menatap Ogi yang kini berusaha bangkit dari tanah.
"Aaaaaaa!!!" teriak Devan dengan keras lalu segera berlari dan memukul wajah Ogi dengan penuh amarah.
Tak cukup dengan pukulan kini Devan menaiki tubuh Ogi dan memukul wajah Ogi dengan sangat brutal, amarah yang tak tertahan kan itu membuat Ogi hanya mampu meringis merasakan sakit yang menghantam wajahnya.
Benar jika seseorang marah maka sekuat apapun seseorang ia akan tetap kalah jika melawan dengan seseorang yang tengah diselimuti amarah.
Bastian dan Dirga yang ketakutan itu kini mulai berlari meninggalkan Ogi yang kini masih di pukul oleh Devan dengan habis-habisan.
Cia kini hanya mampu menangis sambil bertelungkuk berusaha tak melihat perkelahian itu. Ia menenggelamkan wajahnya di sela kedua kaki yang ia peluk sambil menangis.
Dari sini ia bisa mendengar suara hantaman keras dari tangan Devan ke tubuh Ogi yang tak mampu melawan.
Suara sirine terdengar dari sebuah mobil polisi yang kini melaju dan berhenti tepat di samping Devan yang masih memukul Ogi tanpa ampun sementara Ogi kini sudah tak sadarkan diri, Ogi kini pingsan.
"Cia," ujar Adelio lalu segera berlari menghampiri Cia yang kini masih bertelungkuk.
"Cia," ujar Adelio lalu menyentuh bahu Cia.
"Aaaaa!!! Jangan!!! Tolong jangan!!!" teriak Cia begitu sangat histeris sambil memukul tangan Adelio yang kini berusaha untuk menyentuh bahu Cia.
"Cia, ini saya!" ujar Adelio.
"Jangan!!!" teriak Cia.
"Cia, ini saya Adelio," ujar Adelio sambil menyentuh kedua bahu Cia yang kini dengan cepat terdiam dengan tubuh gemetarnya.
Adelio berlutut lalu menatap Cia yang kini masih menutup kedua matanya. Nafas Cia sesak, itu dapat Adelio lihat dengan sangat jelas.
"Ini saya Adelio," ujar Adelio.
Cia membuka kedua matanya dengan pelan. Suara lembut itu, Cia sangat ingat serta sentuhan lembut Adelio di bahunya membuat Cia yakin jika dia adalah Adelio.
"Adelio," ujar Cia terdengar samar-samar sambil menatap Adelio.
"Kamu-" Ucapan Adelio terhenti. Baru saja Adelio ingin menanyakan apakah Cia baik-baik saja tapi setelah melihat luka di wajah Cia membuat Adelio paham jika Cia sedang apa-apa.
"Aku minta maaf," ujar Adelio dengan kedua wajahnya yang mempias, jujur ia ingin menangis.
Gerombolan polisi itu kini berlari lalu segera menarik Devan yang masih memukul tubuh Ogi yang sudah tergulai di atas tanah tak berdaya.
"Hentikan!" teriak salah satu polisi itu sambil berusaha menyingkirkan Devan dari tubuh Ogi.
Amarah Devan memang sudah mencapai di puncak tertinggi membuat polisi itu kewalahan untuk menghentikan Devan bahkan belasan polisi yang berusaha menarik Devan itu gagal menyingkirkan Devan.
"Hentikan!!!" teriak salah satu polisi itu.
Devan tak merespon teriakan polisi itu. Ia tetap saja memukul Ogi.
"Hentikan atau saya tembak!!!" teriak polisi itu sambil mengerahkan senjata ke arah Devan yang tak kunjung berhenti.
"Jangan tembak Ayah saya!!!" teriak Cia sambil memeluk Devan.
Tinju Devan yang penuh darah itu kini terhenti ketika suara dan panggilan Cia menghampirinya, menyentuh dan memeluk bahunya dengan pelan.
"Ayah?" Tatap Adelio tak mengerti.
Adelio tak mengerti mengapa Cia memanggil pria itu yang Adelio tahu bahwa pria itu adalah pacar Cia bukan Ayah Cia.
Semua polisi kini terdiam sambil menatap satu sama lain mempertanyakan tentang apa yang baru saja Cia ucapakan kepada Devan.
