Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 121



"Emm kita pindah meja aja yuk!" ajak Fika lalu mengangkat mangkuk dan gelasnya.


Semuanya terdiam sambil memasang wajah bingung ke arah Fika yang nampak begitu semangat untuk pindah dari meja ini.


"Ayo!" ajak Fika lagi sambil mengedipkan matanya seakan memberikan isyarat kepada Yuna dan Faririn untuk memberikan kesempatan kepada Cia dan Ogi untuk bersama.


"Loh kenapa harus pindah?" tanya Cia.


Yuna dan Faririn kini mengangguk seakan mengerti dengan kedipan mata Fika. Dengan cepat kedua gadis berotak cerdas ini bangkit lalu mengikuti langkah Fika yang mengarah ke sebuah meja kosong.


Adelio terdiam, masih duduk di tempat duduknya. Rasanya ia tak mau beranjak dari kursinya dan membiarkan Ogi duduk semeja dengan Cia. Adelio tau jika Cia telah punya pacar tapi rasanya Adelio tak mampu membiarkan Cia berbicara dan duduk bersama dengan pria yang tiap hari gonta-ganti pasangan untuk dibonceng setelah pulang dari sekolah.


"Adelio," panggil Fika namun tak berhasil membuat Adelio menoleh.


Fika mendecapkan bibirnya menatap Adelio yang nampaknya belum beranjak dari kursinya. Dengan langkah cepat Fika beranjak pergi menuju Adelio setelah meletakkan mangkuk dan gelasnya di meja.


"Fika! Lo mau kemana?!!" teriak Faririn.


Fika menyentuh bahu Adelio setibanya di sana lalu memasang wajah mengharap agar Adelio segera bangkit dari kursi. Adelio mendongak menatap sorot mata Fika yang menatapnya begitu dalam.


"Yuk!" ajak Fika lagi.


"Loh, kenapa harus pindah sih?" tanya Cia lagi yang pertanyaannya belum terjawabkan.


"Nggak apa-apa kok!" jawab Fika cepat diiringi senyuman yang dibuat semanis munkin sambil mengangkat mangkuk Adelio.


Adelio meghembuskan nafas berat lalu segera bangkit dari kursinya, mengikuti langkah cepat Fika yang kini telah berhasil membawa mangkuknya itu pergi.


"Cia!" panggil Ogi membuat Cia yang sedari tadi menatap ke arah teman-temannya kini tersentak kaget tersadar jika ada seseorang di hadapannya.


Cia tertawa hambar. Cia ragu, apa pria yang telah berulang kali memanggil namanya itu adalah Ogi, idolanya dulu. Jujur saja perasan suka itu rasanya sudah lenyap ditelan ucapan menjijikan Ogi di pesta ulang tahun Loli, kini Ogi bukan idola Cia lagi.


"Cia!" panggil Ogi diiringi sedikit tawa.


"Oh iya," jawab Cia gugup.


"Lo kenapa sih?"


Cia terdiam dengan raut wajahnya yang tak nyaman.


"Lo marah sama gue? Yah, karena gue yang udah ngomong kasar sama lo di pesta ulang tahun mantan gue?"


"Mantan?" Tatap Cia heran.


Ogi tertawa sambil menarik-narik ujung rambut hitamnya dilengkapi dengan pengikat kepala dengan pola gang torak berwarna coklat. 


"Yah si Loli, siapa lagi?" jawab Ogi dengan suara lemah lembutnya.


Cia mengangguk sambil mengaduk-aduk kuah baksonya yang masih banyak.


Ogi terdiam. Rasanya gadis ini tak bertingkah agresif seperti gadis-gadis yang selalu ia temui. Gadis bernama Cia ini punya daya tarik tersendiri bagi Ogi. Wajahnya juga lumayan cantik, yah, walaupun sama sekali tak mengunakan make up.


"Gue mau minta maaf," ujar Ogi.


Cia yang berniat menyuapi bulatan bakso ke dalam mulutnya kini terhenti lalu menatap ogi yang nampak menatapnya begitu serius, Ogi tak semenarik dulu lagi.


"Kok bengong?" tanya Ogi.


Cia tersenyum hambar membuat senyum Ogi lenyap begitu saja.


"Lo masih marah sama gue? Gue minta maaf, lo mau kan maafin gue?"


Cia mengangguk seakan mengiyakan jika Cia telah memaafkannya.


"Yah, gue tau ucapan gue agak kurang ajar sih tapi gue beneran nyesel udah ngomong kayak gitu di hadapan semua orang," ujar Ogi dengan wajah tulusnya.


Cia meneguk habis air di gelasnya lalu bangkit dari mejanya membuat Ogi mendongak menatap Cia.


