Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 66



Jojon mengkerutkan kedua alisnya menatap geli pria yang berada di hadapannya. Mengapa ada orang di dunia ini yang begitu percaya diri seperti pria ini? Apa di rumah pria berkumis ini tak punya cermin?


"Lu pasang ajah, Jon!" Pintah Yuang.


"Em, yah udah...udah, Sini lo!!!" teriak Jojon.


Pria berkumis itu melangkah menuju Jojon yang kini menempel nomor antrian peserta pada dadanya.


"Noh pigi sana loh!" Usir Jojon membuat pria berkumis itu melangkah pergi dengan wajah kegirangan lalu duduk di kursi bersama para peserta lainnya.


"Selanjutnya!" teriak Yuang lagi sembari menatap barisan panjang di depannya.


Cia tediam menatap kerumunan di bengkel depan sana. Senyum Cia seketika menghilang dari bibirnya ditambah lagi ketika Cia dibuat begitu sangat terkejut menatap sebuah spanduk bertuliskan 'Cia Mencari Pacar' yang membentang di sebuah papan menutupi nama bengkel Mobepan.


Cia melongo tak menyangka. What? Apa yang sedang terjadi di sini? Apa Cia salah lihat atau ini semua mimpi bodoh yang tidak nyata.


"Ciaaaa!!!!" teriak jejeran pria itu yang melihat kedatangan Cia.


Suara kompak itu terdengar membuat Jojon bangkit dari kursi lalu menoleh menatap Cia yang nampak syok di sana.


"Cia!!!" teriak mereka lagi berniat berlari mengerumuni Cia yang nampak sangat semakin syok.


"Eits! keluar dari barisan diskualifikasi!!!" teriak Tara.


Barisan panjang yang nyaris berantakan itu kini kembali berbaris rapih setelah teriakan itu terdengar dari mulut Tara .


Cia melangkah pelan masih tak mengerti dengan ini semua. Apakah semua pria yang berbaris cukup panjang ini mendaftarkan diri untuk menjadi pacar Cia? Sebanyak ini?


Devan yang sedari tadi melamun itu kini tersadar dari lamunannya menatap Cia yang kini melangkah ke arahnya.


Rambut yang diikat dengan rapi ke belakang, baju berwarna kuning dengan tulisan putri raja serta celana hitam longgar dan sendal jepit yang mengalas kaki mulus Cia, membuatnya terlihat sangat sederhana namun tak pernah mengurangi kadar kecantikan Cia.


"Van!" panggil Cia sembari melangkah menghampiri Devan membuat semuanya menoleh menatap Cia.


Cia terdiam. Cia lupa jika Cia harus memanggil Devan itu dengan nama Ceo, yah entah mengapa tapi cia menurut saja jika Devan memintanya dipanggil dengan nama itu.


"Eh ma...ma...maksud gue Ceo," ujar Cia gugup.


Semua pria yang sedari tadi menatap Cia kini kembali dengan kesibukannya masing-masing membuat Cia bernafas lega.


"Ini apa sih ?" bisik Cia.


Devan terdiam lalu meraih pergelangan tangan Cia dan membawanya masuk kedalam ruangannya.


"Itu di luar apa sih?" Hempas Cia sesampainya di dalam ruangan membuat Devan mengusap dahinya hingga merapikan rambutnya.


"Rencana lo apa sih sampai banyak orang gitu?"


"Gue nggak tau!" jawab Devan.


"Terus yang di luar itu apa?" Tunjuk Cia.


"Bukan gue! Itu ide sih Mamat, bukan gue!" Tunjuk Devan ke arah luar setelah menunjuk ke arah dadanya.


"Si Mamat?" tanya Cia tak menyangka.


"Yuhuuuuuuu yayang bos Ceoooooooo!!!" teriak Baby sambil berlari masuk ke dalam ruangan Devan membuat Devan dan Cia menoleh.


"Yayaaaaaang Bos Ceoooooo!!! Yuhu!!!"


"Apa sih?" tanya Devan dengan wajah lelahnya, yap lelah menghadapi teriakan manja si Baby.


"Bos Ceoooo!!! Semuanya udah shiaaaap!!!" teriak Baby.


Devan yang kini duduk di meja ruangannya itu segera menutup kedua telinganya seakan tak kuasa mendengar jeritan sok manja dan seksi dari Baby yang seakan siap untuk memecahkan gendang telinganya.


"Panggil Mamat!" pintah Devan.


"Aahpha?" desah Baby yang tak mengerti.


