Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 137



Kini cia tak peduli jika Adelio telah berpacaran dengan sahabatnya sendiri, Fika. Cia tak peduli dengan hal itu. Cia sadar jika orang yang kita boleh saja suka dengan sesorang dan orang itu tak mampu kita miliki tapi setidaknya kita masih bisa bersamanya walau hanya sekedar ikatan persahabatan. Cia sudah sangat bahagia melihat Adelio.


Langkah Adelio terhenti menatap Cia yang kini nampak melambaikan tangannya sambil tersenyum di sana. Kini Adelio tak tahu harus berbuat apa, rasanya ucapan pacar Cia yang menyuruhnya untuk menjauhi Cia masih terngiang-giang di pikirannya namun Adelio tak mungkin tak membalas lambaian Cia yang kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sekitarnya.


Adelio kini menarik nafas berat lalu segera melangkah mendekati Cia yang kini masih tersenyum bahagia.


Cia kini begitu bahagia dengan langkah cepat Cia segera melangkah ke arah Adelio, akhirnya Cia bisa bertemu dengan Adelio lagi.


Senyum Cia sedikit memudar menatap wajah Adelio yang terdapat luka yang membiru di sana. Apa Adelio telah berkelahi ? Tapi dengan siapa? Selama ini Cia tak pernah mendengar Adelio punya masalah sampai harus berkelahi.


Langkah keduanya kini begitu sangat dekat dan...


Cia terdiam mematung di jalan, kini senyumnya menghilang dari bibirnya yang indah ketika Adelio melintasinya begitu saja tanpa membalas senyum bahkan lambaiannya. Cia tak tahu mengapa Adelio seakan bertingkah seperti orang lain dan seakan-akan Adelio tak mengenal Cia.


Degan cepat Cia menoleh menatap Adelio yang kini tetap melangkah bahkan Adelio tak menoleh sedikit pun untuk menatap Cia walau hanya sebentar.


Cia masih mematung di tempatnya berdiri, menatap Adelio dengan tatapan masih tak percaya. Tiba-tiba suara tawa terdengar dari orang-orang yang nampaknya menertawai Cia yang sapaannya tak dibalas oleh Adelio.


Cia kini memutar tubuhnya lalu segera beranjak pergi dengan pipinya yang kini nampak memerah, kejadian ini sangat memalukan bagi Cia.


Adelio meghembuskan nafas berat degan langkahnya yang kini telah memelan ketika telah berhasil melintasi Cia tadi. Suara tawa yang terdengar itu mampu Adelio dengar di telinganya cukup jelas.


Langkah adelio kini terhenti lalu segera menoleh menatap Cia yang kini telah melangkah sudah cukup jauh.


"Aku minta maaf Cia."


Adelio kini memutar tubuhnya lalu segera melangkah. Adelio berharap Cia tak marah dengan sikapnya ini.


Langkah Cia terhenti secara mendadak. Ia tak dapat menerima sikap cuek dari Adelio kepadanya. Tak seperti biasanya Adelio bersikap dingin kepadanya. Cia masih tak tahu apa yang membuat Adelio sampai seperti itu. Lalu ada apa dengan wajah Adelio? Apa luka wajah itu ada hubungannya dengan perubahan sikap Adelio?


Dengan cepat Cia menoleh menatap Adelio yang masih melangkah di sana. Ini harus diselesaikan.


"Adelio!!!" teriak Cia.


Langkah Adelio terhenti ketika mendengar suara teriakan Cia di belakang sana. Adelio menghela nafas lalu kembali menyambungkan langkahnya.


"Adelio!!! Tunggu!!!" teriak Cia lalu segera berlari mengejar Adelio yang kini semakin melajukan langkahnya.


"Adelio tunggu!!!" teriak Cia lalu dengan cepat memegang pergelangan tangan Adelio membuat langkah Adelio terhenti.


Nafas Cia sesak, ia berusaha mengatur nafasnya setelah berlari tadi. Ia menatap Adelio serius hingga menatap setiap inci wajah Adelio yang benar-benar membiru.


"Lo kenapa?" tanya Cia.


Adelio menelan ludah, ia tak tahu harus menjawab apa. Apakah pertanyaan ini ditujukan pada luka biru di wajahnya itu?


"Apa?" tanya Adelio.


