Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 126



Adelio terdiam beberapa menit sambil menatap orang-orang yang nampak berlalulalang menatap Cia yang kini seakan menempel di dinding. Cia tak mungkin keluar dari rumah sakit dengan rok yang kotor karena darah.


"Hah, gimana dong?" ujar Cia khawatir.


Adelio terdiam sejenak menatap Cia yang kini semakin gelisah. Tak lama Adelio bangkit dari lantai lalu dengan perlahan Adelio melepas jaketnya dan melangkah ke arah kursi dan mengosokkan jaketnya itu ke permukaan kursi itu sampai tak bersisa sedikit pun.


Cia mengkerutkan alisnya menatap apa yang Adelio baru saja lakukan. Apa Adelio tidak merasa jijik dengan hal itu?


Adelio mendongak menatap Cia yang dengan cepat mengalihkan pandangannya. Kini ia terasa malu. Adelio tersenyum lalu melangkah ke arah Cia.


Bibir Cia terbuka dengan wajah syoknya ketika wajah dan tubuh Adelio semakin dekat dengan tubuhnya membuat detak jantung Cia seakan berhenti untuk berdetak. Cia mampu merasakan hembusan nafas Adelio yang terasa hangat saat berhembus mengenai wajahnya.


Sorot mata Adelio terus menatap wajah Cia yang terus tertunduk seakan tak berani untuk menatap wajahnya. Diwaktu yang bersamaan jaket itu telah melingkar di pinggang Cia.


Cia menyentuh dadanya yang terasa sesak dengan debaran jantungnya yang berdebar cukup kencang. Apa yang Cia rasakan sekarang? Mengapa perasaan aneh ini muncul di hatinya.


Cia mendongak menatap wajah Adelio yang terlihat sangat tampan dengan jarak yang begitu dekat. Apakah ini cinta ?


"Yap selesai. Jadi kalau begini tidak ada yang melihat kotoran yang ada di rok kamu."


Adelio tersenyum lalu melangkah mundur menatap jaketnya yang kini telah menutupi rok Cia yang kotor itu.


"Lio, tapi nanti-"


"Apa?" tanya Adelio dengan nada lembutnya.


"Nanti jaket lo kotor."


"Nggak apa-apa kok, kan cuman kamu yang pake, bukan orang lain."


Cia menunduk menatap jaket yang kini melingkar di pinggangnya. Cia tersenyum. Untuk kesekian kalinya Adelio lagi dan lagi membatunya. Adelio memang baik.


"Yah udah yuk!" ajak Adelio lalu melangkah membelakangi Cia dan pergi begitu saja.


Cia tersenyum menatap Adelio yang terus melangkah. Cia menunduk menatap jaket itu dan menyentuhnya pelan.


"Cia," panggil Adelio.


Cia mendongak menatap Adelio yang kini berdiri sambil menatapnya dari kejauhan.


"Ayo!"


Cia mengangguk lalu segera melangkahkan kakinya tepat di samping Adelio yang kini nampak begitu bahagia. Rasanya dunia sedang membolak-balikkan perasan keduanya dari perasan sedih menjadi bahagia.


Keduanya kini melangkah menelusuri koridor rumah sakit. Sesekali Cia melirik Adelio yang terus melangkah tanpa pernah menatapnya, hanya ada senyuman di sana.


"Adelio," ujar Cia tanpa menoleh menatap Adelio kini menoleh sambil terus melangkah.


"Apa?"


"Gue pernah nanya sama lo, kenapa sih lo pendiem banget di sekolah?" tanya Cia sementara senyum Adelio semakin lebar.


"Yah gue tau sih itu nggak penting menurut lo tapi gue penasaran banget."


"Gue baru pertama kali ngeliat cowok yang pendiam, nggak banyak omong dan orangnya sopan banget kayak lo."


"Terkadang diam lebih menyenangkan dari pada harus bersikap cerewet seperti orang-orang lain," jelas Adelio.


"Maksud lo cerewet gue?" Tunjuk Cia ke arah wajahnya.


"Apa?" tanya Adelio.


"Tadi lo sendiri yang bilang, bersikap cerewet seperti orang-orang, maksud lo orang yang cerewet itu gue?" jelas Cia sedikit tertawa.


"Yah, gue akuin sih kalau gue itu cerewet, hah Lebih tepatnya gue tuh di mata orang-orang lebih di kenal pemarah, suka teriak dan banyak omong, em gue-"


"Bukan kamu," ujar Adelio lagi berhasil membuat Cia menghentikan ocehannya.


