
bidadari itu terdiam. Ia hanya menatap wajah Cia dengan tatapan yang sangat serius.
Cia menarik nafas panjang lalu dengan pelan Cia mengangkat jari-jari bidadari memegang palet itu.
"Bidadari melukis di sini!" Cia mengengam jari-jari bidadari yang memegang kuas ke arah permukaan dinding.
"Cia melukis di sana, yah?" Tunjuk Cia ke arah dinding.
Cia meraih cat dan palet dari kresek hitam. Cia sengaja membawa palet yang ia punya di rumah agar bisa melukis bersama-sama dengan bidadari. Cia terdiam sejenak menatap dinding putih itu, Cia tak tahu apa yang harus ia lukis di permukaan dinding ini. Harus gambar apa?
Begitu lama Cia berfikir hingga akhirnya ia mengoleskan ujung kuas itu ke dalam cat berwarna hitam lalu mulai melukis di dinding putih itu sambil tersenyum.
Ujung-ujung kuku Cia kini berwarna-warni karena terkena cat warna yang ia keluarkan ke palet. Lengan Cia pun nampak terkena cat warna di sana namun, saking semangat dan seriusnya Cia melukis ia tak sadar jika cat warna itu juga menetes dan mengenai wajah Cia.
Hari ini Cia benar-benar begitu bahagia, sangat-sangat bahagia. Entah mengapa itu terjadi pada perasaan Cia hari ini.
Cia Melangkah mundur menatap ke dinding, lukisannya telah selesai. Sebuah lukisan yang memperlihatkan seorang gadis yang berada di tengah-tengah memegang erat tangan pria dan seorang wanita. Cia mengibaratkan gadis itu adalah Cia sementara pria dan wanita itu adalah Devan dan Mamanya, entah mengapa di pikiran Cia hanya mereka yang terlintas.
"Kak bidadari liat deh lukisan Cia!" pintah Cia tanpa menoleh ke belakang.
Tak ada jawaban dari bidadari. Suasana terasa hening.
Cia menoleh memutar tubuhnya menatap ke arah bidadar. Cia membulatkan matanya menatap sebuah lukisan yang begitu sangat indah. Cia melangkah pelan, menghampiri bidadari.
Sebuah lukisan di dinding yang memperlihatkan tiga ekor kupu-kupu berwarna biru bercorak kuning emas, salah satu dari ketiga kupu-kupu ituĀ terlihat berukuran kecil.
Rasanya Cia pernah melihat lukisan yang seperti ini tapi, entahlah Cia lupa di mana ia pernah melihatnya.
"Waaaaah!!!" Cia ternganga di samping bidadari sembari pandangannya yang tak lepas menatap hasil lukisan bidadari.
"Ini kak bidadari yang lukis?" tanya Cia kegirangan.
Bidadari itu terdiam.
"Cantik banget!" sabung Cia dengan wajah kagumnya.
"Kak bidadari pintar ngelukis, yah?" tanya Cia lagi tanpa menatap wajah bidadari yang masih menatap Cia dengan tatapan serius.
Perlahan bidadari itu menoleh menatap ke arah lukisan Cia lalu melangkah pelan. Cia mengkerutkan alisnya menatap bidadari yang nampak terdiam menatap lukisan Cia.
"Itu lukisan cia," ujar Cia yang ikut melangkahkan kakinya ke arah bidadari yang masih berdiri di sana.
Bidadari nampak mengangkat jari-jarinya berniat untuk menyentuh lukisan Cia itu.
"Jangan disentuh!!!" teriak Cia cepat.
Bidadari itu menoleh menatap Cia cepat ketika suara teguran itu terdengar.
"Catnya masih basah!" jelas Cia pelan. Cia takut jika bidadari marah.
Bidadari menurungkan jari-jarinya pelan sambil terus menatap serius ke arah lukisan Cia. Cia tak tahu mengapa bidadari begitu serius melihat lukisan Cia padahal lukisan Cia tidak sebagus lukisan bidadari. Apa dia kagum? Pikiran itu kini memenuhi pikiran Cia.
