
"....Dibayar tunai," ujar Devan dengan lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?" Tatap Bapak penghulu ke arah para tamu yang hadir.
"Sah!!!" teriak mereka kompak.
"Alhamdulillah," syukur mereka secara bersamaan lalu mulai dipanjatkan doa-doa yang dipimpin oleh bapak penghulu.
"Selamat Bos!!!" teriak Tara lalu tertawa dengan daging ayam yang masih berada di dalam mulutnya.
Devan tersenyum lalu segera mengecup dahi Kasya dengan mesra membuat semua orang berseru kegirangan.
"Jadi pengen gue," bisik Jojon sembari terus menatap ke arah pengantin baru itu.
Mamat menggeleng sembari melipat bibirnya kedalam seakan tak sanggup melihat hal romantis itu.
Haikal yang sedari tadi mengunyah kini menoleh menatap neng Mita yang tengah asik duduk sambil sibuk berfoto ria di belakang sana.
"Tuh neng Mita!" Tunjuk Haikal membuat para montir menoleh.
"Neng Mita!!!" panggil Jojon sembari melambaikan tangannya ke arah neng Mita yang kini menoleh.
"Kapang nikah?" tanya Jojon membuat semuanya tertawa.
"Masa nge-janda melulu, Neng?" tambah Haikal.
"Nikah sama abang aja yuk, Neng!" teriak Tara.
"Enak aja, sorry yah gue nggak level," ujar neng Mita dengan sinis.
Suara gelak tawa terdengar ketika kalimat itu terlontar.
"Siap di goyang semua?!!" teriak Baby yang kini sudah berada di atas panggung dengan penampilannya yang seperti biasanya. Rok sebatas paha dengan baju yang memperlihatkan perut buncit dengan pusatnya yang terlihat membahana lengkap dengan rambut palsunya yang berwarna pink yang selaras dengan warna listip dan bulu matanya yang cetar membahana.
"Ah musyik!!!!" desah Baby membuat para band memainkan alat musiknya dengan lihai hingga Baby kini menari begitu gemulai persis seperti linta yang disiram dengan air garam.
Suara musik dangdut yang terdengar membuat para montir kini bersorak dan mulai ikut bergoyang.
"Dam sini, Dam! Goyang!" panggil Jojon yang kini sudah berada di atas panggung.
Adam menggeleng lalu tak lama ia menoleh menatap neng Maya yang nampaknya sudah sejak tadi memperhatikan Adam.
Neng Maya yang melihat Adam menatapnya dengan cepat tertunduk malu dan segera berpaling membelakanginya. Adam tersenyum malu lalu ikut tertunduk dengan kedua pipinya yang memerah.
Cia tertawa ketika melihat kelucuan para montir yang masih asik bergoyang di atas panggung.
"Cia!" panggil seseorang membuat Cia menoleh lalu segera bangkit dari tempat ijab kabul.
Cia tersenyum seakan menyambut kedatangan Adelio serta Julia yang kini bergandengan tangan sembari melangkah masuk mendekati Cia. Bukan hanya Adelio serta Ibunya yang datang melainkan Fika dan pak Yanto juga datang di acara pernikahan Devan.
"Udah selesai ijab kabulnya?" tanya Julia.
"Udah Tante," jawab Cia diiringi senyuman.
"Selamat datang," ujar Firdha sembari memeluk hangat tubuh Julia dan membawanya duduk di sebuah kursi panjang sembari berbincang-bincang hangat.
Cia tersenyum lalu tertunduk malu dengan sorotan mata Adelio yang sedari tadi menatapnya.
"Hay pacarku," ujar Adelio sembari tersenyum malu.
Cia terbelalak dengan kalimat yang baru saja Adelio ucapkan. Cia benar-benar terkejut bukan karena kalimat pacar yang Adelio ucapkan melaingkan Adelio yang mengatakan kalimat tersebut tepat membelakangi pak Yanto yang kini terdiam dengan wajahnya yang nampak datar.
"Terus! Terus! Pacaran aja terus!" ujar pak Yanto lalu melangkah melintasi Adelio Serta Cia yang kini masih tertunduk malu.
"Bener nih, Pak! Hukum aja nih, Pak!" tambah Fika lalu segera tertawa dan segera memeluk Cia yang kini juga ikut tertawa.
"Makasih yah, Ka udah dateng," ujar Cia sembari mengelus punggung Fika.
Fika tersenyum lalu segera melepas pelukan dari Cia.
