Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 138



Cia melangkah setengah berlari ke arah kamar Devan yang pintunya terlihat tertutup rapat.


"Devaan!!!" teriak Cia dan setelahnya Cia menghempas pintu cukup keras membuat Devan yang kini sedang duduk manis di atas kasurnya dengan cepat menoleh dan menatap Cia yang kini memasang wajah marahnya.


"Cia." Tatap Devan dengan senyuman.


"Lo semalam kemana?" tanya Cia tanpa basa-basi membuat Devan mengkerutkan alisnya tak mengerti.


Dengan nafas yang ngos-ngosan Cia melangkah mendekati Devan yang masih kebingungan.


"Lo semalam dimana?!!" tanya Cia namun kini ia berteriak membuat senyum Devan lenyap.


"Apaan sih? Baru datang udah marah-marah? Santai dong!" ujarnya tanpa dosa lalu kembali membuka layar handphonenya.


"Van!!! Gue mau lo jawab pertanyaan gue! Semalam lo dimana?" teriak Cia.


Devan kembali menoleh, menatap Cia sejenak dan kembali menunduk menatap layar handphonenya.


"Gue di bengkel," jawab Devan santai.


"Lo tuh masih bisa bohong yah?" ungkap Cia tak menyangka.


"Bohong? Bohong apa sih?" tanya Devan tak mengerti.


Tiba-tiba wajah Devan yang semula tak menghawatirkan apa-apa berubah menjadi terkejut saat ia mengigit bahwa semalam ia memukul Adelio, yah teman Cia. Apa Cia tahu bahwa ia telah memukul Adelio tadi malam?


"Van, lo nggak usah bohong sama gue!!!"


Devan kini terdiam, kali ini ia tak menjawab.


"Lo semalam dimana?!!" teriak Cia.


"Gue di bengkel!!!" teriak Devan yang kini telah bangkit dari duduknya.


"Lo nggak usah bohong sama gue!!!"


"Siapa yang bohong?!!" tanya Devan.


"Lo bohong!!! Lo kenapa pukul Adelio?!! Hah?!! Kenapa?!!" teriak Cia.


Devan kini terbelalak kaget, ternyata dugaannya benar. Cia ternyata telah tahu jika ia semalam telah memukul Adelio.


"Lo bener-bener yah? Kenapa lo pukul Adelio sampai mukanya bonyok kayak gitu?!!!" teriak Cia.


Devan tersenyum sinis setelah mendengar ujaran Cia, membuatnya melangkah kembali duduk ke kasurnya. "Oh ternyata dia nggak mati , gue kira mati tuh bocah," ujar Devan.


Mulut Cia terbuka seakan tak menyangka jika Devan akan mengatakan hal itu.


"Kok lo tega banget sih?" tanya Cia.


Devan tak menjawab, dia hanya sibuk dengan handphonenya.


"Van, kalau lo mau berantem dan mau cari lawan? Please! Jangan lawan Adelio! Dia bukan lawan lo," jelas Cia.


"Jadi semalam lo pergi dari kamar gue dan malam nyamperin Adelio dan lo mukul dia?"


"Iya," jawab Devan.


"Astaga, Van! Lo itu kenapa sih? Apa salah Adelio sampai lo mukul dia?!!" tanya Cia.


"Yah karena dia udah buat lo nangis dan gue nggak mau ada yang buat lo nangis," jawab Devan.


"Lo anak gue dan gue sama lo. Di dunia ini cuman lo dan Mama yang gue punya. Gue nggak mau ada yang buat lo nangis," jelas Devan.


"Gue sayang sama lo, Cia. Lo itu anak gue, satu-satunya harta yang gue punya di dunia ini yang paling berharga. Gue...gue nggak suka ada yang buat lo nangis maupun sedih. Siapapun yang buat lo nangis maka dia harus nangis bahkan setetes air mata yang keluar dari mata lo harus ditukar dengan darah," jelas Devan membuat wajah amarah Cia merendah. Sorot mata Cia yang tajam itu kini perlahan meredup.


Cia sadar jika ini semua karena Devan yang benar-benar menyayanginya.


"Cia minta maaf, tapi Cia nggak suka kalau Devan mukul Adelio," ujar Cia yang kini menunduk.


"Adelio orang baik dan bahkan setiap ada masalah Adelio selalu datang dan nolongin Cia."


"Cia harap, ini terakhir kalinya Devan mukul Adelio. Adelio nggak salah, yang salah Cia. Cia suka dan cemburu sama Adelio dan Fika tanpa mengetahui jika cinta tak mungkin dipaksa."


