Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 77



"Apa yang kurang lagi sih, Ci? Hah? Ini kurang jelek apa lagi?"


"Jelek?"


"Iya jelek."


"Eh, lo liat dong! Ini itu keren bukannya jelek!" Tegas Cia lagi sambil menyentuh celana Devan yang kebesaran itu.


Devan memejamkan matanya dengan kuat, seakan tak sanggup menghadapi Cia. Devan tak mengerti sebenarnya standar keren menurut Cia itu bagaimana? Apakah dengan model rambut belah tengah yang berminyak serta baju kotak-kotak dan celana kebesaran sampai ke pinggang itu bisa dikatakan keren? Ini bukan keren, ini culun.


Cia meraih kaca mata bulat dari laci lemari meja riasnya tepat di belakang sandaran kursi yang Devan tadi duduki.


"Lo mau apa?" tanya Devan ketika Cia mendekatkan kaca mata bulat itu ke arah wajah Devan.


"Yah biar keren, Van." Tatap Cia serius lalu kembali mendekati Devan.


"Cia, ini bukan keren!" Ujar Devan memegang pergelangan tangan Cia cepat.


"Van, lo niat nggak sih bantuin gue?"


"I...iya gue niat, ta...tapi nggak kayak gini juga!"


"Van, lo ini gimana sih?"


"Iya gue gimana? Ci ini bukan keren, Ci" Tawa kecil Devan terdengar.


Cia menarik nafas panjang, lagi-lagi Devan membantah.


"Devan Alwiyora dengerin gue!!!" bentak Cia.


Devan menganga ketika mendengar bentakan Cia yang bergema di dalam ruangan kamar.


"Cia cuman pengen Devan pake kaca mata!"


Cia mengangkat kaca mata bulat itu memperlihatkan ke arah Devan yang masih terdiam.


Devan mendecapkan bibirnya, kesal.


"Tapi Cia, gue-"


"Nggak ada penolakan!" Tegas Cia lagi.


Devan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan lalu menatap ke arah sisi lain. Dengan perlahan Devan menoleh menatap Cia yang nampak memperlihatkan wajah yang mengemis.


Sangat menyedihkan.


"please!"


Devan menghela nafas berat dan dengan perlahan ia mengangguk, mengiyakan.


"Yuhuuuuuuuuuuu!!!" sorak Cia kegirangan.


Suara seseorang dengan nada centil dan sok seksi itu terdengar dari luar kamar Cia, lebih tepatnya suara itu berasal di ruang tamu dan terdengar semakin mendekat ke kamar Cia.


Cia dan Devan dengan cepat menoleh menatap ke arah pintu masuk kamar Cia yang di biarkan terbuka.


Cia menoleh menatap Devan yang nampak memasang wajah datar di sana.


"Itu siapa?" tanya Cia dengan nada pelan menatap Devan dengan serius.


"Yuhuuuuuuuuu" suara manja itu terdengar semakin dekat ke arah kamar membuat Cia kembali menatap Devan.


"Itu siapa?" tanya Cia lagi.


"Baby," jawab Devan singkat lalu kembali duduk di kursi.


"Hah?" kaget Cia histeris.


"Syalalalalaaaaaaaa," ujar baby yang kini mengintip di pintu masuk memperlihatkan setengah tubuhnya.


Bulu matanya nampak terlihat tebal setelah di pasangkan bulu mata palsu berwarna ungu, listip berwarna ungu nampak begitu tebal di bibir tebal Baby, pipinya nampak memerah setelah dipoles dengan pemerah pipi yang dengan sengaja di poles belasan kali agar pipinya nampak terlihat merona, yah itu menurut Baby.


Wajah baby terlihat sangat putih setelah di poles dengan bedak. Wajah Baby yang putih sangat Berbeda jauh dengan lehernya yang nampak terlihat sangat gelap berwarna sawo matang.


Cia membulatkan matanya menatap Baby yang memperlihatkan setengah tubunya dengan make up cukup tebal di sana. Cia tak tau bagaimana Baby bisa masuk ke dalam rumah dan Baby mau apa ke kamar Cia?


"Kok ada Baby?" bisik Cia sembari menatap Devan dengan tatapan penuh tanda tanya.


Devan hanya tersenyum sambil merapikan kaca mata bulatnya.