"Terus menurut lo, gue bukan orang lain gitu?" tanya Cia sambil tersenyum manis.


"Bukan," jawab Adelio cepat.


Cia tersenyum, Cia tahu apa maksud Adelio barusan, yah sahabat. Cia adalah sahabat Adelio bukan orang seperti apa yang Cia pikirkan.


"Sahabat?" tanya Cia.


"Bukan sahabat Cia, aku nggak pernah anggap kamu sebagai sahabat, tapi aku menganggap kamu sebagai seorang gadis yang berhasil menyadarkan aku tentang sebuah rasa, jika selama ini aku jatuh cinta sama kamu."


"Aku tahu, kamu telah punya pacar tapi mengapa aku merasa sangat berharap jika kamu bisa aku miliki."


"Hah, perut gue sakit." Kesal Cia memukul pelan perutnya sendiri.


"Sakit banget?" Tatap Adelio penuh perhatian.


Cia terdiam menatap Adelio yang kini nampak memasang wajah perhatian ke arah Cia. Baru kali ini ada yang perhatian ini kepada Cia.


"Ci, kok bengong?" tegur Adelio.


Cia tersadar dari lamunannya lalu tersenyum sembari terus menatap ke arah jalan.


"Em, nggak kok," ujar Cia lalu menggeleng.


"Emm, oh iya, ini jaket lo besok gue balikin yah!" ujar Cia terus tersenyum.


Adelio mengangguk.


"Oh iya, Lio."


"Em," sahut Adelio.


"Lo nggak jijik gitu sama, emm da...darah gue yang tadi?" tanya Cia sambil memaingkan ujung jaket abu-abu itu, jujur ia malu.


"Jijik?"


Cia mengangguk dengan pipinya yang memerah.


"Yah nggak lah, emang kenapa harus jijik?"


Cia menggeleng, sebenarnya ia juga tak tahu mengapa orang harus jijik dengan darah tapi kebanyakan pria akan merasa jijik dengan hal itu, terutama dengan Devan.


"Aku udah biasa ngeliat yang kayak gituan."


"Oh yah?" tanya Cia.


"Tiga tahun yang lalu Ibuku mengalami kecelakaan dan tulang kakinya patah."


"Ibu aku nggak bisa jalan dan hanya terbaring di ranjang. Selama Ibu aku sakit, aku yang rawat ibu aku, karena Ayahku lebih sibuk dengan istri barunya itu."


"Makan, mandiin Ibu dan bahkan aku yang cuci kotoran dan darahnya Ibu ketika ia mengalami menstruasi, jadi yah aku sudah biasa," jelas Adelio.


Cia tersenyum. Adelio memang orang yang sangat baik. Cia sekarang merasa nyaman bersama dengan Adelio yang kini masih melangkah di sampingnya.


"Oh iya, pak Yanto emang om lo?" tanya Cia kembali membuka percakapan.


Adelio mengangguk.


Cia menghembuskan nafas berat sambil mengigit bibir bawahnya. Bagaimana bisa pria sebaik Adelio memiliki om segalak itu, ini sama saja dengan malaikat yang memiliki darah iblis. pak Yanto meresahkan.


"Om Yanto itu baik loh, yah cuman kadang suka ngegas aja," ungkap Adelio.


"Ah itu bukan kadang-kadang aja ngegas, tapi tiap hari tuh si botak ngegas, ngomel nggak jelas," gumam Cia.


"Kayak dia tuh ngerasa dia yang paling suci di dunia ini dan gue adalah orang yang paling banyak salah."


"Pak Yanto kalau ngomong tuh udah kayak punya tiket buat masuk surga tau nggak, kayak nggak punya dosa."


"Kamu nggak tahu si om aku itu aslinya kayak gimana."


"Oh yah? Aslinya gimana?" tanya Cia walau sejujurnya ia tak tertarik membahas pria botak itu.


"Om Yanto itu aslinya baik banget," ujar Adelio lagi.


"Cuih, baik apaan, gue udah kenal Pak Yanto udah hampir tiga tahun tau nggak dan nggak ada sikap baik sedikit pun."


"Pak Yanto itu sifat aslinya kayak iblis."


Keduanya kini tetap melangkah berdampingan melewati pintu-pintu ruangan serta orang-orang yang tengah duduk di sebuah kursi panjang. Beberapa suster dengan pakaian putih nampak melangkah ke ruangan pasien.