Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 187



Devan tertawa lalu segera bangkit dari sofa, tempat ia duduk dan menatap ke seluruh rumah yang terlihat sangat megah.


Devan tersenyum lalu segera memberikan tepuk tangan yang menggema di dalam ruangan rumah membuat Cia, Abraham dan Jef terheran.


"Ini tepuk tangan untuk Anda Tuan," ujar Devan sambil bertepuk tangan.


"Ini tepuk tangan untuk Anda Tuan," ujar Devan lagi.


"Silahkan duduk!" suruh Devan membuat Abraham kini menoleh menatap Jef sesaat lalu kembali menatap Devan yang kini masih tersenyum.


"Mau Anda yang duduk sendiri atau perlu saya bantu?" tawar Devan.


Abraham yang masih kebingungan itu kini segera duduk di sofa sementara Devan kini melirik Jef yang masih berdiri.


"Apakah bawahan Anda tidak ikut duduk?" tanya Devan.


Abraham yang mendengar hal tersebut langsung melirik Jef yang kini ikut menatap Abraham. Abraham mengangguk perlahan seakan menyuruh Jef untuk ikut duduk di sampingnya. Jef mengangguk lalu segera duduk di samping Abraham.


Devan kini melangkah mendekati Abraham dan Jef yang kini masih kebingungan.


"Anda telah sukses Tuan Abraham," ujar Devan sambil menatap ke seluruh rumah.


Abraham terbelalak lalu bangkit dari sofa, bagaimana bisa pria ini tahu jika namanya adalah Abraham padahal namanya telah disamarkan menjadi Brahmana.


"Anda telah sukses Tuan tapi, sayang Tuan Abraham yang terhormat, kehidupan Anda penuh dosa," jelas Devan penuh tekanan sambil melangkah pelan mendekati Abraham yang masih sangat terkejut.


Abraham dan Jef kini hanya mampu terdiam sembari menatap pria ini yang berani mengatakan hal itu kepadanya. Abraham tak mengerti dengan apa yang baru saja pria ini katakan.


"Maksud Anda apa Pak?" tanya Jef yang kini sudah tak tahan dengan apa yang pria ini katakan.


Devan tersenyum sinis lalu segera melangkah mendekati Abraham. Devan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Abraham. Devan kini tertunduk menatap wajah Abraham yang kini menengadah menatapnya. Sepertinya dunia kini terbalik, dulu Devan yang mengada sementara Abraham yang tertunduk dan kini Devan yang tertunduk sementara Abraham menengadah ke atas menatap wajah Devan.


"Siapa nama kamu?" tanya Devan berhasil membuat Abraham terheran dengan pertanyaan pria berkumis ini.


"Anda pernah bertanya seperti itu kan?" tanya Devan lagi membuat Abraham dan Jef semakin terheran termasuk juga Cia yang kini mematung di belakang sana.


"Anda masih ingat itu kan?"


"Lalu bocah kecil itu menjawab dan memanggil Anda dengan sebutan Om tapi Anda marah besar dan berteriak 'Hust jangan panggil saya Om!!!! Saya bukan Om Kamu!!! Seperti itu!!!" jelas Devan yang mengungkapkan kalimat itu dengan berteriak cukup keras hingga suara Devan menggema membuat Cia tersentak kaget begitu juga Abraham dan Jef.


"Maaf, bocah itu minta maaf kan? Lalu Anda berucap 'Panggil saya Tuan! Tuan Abraham!!!" teriak Devan penuh tekanan.


"Bocah itu hanya mampu berkata 'Maaf Tuan A...A...Abraham," ujar Devan lalu tersenyum sinis.


Abraham terdiam, ia masih bingung dengan apa yang pria ini katakan.


"Masih ingat?


"Atau ah ini biar aku ingatkan."


"Emmm apa lagi yah?"


"Oh iya lalu Anda bilang apa? Masih ingat?"


"Hah, bagaimana bisa Anda lupa dengan kajian 17 tahun yang lalu Tuan Abraham?"


"Em, Anda bilang 'Kamu tahu kan kalau Kasya adalah Anak terhormat?"


