Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 144



Cia kini membulatkan matanya lalu dengan cepat menoleh menatap ke arah belakang. Benar saja, sahabat yang sejak tadi ia tunggu kini telah berdiri di hadapannya dengan kelopak mata yang nampak bengkak serta rambut yang terlihat acak-acakan.


Cia begitu sangat terkejut dengan keadaan Fika yang tak seperti biasanya. Apakah Fika telah menangis hingga kelopak matanya bengkak seperti itu dan ada apa dengan rambut Fika yang tak serapi biasanya.


"Fika, lo-"


"Lo ngapain ke sini?" tanya Fika dengan nada kejam serta suaranya yang terdengar serak.


Cia kini mengkerutkan alisnya ketika mendengar nada ucapan Fika yang tak enak di dengar, terdengar seperti nada yang begitu sangat benci dan seakan ingin mengusir Cia sekarang juga dari tempat ini.


"Nek!!!" panggil bocah itu lagi, membuat wanita tua itu melangkah pergi tanpa berpamitan dengan Cia.


"Lo ngapain datang ke rumah gue?" tanya Fika lagi.


Cia terbelalak degan kalimat Fika, ini sudah pertanyaan yang kedua kalinya yang Fika ucapkan dengan nada nyolotnya Fika, namun tetap saja Cia tak percaya jika sahabatnya itu berucap degan nada seperti itu. Ini bukan Fika yang Cia yang kenal. 


"Pergi lo!!!" teriak Fika tak segan sambil menujuk.


"Kok gitu sih, Fik?" Tatap Cia tak mengeri.


"Pergi!!!" teriak Fika.


"Tapi gue salah apa sama lo?" tanya Cia bingung.


Fika mendecapkan bibir sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya itu. Membuang muka ke arah kirinya seakan tak mau melihat wajah Cia. Fika tak menjawab kali ini.


"Ka, gue cuman mau datang dan liat keadaan lo kerena lo udah dua hari nggak masuk sekolah, gue khawatir, ka sama lo," ujar Cia dengan nada perhatiannya.


"Ka, lo kenapa berubah kayak gini sih?" tanya Cia melangkahkan kakinya maju selangkah ke depan berusaha menggapai pundak Fika namun degan cepat Fika melangkah mundur.


"Jagan sentuh gue!" pintah Fika dengan tatapan matanya yang menyorot wajah Cia dengan tajam.


Cia menghentikan gerakan jari-jarinya yang kini mulai mendekati bahu Fika namun Cia segera menurungkannya, membatalkan niatnya untuk menyentuh punggung Fika. Lagi dan lagi kalimat Fika itu membuatnya terkejut. 


"Ka, gue nggak tau masalah lo apa sama gue," ujar Cia, jujur tak tahu apa-apa.


"Gue nggak tau lo kenapa? Kalau lo punya masalah sama gue, lo bisa bilang sama gue, Ka, Ayo bilang!" Tatap Cia penuh harap.


Fika terdiam, masih dengan posisinya itu.


"Ka," ujar Cia kembali melangkah maju.


"Berhenti gue bilang!!!" bentak Fika dengan tiba-tiba berhasil membuat Cia tersenta kaget dan terhenti di depan Fika yang menatap Cia dengan sorotan mata tajam.


"Gue nggak suka lo ada di sini."


"Tapi kenapa, Ka?" tanya Cia.


"Gue nggak suka lo ada di sini, pergi lo!!!" Tunjuk Fika.


Cia mengkerutkan alisnya tak megerti dengan perilaku Fika.


"Lo senengkan liat gue kayak gini? Iya kan?" oceh Fika yang kini telah menangis.


Cia terdiam.


"Lo seneng kan liat gue menderita?".l


"Lo itu sahabat macam apa Ciaa? Hah?!! Lo sahabat macam apa?"


"Lo bilang kalau lo itu dabahat gue dan begitu pun sebaliknya tapi kenapa lo harus ngerebut kebahagian gue, Ciaaa? Kenapa?!!!"


"Hah kenapa?!!!" teriak Fika lagi.


Cia tetap terdiam tak mengerti dengan apa yang Fika ujarkan.


"Lo nggak bisa ngertiin perasaan gue?"


"Lo itu sahabat gue atau bukan sih? Ciiaaa!!! Hah?!!!"


"Lo nggak ingat apa yang udah gue lakuin ke lo, Cia?"


