
Devan menghembuskan nafas panjang dan begitu sangat berat, kali ini rasanya dadanya sakit melihat bengkel ini terbakar dan dihancurkan oleh api yang berkobar dengan ganasnya. Devan tak mampu untuk menerima kenyataan pahit jika bengkel yang telah ia dirikan dengan susah payah harus hancur dengan begitu mudahnya.
Tubuh Devan gemetar dengan tenaganya yang kini berangsur habis hingga kini air mata Devan benar-benar tumpah ruah membasahi pipinya yang panas karena sengatan panas kobaran api yang masih menghancurkan bengkelnya. Devan menjatuhkan tubuhnya hingga ia berlutut di jalan beraspal yang kasar, ini sulit membuatnya berdiri.
Pandangan Devan samar-samar menatap kobaran api yang masih melahap bengkelnya dengan ganas. Entah mengapa cobaan ini harus ia hadapi.
Bom!!!
Suara ledakan kembali terdengar membuat Devan melepaskan tangisannya. Setelah sekian lama ia tak menangis kini Devan kembali menangis seperti sosok Anak kecil yang kehilangan sosok yang sangat ia sayangi.
Begitu banyak cobaan yang Tuhan berikan kepadanya. Baru beberapa hari ia kehilangan Mamanya, Cia yang nyaris dirusak oleh musuhnya dan sekarang bengkel, bengkel yang merupakan tempatnya mencari nafkah kini juga lenyap.
Devan mengangkat pandangannya menatap kobaran api yang telah merobohkan semuanya. Bahkan Devan tak dapat melihat lagi bangunan bengkel itu yang dulu berdiri dengan kokoh.
Semua barang-barang bengkel yang ada di dalam sana, semua pasti telah hangus terbakar. Motor Dokter Yusuf, motor miliknya, peralatan bengkel dan masih banyak lagi bahkan uang pendapatan bengkel untuk hari ini ada di dalam sana. Yah Yuang sudah berniat untuk menyerahkannya kepada ia tapi Devan menyuruh Yuang untuk menyimpannya di laci bengkel ruangannya yang berada di dalam bengkel.
"Siram!!!"
"Siram!!!"
"Kesana!!!"
"Api nya semakin membesar!!!"
"Telfon pemadam lagi!!!"
"Bawa embernya kesini!!"
"Siram!!!"
Suara kepanikan itu masih terdengar dengan puluhan orang yang berlarian berusaha mematikan api yang berkobar itu.
Devan terdiam sejenak berusaha untuk memikirkan tentang penyebab kebakaran ini. Seingatnya ia sudah menyiram api yang di gunakan untuk membakar ikan tapi entah dari mana api yang masih berkobar ini berasal hingga meluluh lantakkan bengkel dengan ganasnya.
"Ayaaaaaah!!!" teriak Cia sembari berlari ke arah Devan yang masih berlutut di hadapan bengkelnya yang terbakar.
Devan menoleh menatap Cia yang segera menghampirinya dan memeluknya sambil menangis. Devan tahu jika putrinya itu sedang syok karena kebakaran yang masih berlangsung ini telah membangunkannya.
"Yah ke...ke...kenapa? Kenapa bengkel Ayah terbakar?" tanya Cia cepat dengan raut wajah gelisahnya.
Ternyata ini penyebab dari keributan yang telah berhasil membuat Cia terbangun dari tidur lelapnya.
Cia menoleh menatap kobaran api yang menyala itu. Terlihat sangat menyeramkan.
"Ayah kenapa bisa bengkel kita terbakar?" tanya Cia sambil mengguncang kedua lengan Devan yang kini telah melepas pelukannya.
Devan menggeleng pelan, ia bahkan tak tahu mengapa bengkelnya itu bisa terbakar seperti ini. Ini bagaikan sebuah banjir di Padang pasir yang kekeringan, sangat tidak mungkin terjadi.
"Ayah, kenapa tidak telfon pemadam?"
Devan hanya terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Ayah ayo telfon pemadam!!!" teriak Cia sambil mengguncang bahu Devan.
Devan menggelengkan kepalanya dengan perlahan membuat Cia terdiam heran, ia cukup terkejut dengan penolakan ini.
"Kenapa? Kenapa Ayah tidak mau telfon pemadam?"
"Ayah harus telfon pemadam! Harus!!!" teriak Cia sambil mengngguncang bahu Devan.
"Ayo! Ayah cepat!!!" teriak Cia sambil sesekali menoleh ke arah bengkel yang masih terbakar.
"Ayo Ayah cepat!!!" teriak Cia lagin
"Cia!!!" teriak Devan membuat Cia tersentak kaget, ia sangat terkujut dengan teriakan itu.
"Sudah terlambat. Pemadam kebakaran tidak akan datang," ujar Devan dengan nada suaranya yang berangsur melemah.
"Ayah sudah coba tapi mereka tidak bisa dihubungi bahkan tadi telpon Ayah tidak diangkat oleh mereka," jelas Devan dengan kedua matanya yang kini telah merah karena tangisan.
Cia menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan hal ini.
