
"Eh taik lu yah!!!" jerit Baby yang masih di tarik oleh para montir dengan sekuat tenaga.
Sekuat apa pun Baby berpegangan namun kekuatan para montir lebih kuat sehingga berhasil membawa Baby masuk ke dalam ruangan donor darah. Para orang-orang yang melihat kejadian tersebut kini menoleh dan melongo menatap keributan yang terjadi di saat Baby berusaha untuk memberontak.
"Minggir! Minggir!" teriak Tara ketika memasuki ruangan donor darah membuat beberapa orang yang berpakaian putih itu menoleh.
"Loh ini ada apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Bu perawat, ini pendonor darah untuk pasien bernama Devan yang baru saja menjalani lepas operasi karena tembakan dan sekarang pasien bernama Devan itu lagi koma. Ibu perawat, tolong yah! cepat yah ambil darahnya, soalnya ini mendadak dan waktunya mepet," jelas Mamat sementara para montir lainya kini membaringkan tubuh Baby ke brangkar.
"Lepaskan saya!!!" jerit Baby yang kini menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Lepas kan e Kye!!!"
"Lepas!!!" jerit Baby lagi.
"Istighfar, Mas Baby," sahut Adam dengan wajah takutnya yah jika seperti ini Baby sangat menyeramkan.
"Apa?!!" teriak Baby membuat Adam tersentak kaget.
"Apa lo bilang, Mas? Hah?!! Gue bukan Mas!!! Gue Mbak syantik," oceh Baby.
Bukan hanya Adam yang takut saat melihat Baby yang memberontak di tempat tidurnya tapi para petugas di ruangan pengambilan darah pun terlihat ketakutan. Bagaimana tidak mereka tidak ketakutan jika Baby si pria bencong itu terlihat memberontak membuat semua urat nadinya terlihat dengan seluruh tubuhnya yang terlihat berotot.
"Em maaf sebelumya Mas, tapi Mas nya serius mau menjadikan pria ini sebagai pendonor darah?" tanya petugas wanita itu yang menatap Baby dengan tatapan sangat serius.
"Se... serius kok Bu," jawab Mamat sambil tersenyum berat, rasanya ia pun tak yakin jika Baby akan bisa melakukan donor darah dalam kondisi yang memberontak.
"Nih Bu udah siap!!!" teriak Jojon sambil memegang tangan kanan Baby sementara para montir lainnya juga ikut memegang kaki kanan kiri dan tangan Baby.
"Tuh Bu, katanya udah siap," ujar Mamat sambil tersenyum.
Petugas ruangan itu kini melangkah mendekati Baby yang ke dua mata nya melebar seakan begitu sangat terancam oleh kedatangan petugas wanita itu.
"Apakah Mas nya bersedia?" tanya petugas wanita itu.
"Bersedia!!!" jawab para montir dengan sangat kompak dan bersemangat bahkan Baby yang baru ingin mengatakan tidak kini malah terdiam dengan wajahnya yang terlihat melongo menatap satu persatu para montir.
"Baiklah kalau begitu, Mbak yun," panggil petugas wanita itu membuat wanita gemuk dengan kaca mata bulat mendekat.
"Iya, Bu."
"Siapkan peralatan donor darah yah Mbak, ada salah satu orang yang ingin mendonorkan darah!"
"Baik, Bu," jawab wanita gemuk itu lalu melangkah pergi.
"Jangaaaaaan!!!" teriak Baby yang masih menggeliat di atas tempat tidur.
"E Kye nggak mauuuuu!!! Lepas!!! Lepasin e Kye!!!" jerit Baby lagi.
Petugas wanita itu kini menghembuskan nafas berat saat mendengar suara teriakan dan jeritan dari Baby.
"Mohon maaf Mas semuanya, mungkin donor darah ini tidak bisa kami lakukan."
"Loh kenapa Bu? Ini kan pendonornya sudah siap tinggal di sedot aja darahnya," jelas Jojon.
"Maaf Mas, Kami tidak bisa melakukan pengambilan darah jika pendonornya memberontak seperti ini," jelasnya.
"Oh nggak memberontak kok," jawab Jojon.
"Toloooong!!!" teriak Baby membuat petugas di ruangan itu menghela nafas berat.