"Apa?" tanya salah satu polisi itu.
"Ini Ayah saya," ujar Cia.
"Cia," ujar Devan membuat Cia menoleh.
"Maafin Cia, Ayah," ujar Cia lalu melepas tangisannya.
Devan kini ikut menangis lalu segera memeluk tubuh Cia. Semua gerombolan polisi itu kini mengangkut tubuh Ogi masuk ke dalam mobil polisi, di dalam mobil itu juga terdapat Bastian dan Dirga yang kini telah diborgol.
Cia kini masih menangis di pelukan Devan seakan sangat merasa bersalah hari ini.
"Maafin Cia, Yah," ujar Cia lagi membuat Devan mengangguk.
Devan menyentuh kedua pipi Cia dengan tangannya lalu menatap setiap luka yang ada di wajah Cia. Cia menangis lalu ikut menyentuh punggung tangan Devan. Devan kini melepas tangisannya, membiarkan air matanya tumpah begitu saja membasahi pipinya ketika memegang telapak tangan Cia yang berdarah.
"Ayah minta maaf karena Ayah nggak bisa datang tepat waktu."
"Ayah udah ikutin Cia tadi waktu Cia pergi, tapi di tengah jalan Ayah kehilangan jejak dan butuh waktu yang lama untuk sampai ke sini."
"Di tengah jalan Ayah liat temen-temen Ogi, Ayah ngikutin mereka dan akhirnya Ayah sampai di sini,". jelas Devan.
"Terimakasih Ayah," ujar Cia.
"Maafin Ayah, Cia. Ayah telat buat nolongin Cia," ujar Devan lagi.
"Nggak! Ini salah Cia. Andai aja Cia denger apa yang Ayah bilang pasti Cia nggak akan ada di sini," jelas Cia begitu sangat menyesal.
Kini keduanya kembali berpelukan lalu melangkahkan kakinya berniat untuk pulang.
Langkah Cia kini terhenti ketika ia telah berhadapan dengan Adelio yang masih kebigungan. Cia tersenyum menatap Adelio yang masih kaget, yah semuanya akan terkejut jika melihat seorang gadis memanggil seorang pria yang masih muda dengan sebutan Ayah.
"Ayah tunggu di motor," ujar Devan lalu segera melangkah meniggalkan Adelio dan Cia yang kini masih bertatapan.
Cia tertunduk. Rasanya Cia tak tahu harus mengatakan apa kepada Adelio yang kini menantinya untuk bicara seakan meminta kejelasan mengenai hal ini.
"Emm-"
"Sebenarnya Devan Ayah Cia, bukan pacar Cia," ujar Cia berhasil membuat Adelio menghentikan ucapannya.
Adelio terbelalak setelah mendengar pengakuan itu dari Cia. Adelio sama sekali tak menyangka jika pria tampan dan muda itu adalah Ayah Cia. Yang Adelio dengar tadi ternyata tak salah, tapi bagaimana bisa ini terjadi.
"Cia tahu Adelio nggak akan percaya sama apa yang Cia bilang, tapi ini kenyataan, Adelio. Devan beneran Ayah Cia, bukan pacar Cia," ujar Cia lalu segera tersenyum simpul.
"Ayah?" tanya Adelio.
Cia tersenyum lalu mengangguk.
Adelio menoleh menatap Devan yang kini telah duduk di atas motor. Adelio menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Devan lalu kembali menoleh menatap Cia.
"Dia?" Tunjuk Adelio me arah Devan.
"Yah Cia tahu, Ayah Cia memang masih muda dan Cia tahu ini tak semudah dapat dipercayai oleh orang-orang tapi ini kenyataan, dia Ayah Cia," jelas Cia.
Adelio terdiam, masih tak menyangka.
"Cia harap, Adelio bisa jaga rahasia ini."
"Tolong jangan beritahu hal ini kepada semua orang. Selain aku dan Ayah cuman kamu dan Tuhan yang tahu," ujar Cia.
Cia kini membalikan tubuhnya lalu segera melangkahkan kaki yang pincang itu. Langkah Cia kini terhenti lalu menoleh menatap Adelio.
"Terimakasih," ujar Cia singkat lalu tersenyum lagi dan kini ia melangkah pergi.