
Suara kendaraan terdengar melewati jalan beraspal yang kini nampak ramai karena telah sore. Kini gerbang sekolah telah ditutup seiring waktu telah agak gelap.
Kasya kini duduk di bagian ujung kursi halte sambil meremas jari-jari lentiknya yang terasa gemetar. Rasa perih di bagian bawahnya selalu membuatnya mengingat kejadian di gudang itu. Dengan perlahan ia melirik Devan yang kini terlihat sedang tertunduk sambil duduk di sisi ujung halte. Rasanya Devan sangat malu karena telah melakukan hal itu kepada Kasya. Ini semua karena pengaruh di Vidio yang Dava perlihatkan di malam itu.
"Kak Kasya," panggil Devan tanpa menoleh menatap Kasya yang kini hanya mampu tertunduk.
Kasya tak berani untuk melihat Devan sementara Devan juga tak mau melihat Kasya. Penyesalan keduanya terbayang.
"Kak Kasya, apa Kak Kasya marah?" tanya Devan lalu melirik Kasya sejenak dan ia kembali tertunduk.
"Tadi punyamu berdarah dan-"
"Hust!" potong Kasya cepat membuat Devan tak melanjutkan ujarannya.
Kasya kini melirik ke seluruh sisi berharap tak ada yang mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Devan.
"Aku minta maaf," ujar Devan dengan nada berbisik.
Kini suasana menjadi sunyi, tak ada lagi diantara keduanya yang bicara. Rasanya suasana ini terasa canggung.
"Van," panggil Kasya akhirnya bicara namun terdengar samar-samar tetapi masih bisa di dengar oleh Devan.
"Ka...ka...kamu jangan kasih tahu orang kalau kita sudah-" Ucapan Kasya terhenti seakan tak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya itu.
Devan mengangguk. Ia mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Devan. Kini suasana kembali sunyi.
"Devan," ujar Kasya membuat Devan menoleh.
"Seharusnya kita tidak melakukan hal itu, Van."
"Kenapa?" tanya Devan.
Kasya kembali memaingkan jarinya dengan rasa gugup.
"A...a...aku pernah baca buku katanya...katanya melakukan hal itu hanya dilakukan oleh orang yang sudah menikah," jelas Kasya.
"Menikah?" tanya Devan.
"Iya, menikah. Kamu tahu kan apa itu menikah?" jawab dan tanya Kasya.
Devan terdiam sejenak lalu menoleh menatap Kasya.
"Devan tahu," jawab Devan.
"Devan, semua perempuan yang telah menikah akan melakukan hal itu bersama dengan suaminya tapi aku telah melakukannya bersamamu," jelas Kasya.
Mendengar hal itu membuat Devan bergerak menggeser tubuhnya pelan mendekati Kasya. Kasya ingin sedikit menjauh namun pinggir pegangan kursi halte itu menghalanginya.
"Kasya dengar Devan! Aku janji jika aku sudah besar aku akan menikah dengan Kak Kasya."
Hal yang baru saja diucapkan Devan membuat Kasya tersenyum namun, rasanya senyum ini ragu.
"Kamu mau menikah denganku nanti?" tanya Kasya.
"Iya," jawab Devan.
Devan terdiam sejenak. Kedua matanya bergerak-gerak memikirkan sesuatu.
"Aku akan melakukannya jika aku sudah besar seperti Bapakku tapi untuk saat ini aku tidak bisa karena aku masih sekolah."
Devan kini terdiam, ia memikirkan sesuatu.
"Tapi kalau mau kita menikah hari minggu saja, hari minggu kita tidak masuk sekolah."
Kasya mengekerutkan alisnya, heran. Setelah mendengar ujaran Devan yang diluar dugaannya Kasya begitu tak menyangka jika pikiran Devan masih sesempit itu.
"Devan."
"Iya," jawab Devan.
"Menikah tak semudah itu."
"Kenapa?"
"Hanya orang besar yang bisa melakukanya."
"Lalu?"
"Kita masih kecil," jawab Kasya sedikit kesal.
Kini Devan terdiam membuat Kasya juga ikut terdiam. Suasana kembali menjadi sunyi.
"Devan," panggil Kasya membuat Devan kembali menoleh menatap Kasya yang terlihat meremas jari-jarinya.
"Aku mau bertanya," ujar Kasya.
"Da..da...dari mana kamu tahu cara melakukan hal itu?" tanya Kasya yang kini tertunduk malu.
Devan ikut tertunduk. Tatapannya sesekali menatap Kasya.
