Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 11



"Siapa yang nyuruh lo ngerokok di sini ?" ujar cia menatap sadis Haikal dengan rokok di sela jarinya yang nampak berasap. Haikal terdiam sambil memasang wajah polos tak tau harus berbuat apa.


"Matiin !!!" Bentak cia membuat Haikal tersentak lalu menekan ujung rokok yang mengeluarkan asap itu di asbak kaca.


"Lo semua pada nga-"


"Bos ini kacangnya !" Ujar Deon sambil menjinjing keresek hitam berisi kacang yang ia beli di warung milik neng Maya depan sana.


"Masha Allah, Ei tadi saya liat neng Maya cantik sekali aduh apalagi jilbabnya, hehe" celoteh Adam lalu duduk di samping Baby yang nampak terdiam menatap cia.


"Udah berisiknya ?" Tambah cia membuat Adam dan Deon langsung menatap ke arah Cia cepat.


"Ci jangan berisik soalnya mama lagi tidur !" Ujar Devan sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya.


"Ci ental bola main Loh," ujar Yuang.


"Bener cia yang yuang bilang bener, wahahaha." Tara terbahak lengkap dengan suara kerasnya.


"Eh kampret berisik lu sih Nek Fatima entar bangun iya kan dek Cia ?" ujar Jojon yang nampak sudah duduk di atas karpet sambil mengedipkan sebelah matanya.


Cia menatap geli wajah Jojon lalu, melangkah masuk ke dalam kamar. Tatapannya kini berpusat kepada soal matematika itu.


Bagaiman caranya agar tugas itu cepat selesai dan membebaskan dirinya dari bayang-bayang pak Yanto. rasanya ia tak bisa tidur jika, tugas ini menghantui pikirannya. Cia juga tak mau jika mimpinya yang indah harus rusak jika pak Yanto datang menagih dengan kepala mengkilat-nya itu.


Cia membaringkan dahinya di meja seakan tak kuasa menahan beban ini ditambah lagi suara berisik dari luar yang asik menunggu pertandingan sepak bola itu yang Cia ketahui sesuai dengan apa yang Yuang katakan tadi.


Harus bagaimana lagi jika, sudah seperti ini. Para montir-montir itu memang menganggu konsentrasinya, baru saja mereka semua terdiam karena teguran cia kini, mereka berisik lagi.


Haikal memandangi sekeliling ruangan tv dan foto-foto yang yang terpampang di dinding rumah.


"Eh, jangan nyuri disini ! ingat ini tuh rumah bos, rumah ceo !" Tegur Mamat yang nampaknya sudah dari tadi memperhatikan Haikal.


"Nggak ! siapa yang mau nyuri sih orang cuman liat doang kok."


"Oh gitu" Mamat menoleh menatap layar TV yang masih menayangkan sinetron.


"Mat!"


"Em."


"Mat!"


"Apa sih, Kal ?" tatap Mamat agak emosi sambil menghentikan kunyahan nya.


"Lo sadar nggak sih kalau di rumah ini nggak ada fotonya si ceo ?" Tatap Haikal serius bahkan dia tak pernah seserius ini.


Mamat yang mendengar ucapan Haikal mulai menatap dinding ruangan yang memang tak ada foto ceo di sana.


"Lo pernah pikir nggak sih sebenarnya sih cia itu ada hubungan apa sih sama si ceo ?"


"kalau, emang dia ada hubungan keluarga, keluarga dari mana ? Keluarga dari almarhum dokter Yusuf ?".


"Ah tau ah !" Mamat mengalihkan pandangannya dari tatapan haikal yang penuh dengan keseriusan.


"Gini loh mat, loh nggak ingat waktu kita masih kecil yang istri dokter Yusuf meninggal. dia kan nggak punya anak, Mat."


"Terus tiba-tiba sih Cia, Nek Fatima dan bos ceo muncul dan bilang kalau si Cia anak dokter Yusuf terus, dokter Yusuf kemana Mat ? " Ujar Haikal membuat Mamat terdiam.


Ucapan Haikal memang ada benarnya. Sebenarnya ia juga selalu memikirkan hal tersebut di setiap waktu luang tentang asal usul ceo.


