Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 103



Devan dengan penuh kecepatan kembali menambahkan kecepatan motor bututnya berusaha menjauhi gerombolan bermotor yang nampaknya ikut menambah kecepatan motor milik mereka.


Ban motor itu melesat dengan melebihi kecepatan 150 km/h melesat melewati kendaraan yang berlalu lalang. Rasanya jiwa balap Devan bangkit setelah beberapa bulan tak pernah ikut balapan liar seperti yang ia lakukan mewakili geng motornya.


Cia hanya terdiam di belakan tanpa sepata kata. Rasanya cia tak mampu membuka mata, mulut bahkan udara pun seakan berkelahi di luar hidungnya dan berlalu begitu saja tanpa masuk kedalam lubang hidung Cia. Di pendengaran Cia hanya suara teriakan angin kencang yang menghantam daun telinganya.


"Nah Iya. Gayuh sepedanya pelan-pelan!" Suara lembut pria berkumis itu nampak memegang sepeda kecil anaknya yang berusia enam tahun.


Bocah kecil itu nampak begitu kesulitan mengimbangi sepeda yang baru saja Ayahnya beli untuknya.


"Ayah aku takut."


"Nggak usah takut, yah, kan Ayah di sini," ujar pria itu berusaha menenangkan Putranya.


"Yuk kita kita nyebrang dulu!" Tunjuk Ayahnya ke arah jalan beraspal.


"Ayah aku takut."


"Nggak usah takut!"


"Nanti kalau ada motor kenceng kayak Valentino Rossi gimana, Yah?"


"Ah kamu ini, yah, nggak mungkin lah." Ayahnya tertawa setelah mendengar ucapan Putranya itu.


Pria itu kini menuntun sepeda hitam Anaknya menuju jalan beraspal yang nampak sunyi, tak ada kendaraan yang berlalu lalang di sana.


"Yah pelan-pelan!" ujar pria itu lembut sambil mendorong pelan sepeda putranya berniat untuk menyebrang.


Devan yang sedari tadi memaksakan motor bututnya itu melaju kencang di jalan beraspal kini tersentak kaget menatap bocah kecil yang memotong jalan beraspal bersama dengan pria bertubuh gemuk.


PIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP


Suara klakson Devan dibunyikan cepat, suara klakson motor butut itu seperti suara bisikan serak bahkan nyaris suara klakson itu tak terdengar jelas.


"Minggir!!!" teriak Devan cukup keras.


kedua makhluk yang sedari tadi merasakan kesunyian kini terkejut menatap motor yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya.


"Ayah itu Valentino Rossi!" Tunjuk bocah itu.


"Aaaaaaaaaaaaw!!!" jerit pria itu sambil menutup kedua rapat kedua mata dan telinganya.


SYUUU


Motor Devan melesat ketika berhasil membanting motor itu melewati tubuh pria dewasa yang masih menjerit seperti seorang wanita yang melihat seekor kecoa kecil sementara bocah pria itu nampak menganga menatap kagum ke arah motor Devan.


Motor itu melesat jauh meninggalkan pria dan bocah itu yang kini tertinggal jauh di sana. Motor Devan kini terhenti memasuki gang yang tidak terlalu sempit berusaha bersembunyi dari kejaran gadis-gadis itu.


Devan terdiam sambil mengatur nafasnya yang sesak setelah nyaris menabrak pria dan bocah itu. Devan kini mengusap keringat yang bercucuran dari dahinya, jari-jarinya bergetar hebat.


"Ci! Cia!" tegur Devan mengerakkan bahunya berusaha membangunkan Cia yang nampaknya masih menutup mata. Untung saja Cia menutup matanya dan tidak melihat kejadian tadi, jika Cia melihat kejadian tadi mungkin Cia akan mengoceh lagi.


"Cia!" panggil Devan lagi membuat Cia tersentak kaget lalu membuka sebelah matanya.


"Loh kita di mana?" tanya Cia menatap ke sekitarnya.


"Van! Ini kan bukan rumah kita Van!" ujar Cia sembari menatap ke sekelilingnya.  


"Emang siapa yang bilang kalau kita udah sampe?"


"Loh? Terus kita di mana?"


"Yah mana gue tau, tapi kayaknya agak jauh deh dari rumah."


