
Suara roda yang berputar dengan tergesa-gesa itu terdengar di koridor rumah sakit seiring para suster yang mendorong brangkar rumah sakit dengan cepat. Darah segar nampak masih mengalir tanpa henti dari perut Devan membuat para suster itu semakin melajukan langkahnya yang bisa dikatakan mereka benar-benar berlari.
Para pengunjung rumah sakit yang melangkah kini menghentikan langkahnya menatap Devan yang kini masih di dorong di atas brangkar.
"Ayaaaah!" panggil Cia yang kini berusaha terus menggapai ujung jari-jari tangan Devan yang sudah terbaring di atas brangkar dengan wajah pucat serta kedua matanya yang tertutup.Cia benar-benar takut melihat kondisi Devan sekarang. Devan yang sedari tadi menutup mata membuat Cia selalu berpikir buruk dengan kondisi Devan. Demi apapun Cia tak mau jika ia harus berpisah dari Ayahnya itu. Sudah cukup Nenek Fatima yang pergi meninggalkannya dari dunia tak perlu Devan yang ikut pergi. Cia tak bisa jika tak ada Devan di dunia ini, kini hanya Devan yang Cia punya.
Kasya dan Firdha juga berlari di belakang sana berusaha mengikuti kepergian para suster yang masih mendorong brangkar yang kini semakin mendekati sebuah ruangan.
"Ini kenapa?" tanya seorang pria dengan kaca mata mines yang nampak menyambut para suster yang masih mendorong brangkar.
"Pendarahan pada perut karena luka tembakan dokter," ujar suster wanita itu dengan cepat.
"Bawa langsung dia ke ruang operasi! Kita harus cepat menghentikan pendarahan itu!" pintah dokter dengan cepat dan jelas membuat para suster kembali mendorong brangkar ke arah ruangan khusus operasi.
Pintu ruangan operasi itu terbuka lebar membuat para suster segera mendorong brangkar itu dan segera masuk ke dalam di susul para tim dokter yang kini tengah sibuk mempersiapkan peralatan operasi.
"Maaf Anda tidak dibiarkan masuk Dek!" Tahan suster itu.
"Kenapa saya nggak boleh masuk? Saya harus di samping dia," ujar Cia yang kini menangis sesenggukan.
"Mohon maaf Dek, saya tahu kamu mencintai pacar kamu dan ingin mendampinginya tapi tolong biarkan tim dokter yang mengurusnya dan Anda hanya perlu berdoa yang terbaik untuk kelancaran operasi ini," jelas Suster itu membuat Cia melongo. Apa maksudnya mereka mengira Cia adalah pacar dari Devan? Oh Tuhan yang benar saja hal ini terjadi di saat waktu yang paling menegangkan.
"Suster, dia Ayah saya," ujar Cia sambil memukul dadanya.
"Ayah?" Tatap suster itu keherangan.
"Iya Suster, Pria yang ada di dalam itu adalah Ayah saya dan dia bukan pacar saya."
"Apa?" Tatap Suster itu tidak menyangka.
Suster itu menoleh menatap pria tampan yang kini sudah dipindahkan di bagian tempat operasi. Pria yang kini telah terbaring dengan wajah paras tampan, putih, hidung mancung dan terlihat begitu sangat mempesona. Suster itu kembali menatap heran ke arah Cia dari ujung kaki sampai ujung rambut Cia. Bagaimana bisa pria tampan dan masih muda itu yang kini sudah terbaring di ranjang operasi bisa memiliki Anak yang kini berdiri di hadapannya dengan menggunakan seragam SMA.
Suster itu menggeleng seakan berusaha untuk menyingkirkan pikirannya mengenai Cia.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin Dek," Ujar suster itu lalu segera menutup Pintu ruangan operasi.
Cia menyentuh permukaan pintu yang sudah tertutup rapat itu dengan tangisan yang begitu menyayat hati. Cia tak mau jika sesuatu terjadi pada Devan, Cia benar--benar tak mau.
"Devaaaan!!!" panggil kasya yang kini berjalan pincang sambil dituntung oleh Firdha ke arah pintu dimana Cia masih berdiri di depan pintu ruangan operasi itu.
