Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 38



Cia berdiri di depan tiang bendera sambil menengadahkan wajahnya menatap bendera merah putih yang berkibar bebas di udara sambil memberi hormat.


Cia melirik Adelio yang berdiri di sampingnya. lagi-lagi Adelio ikut dihukum gara-gara Cia yang berteriak tadi. Pak Yanto mengatakan jika, murid berbuat kesalahan, berarti teman sebangkunya juga harus dihukum dengan hukuman. Dengan tujuan agar teman sebangkunya bisa mengingatkan temannya untuk tidak berbuat kesalahan lagi.


Mata Cia berbinar menatap Ogi yang nampak memaingkan bola di lapangan yang berjarak cukup jauh dari posisi Cia yang berdiri tapi, Cia mampu melihat jelas wajah tampan ogi dari sini


"Husst! idola gue, si ogi," Bisik Cia.


Adelio menatap Cia yang tersenyum bahagia lalu menunjuk ke sebelah kanan.


"Aa?"


"Lapangan," Bisik Cia lagi.


Adelio menoleh lalu menatap dari kejauhan ogi yang sedang memaingkan bola dengan lincah lengkap dengan pakaian olahraga.


Pria itu memang tampan, putih, tinggi dan keren, yah itu mungkin kesan pertama yang gadis pemarah itu lihat dari sosok Ogi. Kalung tengkorak besi, pengikat kepala serta sepatu biru yang melengkapi kekerengan Ogi.


"Ganteng kan? Idola gue nih bos!" Bisik Cia.


"Biasa ajah," ujar Adelio dingin.


Bibir atas Cia terangkat memandang kesal pada Adelio.


"Emang lu punya idola?" Tanya Cia menatap Adelio rendah.


"Tidak," jawab Adelio cepat.


"Ih kasian banget lo nggak punya idola, kayak gue dong punya idola yang ganteng, tinggi-"


"Fuckboy," tambah Adelio.


Senyum Cia sirna begitu saja.


"Rese banget sih lo," Ujar Cia lalu menghentakkan kakinya menginjak kaki Adelio dengan keras.


"Aw!!!" Teriak Adelio kesakitan lalu melompat kecil dari tempatnya berdiri.


"Syukurin."


"Hey!!!" Teriak pak Yanto mengelegar sangat keras membuat Cia dan Adelio menoleh menatap pak Yanto dengan wajah menyeramkan menunjuk ke arah mereka.


Cia dan Adelio dengan cepat kembali berdiri tegak sambil memberi hormat kepada bendera merah putih. Di satu sisi Cia tersenyum puas menatap Adelio yang masih merasakan sakit di kakinya itu.


"Awas ajah lo, kalau lo ngatain idola gue itu fuckboy gue cincang lo!" Ancam Cia melirik tajam.


...____*****_____...


Jam pelajaran berakhir. Seluruh murid-murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing menuju area parkiran.


Cia melangkah keluar melintasi gerbang dan pagar sekolah lalu terdiam sambil menatap ke sekelilingya mencari sosok Deon yang mungkin akan menjemputnya, yah walaupun Cia tak menyuruh Deon untuk menjemputnya tetapi, pasti Mamanya akan menyuruh Deon untuk menjemputnya pulang sekolah.


"Kalau Adek jadi, bunga mawar, izinkan Kakak jadi, durinya. Biar apa?" Rayu Jojon menatap dua gadis yang menanti bus di halte yang terdapat di depan sekolah.


"Biar apa?" Tanya salah satu gadis itu yang kini tersipu malu.


Cia mengkerutkan alisnya menatap Jojon yang nampak menggeliat di atas motor merah milik Devan. Kini Cia yakin jika, kehadiran Jojon itu untuk menjemputnya. Cia tak mengerti mengapa harus Jojon, si tukang gombal itu yang menjemput Cia di sekolah? Padahal ada banyak montir yang bisa disuruh selain Jojon atau Haikal untuk mejemputnya .


"Biar Kakak bisa ngelidungin kamu, eaaaaaaa!!!!" Jojon mengeliat lagi di atas motor membuat siswi-siswi yang lain ikut tertawa.


"Jon!" Cia menepuk bahu Jojon keras membuatnya tersentak kaget.


"Eh, Dek Cia, Kakak udah nunggu Dek Cia dari tadi di sini. Tau nggak kalau Kakak itu udah kepanasan, keringetan dan untung ajah kakak nggak diculik sama orang jahat," ocehnya.


"Kenapa lo yang jemput sih?"


"Yah, nek Fatima yang nyuruh jemput, sebenernya sih si Deon yang disuruh tapi, untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang kakak Jojon ke dek Cia makanya Jojon angkat tangan," jelasnya.


"Diam lo!" Cia membulatkan kedua matanya seakan menyuruh jojon untuk diam. Cia melirik para siswi-siswi yang saling berbisik itu, entah apa yang mereka katakan tentang Cia.


"Cepetang gue mau pulang!"


"Siap dek Cia," ujar Jojon semangat 45 lalu memutar motornya cepat.


"Silahkan naik dek Cia!" Ujar Jojon dengan senyum manis.


Cia menghembuskan nafas berat lalu melangkah ke arah Jojon yang sudah siap di atas motor.


"Eits!" Tahan Jojon.


Langkah Cia dengan cepat terhenti lalu menatap jojon dengan tatapam heran.


"Apa lagi sih?" Kesal Cia.


"Demi keselamatan calon istri Jojon ja-"


"Lu ngomong lagi gue pecahin bibir lo, yah!" ancam Cia.


