Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 82



Loli yang terheran itu menatap ke arah tunjuk Marisa yang mengarah ke arah gadis dengan gaun hitam serta paras yang begitu sangat cantik.


"Cia!" panggil Fika yang menatap Cia dari kejauhan.


Cia menoleh berusaha mencari sosok yang kini sedang memanggilnya.


"Cia!!!" teriak Fika sambil melambaikan tangannya.


Adelio yang sedaritadi hanya terdiam sambil memaingkan handphonenya kini mengangkat pandangannya menatap Fika yang melambai setelah menyebut nama Cia.


Adelio dengan cepat menoleh lalu menatap gadis cantik dengan gaun hitam yang tengah berdiri di sana. Beberapa detik kemudian Adelio kembali menunduk menatap handphonenya lalu tersenyum simpul. Senyuman sederhana, namun penuh makna.


"Hah?!!" Loli terkejut mendengar ucapan Fika yang meneriaki gadis cantik itu dengan sebutan Cia. Apakah  gadis itu benar-benar Cia atau Fika yang salah lihat sehingga mengira jika gadis berparas cantik itu adalah Cia.


Senyum Cia merekah menatap Fika yang nampak melambai dari kejauhan.


"Oi!!!" teriak Cia lalu ikut melambai persis seperti preman yang bertemu dengan sobat premannya.


Para tamu yang sejak tadi tidak percaya jika gadis cantik itu adalah Cia langsung percaya setelah mendengar teriakan Cia itu langsung membuat mereka semua percaya jika gadis itu adalah Cia. Di sekolah yang suka berteriak seperti orang kesurupan hanyalah Cia, lalu siapa lagi.


Cia melangkah menuju Fika yang menyambutnya dengan senyuman begitu bahagia.


"Ciaaaaa! Lo cantik banget." Kagum Fika membuat Cia tersipu malu.


"Bisa aja lo, Fik," ujar Cia sembari memukul lengan Fika sambil tersenyum malu.


"Biasa aja gue liat," cerocos Marisa santai sambil melipat tangan di depan perutnya.


Cia dan Fika dengan cepat menoleh menatap bersamaan ketiga orang yang hampir keberadaanya tak mereka sadari.


"Berani juga lo datang ke sini."


Senyum Cia menghilang ketika Loli angkat bicara, tak lama Loli kembali menatap ke sekelilingnya memastikan semua tamu sedang memusatkan perhatian mereka kepadanya dan tak berselang lama ia kembali menatap Cia dengan tajam.


"Pacar lo mana? Lo nggak lupa kan?"


Cia terdiam seribu bahasa, kini Cia tak tahu harus berkata apa di hadapan Loli sementara Devan kini menghilang entah kemana.


"Iya, Ci, pacar lo mana?" tanya Fika.


"Pa...pa...pacar gu...gueeee," jawab Cia gugup.


"Heh!!! Lo juga!!!" Tunjuk Loli.


Fika menoleh menatap Loli yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.


"Gue?" Tatap Fika heran.


"Ya iya lah, siapa lagi kalau bukan lo!!!" geretak Loli nyolot.


"Pacar lo mana, Fika?" tanya Marisa.


Mendengar ucapan Loli dan Marisa dengan pelan Fika melirik Adelio yang nampak sibuk dengan handphonenya.


Fika kini bingung, benar-benar sangat bingung. Jika ia mengatakan kalau pacarnya itu adalah Adelio, walaupun sebenarnya Adelio hanya menjadi pacar bohongan tetapi, Fika malu jika nanti ia mengatakan jika Adelio adalah pacarnya dan Adelio membantah hal tersebut di depan banyak orang pasti ia akan di tertawa kan oleh orang banyak. Ini memalukan.


"Lo denger gue nggak sih?!!!" Bentak Loli.


"Mungkin dia datang ke sini cuman mau makan gratis," ujar Marisa lalu tertawa.


"Ayo jawab!!!" bentak Loli lagi.


"Gu...gue ehhh pa...pacar gu...gue," ujar Fika ragu.


"Apa?!!! Lo mau bilang apa?!!?" bentak Loli dengan nada suaranuya yang kian meninggi.


Fika melirik Adelio lagi yang nampaknya masih sibuk dengan handphonenya. Fika berharap agar Adelio segera bicara untuk membelanya.