Cia menoleh menatap Kasya sejenak lalu kembali tertunduk dengan perasaan sedihnya.
"Tenangkan diri mu Nak!" Ujar Firdha lalu segera memeluk dan menuntun Kasya untuk duduk di kursi panjang yang berada di depan ruangan operasi.
...____***____...
Cia meremas Jari-jarinya yang terasa bergetar dengan pipinya yang kini sudah sejak tadi basah. Cia menoleh menatap ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat. Sudah sejam lebih Cia duduk di kursi panjang rumah sakit ini, menanti kabar dari dokter yang masih menangani Devan di dalam sana.
Suara tangisan terdengar bahkan suara tangisan itu sudah sejak tadi Cia dengar membuat Cia melirik perlahan ke arah kursi panjang yang tak jauh dari dirinya. Suara tangisan itu berasal dari Kasya yang kini menangis sambil memeluk tubuh Firdha yang senang tiasa mengelus rambut berantakan Kasya.
"Sudah jangan menangis! Semuanya akan baik-baik saja!" ujar Firdha dengan lembut berusaha untuk menangkan.
Cia tertunduk membuat genangan air di matanya itu kembali tumpah. Sudah sejak tadi suara hatinya itu memanjatkan doa dengan harapan agar Devan baik-baik saja.
"Cia!" panggil seseorang sambil berlari ke arah Cia.
Cia menoleh menatap Adelio, Julia dan Fika yang nampak berlari menghampirinya dengan raut wajah yang ikut gelisah. Yah mereka pasti gelisah karena Cia yang memberikan kabar sambil menangis lewat telfon yang Cia pinjam dari salah satu suster yang lewat tadi.
Bukan hanya Adelio dan Fika yang Cia telfon, Cia bahkan telah menelfon para mantan montir-montir Ayahnya agar segera datang ke rumah sakit . Cia tak tahu harus menelfon siapa lagi jika bukan mereka semua. Hanya merekalah yang menjadi sosok keluarga dekat bagi Cia.
"Fika," ujar Cia lalu bangkit dan segera memeluk tubuh Fika yang ikut membalas pelukan Cia .
"Apa yang sebenarnya terjadi Cia? Lo nggak main-main kan?" tanya Fika yang masih memeluk tubuh Cia yang gemetar.
"Udah! Udah! Jangan nangis lagi! Semuanya akan baik-baik saja!"
Fika kini terdiam mengelus punggung Cia yang teraba gemetar itu berusaha untuk menenangkannya.
"Ayah kamu nggak apa-apa kan Ci?" tanya Fika setelah membiarkan Cia menangis di pelukannya lalu melepas pelukan Cia dan menatapnya penuh perhatian.
"Ayah kamu sekarang di mana, Nak?" tanya Julia sambil menyentuh bahu Cia yang sesekali bergetar karena tangisan.
"Di...di...di dalam Tante." Tunjuk Cia ke arah pintu ruang operasi yang masih tertutup dengan rapat.
Fika meraih bahu Cia dan kembali memeluknya sambil mengusapnya.
"Lo harus kuat Cia," ujar Fika.
"Cia," ujar Adelio lalu menyentuh bahu Cia membuat Cia menoleh.
"Adelio," ujar Cia lalu segera memeluk tubuh tinggi Adelio yang kini sedikit terkejut setelah mendapat pelukan dari Cia yang kini menangis.
Adelio menoleh menatap Julia yang kini mengangguk sambil tersenyum. Julia tahu jika Cia memang membutuhkan sosok yang ia cintai dalam kondisi seperti in, begitu pula juga dengan Adelio yang ingin menjadi sandaran untuk Cia.
Adelio kini mengelus rambut Cia dengan penuh lembut.
"Tenang aja Cia! Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang yang Ayah kamu butuhkan adalah doa," ujarnya dengan lembut.
"Bos Ceo!!!" teriak salah satu dari segerombolan orang yang nampak berlarian ke arah Cia dengan tergesa-gesa.
Cia menoleh, mendapati para mantan montir-montirnya yang kini berlarian ke arahnya dengan raut wajah yang nampak sangat gelisah.