"Lo kenapa ngejauhin gue? Kenapa lo bersikap seakan-akan lo nggak kenal sama gue?"


"Kenapa lo jahat banget sih?"


Adelio terdiam.


"Lo kalau punya masalah sama gue, kita selesai baik-baik! Jangan ngehidarin gue!" oceh Cia, emosi.


"Terus muka lo kenapa?"


"Lo udah berantem?"


Cia terdiam menatap Adelio yang hanya diam membisu seakan benar-benar membencinya.


"Lo sengaja yah? Lo sengaja nggak negur gue tadi biar semua orang ngetawain gue? Iya? Hah?"


"Lo nggak perlu! Sebelum lo datang ke Jakarta, semua orang udah ngetawain gue."


"Gue nggak ngerti sama jalan pikiran lo. Awal lo datang lo selalu bersikap baik sama gue, lo selalu ngebantu gue, lo nolongin gue tapi sekarang kenapa? Kenapa lo ngehidarin gue? Gue salah apa sama lo?" oceh Cia.


Adelio terdiam, ia memalingkan wajahnya berusaha tak menatap wajah Cia yang masih mengoceh di depannya.


Cia mengigit bibir, rasanya ia sudah tak tahan menahan genangan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.


"Kenapa lo diam? Kenapa?!!" teriak Cia.


"Ayo ngomong!!!" teriak Cia lagi.


Adelio tetap terdiam, suara teriakan Cia benar-benar ingin menembus gendang-gendang telinganya.


"Ayo ngomong!!!" teriak Cia sambil memegang kasar baju Adelio dan mengguncangnya.


"Ok, stop!!!" teriak Adelio membuat kedua mata Cia terbelalak, untuk pertama kalinya Adelio membentaknya.


Cia terdiam kaku menatap sorot mata Adelio yang begitu tajam.


"Kamu mau jawaban kan?!!" teriak Adelio membuat Cia tersentak kaget membuat air matanya menetes tanpa Cia minta.


"Kamu liat!!!" Tunjuk Adelio ke arah wajahnya.


"Kamu liat baik-baik!!!" bentak Adelio.


"Ini karena pacar kamu!!!"


Cia mengkerutkan alisnya setelah mendengar hal itu. Pacar? Apakah maksud Adelio adalah Devan?


"Apa?" tanya Cia dengan nada berbisik.


"Ini semua gara-gara pacar kamu yang datang ke rumah sakit dan ngehajar aku sampai aku babak-belur."


"Kenapa aku berubah? Kamu tanya itu kan?!!"


"Kamu jangan tanyakan itu sama aku tapi tanya kan ini sama pacar kamu itu!!! Dia, dia datang dan nyuruh aku untuk ngejauhin kamu. Dia tidak suka kalau aku dekat sama kamu," jelas Adelio.


Cia menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. Ternyata di waktu Devan keluar dari kamarnya, dia pergi menemui Adelio dan memukulnya. Cia menghembuskan nafas berat berusaha menahan kekesalannya pada Devan. Cia benar-benar tak menyangka jika Devan memukul wajah Adelio sampai seperti ini.


"Aku tahu, aku tak seharusnya mendekati kamu yang jelas-jelas sudah punya pacar dan...dan ini akibatnya," ujar Adelio lalu menunjuk wajahnya.


"Ok," ujar Cia singkat dengan kedua matanya yang terlihat kosong, seakan memikirkan sesuatu.


"Ok," ujar Cia lagi sambil melangkah mundur.


"Gu...gue minta maaf," ujar Cia lalu berpaling membelakangi Adelio dan segera melangkah meninggalkan Adelio yang kini terdiam menatap Cia yang kini semakin jauh darinya.


Langkah Cia yang cepat itu kini berganti menjadi langkah lari yang dengan cepat melewati bangunan-bagunan tinggi. Rambut Cia terhempas-hempas ketika ia berlari. Cia masih tak menyangka jika Devan telah memukul Adelio sampai babak-belur.


Orang-orang semua menoleh menatap Cia yang berlari dan sesekali menabrak orang-orang yang menghalangi larinya.


Cia mendorong pintu rumah dengan keras membuat suara kasar pintu yang terhempas ke dinding terdengar memecahkan keheningan rumah.


"Devaaaaan!!!" teriak Cia.