Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 181



Cia terdiam sambil memasang dasi sekolahnya yang berwarna abu-abu dan menatap wajahnya di permukaan cermin. Kini ia telah siap untuk berangkat ke sekolah, sisa rambutnya saja yang belum diikat.


Cia menghembuskan nafas berat, tak ada Mamanya lagi yang akan mengikat rambutnya sebelum ia berangkat ke sekolah. Cia meraih pengikat rambutnya lalu mulai mengikat rambutnya dengan susah payah. Sebelumnya Cia tak pernah mengikat rambutnya.


"Astaga, Cia! Ini udah jam berapa? Ayah sudah dari tadi loh nunggu di luar," ujar Devan yang berdiri di pintu masuk dengan helm yang sudah terpasang di kepalanya sambil menunjuk ke arah luar.


Cia menghembuskan nafas berat, Devan kembali mengoceh lagi dan lagi persis seperti Ibu-Ibu kompleks.


"Cia tahu tapi rambut Cia belum-"


"Sini!" potong Devan sambil merampas sisir dan ikat rambut dari tangan Cia lalu segera mengikat rambut Cia dengan lembut.


"Nah udah," ujar Devan sambil mengelus rambut Cia dengan lembut dan tersenyum sangat bahagia.


Cia menyentuh pelan kepalanya dengan mata yang terbelalak saat ia mengetahui Devan mengikat rambutnya seperti tanduk persis ikatan rambut Anak TK.


"Loh kok kayak gini?" kesal Cia yang kini menatap Devan yang terlihat tersenyum begitu bahagia.


"Jangan disentuh! Nanti berantakan," larang Devan lalu menarik tangan Cia agar tak menyentuh rambutnya yang sudah terikat itu.


"Ini jelek," kesal Cia lalu kembali menyentuh rambutnya.


Senyum Devan kini lenyap dari bibirnya saat mendengar ujaran Cia membuat wajah Devan menjadi datar dan terlihat menyeramkan.


"Kamu bilang jelek Ayah cubit kamu yah!" ancam Devan sambil menunjuk Cia dengan sisir.


Cia menelan ludah. Entah mengapa Devan sangat serius kali ini. Kemana Devan yang selalu mengajaknya bercanda?


"Tapi kan-"


"Apa?" tanya Devan membuat Cia menghentikan ujarannya.


"Ini itu cantik, Cia," ujar Devan sambil mengelus rambut Cia.


"Cantik apaan? Rambut Cia kayak tanduk kerbau," cerocos Cia.


"Loh kok kerbau? Ini itu bukan tanduk kerbau tapi tanduk sapi."


"Sama aja," kesal Cia yang hampir menangis.


"Terus mau apa? Mau diubah? Ini udah jam berapa Cia? Nanti kamu telat. Ayah nggak mau yah kamu telat terus dihukum," cerocos Devan.


"Tapi-"


"Em punya mulut ngebanta terus," kesal Devan lalu memukul pelan bibir Cia dengan sisir.


"Ayo kita berangkat!" ajak Devan lalu tersenyum.


Devan yang masih tersenyum itu kini meraih tas dari atas lemari belajar Cia dan segera memakaikannya ke tubuh Cia. Lagi-lagi Devan bersifat sepeti sesosok Ibu yang tengah membatu Anak perempuannya untuk berangkat ke sekolah.


Sementara di sisi lain kini membuat Cia terasa tertekan dengan wajah polosnya yang membiarkan Devan memakaikan tas ke tubuhnya.


"Ayo!" ajak Devan singkat lalu meraih pergelangan tangan Cia dan menariknya keluar dari rumah. Cia hanya mengikut, mau apa lagi. Devan akan mengoceh jika tak dituruti.


Devan menghentikan langkah tepat di hadapan motornya yang kini telah terparkir sementara Cia kini terlihat terdiam dengan wajah kesalnya pada hasil ikat rambut Devan. Cia tak siap jika semua orang-orang di sekolah menertawainya karena rambutnya yang seperti ini.


Harus apa lagi sekarang? Bahkan Devan tak mengijinkannya untuk menyentuh rambutnya sedikitpun.


"Selamat pagi Mas Ceoo," sapa Neng Mita yang kini tersenyum di depan pagar.


Devan dan Cia kini menoleh secara bersamaan menatap Neng Mita yang masih tersenyum. Cia mendecapkan bibirnya seakan tak senang jika ada Mita si janda kecentilan itu.


"Heh!!!" teriak Cia sambil menopang pinggang membuat Neng Mita menoleh menatap Cia dari ujung kaki dan berakhir ke ujung rambut ikat tanduk Cia.


"Ahahahaha, rambutnya kok kayak gitu jelek banget deh kek Anak kecil aja," jerit Neng Mita lalu kembali tertawa.


Cia yang memasang wajah sangar itu kini menciut setelah Neng Mita membahas tentang model rambutnya.


"Tuh kan jelek," kesal Cia menatap Devan.


"Dah matanya tuh yang rusak," ujar Devan lalu memasang helm hitam ke kepala Cia.


Devan kini menaiki motor dan menyalakannya tanpa memperdulikan ujaran Neng Mita.


"Mau kemana sih?" tanya Neng Mita yang berada di luar pagar.


"Mau ngantar Anak saya," ujar Devan membuat Cia dan Neng Mita terbelalak secara bersamaan.


"Apa?" kaget Neng Mita.


"Anak yang mana?" tanya Neng Mita.


