Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 18



"Aaaaa !!!" teriak Cia seakan mengumpulkan kekuatan ke tinjunya yang sekarang akan meluncur ke ubun-ubun pria itu sesuai dengan apa yang ia pikirkan tadi.


"Cia !!!" Suara teriakan itu kini berhasil membuat Cia menoleh menatap pak Yanto yang kini melangkah ke arahnya.


Adelio menoleh setelah mendengar suara lantang itu. Belum sempat ia melihat orang yang berteriak itu kini, mata Adelio membulat menatap tinju yang nyaris mengenai hidungnya. Apakah gadis ini berniat untuk memukulnya atau gadis ini berniat untuk membunuhnya. Wajah imut dengan niat buruk entah mengapa ada orang dengan pikiran seperti ini.


Cia dengan cepat menurunkan tinjunya dari pria itu yang kini menatapnya dengan tatapan heran.


 "Dasar bodoh !"


 "Apa yang kamu lakukan?"


"Apa pak ? saya nggak ngelakuin apa-apa ?" Bela cia yah walaupun niatnya untuk meninju pria itu benar-benar jelas.


"Jelas-jelas saya liat kamu mau pukul dia !!!"


"Nggak pak siapa yang mau mukul ?"


"Bohong kamu !!!" Bentak pak Yanto membuat Cia tersentak kaget.


"Kamu sudah kerjakan tugas yang semalam saya kasih ?"


Cia terbelalak kaget mendengar perkataan pak Yanto. Kini, pasti pak Yanto benar-benar akan memakannya habis-habisan karena, tugas yang Pak Yanto beri semalam belum ia kerjakan, ini semua karena montir-montir bobrok itu yang mengajaknya nonton pertandingan bola semalam.


"Sudah atau belum ?!!" Bentak pak Yanto lagi berhasil menyadarkan Cia  dari lamunannya.


 "Belum pak !" Bisik cia.


 "Apa ?!!"


"Belum Pak !!!" Teriak cia sambil menutup kedua matanya, seakan tak mampu menatap wajah sangar pak Yanto.


"Kamu ?"


Pak Yanto menunjuk Adelio yang kini memasang wajah lugu disana.


Adelio sedikit menganga seakan tak mengerti dengan pak Yanto. Entah mengapa ia juga menanyakan hal tersebut kepadanya sedangkan jelas-jelas Adelio baru masuk sekolah hari ini jadi, dia tidak tau apa-apa mengenai tugas yang diberi oleh pak Yanto.


"Saya juga pak ?"


Cia melirik pria itu yang akhirnya angkat bicara. Entah apa masalah pria ini kepadanya sehingga sejak tadi tidak mau menjawab pertanyaan darinya.


"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu ?"


"Loh, tapi kan pak saya an-"


"Dudah atau belum ?!!" Bentak pak Yanto lagi.


"Loh, kok say-"


"Suddah atau belum ?!!!" Bentak pak Yanto lagi dengan nada suaranya yang semakin meninggi membuat murid-murid yang berlalu lalang di sekitar kelas menatap kearah pak Yanto yang berhasil membuat Cia tertunduk sementara Adelio yang hanya mampu menatap heran kepada pak Yanto.


"Belum pak tap-"


"Nah, gitu dong langsung di jawab. Sudah yah, sudah belum yah, belum !"


"Tapi, kan pak-"


"Apa lagi ? pokoknya saya tidak mau terima alasan dari kalian !"


"Loh bukan gitu pak tapi kan-"


"Saya tidak mau dengar alasan dari kamu ! kalian saya hukum !!!"


Adelio tak percaya dengan apa yang pak Yanto ucapkan. Ia juga dapat  hukuman sementara, huh !!! kini Adelio hanya mampu terdiam seakan tak mampu menghadapi pak Yanto yang tak mau mendengarkan penjelasan darinya.


"Bersihkan toilet sekolah !!! sekarang !!!"


  


Cia menatap wajah pria botak itu. Rasanya cia ingin memukul kepala botak pria itu secara bertubi-tubi dan menggantungnya di ujung Monas dan mendorongnya dari atas ujung Monas.


Membersihkan toilet sekolah adalah hal terbodoh yang pernah Cia lakukan seumur hidupnya disaat Cia kelas 1 SMP gara-gara ketahuan memanjat dinding belakang sekolah dan hal itu akan terulang sekian lamanya di tambah lagi membersihkan toilet sekolah bersama dengan pria yang irit ngomong ini.


