Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 189



Firdha terdiam menatap wajah Kasya yang nampak memasang wajah datar sambil memandangi pemandangan di luar rumah. Saat Kasya mengamuk di rumah sakit para bawahannya segera membawa Kasya pulang ke rumah. Firdha tak mau jika putri kesayangannya itu menjadi tontonan orang yang ada di rumah sakit.


Firdha menghela nafas setelah sedari tadi Firdha sudah berkali-kali memanggil nama Kasya namun hasilnya nihil, Kasya tak juga merespon bahkan tak mau bicara sedikit pun kepadanya.


"Kasya! Kamu dengar Ibu kan Nak? Kamu dengar Ibu kan? Ini Ibu Kasya!" ujar Firdha lalu meraih jari-jari tangan Kasya dan meremasnya dengan lembut.


"Ayo Nak! Cepat sembuh!"


Abraham membuka pintu membuat Firdha menoleh menatap Abraham yang kini melangkah mendekatinya


"Bagaimana perkembangan Kasya? Apakah dia masih mengamuk?" tanya Abraham yang kini melepas jam tangannya lalu meletakkannya di atas meja dan kembali melangkah mendekati Firdha dan juga Kasya yang terlihat terdiam dengan tatapannya yang terlihat kosong.


Firdha menggeleng, kondisi Kasya memang tak ada kemajuan. Kebiasaanya melamun semakin menjadi kebiasaan Kasya setiap hari bahkan Kasya yang selalu mengamuk tak jelas dan tiba-tiba membuat para pelayan dan termasuk Naini yang selalu ketakutan.


Kini tubuh Kasya semakin hari semakin kurus karena ia tak pernah mau membuka mulutnya untuk makan, hanya ada selang infus namun kadang Kasya selalu melepasnya atau bahkan mengigit selang infus itu hingga darah dari tubuh Kasya mengalir.


"Tadi aku melihat pria berwajah mirip dengan bocah sialan itu di depan rumah sakit," ujar Abraham memberitahu.


"Lalu?" tanya Firdha cepat.


Abraham menghela nafas lalu segera melangkah ke arah jendela dan menatap pemandangan taman belakang rumahnya.


"Lalu...ah sulit dibayangkan wajah pria itu hampir sama dengan wajah bocah sialan yang telah merusak hidup Kasya."


Tanpa sadar Kasya yang sedari tadi hanya terdiam kini menggerakkan bola matanya dan menatap Abraham yang masih bicara di sana tanpa membuat Firdha dan Abraham sadar jika untuk pertama kalinya Kasya merespon sesuatu. Julukan itu berhasil membuat Kasya merespon dengan perlahan.


"Saat aku dan Jef mendekati dia entah mengapa dia malah kabur seakan sangat takut kepada kami."


"Dari sorot mata pria itu membuatku yakin Firdha, kalau dia sepertinya sangat ketakutan persis dengan sorot mata yang aku lihat dari mata pria bocah sialan itu."


"Lalu apa yang Mas lakukan?" tanya Firdha.


"Dan yah kami mengikutinya lalu di tengah jalan kamu menelfon dan mengatakan jika Kasya mengamuk."


"Kamu melepas pria itu?"


"Tidak semudah itu, aku sudah menyuruh Jef untuk mengikutinya."


"Lalu bagaimana?" tanya Firdha.


"Aku-"


Belum sempat Abraham menyelesaikannya handphone Abraham kembali berdering membuat Abraham kembali merogoh saku jasnya.


"Halo," ujar Abraham cepat.


"Tuan kami telah menembak Devan dan saya pastikan dia telah tiada," ujar Jef memberitahu.


Abraham tersenyum lalu tak lama ia tertawa cukup keras. Kini balas dendamnya telah usai, Semuanya telah imbas.


"Kenapa Mas?" tanya Firdha.


Abraham menoleh lalu mematikan handphonenya menatap Firdha. Ini juga akan menjadi berita membahagiakan bagi Firdha.


"Bocah sialan itu telah tiada Firdha bocah sialan itu telah tiada dan lenyap dari bumi ini," jelas Abraham.


"Maksudnya?" tanya Firdha tak mengerti.


"Jef! Jef telah menembak Devan, si bocah sialan di bandara," ujar Abraham memberitahu.


Kasya kini terbelalak setelah mendengar hal itu, membuatnya bangkit dari kursi tempat ia duduk. Firdha dan Abraham yang melihat putrinya bisa bangkit dari kursinya membuat mereka tersenyum.


