Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 123



"Demi pencipta langit dan bumi, gue nggak pernah nyangka kalau Adelio ternyata adalah keponakan dari pak Yanto."


"Jadi selama ini orang yang gue selalu jelek-jelekin, orang yang selalu gue kata-katain guru botak, guru nggak ada akhlak, guru nggak ada hati, guru laknat dan entahlah bahkan menurut gue di dalam kamus jenis hewan ada nama pak Yanto di sana dan gue ngomong itu di hadapan Adelio, keponakannya sendiri."


"Demi pencipta bunga bangkai, gue bego!"


"Kenapa sih? Si Adelio nggak pernah ngasih tahu gue kalau pak Yanto itu Omnya dia? Kenapa dia nggak ngomong gitu ke gue?"


"Ya ampun! Gue kayak mau ngilang dari ruangan ini!"


"Tuhan tolong!"


Cia kini mengusap wajahnya yang kini terlihat sangat gelisah. Cia dengan langkah perlahan melangkah mundur dan bersandar di dinding ruangan kamar rawat seakan siap siaga untuk kabur dari tempat ini.


"Adelio, ini semua karena Ayah mu itu," ujar Pak Yanto memberitahu.


"Ayah?" Tatap Adelio tak mengerti.


"Ayah kamu menikah lagi," ujar Pak Yanto dengan berat hati.


Adelio terbelalak setelah mendengar penjelasan dari Pak Yanto. Apa benar Ayahnya telah menikah lagi dengan wanita lain? Apakah wanita yang Ayahnya nikahi sebelum mereka memutuskan beranjak pergi dari Makassar menuju kota Jakarta itu masih kurang? Adelio tak mengerti dengan jalan pikiran Ayahnya.


"Setelah Ibu mu mendapat kabar, dia terkena sarangan jantung ringan."


Adelio menoleh menatap Julia yang kini hanya mampu tertunduk sambil memaingkan jari-jari lentiknya.


Disatu sisi lain kini Cia yang awalnya sibuk memikirkan tentang hubungan Pak Yanto dengan Adelio kini sedikit mengangkat pandangannya lalu menatap Pak Yanto setelah mendengar penjelasannya. Cia tak menyangka jika Adelio yang baik itu bisa memiliki Ayah yang sangat seburuk. Ini sangat berbeda jauh dengan sifat Adelio yang penyabar, pendiam, sopan dan baik, yah, mungkin sifat baik Adelio itu menurun dari ibunya yang memiliki paras yang begitu cantik.


Cia terdiam sambil menatap Adelio dan Julia yang kini nampak berpelukan dengan erat. Cia tahu pasti Adelio sangat menyayangi Ibunya itu dan begitu juga sebaliknya. Sayangnya Adelio punya sosok Ayah yang jahat dan seakan tak punya hati. Bagaimana bisa ada pria seperti itu di dunia ini?


Mengingat Ayah Adelio, Cia jadi teringat dengan sosok Ogi si Fuckboy itu yang tiap Minggu bahkan hari gonta-ganti pasangan mungkin, Masa depan Ogi akan seperti Ayah Adelio.


Tanpa sadar senyum Cia muncul menatap wajah indah Ibu Adelio yang terlihat tersenyum sambil terus mengusap punggung Adelio yang masih dipeluk olehnya. Sebegitu indah kah jika mempunyai sosok seorang Ibu?


"*Andai aja Cia punya Mama kayak Mamanya Adelio."


"Cia yakin kalau Cia bakalan bahagia."


"Tapi Cia malah cuman punya Ayah kayak Devan yang nggak ada bagus-bagusnya. Bahkan Cia nggak ngerasa kalau Cia itu punya Ayah tapi punya pacar, yah, pacar yang nyebelin."


"Kenapa Ada sosok Ayah yang kayak Devan? Suka ngajak berantem, nggak ada sikap dewasa, kayak anak kecil, masak nasi aja hangus."


"Nggak bisa apa yah tuh Ayah dia tukar tambah gitu sama yang lain*?"


"Itu siapa?" tanya Julia sambil melepas pelukannya dari Adelio membuat Cia yang sedari tadi asik mengobrol di benaknya kini tersenyum menatap Julia.


Adelio tersenyum lalu menoleh menatap Cia yang nampak tersenyum manis di sana.


"Itu Sahabat Cia di kelas."