Cia melangkah keluar dari kamar Devan meninggalkan Devan yang kini terdiam menatap pintu kamar yang kini tertutup rapat.


Suara gesekan sendok yang bergeser di piring putih berisi nasi hangus buatan Devan terdengar di ruangan makan. Devan tak tahu mengapa setiap masakannya harus hangus seperti ini. Devan sadar jika ia tak punya bakat memasak.


Devan juga tak mungkin menyuruh Baby memasak makanan setiap hari. Devan lelah dengan sikap Baby yang selalu menjerit di dapurnya ketika terkena bercikan minyak yang lebih parah lagi jika Baby menyanyi, tikus pun tak berani untuk mendekati dapur karena suara cempreng Baby yang mampu memecahkan gendang telinga.


"Van," panggil Cia yang kini menarik kursi lalu duduk di samping Devan.


Kini Cia telah menganti seragam sekolahnya itu dengan kaus putih serta celana hitam sebatas paha itu. Kini niat Cia telah bulat untuk memberitahu apa yang pak Abraham sampaikan kepadanya. Cia harap Devan tak marah.


Devan melirik sesaat wajah Cia lalu terdiam sambil mengunyah nasinya itu dengan wajah datarnya. Masakannya tak enak.


"Van," panggil Cia lagi.


"Apa sih, Ci?" tanya Devan dengan wajah datarnya.


"Enggak," jawab Cia diiringi decapan dari bibirnya.


Rasanya suasana hati Ayahnya itu kurang mendukung, belum apa-apa saja Devan nampak terlihat murung dan berucap dengan wajah datarnya.


"Van," panggil Cia lagi.


"Apa sih?"


"Nggak!" jawab Cia menggelengkan kepala.


Devan mengkerutkan alisnya ketika kalimat singkat itu terlontar lagi dari mulut Cia. Devan menghentikan makanya lalu menatap Cia dengan tatapan sangat serius.


"Lo itu kenapa sih?"


"Yah gue kenapa? Gue nggak apa-apa," jawab Cia tanpa dosa.


"Cia, dari tadi lo manggiling nama gue terus ditanya malah jawabnya enggak, lo maunya apa sih?" tanya Devan kesal.


"Yah nggak ada," jawab Cia mengeleng lalu segera tersenyum.


Cia kini meraih toples berisi kerupuk udang dari meja lalu segara membukanya. Cia bingung, Cia tak tahu bagaimana menyampaikan hal ini kepada Devan. Cia kini hanya melamun sambil mengunyah karpuk udang itu, menghasilkan suara dari hancurnya kerupuk yang kini telah dikunyah di dalam mulut Cia.


"Van," panggil Cia lagi.


Devan mendecapkan bibirnya lalu segera menghentikan makannya, meletakan sendok besinya ke piring dan menatap Cia dengan tatapan malas.


"Nggak," jawab Cia lagi.


"Ahhh! Lo itu maunya apa sih? Lo mau tas baru lagi atau apa?"


"Nggak!" jawab Cia cepat.


"Yah terus lo maunya apa?"


"Apaan sih? Marah-marah mulu deh, Pms lo yah?"


"Apa?" Tatap Devan heran.


"Nggak!" jawab Cia lagi, lalu kembali mengunyah kerupuknya.


Kini suasana begitu hening, tak ada lagi diantara mereka yang bicara. Kini yang terdengar di ruang makan hanya gesekan dari piring dan sendok Devan.


"Van," panggil Cia lagi.


Devan menghela nafas ketika lagi dan lagi Cia memanggilnya. Devan rasanya sangat kesal dengan ucapan Cia yang sudah berulang kali memanggil namanya.


"Lo kenapa lagi?" tanya Devan kesal dengan nada tertekan.


"Nggak!" jawab Cia lagi.


"Aaaaaaa!!!" teriak Devan sambil menjambak rambutnya sendiri. Kini Devan benar-benar sangat kesal.


Cia mengkerutkan alisnya menatap heran dengan tindakan Devan yang kini mengeliat seperti orang yang kesakitan yang lebih parah lagi Devan menjambak rambutnya sendiri lalu berteriak.


"Lo gila?" tanya Cia.


Devan yang masih menjambak rambutnya sambil berteriak itu kini terdiam dan menatap Cia dengan tatapan ingin menangis.


"Lo yang gila Ashia akanksha. Kenapa gue harus punya anak yang nyebelin kayak lo?!!" teriak Devan.