
"Kenapa ?" Tanya Cia serius sembari menatap punggung Devan yang kini menghentikan langkahnya.
"Kenapa Lo selalu ngehindar kalau, gue tanya tentang mama ?"
"Gue cuman pengen tau siapa Mamanya, Cia."
Devan masih terdiam di sana tak menolehkan kepalanya. Cia tau Devan masih mendengar ujarannya.
"Gue harap Lo bisa ngerti ! Cia cuman pengen tau siapa Mamanya, Cia."
"Karena, Cia nggak pernah liat muka Mama bahkan namanya ajah Cia nggak tau," Ujar Cia lagi.
Dengan pelan Devan menoleh tapi, tak menatap wajah Cia melainkan Devan nampak tertunduk seakan tak berani menatap ke arah wajah Cia. Devan menghembuskan nafas panjang dari bibirnya tak tau harus mengatakan apa.
Devan membalikan tubuhnya lagi membelakangi Cia dengan cepat lalu melangkah pergi tanpa mengatakan sepatakata pun.
Cia terdiam menatap kepergian Devan, lagi-lagi pertanyaannya tak lagi terjawabkan.
..._____******_____...
Adelio menyikat tas hitam milik gadis pemarah itu dengan keras, busa sabun yang memutih nampak menyelimuti permukaan tas tersebut. Beberapa kali Adelio menyiram tas tersebut yang nampak megeluarkan semua kotoran yang mencoklat. Entah berapa lama perempuan pemarah itu tak mencuci tasnya. Adelio tak tau mengapa ia membawa tas perempuan itu ke rumah dan mencucinya. Jujur saja Adelio tak tega meninggalkan tas itu di kelas sendirian, Adelio juga tak mau jika tas itu hilang diambil orang. Sebenarnya Adelio telah menunggu perempuan pemarah itu sejam lebih di kelas namun, dia tak kunjung datang.
"Adelio !" Tegur Julia.
Adelio yang terkejut mendengar teguran ibunya menoleh cepat lalu menyembunyikan tas tersebut di balik tubuhnya.
"Ngapain disitu, nak ?"
"A...a... anu, Bu sa...sa...saya...," Jawabnya terbata-bata. Adelio tak tau apa yang akan ibunya katakan nanti jika, tau dia mencuci tas seorang gadis yang ia ambil dari kelas.
Julia melirik sesuatu yang Adelio nampak sembunyikan dari balik tubuhnya. Julia tau betul jika, ada sesuatu yang Adelio sembunyikan darinya ditambah lagi kegugupan yang Adelio tunjukkan.
Julia tersenyum menggeleng pelan lalu melangkah keseblah kiri menatap keranjang yang tak jauh dari Adelio. Adelio menggeser tubuhnya berusaha menyembunyikan tas itu yang berada di belakangnya sambil terus menatap ibunya.
"Kenapa sih, nak ?"
Adelio menggeleng cepat.
Julia kembali tersenyum lalu meletakkan cucian kotor di keranjang merah berisi cucian kotor.
"ibu mau apa ?"
"Cuci baju memangnya kenapa ?"
Adelio terdiam mendengar jawaban ibunya itu jika, ibunya tetap di sini maka ibunya pasti akan melihat tas yang dia cuci dan Adelio tak mau itu terjadi.
"Jangan, Bu !"
Julia terdiam menatap heran pada tingkah Adelio.
"Maksudnya biar Adelio saja yang cuci i... i...ibu istirahat saja !"
"Loh tapi, kan ?"
"Biar Adelio yang cuci, Bu."
Julia mengerutkan alisnya tak mengerti dengan Adelio yang tiba-tiba ingin mencuci pakaian. Entah apa yang Adelio pikirkan sekarang ini. Julia mengangguk lalu tersenyum manis walaupun ia masih bingung dengan tingkah Adelio.
"Ok, kalau begitu," putusnya.
Adelio mengaguk cepat menatap ibunya yang kini mulai melangkah pelan dengan tatapan yang masi bingung..
15 menit kemudian....
Adelio berlari menuju balkon sambil menggenggam erat tas hitam yang Adelio cuci, tetesan air nampak bercucuran dari tas hitam tersebut membuat lantai rumah nampak basah meninggalkan jejak panjang yang telah Adelio lintasi. Tas itu dengan kuat Adelio peras dan menggantungnya di jemuran besi berwarna putih. Adelio melangkah mundur ketika tas itu sudah terjemur, semoga saja tas itu kering sebelum pagi.
...____****_____...
Suara kicauan burung terdengar diatas ranting bunga tabebuya yang berwarna pink yang nampak lebih mirip dengan bunga sakura.
Beberapa helai daun berjatuhan ketanah ketika angin menghembus ranting pohon itu. Pagi yang tadinya masih gelap kini secara perlahan nampak cerah diterpa sinar matahari.