"Fika tapi gue-"


"Gue tiap hari antar lo pulang ke sekolah, gue selalu nolongin lo kalau lo telat masuk sekolah!!! Gue yang bantuin lo masuk lewat jendela tanpa ketahuan," potong Fika membuat Cia bungkam.


"Gue...gue udah bantu lo ngerjain tugas sekolah lo dan ini, ini yang lo kasi ke gue?"


"Lo jahat!" Tunjuk Fika sambil berteriak sangat keras.


"Kenapa lo ngerebut kebahagiaan gue Cia? Hah? Kenapa?!!" teriak Fika seperti orang yang telah kehilangan akal.


"Kebahagian apa, Ka?" tanya Cia yang kini ikut menangis, merasakan kesedihan di hati Fika yang baru saja ia utarakan.


"Lo masih nanya ke gue?" Tatap Fika tak menyangka.


"Lo masih nanya?"


"Lo udah ngerebut Adelio dari gue!!!" teriak Fika histeris sambil menjambak rambutnya sendiri.


Cia yang mendengar teriakan Fika kini terdiam, tak ada lagi suara tangisan dari Cia. Cia tak mengerti dengan maksud Fika yang mengatakan jika ia telah merebut Adelio dari Fika. Yang Cia tahu Fika dan Adelio telah berpacaran lalu apa hubungannya dengan kebahagiaan dan merebut Adelio?


"Maksud lo apa, Ka? Gue nggak ngerti!" ujar Cia.


Fika kini menghentikan jambakannya lalu memasang wajah yang amat membuat suasana menjadi menegangkan. Cia kini terdiam dengan tatapan yang kini menanti jawaban.


"Lo masih nanya? Hah? Lo masi nanya atau lo pura-pura nggak tahu?!!" teriak Fika.


"Gue nggak tau apa-apa!!!" teriak Cia yang kini telah di bakar api amarah.


"Lo tau Cia!!!" teriak Fika.


"Nggak! Gue nggak tahu apa-apa Fika."


Fika kini menarik nafasnya yang ngos-ngosan itu setelah berteriak cukup keras tadi. Tiba-tiba Fika menangis sejadi-jadinya.


"Lo udah rebut Adelio dari gue," ujar Fika dengan suara yang kini memelan.


"Lo .... lo udah rebut Adelio dari gue, Cia."


Cia hanya mampu terdiam menatap sorot mata Fika yang sayup terus meneteskan air mata.


"Gue nggak rebut Adelio, Ka," ujar Cia, memberanikan diri di tengah-tengah Fika masih terisak.


"Lo rebut dia dari gue!!!" teriak Fika secara tiba-tiba membuat Cia yang tersentak kaget itu memejamkan matanya cukup kuat.


"Lo buta? Hah?!!" teriak Fika.


Cia kini membuka matanya pelan berusaha menatap Fika yang kini masih dibelenggu dengan amukan amarahnya.


"Lo buta atau lo pura-pura buta?!!" teriak Fika lagi.


Kini Cia terdiam, ia tak ikut berteriak seperti tadi.


"Adelio suka sama lo," ujar Fika dengan nada tertekan.


Cia terbelalak menatap Fika yang baru saja membuatnya kaget dengan ucapannya itu.


"Adelio suka sama gue?" Tatap Cia tak percaya.


Fika tersenyum sinis setelah mendengar ujaran Cia.


"Lo nggak peka yah?"


"Atau mau gue kasih tahu semuanya?"


"Yang pertama, Adelio udah nolongin lo di acara ulang tahun Loli dan ngebiarin jas putihnya itu kotor."


"Yang kedua, Adelio udah nolongin lo pas kita upacara dan rela dihukum sama kak Yanto hanya karena lo."


"Yang ketiga, dia nolongin lo pas lo digangguin sama si Ogi."


"Yang keempat, Adelio lebih milih lo yang di tarik dibandingkan gue pas kita lari kemarin," jelas Fika.


"Tapi bukanya kalian udah pacaran?" tanya Cia. 


"Gue liat kalian pelukan di dalam kelas waktu gue dari toilet," tambah Cia.


Fika kini mengelap pipinya yang basah itu dengan punggung tangannya lalu terdiam menatap Cia yang kini menatapnya bingung.


"Lo nggak tahu yang sebenarnya," ujar Fika penuh tekanan.