Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 233



Kedua mata Adelio membulat ketika sebuah kecupan mendarat di pipinya. Cia menjauhkan bibirnya dan tersenyum menatap Adelio yang kini terlihat sangat kaget dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.


Bibir Adelio terbuka seakan begitu sangat tak menyangka jika Cia baru saja mencium pipinya yang kini terasa panas.


Cia tersenyum malu, entah mengapa ia sangat seberani ini mencium pipi Adelio yang kini masih terlihat sedang menatapnya dengan wajah syok.


"Ada apa?" tanya Cia yang kini sedikit tertawa kecil sembari terus menatap Adelio.


Adelio tak menjawab apa-apa namun dengan cepat ia meraba pipinya yang telah di cium oleh Cia. Apakah ini nyata? Apa Cia benar-benar menciumnya tadi atau ini hanya mimpi?


"Cia, tadi kamu-"


"Kenapa?" potong Cia.


Adelio terdiam sejenak lalu mengatur nafasnya yang terasa sesak itu.


"Kamu mencium ku," ujar Adelio.


"Apa kamu marah?" tanya Cia membuat Adelio tersenyum malu dan menunduk. Entah mengapa Adelio merasa jika dia seperti perempuan dan Cia lah yang menjadi sosok pria yang membuatnya menjadi sangat malu.


"Aku tak pernah di cium oleh seorang wanita setelah kecuali ibu ku," ujar Adelio.


"Aku juga tak pernah mencium seorang pria selain Ayah ku," ujar Cia.


Adelio menoleh menatap Cia yang terlihat tertunduk. Sejujurnya Cia merasa malu setelah ia sadar jika tadi ia telah mencium Adelio. Cia tak tahu mengapa ia bisa seberani itu tanpa memikirkan apa yang akan Adelio pikirkan mengenai dirinya.


Kini suasana keduanya menjadi canggung tak ada lagi diantara mereka yang bicara. Hanya ada suara kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.


"Cia," ujar Adelio membuat Cis tertunduk itu melirik Adelio sejenak dan kembali tertunduk sambil meremas jari-jari tangannya yang berkeringat.


"Apa?" tanya Cia dengan rasa canggung.


"Em, mungkin kita harus kembali ke rumah sakit sekarang," ujar Adelio sambil bangkit dari kursi.


"Baiklah," jawab Cia lalu bangkit dan melangkah mendekati Adelio yang kini telah naik ke atas motornya.


Langkah Cia terhenti lalu menunduk menatap seluruh seragam sekolahnya yang terlihat kotor.


"Ada apa?" tanya Adelio yang kini telah memakai helmnya.


"Seragam ku kotor, apa mungkin kita ke rumah ku dulu untuk mengganti pakaian ku?" tanya Cia dengan nada lembutnya.


Adelio tersenyum, baru kali ini ia mendengar Cia berbicara dengan nada yang lembut dan sopan kepadanya.


"Baik, setelah itu kita kembali ke rumah sakit," ujar Adelio membuat Cia mengangguk.


..._____****_____...


Cia dan Adelio kini melangkah di koridor rumah sakit menuju ruangan ICU. Langkah Cia memelan saat dari kejauhan ia menatap Firdha yang kini sedang berdiri di depan ruangan ICU di mana Devan di rawat.


"Ada apa?" tanya Adelio yang merasa ada yang aneh pada Cia terlebih lagi ketika Cia melihat Firdha.


"Tidak ada," jawab Cia lalu kembali menstabilkan langkahnya menuju kursi panjang yang berada di depan ruangan ICU.


Firdha yang melihat kedatangan Cia dan Adelio kini dengan cepat bangkit dari kursi lalu menghampiri Cia yang kini telah duduk di kursi panjang bersama Adelio.


"Cia, kamu dari mana saja?" tanya Firdha.


Cia tak menjawab. Cia hanya terdiam dan menoleh ke arah tempat lain.


"Cia, saya bertanya dan tolong kamu jawab!" Pintah Firdha dengan sedikit agak kesal.


"Perkuburan umum?" tanya Firdha yang kini sedang menatap Cia yang sama sekali tak menatapnya.