"Sepertinya Mas nya dan yang lain cari pendonor yang lain saja," ujar suster itu.
Buk!!!
Semuanya terbalalak kaget saat Tara dengan keras nya memukul pipi kanan Baby hingga Baby langsung pingsang tak sadar kan diri.
...____***____...
Semua para montir kini nampak diam menatap pintu ruangan pengambilan donor darah di mana Baby ada di dalam sana.
Tak berselang lama pintu di buka membuat semua orang menoleh menatap Baby yang kini berjalan dengan wajah pucat dan luka lebam membiru di pipi kanan nya serta lipatan tangannya yang terlihat di tutup dengan sebuah kapas putih kecil.
Semuanya kini bangkit dan mengerumuni Baby dan membantunya untuk duduk di kursi panjang.
"Gimana rasanya?" tanya Deon.
"Sakit nggak?" tanya Jojon.
"Lu nggak pusing kan?" tanya Yuang.
Baby terdiam sejenak lalu menarik nafas panjang.
"E Kye nggak tahu. Sebenarnya orang di dalam sana ambil darahnya di pipi atau di tangan e Kye sih? Kok sakit nya si pipi e Kye," jelas Baby sambil meraba-raba pipinya yang terasa sakit.
Semuanya kini mendadak bisu sambil melirik Tara yang kini tersenyum lembar.
"Em udah! Udah! ini itu mungkin efek samping dari donor darah," jelas Mamat.
Cia melangkah mendekati Baby dan kini berlutut di hadapan Baby yang terlihat kebingungan.
"By, makasih yah," ujar Cia dengan kedua matanya yang siap untuk menangis.
Baby tersenyum lalu menepuk bahu Cia dengan pelan.
"Iya, Cia. Ini sudah seharusnya yang e Kye lakuin buat bos Ceo. Bos Ceo juga udah E Kye anggap sebagai saudara sendiri dan sudah semestinya kita sebagai saudara harus saling membantu bukan begitu bukan," ujar Baby.
"Hebat," ujar Jojon sambil menepuk-nepuk bahu Baby.
"Bener hebat, baru kali ini gue ngeliat Baby ngomong kayak gini," puji Mamat.
"Iya tapi ini kok pipi saya sakit begini a?" tanya Baby membuat semuanya tertawa.
"Woy, ini yang makan roti siapa?" tanya Haikal yang kini melangkah mendekati para montir sambil membawa sebuah bungkus roti. Yah semuanya baru tahu jika di saat adegan rebutan roti Haikal sedang tertidur.
Semuanya kini tertawa terbahak-bahak lalu membuat Haikal keheranan. Tak berselang lama pintu di buka memperlihatkan para petugas mendorong sebuah lemari kaca beroda yang memperlihatkan beberapa kantong darah.
"Bu, ini darah untuk pasien siapa?" tanya Mamat.
"Ini darah untuk pasien bernama Devan," jawab wanita itu di balas anggukan oleh Mamat membuat wanita itu kini melangkah pergi.
"Waduh, noh darah lo!" Tunjuk Jojon lalu tertawa membuat para montir kini ikut tertawa.
"Buset," ujar Baby yang kini nampak tak percaya jika darah yang di ambil dari tubuhnya akan seperti itu.
"Habis dong darah gue," ujar Baby sambil meraba tubuhnya.
...____***____...
Cia meletakkan jari-jari tangannya berusaha untuk menyentuh Devan yang dihalang oleh dinding kaca. Dari sini Cia bisa melihat tubuh tak berdaya Devan yang terbaring di atas tempat tidur rawat dengan peralatan medis yang nampak terpasang di tubuhnya. Suara komputer dengan gambar garis naik turun yang menandakan dekat jantung Devan terdengar. Tak jauh dari sisi tempat tidur terdapat selang yang membawa darah segar ke tubuh Devan yang masih tak sadarkan diri.
"Ayah, tolong cepat sadar! Cia mohon."
"Tolong Ayah, jangan tinggalkan Cia!"
"Ayah."
"Keluarga kita hampir utuh jadi tolong jangan membuat keluarga kecil ini kembali terpisah."
"Aku sayang sama Ayah."