"Dava melarang aku untuk memberitahunya," jawab Devan mengingat apa yang dikatakan oleh Dava jika ia tak boleh memberitahu orang-orang jika dia memiliki Vidio b*kep.
"Dava siapa?" tanya Kasya.
"Dava dia sepupu Devan," jawab Devan.
"Memangnya apa yang dikatakan Dava?" tanya Kasya.
"Dia bilang jika aku tidak boleh memberitahu orang-orang jika di handphonenya ada Vidio b*kep," jawabnya dengan polos tanpa sadar jika ia telah memberitahu Kasya.
Kedua mata Kasya terbelalak kaget saat mendengar hal itu. Bagaimana bisa Devan menonton Vidio dewasa semetara ia masih berusia 12 tahun.
"Ka...kamu melihat vi...Vidio yang seperti itu?" tanya Kasya.
Devan terbelalak kaget. Dengan cepat ia menutup mulutnya yang telah keceplosan itu.
"Aku mengatakannya?" tanya Devan tak percaya.
Kasya mengangguk membuat Devan memukul-mukul bibirnya.
"Kak Kasya, tolong jangan beritahu orang lain jika aku melihat Vidio seperti itu di handphone Dava," jelas Devan.
Kasya mengangguk. Walau sejujurnya ia tak mengenal Dava.
"Van!" panggil Kasya membuat Devan menoleh.
"Kamu tahu tidak yang kita lakukan tadi itu dosa?" tanya Kasya.
"Dosa?" Tatap Devan heran.
Baru saja Kasya ingin menjelaskan sebuah kendaraan mewah beroda empat itu berhenti tepat di depan halte membuat Kasya dengan cepat bangkit dari kursi.
Kasya menelan ludah, ia kenal degan orang yang berada di dalam mobil itu. kedua mata Kasya membulat menatap takut pada mobil itu. Kini detak jantungnya berdetak sangat cepat membuat tubuhnya gemetar.
Sebuah sepatu hitam dan mengkilat mendarat di aspal membuat Devan terpukau. Seorang pria berjas hitam kini menutup pintu mobil dan tersenyum menatap Kasya.
Dia adalah Abraham Brahmana, Ayah dari Kasya.
"Siapa orang keren itu?" bisik Devan sementara Kasya terlihat gemetar.
"Dia sepertinya orang kaya," ujar Devan lagi.
"Diam Devan!"
"Kenapa?" tanya Kasya.
"Dia Ayahku," jawab Kasya membuat Devan terbelak kaget.
"Kasya!" panggil Abraham tersenyum lalu melangkah mendekati Kasya yang kini tubuhnya gemetar menahan takut.
Kasya kini melangkah mendekati Abraham dan menoleh menatap Devan yang kini ikut bangkit dari kursinya.
Kasya tersenyum, walau sebenarnya senyum itu tak murni dari hatinya. Kini Kasya melangkah masuk ke dalam mobil mewahnya membuat Devan tak mampu melihat wajah Kasya lebih jelas.
Abraham menutup pintu lalu beralih menatap Devan yang kini terbelalak menatap Abraham yang menatapnya dengan tajam. Abraham kini melangkah mendekati Devan yang kini tertunduk, tak berani menatap wajah Abraham.
Abraham terhenti ketika sudah berdiri sangat dekat oleh Devan. Tubuh tinggi Devan kini hanya mencapai ketiak abraham.
"Siapa nama kamu?" tanya Abraham berhasil membuat Devan gemetar. Suara Abraham terdengar sangat berwibawa.
"De...de...Devan, Om," jawab Devan gugup.
"Hust jangan panggil saya Om! Saya bukan Om kamu."
"Maaf," ujar Devan dengan takut.
"Panggil saya Tuan! Tuan Abraham," ujar Abraham penuh tekanan.
"Maaf tuan A...A...Abraham," ujar Devan takut.
"Kamu tau kan kalau Kasya adalah Anak terhormat?" tanya Abraham.
Devan mengangguk dengan sangat takut.
"Kalau begitu jauhi Anak saya! Jangan berani dekati Anak saya!" pintah Abraham sambil menunjuk Devan lalu segera berbalik meninggalkan Devan dan segera masuk ke dalam mobil.
Mobil mewah itu kini melaju pergi meninggalkan Devan yang kini terpatung di tepi jalan. Devan tak menyangka jika Ayah Kasya sangat menyeramkan seperti itu. Seragam yang digunakan oleh Ayah Kasya terlihat seperti seorang bos besar Yap, Devan selalu melihat hal itu di TV.