Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 51



"Ini Tuan Brahmana, pemilik mall Brahmana."


Cia lagi-lagi terkejut seakan tak menyangka dengan apa yang ia dengar sekarang mengenai pria ini yang merupakan pemilik mall tersebut sesuai yang dikatakan oleh pria berkepala plontos itu.


"Jadi Pak ini yang punya-"


"Iya, saya pemilik mall Brahmana itu," ucap Abraham.


"Wah, ya, ampun!!!" sorak Cia kegirangan.


"Ci!" Adelio menepuk bahu Cia membuat Cia menoleh menatap Adelio yang kini berdiri bersama pria dengan pakaian kotor berwarna hitam.


"Pak, saya sudah bawa montirnya," ujar Adelio.


"Oh, iya terima kasih."


"Bagian mana Pak yang kempes?" tanya montir itu.


Pria berkulit sawo matang itu kini melangkah mendekati mobil sambil menatap ban mobil Abraham.


"Yang ini!" Jef menunjuk.


"Ayo, Ci! kita ke sekolah!" ajak Adelio.


"Oh, iya. Ini gue juga udah foto copy." Cia mengibaskan beberapa kertas tepat di hadapan wajah Adelio membuat Adelio memejamkan kedua matanya, pasrah saat Cia melakukan hal itu.


"Yuk, pulang!" ajaknya lalu melangkah pergi meninggalkan Adelio yang kini hanya mampu menghela nafas.


"Yah sudah." Adelio melangkah ke arah motornya sementara Cia telah duduk di atas jok motor.


"Tunggu!!!" teriak Abraham cepat.


Cia dan Adelio menoleh menatap Abraham yang kini melangkah ke arah keduanya.


"Kenapa Pak?" tanya Adelio.


"Em, begini Dek, karena kalian berdua telah membantu saya jadi, saya mau ajak kalian untuk berkunjung ke rumah saya."


"Rumah?" Tatap Cia tak percaya.


"Iya, kamu kalian berdua mau kan?" tanya Abraham dengan penuh harap.


Adelio dan Cia saling bertatapan untuk beberapa detik lalu tak berselang lama Adelio menoleh menatap Abraham dan tersenyum.


"Maaf, Pak. Mungkin kami tidak-"


"Kami setuju, Pak," ujar Cia memotong ujaran Adelio lalu melompat turung dari motor membuat Adelio melongo.


Abraham dan Jef tersenyum mendengar jawaban dari Cia.


Adelio menghela nafas lalu menatap Cia yang kini terlihat tersenyum bahagia menatap Abraham dan Jef yang melangkah ke arah mobilnya.


"Ci, kok kamu setuju sih mau ke rumah orang itu?" bisik Adelio.


"Udahlah, sekalian jalan-jalan, yah nggak?" Cia tertawa lalu menepuk bahu Adelio dan melangkah ke arah motor.


Adelio menghela nafas lalu mengusap wajahnya penuh kelelahan. Bagaimana bisa ia pergi ke rumah orang asing dan meninggalkan jam sekolah. Adelio yakin jika, Mamanya tahu tentu dia akan marah.


"Heh!!!" teriak Cia membuat Adelio menoleh.


"Cepetan!!!" teriak Cia lagi.


"Tapi-"


"Ooooh, lo nggak mau? Kalau lo nggak mau, lo nggak boleh duduk di kursi gue!" ancam Cia membuat Adelio terdiam dengan wajah memelasnya.


...____****_____...


Naini meletakkan segelas teh di meja tepat di hadapan gadis dengan paras yang cantik serta pria berwajah tampan dengan seragam sekolah. Jujur baru kali ini Naini kedatangan tamu di rumah ini.


"Di minum, Yah, Nak!" ujar Naini lembut.


Cia tersenyum diiringi anggukan dari kepalnya. Cia menatap sekeliling rumah tersebut yang nampak begitu mewah.


Lampu rumah tersebut nampak begitu besar bersinar dihiasi berlian yang berkilau, sofa mewah berwarna kuning emas yang Cia duduki itu terasa empuk, lukisan indah di mana-mana dan semuanya pasti mahal.


Baru kali ini Cia melihat rumah mewah yang tak ada bedanya dari istana ataukah Cia sekarang berada di dalam istana?


Yang membuat Cia semakin terpukau adalah para pelayan berseragam hitam persis seperti pelayan yang Cia lihat di tv. Ini menakjubkan.


"Kita makan bersama, yah?"


Cia menoleh menatap Abraham yang kini tersenyum. Cia begitu tak percaya, selain pria tua ini kaya, pemilik mall terbesar itu ternyata juga baik dan bahkan menawarkannya untuk makan.