"Yah udah yuk kita balik ke rumah." Tepuk Cia di bahu Devan.


Devan hanya mengangguk lalu kembali menstarter motor buntutnya yang kini sepertinya kembali mogok seperti tadi membuat Cia beberapa kali tersetak ketika Devan berusaha menyalakan mesin motornya.


"Yah biasa lah," ujar Devan malas sambil terus mengstarter motor itu dengan sekuat tenaga.


"Haa!!!" Keluh Cia lelah lalu segera melangkah turung dari dari jok motor dan berdiri di depan Devan sambil menjinjing kresek hitam dan menjepit boneka beruang itu di ketiaknya.


"Gue kan udah bilang, lain kali nih motor nggak usah di pakai. Lagian motor butut dipakai juga kayak nggak punya motor aja," oceh Devan.


Devan yang sibuk menstarter motor merah itu kini terdiam menghentikan gerakkan kakinya. Lagi-lagi Cia merendahkan motor andalannya itu di hadapannya.


"Enak aja, eh nih motor udah nolongin kita tadi, Kalau motor ini nggak nyala tadi mungkin gue udah dicekik sama temen-temen lo itu," oceh Devan kesal lalu kembali mengstarter motornya itu kembali.


Cia cemberut lalu segera meletakkan boneka beruang besar itu ke jalan lalu mendudukinya dan bersandar di tembok bangunan toko.


"Itu boneka siapa?" tanya Devan sembari terus mengstarter motornya.


"Ini dari Loli buat lo katanya," ujar Cia santai sambil membuka sebungkus wafer dari kresek hitam yang sedari tadi ia jinjing dengan susah payah.


"Ih apaan tuh? Bagi dong!" Devan menghentikan gerakkan kakinya lalu mendekati Cia.


"Ah nggak boleh!" Tolak Cia sambil menjauhkan wafer coklat dan kresek hitam berisi titipan itu dari Devan yang kini nampak menatap Cia dengan wajah sedihnya.


"Loh kok gitu sih?"


"Kita kan nggak tau niat buruk orang."


"Niat buruk apa lagi sih, Cia?"


"Yah mana tau kan dia udah kasi mantra di makanan ini dan lo bakalan klepek-klepek sama mereka semua," jelas Cia.


"Yah masa lo percaya sama yang kayak gituan?"


"Emang gue percaya," balas Cia.


"Udahlah lo aja tuh yang rakus." Kesal Devan.


"Heh, ini tuh demi kebaikan lo juga. Gue nggak mau lo itu diguna-guna."


Devan menghembuskan nafas setelah mendengar penjelasan Cia yang sama sekali ia tak duga.


"Hidung lo tuh!" Tunjuk Devan dengan wajah datarnya.


"Aa?" Cia merabah hidungnya lalu menatap jari-jarinya. Tak ada darah lagi di sana.


"Hidung Cia kenapa?"


"Nggak! Darahnya udah kering. Coba liat!"


Devan memegang ujung dagu Cia sambil menggerakkannya berusaha memastikan jika hidung Putrinya itu baik-baik saja setelah terjatuh tadi.


Sementara Cia mulai melipat bibirnya ke dalam sambil mengembangkan hidungnya berulang kali memperlihatkan lubang hidungnya dengan darah yang sudah mengering.


Devan mendecapkan bibirnya setelah melihat Cia yang memaingkan hidungnya. Devan mendorong pelan dagu Cia membuat Cia sedikit tertawa.


Cia yang sibuk memakan wafer itu kini menyipitkan matanya menatap bekas kecupan berwarna merah di kedua pipi, dahi dan bahkan di dagu Devan. Apakah gadis-gadis itu mencium Devan hingga wajah Devan penuh dengan lipstik berbentuk bibir itu.


Plak


Tamparan menghantam pelan pipi Devan yang kini terkejut sambil memegang pipi kanannya dengan wajah syok.


"Lo kenapa sih Ci?" Tatap Devan kaget sambil menyentuh pipinya yang telah tampar oleh Cia walau sejujurnya itu tak sakit.


"Lo punya masalah apa sama gue? Hah? Lo sakit apa saraf lo?" tanya Devan kesal.


"Lo di cium, yah?!!!" teriak Cia.