"Namanya Ashia Akanksha tapi Adelio lebih sering manggil dia dengan sebutan Cia," jelas Adelio.


Senyum Cia kini menghilang ketika ia sadar jika ada Pak Yanto di dalam ruangan ini dan Pak Yanto kini terlihat sedang memperhatikan wajah Cia. Tatapan yang begitu mengintimidasi Cia hingga Cia dengan cepat menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya.


"Cia," panggil Adelio.


Cia yang sedari tadi hanya tertunduk kini mengangkat pandangannya menatap ke arah ketika orang ini yang nampak menatapnya begitu serius. kali ini Cia sangat takut menatap Pak Yanto bahkan juga Adelio.


"Oh jadi ini namanya Cia," ujar Julia lalu tersenyum pucat.


Cia mengangguk, mengiyakan lalu meletakkan jari-jarinya di sebelah kiri berusaha menutupi wajahnya dari Pak Yanto yang sedari tadi nampak menatapnya dengan tatapan serius persis seperti orang yang mencurigai seorang pencuri.


Kedua mata Cia terbelalak kaget membuat jantungnya terasa berhenti berdetak dengan tubuhnya yang terasa lemas. Tamatlah riwayat mu kali ini.


"Ah, masa sih?" Cia tertawa sambil terus menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.


"Iya bener."


"Ah, nggak. Emang sih muka saya pasaran jadi banyak samanya, Pak," ujar Cia sambil tertawa.


"Nggak! Nggak! Kayaknya saya sering lihat kamu deh, tapi di mana yah?"


"Ah Bapak nih ada-ada aja. Yah Bapak nggak kenal sama saya, hahaha."


"Nggak! Saya kayak kenal banget bahkan kayak setiap hari saya liat kamu deh."


"Ah, hahaha, masa sih Pak?"


"Loh iya, suara kamu itu kayak suara yang selalu bikin darah tinggi saya kambuh setiap hari."


"Ah, ini cuman kebetulan soalnya saya lagi pilek, hahaha."


"Oh yah?" Tatap Pak Yanto penuh curiga.


Pak Yanto kini melangkah mendekati Cia yang berusaha menatap wajah Cia yang masih berusaha di tutupi dengan sebelah tangannya. Cia memutar tubuhnya ke arah kanan dengan pelan berusaha menjauhi tatapan serius dari Pak Yanto yang terus mengikutinya berusaha untuk melihat jelas wajah Cia.


Keduanya kini saling bergerak tak beraturan membuat Adelio dan Julia kini terdiam dengan wajah kebingungan.


Dengan penasaran Pak Yanto kini memegang bahu Cia dan memutarnya membuat Cia berdiri tepat dihadapan Pak Yanto dan menarik tangan Cia yang sedati tadi menutup mukanya.


"Hay, hehehe siang, Pak," ujar Cia ketika tangannya telah berhasil menjauh dari wajahnya.


"Astagfirullah!!!" teriak Pak Yanto terkejut bukan main setelah melihat wajah Cia.


Bukan hanya Pak Yanto yang terkejut tetapi Adelio dan Julia pun ikut terkejut menatap ekspresi kaget Pak Yanto yang seakan terkejut melihat sosok hantu yang menyeramkan.


Pak Yanto kini menggeleng sambil mendecapkan bibirnya membuat senyum Cia lenyap. Sepertinya ocehan menyebalkan dari Pak Yanto kembali akan terdengar.


"Ooooh ternyata kamu si Cia, si gadis beran-"


"Yang baik hati itu," potong Cia.


"Bukan! Tapi kamu itu gadis beran-"


"Yang baik hati dan tidak sombong itu kan, Pak?"


"Salah!!! Kamu itu gadis berandal!" Tunjuk Pak Yanto setelah berhasil menatap wajah Cia.


"Berandal?" tanya Julia.


"Iya, Lia. Dia ini yang sering manjat tembok belakang sekolah, tauran antar sekolah, suka bolos dan... dan..."


Cia menghela nafas seakan ikut memikirkan kegiatan buruk yang selalu ia kerjakan di sekolah.


"Berkelahi," ujar Cia.


"Nah iya betul," ujar Pak Yanto cepat.


"Heh!!! Ngapain kamu di sini?" tanya Pak Yanto kejam.


Cia mendecapkan bibirnya kesal, pria berkepala botak ini memang tak berubah. Di sekolah dan di rumah sakit pun Pak Yanto tetap memarahinya.