"Iya sama-sama, Ci. Eh aku ke sana dulu, yah." tunjuk Fika ke arah gerombolan tamu-tamu dari SMA Garuda bangsa yang tak lain adalah Loli, Medika, Marisa, Yuna dan Faririn yang nampak sibuk bergosip sejak tadi.
Cia mengangguk membuat Fika kini melangkah pergi.
Adelio tersenyum lalu segera mendekat ke arah cia.
"Hay pacarku," bisik Adelio tepat di telinga Cia.
Cia yang merasa geli itu dengan cepat memukul lengan Adelio dengan pelan membuat Adelio meringis walau pukulan itu terasa tak sakit sedikit pun.
Cia yang melihat hal tersebut langsung tertawa dan kemudian terdiam dengan senyuman yang membias begitu indah.
"Dengan senang hati," ujar Cia lalu segera merapatkan sela-sela jari-jari Adelio dengan jari-jari lentiknya.
Adelio tersenyum lalu segera melangkah membuat Cia menyandarkan kepalanya di permukaan lengan Adelio tetap dengan senyuman yang masih membias indah.
"Ci!" panggil Devan membuat Cia menoleh.
"Sini! Kita mau foto," ujar Devan membuat Cia tersenyum lalu melepas gandengan Adelio dan segera berlari dengan gaun berwarna gold yang tak lain adalah gaun yang Cia idam-idamkan sejak pertama kali memasuki Mall Brahmana, yah Devan yang membelikannya untuk Cia khusus di hari pernikahan Devan.
"Senyum! Tahan!" ujar pria dengan kamera yang sudah berada di depan wajahnya.
Cia yang berada di tengah-tengah di Antara Devan dan Kasya itu kini tersenyum gembira sembari menatap ke arah kamera yang siap untuk menangkap momen bahagia ini.
CEKREK
Suara kamera itu terdengar membuat Cia tertawa bahagia lalu kembali memasang gaya konyol di hadapan kamera yang nampaknya masih siap untuk memfoto momen bahagia ini.
"Eh semuanya sini!" panggil Devan membuat semua para tamu termasuk para montir berlarian ke arah depan kamera dimana Cia, devan dan Kasya masih berdiri di sana.
"Siap semua?" tanya pria itu.
"Siap!" teriak mereka kompak.
"Satu..."
"Dua..."
"Ti-ga..."
PREAK
Suara kentut tara terdengar menghasilkan bau busuk yang begitu menyengat hingga para barisan rapi itu berhambur bersamaan dengan bunyi kemera yang berhasil menangkap momen yang tidak disengaja ini. Huh, sungguh hasil foto yang sangat memalukan.
Cia tertawa lalu segera berlari dan memegang jari-jari Adelio yang kini tersenyum menatap wajah cantiknya.
Cia tersenyum lalu segera menyandarkan kepalanya di permukaan lengan Adelio tetap dengan senyuman yang masih membias indah.
"Jika aku boleh menuliskan rasa ungkapan kebahagiaanku di atas ribuan lembaran kertas yang akan ku tulis nanti, tak akan cukup untuk menampung milyaran rasa kebahagiaanku yang saat ini kurasakan."
"Sekarang aku yakin di balik kesedihan itu pasti ada sebuah kebahagiaan yang menanti walaupun, itu sukar untuk di nanti namun, bukan berati tidak mampu untuk dimiliki."
" Untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta dengan pria bernama Adelio Dzaky Aruf yang kini telahku jadikan sebagai pacar keduaku, iya dia pacar keduaku lalu pacar pertamaku siapa? Hahaha."
"Pacar pertamaku adalah Ayahku, sebab darinya lah aku pertama kali mendapatkan sebuah cinta yang benar-benar tulus. Aku benar-benar mencintainya kerena dia *adalah cintaku."
"Devan, pria itu! Dia Ayahku atau pacarku?"
"Entahlah!"
"Jika dia bisa menjadi keduanya kenapa harus memilih?"
"Jadi?"
"Father or Boyfriend*?"
^^^~Ashia Akanksha~^^^
...❤️ Happy end ❤️...
**Hallo buat semuanya.
Maaf baru bisa up, soalnya lagi sibuk.
Wah, lama amat, Mak sibuknya?
Iya, maaf, yah!
Jangan lupa baca cerita {{Islam Belajar Puasa}}
Terimakasih untuk semua para pembaca, senang rasanya bisa menamatkan cerita ini🌺🌺
Tunggu karya Emak yang baru🌺**
Rabu, 15 Juni 2022
Sal dari Emak, Nurcahyani Hayati🌺