"Kasya, kamu sudah bisa merespon dan mendengar kami?" tanya Firdha yang begitu sangat bahagia.


"Tidak! Tidak! Tidak!" teriak Kasya sambil menjambak rambutnya sendiri.


Abraham dan Firdha kini terbelalak kaget, mereka begitu sangat terkejut dengan teriakan putrinya itu yang berteriak secara tiba-tiba.


"Kau pembunuuuuu!!!" Tunjuk Kasya ke arah Abraham sembari berteriak cukup keras.


"Tutup mulut mu itu!!!" teriak Abraham.


"Mas, sepertinya Kasya sudah mengingat semuanya," ujar Firdha begitu sangat gembira lalu berlari mendekati Kasya dan memeluknya.


"Kasya, apa kamu ingat Ibu Nak?" tanya Firdha.


"Jangan sentuh aku!!!" teriak Kasya lalu mendorong tubuh Firdha hingga tubuh Firdha terhempas ke lantai.


"Kau adalah seorang pembunuh!!!" teriak kasya lagi tanpa peduli jika ia telah mendorong Firdha.


"Aaaaa!!!" teriak Kasya lalu menghamburkan barang-barang yang ada di atas meja hingga suara gemuruh dari barang pecah terdengar.


"Hentikan Kasya!!!" bentak Abraham sambil menunjuk.


"Kamu pembunuh!!!" teriak Kasya lalu melangkah mendekati Abraham dan menjambak kerah jas Abraham dan mengguncangnya.


"Kamu pembunuh Abraham!!!"


"Kenapa kamu bunuh Devan?!!!"


"Kenapaaaa?!!!"


"Dia adalah kehidupan ku!!!"


"Hentikan!!!" teriak Abraham.


"Kamu pembunuh!!!"


"Dasar pembunuh!!!"


"Demi Tuhan, Tuhan tidak akan memaafkan mu, Abraham!!!" teriak Kasya.


Darah Abraham kini semakin mendidih ketika suara teriakan itu terdengar menggema. Tanpa sadar Abraham kini melayangkan sebuah tamparan ke arah pipi Kasya cukup keras hingga tubuh Kasya terhempas sangat keras ke dinding kamar.


Kepala Kasya kembali terbentur dan berdarah membuat Firdha kembali berteriak dan segera berlari ke arah kasya dan memeluknya sambil menangis.


...__***__...


"Apa yang anda pikirkan Tuan Abraham?" tanya Devan membuat Abraham tersentak kaget.


"Anda tidak percaya jika saya adalah Devan?" tanya Devan lagi.


"Atau Anda sudah mengingat semuanya?"


"Em jika Anda sudah mengingatnya berarti Anda sudah ingat dengan ini," ujar Devan sembari merangkul bahu Cia yang kini menatapnya dengan genangan air mata yang nyaris menetes membasahi pipinya.


"Anda kenal dengan gadis ini kan?"


"Anda tidak kenal?" tanya Devan yang kini menatap Abraham yang kini bungkam.


"Ini putri saya Tuan, ini putri saya yang Tuan ingin bunuh pada saat masih bayi," jelas Devan memberitahu membuat kedua mata Abraham terbelalak kaget.


Abraham tak menyangka jika gadis yang selalu membuatnya senang karena telah berhasil membuat Kasya tersenyum adalah bayi yang ingin ia bunuh dulu. Abraham tak menyangka jika gadis yang kini masih dirangkul oleh Devan adalah cucunya.


"Oh kenapa dengan wajah Anda? Anda sepertinya terkujut."


"Yang Anda tahu ini Cia kan? Tapi pernah kah  Anda penanyakan tentang nama lengkapnya?"


Abraham tetap terdiam, ia masih tak menyangka dengan hal ini.


"Ini Ashia Akanksha Alwiyora, a-l-w-i-y-o-r-a, Alwiyora wahai Tuan Abraham yang terhormat." 


"Apakah Anda tidak sadar jika di tengah-tengah nama lengkap Cia ada nama yang nyaris seperti nama Putri Tuan? Akanksha, Ksha ! Ksha yang berarti Kasya, Kasya Tuan," jelas Devan dengan nada tertekan.


"Sudah jelas?" tanya Devan sambil mengangkat sudut bibirnya.


"Anda meminta saya untuk memberikan izin kepada Cia hanya untuk merawat Putri Tuan Abraham yang bernama bidadari itu?"