"Iya Tante," jawab Adelio.


"Apa yang kamu lakukan di sana, Cia?" tanya Firdha dan tatap saja Cia tak menjawab dan mengeluarkan sebuah kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari Firdha.


"Cia, saya sedang bertanya dan tolong kamu jawab!" kesal Firdha yang kini sedikit meninggikan nada suaranya.


"Tante," tegur Adelio membuat Firdha kini menoleh menatapnya.


"Mungkin Cia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Tante karena keadaan hati Cia yang sedang tidak baik karena Ayahnya yang masih kritis," jelas Adelio dengan sopan dan lembut.


"Sepertinya kamu mengetahui semuanya," ujar Firdha lalu tersenyum sinis sebelum melangkah dan duduk di kursi panjang tempat ia duduk tadi.


Kini suasana menjadi sunyi tak ada diantara ketiga dari mereka yang bicara. Firdha tak mungkin mengatakan sesuatu kepada Cia yang sudah jelas tidak akan membalas ujarannya.


Firdha menghembuskan nafas panjang setelah beberapa kali menguap lebar dan mengusap matanya yang terasa perih dan mengantuk. Sesekali Firdha menatap handphonenya untuk mengirim pesan kepada Madi dan menanyakan kabar Kasya yang kini telah ia biarkan pulang lebih dulu.


Cia melirik Firdha sejenak yang menguap lebar sambil menutupnya dengan kedua tangannya.


"Sepertinya Anda sudah mengantuk," ujar Cia membuat Firdha menoleh menatap Cia dan Adelio yang kini sedang menatapnya.


"Apa?" tanya Firdha.


Cia menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Anda sepertinya sudah ingin tidur, Ada bisa pulang sekarang. Saya ada di sini bersama dengan Adelio menunggu Ayah saya sadar. Anda tenang saja! Saya akan menghubungi Pak Madi jika Ayah saya telah sadar," jelas Cia.


Firdha tersenyum simpul setelah mendengar apa yang Cia katakan.


"Kamu menyuruh ku pulang?" tanya Firdha.


Cia terdiam, ia tak berniat untuk mengatakan hal ini berulang kali.


"Hah, kamu menyuruh aku pulang dan membiarkan kalian berduaan di sini, hanya Kalian berdua."


Cia terdiam begitupula juga dengan Adelio.


"Cia, aku tidak mungkin pulang dan membiarkan laki-laki ini bersama kamu sepanjang malam di tempat yang sunyi seperti ini."


Cia menoleh menatap Adelio yang kini sedang menatap serius ke arah Firdha yang masih sibuk bicara di kursi sebrang.


"Memangnya apa yang Anda takutkan?" tanya Cia.


Mendengar pertanyaan itu membuat Firdha kini bangkit dari kursi.


"Cia, tidak semua laki-laki itu baik, terkadang ada laki-laki yang hanya mengingkan sesuatu dari perempuan sehingga ia bersikap sok baik," jelas Firdha sambil melirik Adelio.


"Cia, saya takut jika sampai pria ini melakukan hal yang buruk kepada mu. Jika sampai itu itu terjadi maka siapa yang akan menolong mu? Devan tidak akan menolong mu di sini karena sedang kritis," jelas Firdha.


Cia yang mendengar hal itu membuatnya kini bangkit dari kursi dan melangkah ke arah Firdha yang nyalinya seakan menciut melihat sorot kedua mata Cia yang terlihat sangat tajam.


"Maaf Nyonya, tapi Adelio tidak seperti itu. Dia memang orang lain dan tidak memiliki hubungan keluarga dengan saya tapi saya merasa aman dengan Adelio."


"Nyonya, saya lebih takut dengan orang yang mengakui saya sebagai keluarga seperti Anda. Apa Anda lupa jika keluarga saya sendiri yang selama ini telah menyakiti saya dan bahkan telah membuat Ayah saya kritis," jelas Cia.


Firdha kini mendecapkan bibirnya kesal lalu meraih tas dari kursi dan melangkah pergi meninggalkan Cia dan Adelio.