Membantah ucapan pak Yanto, bagaimana mungkin jika, membantah pasti pak Yanto akan menambah hukumannya yah seperti biasanya jadi Cia hanya pasrah.


Adelio tak percaya jika, harus dihukum seperti ini, bagaimana mungkin ia dihukum jika ia tidak salah. Seorang Adelio dihukum huh, itu tidak mungkin apa lagi dihukum di hari pertama masuk sekolah.


"Pak tidak bisa begitu pak !"


Cia melirik pria yang belum ia ketahui namanya dengan tatapan heran. Sudah jelas bahwa pria ini murid baru di kelasnya jika ia bukan murid baru mana mungkin dia akan membantah dengan ucapan pak Yanto. Kini pasti sudah jelas pak Yanto akan menambah berat hukuman mereka berdua.


"Lo, ngelawan kamu ?!!!" Pak Yanto membulatkan matanya seakan-akan ingin keluar.


"Tidak seperti itu pak !"


"Bersihkan toilet sekolah dan toilet guru!!!"


Cia menghembuskan nafas berat yang ia pikirkan kini terjadi pak Yanto menambah hukuman mereka berdua. Membayangkan luasnya toilet


Sekolah sudah melelahkan apa lagi membersihkannya ditambah lagi toilet guru.


"Loh tapi pak !"


"Bersihkan toilet sekolah dan toilet guru, ples bersihkan gudang sekolah !"


Mata Cia terbelalak mendengar ucapan pak Yanto. pria ini memang bodoh, gara-gara dia yang banyak bicara hukuman mereka di tambah.


Adelio terdiam tak mengerti dengan jalan pikiran pak Yanto yang menambah hukuman mereka, bagaimana bisa ia mengerjakan hal tersebut padahal ia tak salah.


"Aaa-" Ucapan Adelio terhenti.


Cia menggaruk lehernya tak gatal rasanya pria ini memang suka akan hukuman. Selain pria ini suka irit ngomong ternyata suka juga hukuman huh, dasar bodoh jika, pria ini bicara terus maka hukumannya akan di tambah.


"eits apa-apa hah ?"


Adelio kini bungkam seribu bahasa.


...____****____...


"Aaaaaaaaa!!!!!!" Teriak cia sambil memandangi seisi gudang sekolah yang amat sangat kotor dan berantakan.


Kardus berisi buku yang tidak terpakai lagi berserakan dimana-mana. kursi serta meja yang rusak juga berserakan ditambah lagi sarang laba-laba yang berada di segala permukaan dinding.


Cia melirik pria itu yang nampak menyapu lantai yang begitu sangat kotor dan berdebu dengan sapu yang ia ambil dari sudut ruangan.


"Dasar, pak Yanto guru kampret, nggak punya akhlak!" Tambah cia lagi sambil memukul tumpukan kardus yang berdebu itu dengan kemoceng.


"Ih, sebel banget sih punya guru kaya dia udah botak nyeremin lagi."


"Untung ajah, gue bukan anaknya kalau, gue jadi anaknya bisa gila gue."


Cia kini terdiam rasanya marah-marah sambil membersihkan itu cukup melelahkan. Andai saja dia tau jika, dirinya akan dihukum seperti mungkin, ia tak akan pergi ke sekolah.


Rasanya Cia lebih suka di bengkel berkumpul dengan montir-montir yang unik itu ketimbang disini apalagi jika, harus berhubungan dengan pak Yanto.


"Eh, untung gue jadi, murid bukan jadi, anaknya pak Yanto jadi, murid ajah gue minta ampun apa lagi gue jadi anaknya."


"Jadi keluarganya ajah, gue ogah! pasti keluarga pak Yanto tuh nyesel punya keluarga kayak, pak Yanto!!" Teriak Cia lagi.


Cia melirik pria itu lagi yang tetap menyapu lantai tanpa memperdulikan ucapannya. Entah apa masalahnya dengannya sehingga pria ini tak mempedulikan ucapannya bahkan menatapnya saja tidak pernah.


"Heh, Lo punya masalah apa sih sama gue ?!!" teriak Cia.


Cia menghentikan bersih-bersihnya sambil menopang pinggang menatap serius ke arah pria itu yang tetap menyapu lantai.