"Ouhhhhhh, Cia swayang!!!" Jerit Baby melangkah masuk.


Cia mendecapkan bibirnya menatap Baby yang masuk ke dalam kamarnya dengan penampilan seperti itu.


"Ngapain sih, lo?" tanya Cia cepat.


"Iiiiiiiiiiihhhhhhh, aphe sih?" desah Baby menghentikan langkahnya.


"Lo ngapain masuk ke kamar gue?" tanya Cia lagi.


"Yah, ekye mau dandanin switu." Tunjuk Baby.


"Hah?!!!" teriak Cia tak percaya.


Kedua mata Cia terbelalak kaget setelah mendengar hal tersebut. Baby, si pria bencong dengan tubuh kekar serta make up tebal yang akan mendandani Cia? Cia sangat tak menyangka. Cia tak mampu membayangkan bagaimana nasibnya nanti jika hasil dandanan Baby sama dengan penampilan Baby sekarang.


"Apa?" tanya Cia lagi memastikan.


Baby melangkah maju, dengan cepat Devan menggeser kursi hitam memberi jalan kepada Baby yang meletakkan koper ke meja rias milik Cia.


"Ih yayang Bos!!!" jerit Baby setelah melihat penampilan culun Devan dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Kenapa, By?"


Baby tertawa menutup bibirnya dengan ujung-ujung jari kekarnya yang dipenuhi dengan cincin berwarna warni.


"Iiiiih bos Ceo gila deh aaaaah, kok gwitu sih? Ah, jadi cewulung deh aaaaaahh!!!"


"Tuh denger tuh Ci! Ini itu bukan keren," ujar Devan melirik Cia.


"Enak ajah, ini itu keren." oceh Cia sembari melangkah maju.


Baby tertawa lagi sambil menutup bibirnya dengan jari-jari kekarnya.


"Lo mau ngapain sih di sini?" tanya Cia lagi.


"Iiiiih Cia pikung deh aaahh, ekye kan udah bilang kalau ekye ithu mawu dandanin Cia, makeover gitu loh."


"Hah?!!!" Cia membulatkan kedua matanya lagi.


"Hah, eh, ha! Apa tuh?" Centil Baby menanggapi kekejutan Cia.


"Siapa yang mau dimakeover?"


"Loh Cia dong yang mau di makeover, masa ekye? Ekye kan udah syulala."


Baby membuka koper ungunya itu cukup lebar hingga berbagai macam peralatan make up Baby terlihat jelas dengan berbagai jenis dan warna. Bau wangi dari peralatan make up Baby tercium di dalam ruangan kamar Cia setelah koper itu dibuka.


"Syulala apaan?"


Baby menoleh.


"Cantik! Syulala itu cwanthik ngerti nggak?"


"Terus lo kira gue nggak cantik?"


"Ih Cia deh aahh. Cia itu udha syulala tapi biar makin syulalalalalaaaa makanya dipoles dikit," jelas Baby centil.


"Nggak! Gue nggak mau!" Tolak Cia cepat.


"Ci!" panggil Devan.


Cia menoleh menatap Devan yang kini bangkit dari kursi hitam lalu menatapnya dengan tatapan serius.


"Ini kan hari ulang Loli jadi lo harus berpenampilan cantik di sana, makanya gue panggil si Baby buat makeover lo."


"Gue tau lo pasti nggak mau kan direndahin sama si Loli cuman karena lo berpenampilan biasa ke sana," tambah Devan lagi.


"Gue cuman niat baik kok."


"Lagian kalau lo bisa makeover gue. Kenapa gue nggak bisa makeover lo?" Jelas Devan.


"Lo?" tunjuk Cia.


"Si baby, yah tapi kan gue yang minta bantuan ke Baby, iya kan, By?"


"Bwetuuuuul, bayaran, yah, Bos!" Baby mengedipkan sebelah matanya mengingatkan tentang bayaran itu.


"Lo diam ajah! Itu bisa di latur" ujar Devan santai.


Baby yang mendengar hal itu langsung tersenyum kegirangan  memperlihatkan gigi putihnya.


"Mau nggak?" tanya Devan sambil memutar kursi menghadap ke arah Cia yang nampak masih terdiam kebingungan.