"Ini Cia," ujar Cia sembari menunjuk ke arah gadis yang berada di tengah-tengah.
"Kalau Ini Mama Cia," ujar Cia lagi sembari menunjuk ke arah lukisan wanita yang memegang erat tangan gadis itu.
"Nah yang ini Ayah Cia," tambah Cia sambil menunjuk pria itu.
Cia menengadah menatap langit-langit kamar berwarna putih kusam. Mungkin sedikit sentuhan langit-langit kamar bidadari akan terlihat cantik.
"Kita ngelukis lagi yuk, kak!" ajak Cia.
Bidadari itu terdiam.
"Di sana kita lukis bintang di sebelahnya kita ngelukis matahari." Tunjuk Cia ke langit-langit kamar.
Tanpa menunggu jawaban dari bidadari, Cia melangkah menaiki kasur berusaha menyentuh ujung kuasnya itu ke langit-langit kamar namun, Cia tak mampu mengapai langit-langit kamar itu.
"Non Cia!" panggil Jef sambil membawa belasan kalen cat warna khusus untuk melukis membuat Cia menoleh dan tersenyum.
"Loh, Pak Jef?" Tatap Cia heran.
Bagaimana bisa Jef membawa cat warna yang cukup banyak ke dalam kamar, yah jujur cat warna Cia sudah hampir habis.
"Saya bawa cat Non, kata bos Brahmana non Cia butuh cat untuk melukis."
Cia tersenyum, ternyata kaleng-kaleng cat ini adalah pemberian Brahmana, tapi apa harus sebanyak ini? Cia menggeleng ia lupa jika pria itu adalah pria kaya raya yang mampu membeli apa saja. Pernah terlintas di pikiran Cia, apakah ia boleh meminta gaun yang Cia lihat di mall Brahmana? Cuih!!! Rasanya Cia ingin memukul kepalanya itu dengan keras menyingkirkan pikiran bodoh itu.
"Makasih, Pak," Ujar Cia.
Jef melangkah masuk ke dalam kamar lalu meletakkan kaleng-kaleng cat itu ke lantai lalu berpaling berniat untuk melangkah pergi dari kamar.
"Pak Jef!" panggil Cia.
"Iya." Jef berbalik cepat.
"Saya butuh tangga," ujar Cia ragu sembari menatap Jef yang kini tersenyum.
Ujung kuas itu nampak melukis di permukaan langit-langit kamar, dengan hati-hati Cia berdiri dianakan tangga putih yang Jef bawa atas permintaan Cia.
Di langit-langit kamar itu terlihat berwarna biru tua dengan bintik-bintik putih yang diibaratkan seperti bintang yang berkelap-kelip di langit, tak lupa juga sebuah bulan sabit yang begitu indah. Di sebelahnya Cia juga melukis sebuah matahari dengan awan putih berlangit biru muda yang terlihat sangat cerah.
Cia melangkah menuruni tangga putih itu ketika lukisannya itu telah selesai. Cia menoleh menatap bidadari yang nampak mencelupkan seluruh jari-jari tangan kanannya ke dalam kaleng cat berwarna biru.
Cia berlari ke arah bidadari dengan wajah yang nampak terkejut.
"Loh kok bidada-" ucapan Cia terhenti cepat.
Cia menatap bidadari itu yang meletakkan telapak tangannya yang telah ia celupkan kedalam kaleng cat berwarna biru ke permukaan dinding, menghasilkan sebuah lukisan telapak tangan di sana.
"Waaaaaa!" Cia kagum.
"Cia juga mau," ujar Cia lalu meraih kaleng cat berwana hijau di sana dan ikut mencelupkan jari-jarinya dan menempelkannya ke dinding.
Cia tertawa menatap bidadari itu yang nampak kesusahan membuka penutup kaleng cat hingga kaleng berisi cat berwarna ungu itu tumpah ruah ke lantai.
"Hah!" kaget Cia.
Mata Cia membulat menatap kekacauan ini di tambah lagi cairan cat itu kini mengalir ke arah tasnya, jika tasnya terkena cat maka Devan pasti marah dan tak mau lagi membelikan Cia tas baru.