"Loh nggak boleh gitu dong, pemadam kebakaran harus ada dan mengangkat telfon," ujar Cia.
Cia kini bangkit lalu berlari entah kemana meninggalkan Devan yang kini hanya terdiam. Rasanya tak ada lagi harapannya untuk menyelamatkan bengkel.
"Ayah, cepat telfon pemadam!!!" teriak Cia yang kini masih berlari menghampiri Devan yang kini menoleh menatap Cia yang berlari sambil membawa handphone di tangannya.
Cia berlutut sambil menjulurkan Handphonenya ke arah Devan yang kini masih terdiam.
"Ayo cepat Ayah!"
"Untuk apa?"
Kedua alis Cia yang berkerut itu kini kembali ke posisi semulanya dengan ekspresi tak
menyangka setelah mendengar apa yang Devan katakan.
"Ayah, bengkel sekarang terbakar dan Ayah masih bisa bertanya? Ayo cepat telfon pemadam!!!" teriak Cia setengah menangis dengan handphone yang ia julukan dengan tangan gemetarnya.
"Dia nggak bakalan ngangkat Cia," ujar Devan.
Cia menggeleng cepat, ia tak percaya dengan hal itu. Dengan cepat Cia kini menekan handphonenya dan meletakkannya ke telinga berharap tim pemadam kebakaran segera mengangkat telfonnya.
"Ayo tolong angkat!" harap Cia sambil mengigit bibir bawahnya.
Tak dia angkat membuat Cia kembali menelfonnya dengan tubuhnya yang kini telah berkeringat. Cia mampu merasakan tubuhnya mengigil karena ketakutan.
Cia mendecapkan bibirnya saat telfonnya tak kunjung diangkat.
"Kenapa? Kenapa tidak diangkat?"
Cia melepaskan tangisannya lalu dengan cepat ia menghentikannya lalu kembali menghubungi pemadam kebakaran.
"Tidak diangkat, Ayah!" adu Cia yang kini berlutut di hadapan Devan yang kini mengangguk sambil menangis.
"Maafin Cia," ujar Cia lalu memeluk Devan yang meledakkan tangisannya.
"Tapi kenapa mereka tidak mengangkat telfon kita?" tanya Cia membuat Devan menggeleng, ia pun tak tahu mengapa tim pemadam kebakaran tidak mengangkat telfon.
...___***___...
Kini dengan perlahan cahaya matahari mulai terbit memancarkan sinarnya menyinari bengkel dan tubuh Devan dan Cia. Devan dan Cia kini terpatung meratapi bengkel yang kini telah rata setelah dilalap si jago merah. Bengkel yang telah menjadi penghasilan Devan kini sudah hancur tak ada yang tersisa, semuanya sudah hangus dan tak ada lagi harapan.
Kini api telah padam dengan sendirinya, usaha para warga yang berusaha untuk memadamkan api itu hanya sia-sia hingga mereka semua kewalahan untuk memadamkan api. Para tim pemadam kebakaran pun tak kunjung berhasil dihubungi.
Orang-orang yang berlalu-lalang nampak terhenti dan ikut menatap serius ke arah bengkel yang terkenal sangat ramai itu. Mereka semua tak menyangka jika bengkel yang selalu mereka lihat kini sudah diratakan oleh api.
Devan melangkah mendekati sisa bengkelnya yang sudah hangus. Pandangan mata Devan yang samar karena terhalang air mata kini menatap seluruhnya, tak ada yang barang-barang yang tersisa di sini, semuanya hancur.
Devan kembali melirik ke segala arah hingga tatapannya terhenti menatap kerangka besi motor hangus yang kini sudah terbaring di atas rubuhhan tembok bengkel yang nampak masi berasap. Devan melangkahkan kakinya pelan melewati barang-barang hangus yang masih panas. Devan kenal dengan motor itu, motor merah jagoan milik Dokter Yusuf itu kini telah hancur.
Devan berlutut dengan segala rasa sakit di hatinya, meratapi sepeda motor peninggalan Dokter Yusuf. Jari-jari Devan kini menyentuh besi yang sudah hangus itu dengan jari-jarinya yang gemetar. Besi itu masih panas namun tak berhasil membuat Devan mengurungkan niatnya untuk tak menyentuh besi itu.
Rasanya sakit sekali, melihat bengkel yang dengan susah payah ia dirikan dimana berbagai kenangan cerita yang tersimpan bersama para montir-montir harus hilang dengan bencana seperti ini.
Devan mengigit bibir, berusaha menahan bibirnya agar tak mengeluarkan suara tangisan di hadapan orang-orang yang kini sedang berkerumun bahkan ada beberapa orang yang sedari tadi memotret hasil kebakaran ini.
Devan tertunduk dengan bahunya yang terlihat gemetar hebat, air matanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya. Bau hangus tercium di mana-mana.
Devan bangkit lalu segera menoleh menatap para montir serta Cia yang nampak berdiri di sana. Mereka, para montir nampaknya baru tahu jika bengkel dimana tempat para montir bekerja sudah hangus terbakar bahkan mereka telah menggunakan pakaian kerja seperti biasa disetiap pagi.