Abraham terbelalak ketika nama itu terlontar dari mulut pria ini. Abraham sama sekali tak mengerti bagaimana bisa pria ini tahu dengan nama putrinya yang identitasnya selama ini telah ia sembunyikan dari rana publik.


"Siapa kamu?" tanya Abraham.


"Dia? Apa Anda menanyakan tetang dia?" tanya Devan lalu kembali menatap Abraham yang kini terdiam dengan sorot matanya yang terlihat sangat tajam.


"Oh atau Anda menanyakan tentang saya? Iya saya?" tanya Devan sambil menyentuh dadanya.


Devan tersenyum lalu melangkah mundur dan segera mendekati Cia yang kini hanya mematung.


"Anda bertanya siapa saya?" tanya Devan lalu ia tertawa sinis.


"Em bagaimana cara aku menceritakannya yah?" tanya Devan lalu ia tertawa.


Devan kini melepas kumis palsunya itu membuat Abraham terbelalak, tak ada bedanya dengan Jef yang ikut terkejut dengan hal itu.


"Sudah kenal dengan saya Tuan..Abraham?" tanya Devan.


Abraham masih terdiam, ia belum mengigat apapun dari pria itu.


"Jangan tanyakan pada saya! Tanyakan pada Jef!" Tunjuk Devan ke arah Jef yang kini terbelalak kaget setelah mendengar Devan menyebut namanya.


"Anda kenal dengan saya kan Pak? Iya kan?" Bagaimana mungkin Anda lupa dengan pria yang Anda tembak Bapaknya di dalam rumah Tuan Abraham yang begitu megah di Surabaya dan dengan teganya menembak dokter Yusuf hingga tewas mengenaskan di bandara," jelas Devan membuat semuanya terbelalak kaget.


"Kamu!!!" Tunjuk Jef setelah mengingat semuanya. Tubuh Jef gemetar setelah berhasil mengingatnya. Dia Devan, bocah yang jelas-jelas telah ia bunuh di bandara tapi mengapa dia bisa ada di sini.


"Wah Anda sudah tahu rupanya," ujar Devan.


"Iya saya, Pak Jef," ujar Devan sambil mengangguk.


"Em sepertinya ingatan Anda masih kuat yah Pak Jef walaupun umur Anda sudah semakin tua."


"Anda bagaimana Tuan Abraham?" tanya Devan membuat Abraham yang kini masih terbelalak itu mengedipkan matanya.


"Masih ingat kan?"


"Tidak?"


"Ah ingatan Anda sudah melemah yah Tuan Abraham. Bagaimana Anda lupa dengan saya?"


"Ah atau perlu saya membawa Anda kembali ke kisah lama yang penuh menyedihkan itu. Oh tidak!Tidak! Ini bukan kisah menyedihkan bagi Anda Tuan tapi ini adalah kisah yang penuh kerjayaan bagi Anda."


"Ini kisah menyedihkan bagi saya, Em saya, hahaha."


Devan menghentikan tawanya menatap Jef dan Abraham secara bergantian.


"Ups, maaf Tuan. Saya minta maaf karena sudah tertawa seperti ini."


"Eh apa Anda akan marah? Atau Anda akan menembak saya juga?"


"Sebut nama kamu!" ujar Abraham yang kini ingin memastikan jika pria di hadapannya adalah bocah ingusan itu.


"Ah terlalu terburu-biru sepertinya tapi baiklah."


"Em yah hahaha biar saya kasih tahu. Saya..." Devan menarik nafas panjang, rasanya lututnya masih gemetar karena takut yang mendalam kepada dua orang ini, Jef dan Abraham tapi kali ini Devan harus bisa bersikap seolah ia tak takut.


"Saya Devan Alwiyora, pria yang telah berani merusak kehidupan Kasya, Putri Tuan, Tuan Ab-ra-ham," ujar Devan penuh tekanan.


Abrahan terbelalak kaget, begitu juga dengan Jef. Abraham sama sekali tak menyangka jika pria yang ada di hadapannya ini adalah pria yang telah menghamili putri kesayangannya.


"Masih ingat?" tanya Devan sambil berusaha untuk tersenyum padahal sejujurnya ia ingin menangis karena takut.