"Dah lah kal nggak usah dibahas ! Lo nggak ingat sih Yoyo ?"


"Iya, iya ingat kok" Haikal mendecapkan bibirnya seakan bosan dengan nama itu.


"Yah nggak lah."


"Makanya tu mulut diem!"


Haikal dan Mamat kini terdiam tak ada lagi diantara mereka yang bicara kecuali yang lainnya yang sibuk dengan alur sinetron yang ditayangkan.


"Nih kopinya !" Deon muncul dari balik pintu dapur sambil membawa teko yang berisi kopi pahit yang ia buat.


"Si bos mana ?"


"Boker !" Jawab Deon lalu duduk di sebelah Jojon yang masih menatap Deon penuh serius.


Tak lama Devan muncul sambil menggosok tangannya yang basah dengan celananya.


"Goreng pisang sana !" Pintanya sambil memukul pelan bahu kanan Deon ketika sudah duduk di sebelah Deon. Tanpa sepatah kata Deon bangkit melangkah masuk ke dalam dapur.


"Di belakang lu bego !!!" Teriak Tara sambil menunjuk ke arah tv yang memperlihatkan adegan pemeran utama yang akan dipukul oleh sang penjahat dengan balok kayu.


"Lu yang bego ! Emangnya Lo kira orangnya bakalan denger ?" Jojon memukul kepala Tara dengan keras membuatnya nampak tersentak ke depan.


"Santai aja dong !" Bentak Tara sambil menghempas domino ke lantai dengan tatapan sangar. Tara meraih paksa baju Haikal membuat Haikal ikut menjambak baju Tara.


"Eh kenapa tuh ?" Tatap Jojon panik lalu bangkit berusaha memisahkan keduanya yang kini dibakar amarah.


"Astagfirullah, kenapa lagi ini ?" Adam ikut bangkit lalu memeluk erat tubuh Tara yang kekar dari belakang.


Mata baby terbelalak menatap kekacauan yang terjadi di antara mereka. Baru saja ia telah selesai menggunakan handbody pada seluruh tubuhnya kini harus menatap pertikaian yang memang sering terjadi.


Ini membosankan.


Baby menggeleng pelan lalu bangkit dari karpet menuju kursi panjang berwarna biru. Baby membaringkan tubuhnya tak lupa juga mentimun yang telah diiris tipis untuk menutup kedua matanya.


Baby tersenyum dengan penuh kedamaian menikmati sensasi dingin dari mentimun dingin yang ia ambil dari kulkas dan tertidur seakan tak merasakan sedikitpun kekacauan.


Cia yang sudah tak kuasa menahan amarah kini bangkit sambil membawa buku latihan dan buku mata pelajaran matematika. 


"Eh bisa diam nggak sih ?!!" Teriak cia yang sudah berada di depan pintu kamarnya.


Dengan serentak Tara dan Haikal melepas genggaman dari baju satu sama lain.


"Eh bolanya udah main tu!" Ujar Yuang lalu berlari dan duduk di depan tv seperti anak kecil yang melihat film kartun kesukaannya.


'Baiklah pemirsa kini kita berjumpa lagi di pertandingan tergensi di Indonesia....'


Suara pembawa acara sepak bola itu kini terdengar membuat semua montir-montir yang bobrok itu kini duduk dengan rapi di depan tv Sementara cia yang masih ingin mengoceh kini terdiam melihat ketenangan yang sedang terjadi.


Cia duduk di lantai lalu meletakkan bukunya di atas meja. Cia menatap Baby yang berbaring di kursi panjang dengan senyuman seakan tak merasakan beban hidup.


'pertandingan antara Jakarta vs makassar'


"Huuuuu !!!!" Sorak mereka kompak.


 


"Jakarta, huuuuu jakarta pasti bisa !!!"


"Jakarta !!!!!"


Sorak mereka lagi begitu bersemangat seakan lupa bahwa ada Cia yang menatapnya di dekat kursi tak jauh dari Baby yang berbaring.


"Bisa diam nggak sih ?!!!" Teriak Cia lagi membuat montir-montir itu terdiam tanpa sepata kata pun.