"Panggil si Mamat!" jelas Devan. 


Baby segera mengangguk lalu berlari keluar dari ruangan Devan. Cia yang juga duduk di kursi hitam itu kini melirik Devan dengan perlahan.


"Ada apa bos Ceo?" tanya Mamat sembari melangkah masuk kedalam ruangan.


"Ini beneran nggak sih?" tanya Devan tanpa basah-basih.


"Apa bos?"


"Yang di luar!" ujar Devan sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Loh bener dong bos. Ini salah satu cara agar Cia bisa dapat pacar dengan sangat cepat," jelas Mamat dengan sangat semangat.


"Lo yakin semua yang ngedaftar orang baik?" tanya Devan.


"Nggak tau sih bos, tapi tenang ajah bos! Cia bisa memilih bahkan menolak pria yang ada di luar sana sesuka hati Cia. Kalau Cia tidak suka, yah tolak," jelas Mamat.


Cia mengangguk mengerti dengan ucapan Mamat sementara Devan hanya terdiam, entah apa yang sedang ia pikirkan kali ini.


"Bagaimana bisa kita mulai? Re-"


"Mat! Mat, tapi ini nggak seriuskan soalnya gue-"


"Van!!!" teriak Cia membuat Devan dan Mamat menoleh.


"Gila lo, yah? Ini itu udah bagus. Mat! gue setuju," ujar Cia sembari menepuk bahu Devan.


"Setuju?" tunjuk Mamat ke arah Cia.


"Setuju!!!" teriak Cia.


"Are you ready?!!!" teriak Mamat sembari mengangkat tangannya seakan siap memimpin sebuah pertempuran.


"Ready!!!" teriak Cia yang ikut mengangkat tangannya.


Cia dan Mamat dengan serentak menatap Devan yang kini nampak terdiam dengan wajahnya yang terlihat sangat lugu, bersih, suci tanpa noda.


"Apa?" bisik Devan yang tak apa-apa.


Cia menghembuskan nafas berat dengan tatapannya yang terus menatap Devan sementara Mamat menganggukkan kepalanya tanpa mengetahui jika Devan tak mengerti dengan maksud dari tatapan mereka.


"Re...re...ready!!!" teriak Devan sembari ikut mengangkat tangannya membuat senyum Cia dan Mamat terbias indah.


"Ready!!!" teriak Cia dan Mamat kompak.


..._____****_____...


"Peserta pertama!!!" teriak Mamat yang berdiri di pintu masuk.


Pria berambut gonrong melangkah masuk ke dalam ruangan lalu berdiri di hadapan Cia dan Devan.


Cia terbelalak menatap pria yang kini telah berdiri di depannya, bagaimana bisa pria gonrong seperti ini Cia bawah ke acara ulang tahun Loli. Bukannya membuat semua tamu acara ulang tahun Loli terpukau, malah semuanya bisa kabur karena ketakutan setelah melihatnya.


Ini memalukan!


"Wah mantap nih bos Ceo, gondrong dan berotot," bisik Mamat.


"Ini bisa menjaga Cia di sana nanti," ujarnya lagi membuat Devan mengangguk.


"Nama kamu siapa?" tanya Devan.


Pria itu tertunduk malu membuat Devan, Cia dan Mamat melongo.


"Nama saya Abdul om, hihi. Panggil saja Abdeil." Pria gondrong dengan tampan sangar itu cengengesan dengan suara manja. 


Cia terbelalak. Apa yang baru saja Cia dengar? Apa suara manja itu berasal dari mulut pria gondrong itu, tapi bagaimana bisa? Dunia memang sudah terbalik, wajah sangar berhati hello Kity. 


Cia menatap Mamat lalu menggeleng pelan.


Gagal!!!


"Ok Selanjutnya!!!" Teriak Mamat.




"Oh Tuhaaaaan...Ku ciiiinta diaaaa...ku sayang dia...rindu dia...inginkan diaaaaaaa huooooooo ouh wooooooo." Nyanyi pria itu dengan suara yang begitu cempreng.



Cia menutup kedua telinganya seakan begitu tak sanggup mendengar suara cempreng pria bertopi merah itu.



Devan menyandarkan kepalanya ke pinggir meja, menyembunyikan wajahnya yang sudah sejak tadi ingin tertawa setelah mendengar suara cempreng pria itu.



Mamat menatap yang menggeleng sambil menutup kedua telinganya membuat Mamat mengangguk.



"Ok selanjutnya!!!" teriak Mamat.