"Iya kan, Ci?" Adelio menatap Cia yang terlihat menatapnya heran.


Sebenarnya Cia tak ingin menolak untuk makan di rumah pemilik mall Brahmana, tapi menurut Cia sebaiknya memang tidak usah, yah lagian jika Devan tau Cia makan di rumah orang yang baru Cia kenal pasti Devan marah.


"Oh, iya, Pak nggak usah repot-repot." Cia tersenyum.


"Loh nggak apa-apa. Saya nggak repot kok, yah kan, Jef?"


"Iya bos." Jef mengangguk ketika Abraham tersenyum menatapnya.


"Ini semua tidak merepotkan kok, kami bahkan merasa senang jika, kalian makan bersama di rumah ini," jelas Jef.


"Nggak usah, Cia nggak lapar!" Jawab cia cepat.


Abraham menghembuskan nafas berat mendegar perkataan Cia. Sepertinya keputusan itu tak dapat lagi diganggu gugat.


Tiba-tiba suara handphone Jef berbunyi membuat Jef dengan cepat meraih handphonenya dari saku seragam hitamnya yang rapi lalu menatap layar handphone miliknya.


"Saya permisi dulu."


Jef melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Abraham untuk mengangkat telepon yang entah dari siapa.


"Em, maaf saya izin ke toilet, toiletnya di mana?" Tanya Cia.


"Ci!" panggil Adelio dengan nada berbisik membuat Cia menoleh.


"Kamu mau ke mana?" tanya Adelio sembari menarik lengan baju Cia membuat langkahnya terhenti.


"Gue mau ke toilet," bisik Cia.


"Buat apa?"


"Mau makan!!! Berisik lo, yah!!!" teriaknya membuat Adelio tersentak kaget dan dengan cepat melepas pegangannya.


"Oh, iya biar saya panggilkan Naini, Naini... Naini!!!" teriaknya.


Abraham terdiam nampaknya Naini tidak mendengar teriaknya itu.


"Tunggu yah!" Abraham tersenyum menatap Cia dan Adelio yang nampak terdiam di sofa.


"Ci nanti, pak Yanto nyariin kita," Bisik Adelio.


Cia membelalakkan matanya, jujur cia lupa dengan pak Yanto di tambah lagi pak Yanto pasti menunggu kertas foto copy yang masih ada di tangannya itu.


"Tapi gue mau pipis," bisik Cia.


"Nanti ajah di sekolah!"


"Lo gila, yah? Yah mana bisa goblok!!!"


Adelio terdiam mendengar perkataan kasar Cia, yah sebenarnya itu adalah hal biasa dan tidak serius tapi, menurut Adelio yang sama sekali tak pernah mendapat ucapan itu dari seseorang itu adalah hal yang sedikit membuatnya tersinggung.


"Biar Cia ajah pak yang pergi, toiletnya di mana?" ujar Cia yang kini sudah berdiri dari sofa.


"Oh iya, emm kamu tinggal lurus ajah di sana!" Tunjuk Jef ke arah lorong yang dihiasi berbagai macam vas yang berukuran besar.


"Oh, iya, Pak."


Cia melangkah meninggalkan Adelio yang masih menatapnya. Cia yang masih melangkah itu begitu terpukau menatap vas-vas yang begitu sangat indah. Cia tak pernah melihat vas semewah dan seindah itu selama ini. Cia yakin jika jejeran vas yang berlalu diiringi sentuhan kecil dari ujung jarinya ketika Cia terus melangkah masuk adalah vas yang mahal.


Cia menengadahkan kepalanya menatap lampu yang nampak begitu megah di atas sana.


"Ini kalau sih Haikal liat nih pasti udah dicuri nih sama dia," ujarnya sambil terus melangkah.


Cia menoleh menatap ke sekeliling ruangan yang nampak begitu luas di hiasi barang-barang yang begitu indah.


"Gila ini rumah luas banget, lama-lama gue bisa hilang di rumah ini."


Cia menoleh menatap ke arah sebelah kanan yang terlihat seperti lorong berukuran panjang dengan dinding berwarna kuning emas yang nampak berkilau.


"Ini toiletnya di mana?"


Langkah kaki cia terus melangkah menyusuri lorong indah dan sunyi itu berharap Cia menemukan toilet di sana.


"Hey!" Suara wanita terdengar ditambah sentuhan di bahu Cia .


Mata Cia terbelalak entah dari mana suara lembut itu berasal dan siapa yang telah menepuk bahunya seperti itu padahal yang Cia tahu, cia tak melihat orang di sini.


Apakah itu hantu? Tapi mengapa hantu itu muncul di siang hari seperti ini.


"Aaaaa!!!" teriak Cia ketakutan.