Adelio menghempas handphonenya ketika chat darinya tak kunjung dibalas oleh Harni, kekasihnya yang ada di Makassar. Adelio tau jika ia salah karena telah meninggalkan Harni tapi, Adelio sudah berjanji untuk kembali ke Makassar. Adelio tak tau mengapa sikap Harni berubah padahal dia sendiri yang telah mengisinkannya pergi walaupun sedikit terjadi penolakan dan terjadi perjanjian itu untuk tidak terlalu akrab atau bicara dengan perempuan yang ada di Jakarta tetapi, mengapa Harni tak membalas chat dan mengangkat telfon darinya.
"Adelio !" Suara Julia terdengar dari luar diiringi suara ketukan membuat Adelio tersadar dari lamunannya.
"Iya, Bu," sahut Adelio cepat.
"Sarapan nak !"
"Iya, Bu," sahut Adelio.
...____****____...
"Lo nggak tau, Ci gimana sakitnya gue di injek waktu malam itu, beh rasanya ah mantap !" Celoteh Haikal sambil mengendalikan laju motor yang melaju sedang di atas aspal.
Cia terdiam di belakang Haikal dengan mata memerah, masih mengantuk. Cia tak peduli dengan celotehan Haikal yang ia lontarkan selama perjalanan ke sekolah. Entah mengapa Haikal sangat suka menceritakan kejadian semalam sementara ia tak tertarik untuk mendengarnya.
"Ci !"
"Ciaaaa !!!" Teriak Haikal sambil menatap wajah Cia di kaca spion motor.
"Ah, apa, Kal ?" tanya cia cepat.
"Ehh, dari tadi diteriakin. Gue tanya tas Lo mana ?".
"Oh, itu di kelas" jawab Cia sambil menggosok matanya yang mengantuk.
"Lo kenapa, Ci ?"
"Ngantuk, gue."
"Oh, gitu." Haikal mengangguk.
Mereka terdiam tak ada lagi kalimat yang terlontar. Haikal melirik Cia lagi dari kaca spionnya. Mungkin, ini adalah kesempatan baginya untuk menanyakan tentang hubungan Cia dan Ceo. Haikal menarik nafas panjang lalu menghembuskan lewat ujung bibirnya berusaha untuk tenang.
"Ci !"
"Em," sahut Cia dengan malas.
"Gue mau nanya tapi, Lo jangan kasi tau bos Ceo, yah !".
"Em,"
"Sebenarnya Lo itu sama-".
"Depan situ, kal !" pintah Cia sembari menepuk bahu Haikal pelan ketika jarak motor dengan gerbang sekolah sudah dekat.
Haikal menghentikan motornya dengan pelan tepat di depan sekolah yang nampak sudah ramai. Cia melangkah Turung dari motor, merapikan baju putihnya lalu menatap Haikal yang nampak terdiam.
Nging !!! jam pertama segera di mulai seluruh siswa dan siswi sma garudah bangsa memasuki kelas masing-masing !!!
Suara tanda peringatan itu terdengar membuat Cia menghembuskan nafas lega. Kali ini dia tidak terlambat seperti biasanya.
"Kenapa, Kal ?"
"Ah, enggak !" Haikal menggeleng pelan.
"Tadi, gue denger Lo mau tanya sesuatu, sesuatu apa, Kal ?"
Haikal terdiam, apakah ia harus melanjutkan pertanyaannya kepada Cia tentang hubungannya dengan Ceo.
"Kal !"
"Yah, kenapa ?"
"Lo, tuh yang kenapa ?" Cia sedikit tertawa dengan wajah kebingungan.
"Ci." Haikal mengosok punggung lehernya yang hangat, rasanya ia ragu.
"Sebenarnya Lo sama Ceo itu hubungannya apa ?" tanya Haikal.
Senyum Cia menghilang derastis dari bibirnya setelah mendengar pertanyaan Haikal. Entah apa yang harus Cia katakan kepada Haikal yang kini masih menatapnya menanti jawaban darinya. Cia sudah berjanji kepada Devan untuk tidak memberi tau kepada orang bahwa Devan adalah Ayah kandungnya. Yah walaupun Cia sering menolak karena, tak mendapat alasan dari Devan yang jelas.
"Ci !"
Cia menatap wajah Haikal yang kini memanggil namanya, cia tersenyum ragu.
"Gue masuk dulu, yah." Cia berpaling lalu melangkahkan kakinya pelan.
Kini lagi-lagi pertanyaannya tak terjawab. Entah mengapa pertanyaan itu sangat susah untuk di jawab oleh Cia. Sebenarnya hubungan cia dengan Ceo itu apa ?
"Ci !!!" Teriak Haikal lagi menatap Cia yang tak menoleh sedikitpun.
"Entar gue jemput, yah ?!!"
Langkah Cia terhenti. Nika, Haikal menjemputnya lagi maka dia pasti akan menanyakan hal yang sama, jujur saja cia tak punya jawaban untuk itu.
"Nggak usah ! Entar gue pulangnya sama Fika !!!" teriak Cia lalu kembali melangkahkan kakinya tanpa menoleh menatap Haikal.