"Gue udah selesai," ujar Cia yang kini melangkah berniat untuk pindah.


Cia menoleh dengan cepat lalu menghempas tangan Ogi dengan tatapan tajam.


Ogi terbelalak. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani menghempas tangannya, apakah hempasan ini adalah penolakan agar Ogi tak memegangnya. Apa bener ini serius?


Semua orang nampak terkejut melihat Cia yang berani menghempas tangan Ogi. Bahkan gerombolan gang torak yang sedari tadi hanya tertawa melihat Ogi yang berusaha mendekati Cia nampak kehilangan senyum dan tawa mereka. Mereka begitu terkejut dengan apa yang Cia lakukan.


"Ma...ma...maaf," ujar Cia terbata-bata.


Cia terbelalak, Cia bahkan tak menyangka jika ia telah menghempas tangan pria yang diincar banyak gadis-gadis bahkan telah dinobatkan sebagai pria tertampan di sekolah SMA Garuda bangsa.


"Nggak apa-apa," ujar Ogi berusaha untuk tersenyum.


Cia melangkah berniat untuk meninggalkan Ogi yang kini membuatnya semakin tak enak di tambah lagi Cia yang telah menghempas tangan Ogi begitu kasar.


"Cia," panggil Ogi lagi.


Cia menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Ogi yang nampak melemparkan senyum. Tak ada balasan senyum dari bibir Cia.


"Lo maafin gue kan?"


Cia meghembuskan nafas berat setelah mendengar pertanyaan Ogi mengenai kata maaf itu. Rasanya Cia kini muak mendegar ucapan maaf dari Ogi.


"Lo tuli atau apa sih?" tanya Cia berhasil membuat semua orang-orang melongo, terlebih lagi dengan Ogi yang kini hanya mampu terdiam seakan syok dengan ucapan Cia.


"Apa?" tanya Ogi berusaha memastikan jika pertanyaan yang baru saja ia dengar adalah salah.


Cia mendecapkan bibirnya ternyata pria yang ia idolakan itu memiliki masalah dengan pendengarannya.


"Lo tuli?!!" teriak Cia berhasil membuat suasana menjadi sunyi.


Ogi mendadak bungkam dengan tatapannya yang tak menyangka.


Cia mendecapkan bibirnya kesal lalu kembali memutar tubuhnya membelakangi Ogi yang masih mematung di sana.


"Gue kira lo masih ngeidolain gue?!!" teriak Ogi berhasil membuat langkah Cia terhenti.


"Kata Loli lo ngeidolain gue?" teriak Ogi lagi berhasil membuat Cia menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Ogi.


"Gue maafin lo karena lo udah ngomong nggak pake otak di malam ulang tahun Loli," ujar Cia.


Cia tersenyum hambar lalu kembali memutar tubuhnya berniat beranjak pergi dari kantin namun, baru selangkah Cia kembali menoleh.


"Oh iya, stop bilang kalau gue itu ngeidolain lo, karena lo bukan idola gue lagi," ujar Cia lalu melangkah.


Langkah Cia tertahan ketika Ogi kembali memegangnya. Cia menoleh menatap Ogi yang kini masih menatapnya begitu dalam.


"Lepasin gue!"


"Kenapa? Kenapa gue harus lepasin lo?" tanya Ogi.


"Lepasin nggak!" ujar Cia dengan nada mengancam.


Ogi hanya terdiam bahkan tak melepas pegangannya dari pergelangan tangan Cia.


"Lepasin!!!" bentak Cia menggema di dalam ruangan kantin.


Syut


Seseorang menghempas tangan Ogi cukup keras membuat genggaman jari-jari Ogi terlepas tadi pergelangan tangan Cia. Semuanya nampak terkejut dengan apa yang baru saja murid baru itu lakukan kepada ketua gang torak.


Cia membuka mulutnya, terkejut. Dengan cepat Cia menoleh menatap pria yang telah berani melakukan itu kepada Ogi. Adelio, yah dua yang telah melakukannya. Cia sama sekali tak menyangka jika lagi dan lagi Adelio menolongnya entah berapa kali sudah. Adelio kini seperti seorang pahlawan di mata Cia yang sering kali datang dan menolongnya.


"Lo siapa?" Tunjuk Ogi kejam.


Adelio tak menjawab apa-apa lalu secara perlahan ia meraih jari-jari  Cia dan mengenggamnya begitu erat sementara Cia hanya terdiam membiarkan Adelio mengenggam jari-jarinya. Cia mampu merasakan kehangatan tangan Adelio. Adelio menatap Ogi dengan tajam lalu mulai melangkah membawa Cia keluar dari kantin diiringi tatapan serius dari seluruh orang-orang yang berada di dalam kantin itu.


"Berhenti lo!!!" teriak Ogi.