"Lo jangan mimpi, Fika, kalau Adelio itu mau jadi pacar lo," ujar Loli di akhiri dengan suara tawa yang begitu sinis.


Semua orang yang berada di sekitar mereka hanya mampu saling berbisik melihat kejadian itu.


"Sekarang gue mau lo keluar dari acara ulang tahun gue, karna lo nggak memenuhi syarat yang udah gue tentukan. Lo baca pengumuman di mading sekolah kan?"


Fika terdiam.


"Heh!!! Lo tuli yah?!!!" bentak Marisa membuat Fika tersentak karena kaget.


Fika yang masih tertunduk mulai mengangguk seakan mengiyakan ucapan Loli yang menyuruhnya untuk keluar.


Dengan pelan Fika memutar tubuhnya membuat senyum sinis Loli dan kedua sahabatnya itu terlihat. Mungkin ini bukanlah tempatnya. Seharusnya ia memang tak datang ke tempat ini.


Cia yang melihat hal tersebut dengan cepat melangkah mendekati Adelio yang masih duduk di kursi sambil menatap layar handphonenya. 


Dengan langkah pelan Fika melangkahkan kakinya ke lantai yang di saksikan sebagian para tamu undangan yang berada di sekitar mejanya.


"Tunggu!" Tahan seseorang bersamaan ia memegang pergelangan tangan Fika membuatnya menghentikan langkah.


Semua orang terbelalak, termasuk Loli yang sama sekali tak menyangka dengan kejadian itu.


Fika menoleh menatap orang itu yang telah berhasil menghentikan langkahnya.


"Adelio." Suara pelan itu keluar dari bibir Fika dengan tatapan yang tak menyangka.


Adelio terdiam menatap Fika sambil memegang pergelangan tangan Fika dengan erat. Adelio menoleh menatap Loli yang masih memasang wajah tak menyangka di sana.


"Aku emang pacaran sama Fika," ujar Adelio berhasil membuat semua orang terkejut sementara Loli menganga. 


"Yah aku dan Fika pacaran," jelas Adelio lagi.


Fika membulatkan mata seakan tak menyangka jika Adelio mengakui dirinya sebagai pacar di hadapan orang banyak. 


Sakit! Yah, entah perasaan apa yang terselip di hati Cia. Rasanya nafas Cia terasa sesak setelah mendengar perkataan Adelio.


Cia menarik nafas panjang lalu berusaha untuk tersenyum menatap jari-jari Adelio yang masih memegang erat pergelangan tangan Fika.


Apa yang ada di perasaan Cia? Mengapa hatinya seperti ini? Apa ia Cemburu? Semua pertanyaan seakan menggebu dalam pikirannya.


"Lo nggak usah bohong Adelio!" Senyum sinis Loli terlihat.


"Tidak! Saya tidak bohong!" bantah Adelio.


Darah Loli seakan mendidih di aliran darahnya setelah mendengar perkataan Adelio.


Fika menatap Adelio cepat. Apakah yang di katakan Adelio ini serius atau Adelio mengatakan itu hanya untuk menolongnya?


Rasanya Jantung Fika berdetak lebih cepat. suhu tubuhnya seakan memanas ketika Fika mampu merasakan hangat pegangan jari-jari adelio yang masih memegang pergelangan tangannya.


"Lo-" Tunjuk loli sambil berteriak.


"Husst! Jangan kepancing, Lol! Ini hari ulang tahun lo," bisik Marisa mengingatkan sementara medika yang berdiri di samping Loli hanya mampu mengelus bahu Loli pelan. 


Loli menurungkan telunjuknya sambil mengatur nafasnya yang sesak. Rasanya kali ini Loli gagal membuat sabahat Cia itu malu di depan banyak orang.


Tatapan Loli kini mengarah kepada Cia yang nampak memasang wajah murung di sana. Mungkin kali ini Loli gagal untuk mempermalukan Fika di depan umum karena Adelio yang telah menolongnya, tapi kali ini tidak ada yang dapat menolong Cia.


"Dan lo, Ci!" Tatap Loli tajam ke arah Cia.


Cia menoleh menatap Loli. Dari matanya Cia mampu menebak ada niat jahat di sana.


"Mana pacar lo?"