Jojon terdiam sambil mencubit bibir bawahnya yang berwarna pink segar itu dengan tatapan menyesal.


"Maaf dek Cia, nih!" Jojon menjulurkan helm hitam milik Cia.


"Nggak usah pakai helm lah!"


Cia terdiam dengan wajah berpikirnya jika, sudah seperti ini Cia harus menurut, kalau tidak jojon akan disalahkan oleh Mamanya.


"Ya, udah sini!"


"Mau kakak Jojon pasangin?" Tatap Jojon kegirangan.


"Gue patahin tangan lo, yah!!!" Bentak Cia lagi membuat Jojon tersentak kaget.


Cia menarik kasar helm tersebut lalu segera duduk di atas jok belakang motor sementara Jojon kini tersenyum manis.


Jojon mengerakkan kaca spion motor mengarahkan ke wajah Cia. Baru saja permukaan kaca spion motor itu mengarah ke wajah Cia, jojon tersentak kaget menatap kedua mata Cia yang melotot. Ini ancaman baginya.


"Ngapain lo?!!" Bentak Cia.


"Nggak kok, Dek Cia." Jojon kembali mengerakkan kaca spion mengembalikannya ke posisi semula sebelum Cia benar-benar mengunyahnya.


"Yah udah jalan!"


"Itu helmnya loh belum dipake!"


"Ih, nyebelin yah lo!!!" Teriak Cia cukup keras membuat Jojon menelan ludah.


"Nih, nih, nih, puas lo?!!!" Kesal cia sambil memasang helm ke kepalanya.


"Ok deh, Dek Cia," ujar Jojon tersenyum.


Jojon mulai menstarter motot merah Devan berulang kali berusaha menyalakannya membuat Cia tersentak di jok belakang.


"Nah kenapa lagi tuh?"


"Sabar, Dek Cia!"


"Lagian kenapa lo pakai motor ini sih? udah tau motor ini udah tua masih ajah dipake."


"Yah, nek Fatima nyuruhnya yang ini," jelas Jojon sambil terus menstarter motor dengan kakinya sekuat tenaga.


Breeeeeeeeeummmmmmm!!!!!!


motor itu seakan berteriak di pinggir jalan menjadi sorotan murid-murid yang ada di sana. Asap hitam dari knalpot motor tua itu membubung hitam membuat semua orang menoleh dan menutup hidung.


Cia membulat dengan wajah memerahnya. Rasanya Cia ingin mengambil kantong dan menyembunyikan asap itu masuk ke dalam kantong.


"Tuh udah nyala."


"Yah udah jalan!" Pintah Cia kesal.


Motor melaju dengan kecepatan sedang melintasi bangunan-bangunan kota Jakarta yang nampak menjulang tinggi di langit putih. Kendaraan dari berbagai jenis itu nampak menghadiri kemacetan di jalan beraspal kota Jakarta yang cukup panas.


Rambut Cia berayun ditiup oleh kencangnya angin siang menjelang sore itu, sementara Jojon yang nampak mengoceh di atas motor mengeluarkan gombalan-gombalan mautnya yang sama sekali tak pernah ditanggapi oleh Cia.


Motor merah itu kini melewati pagar bengkel Mobepan yang kini masih ramai oleh para pemilik motor yang menunggu motornya di perbaiki oleh motir-montir lain.


Piiiiiiiiiiiiiiiiip!!!!


Jojon menyembunyikan klakson motor tepat di sebelah Baby yang serius menambal ban motor dengan rok sebatas paha yang Baby gunakan.


"Eh, pip pip pip, eh pipip!!!" Teriak Baby sambil melompat dari kursi kecil.


"Eh, gila lu, yah bikin ekye kaget deh!!!" jerit Baby dengan suara manjanya.


Cia sedikit tertawa lalu segera turung dari motor.


"Nonton tinju, Ci!!!" Teriak Haikal menoleh sekejap lalu kembali menatap ke layar tv.


"Enggak gue mau langsung cabut ajah," ujar Cia sedikit tersenyum.


Biasanya tanpa diajak Cia langsung duduk di pos kamling dan bergabung bersama Haikal dan yang lainnya tetapi hari ini benar-benar melelahkan. Lari-larian karena dikejar utang baksonya mang Adang dan dihukum di lapangan upacara.


Cia melangkah ke arah rumah melintasi jalan raya yang cukup ramai. Ia membuka pagar pelan lalu melangkah masuk ke pekarangan rumah. Cia duduk di lantai rumah lalu membuka sepatu hitamnya itu dan kembali bangkit dari lantai melangkah masuk ke dalam rumah.


"Iya, Ma".


Langkah Cia terhenti mendengar suara Devan yang terdengar lemas dari dalam kama. Dengan langkah pelan Cia mendekatkan telinganya ke permukaan pintu kamar Devan berusaha untuk mendengar lebih jelas.


"Kamu harus sembuh yah, Nak!"


"Iya, Ma."


"Ingat, Van sekarang bukan hanya kamu yang terancam tapi Cia juga."


Devan mengangguk.


"Kamu harus kuat, karena Cia membutuhkan perlindungan kamu!" Fatima menepuk bahu Devan dengan pelan.


Cia terdiam mendengar perkataan Fatima dari luar. Cia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Siapa yang akan mengancam kehidupan Cia dan Devan lalu kenapa Cia harus dilindungi?


"Mama mau Devan yang dulu! Devan yang berusia 13 tahun, Devan yang kuat."


Devan mengangguk lagi.