"Lah ini." Sentuh Devan pada bahu Cia dan menepuknya pelan membuat kedua mata Cia semakin terbelalak kaget, Cia tak menyangka jika Devan akan mengatakan ini di hadapan Neng Mita yang masih melongo.


"Ini?" Tunjuk Neng Mita ke arah Cia.


"Loh iya dong, Cia," panggil Devan membuat Cia menoleh.


Neng Mita membuka mulutnya karena terkejut dan menutupnya dengan jari-jari tangannya. Neng Mita sangat terkejut dengan apa yang Cia katakan ketika Cia memanggil Devan dengan sebutan Ayah.


"Bilang hay!" pintah Devan sambil melambaikan jari-jari tangannya ke arah Neng Mita.


Cia melongo saat mendengar apa yang Devan pintahkan kepadanya.


"Ayo!" suruh Devan lagi.


"Ha...ha...hay," sapa Cia dengan ragu.


"Udah! Udah! Cepetan naik! Nanti kamu terlambat," suruh Devan.


Cia kini mengangguk lalu segera naik ke atas jok motor sembari tatapannya yang menatap serius ke arah Neng Mita yang masih terbelalak karena terkejut.


Piiiiip


Devan membunyikan klakson motor membuat Cia dan Neng Mita terperanjat kaget secara bersamaan.


"Bisa tolong buka pagarnya?!" ujar Devan.


Neng Mita mengangguk lalu dengan cepat membuka pagar membiarkan motor yang dilajukan Devan keluar dari pekarangan rumah dan melaju meninggalkan Neng Mita yang masih terbelalak kaget.


"Kalau Cia beneran Anak Mas Ceo terus kalau Neng nikah sama Mas Ceo berarti Cia jadi Anak Neng tiri Neng Mita dong. Berarti Neng punya Anak yang galak kayak Cia. Aduuuh!!! Makin menderita hidup Eneng!!!" jerit Neng Mita lalu berlari membuat para pengendara melongo menatap aneh pada Neng Mita yang masih berlari di pinggir jalan beraspal.


...___***___...


Motor yang melaju itu kini berhenti tepat di pinggir jalan yang berada di depan gerbang sekolah. Para siswa dan siswi nampak berdatangan ke sekolah dengan kendaraannya bahkan ada beberapa yang diantar ke sekolah mengunakan kendaraan pribadinya.


Cia melangkah turun dari motor dan melepas helm dari kepalanya membuat Cia merapikan sedikit rambut model tanduknya yang sedikit berantakan.


"Aduh, itu berantakan Cia," kesal Devan lalu mengeluarkan sisir dari jaketnya dan menyisir rambut Cia yang kini mulai rapi.


Devan tersenyum sambil meraih helm dari tangan Cia dan mengantungnya di siku tangannya. Semua para orang kini terbelalak kaget menatap apa yang dilakukan oleh Devan kepada Cia.


Cia terdiam sambil menghentak-hentakkan ujung sepatunya yang ia gunakan sementara Devan masih tersenyum menatap Cia seperti Anak kecil.


"Oh iya hampir lupa," ujar Devan lalu menjulurkan sebuah bekal berwarna pink ke arah Cia yang kini terbelalak.


"Ini apa?" tanya Cia, kaget.


"Bekal," ujar Devan singkat.


"Yah buat apa?"


"Buat makan."


"Ih Cia kan bukan Anak kecil lagi yang harus bawa bekal," kesal Cia sambil mendorong bekal itu.


"Loh nggak boleh kayak gitu dong, kamu harus ambil bekal ini! Kamu jangan jajan sembarangan nanti sakit perut!"


"Ih bawel banget deh, biasanya dia juga yang selalu ngajak makanan sembarangan," kesal Cia lalu meraih kotak makan itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Awas tumpah!"


Cia menghela nafas lalu menatap Devan yang kini masih tersenyum menatapnya. Kini senyum Cia tercipta setelah memikirkan sesuatu mengenai hari ini.


"Kenapa?" tanya Devan.


"Emmm, Lo eh maksud A...Ayah...Ayah nggak mau gitu ngajak Cia bolos sekolah?" tanya Cia sambil tersenyum paling manis.


"Bolos?" tanya Devan sambil mengkerutkan alisnya.


Cia mengangguk walau sebenarnya ia ragu untuk mengatakan hal itu. Tapi Cia harap agar Devan mau mengajaknya bolos kali ini, lagipula yang selalu mengajaknya bolos yah Devan bukan Cia. 


"Nggak!" tolak Devan cepat.


"Ah?" Tatap Cia tak percaya dengan penolakan ini.


"Loh kenapa?" tanya Cia lagi.


"Cia, denger Ayah! Uang sekolah kamu persemester itu lima ratus ribu jadi kalau kamu bolos satu hari itu sama saja kamu merugikan diri sendiri dan juga Ayah."


"Ini pakai uang Cia," tambah Devan.


Lagi-lagi Cia dibuat melongo dengan ucapan Devan yang sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya. Oh Tuhan ini bukan Devan yang biasanya.


Cia menghempaskan kedua kakinya kesal dengan sikap Devan. Cia memutar tubuhnya lalu melangkah tanpa sepata kata pun kepada Devan.


"Loh Cia!!!" panggil Devan namun tak berhasil membuat Cia menghentikan langkahnya.


"Cia!!!" panggil Devan lagi namun tak berhasil membuat Cia menghentikan langkahnya.


"Cia Anak Ayah!!!" Teriak Devan.


Langkah Cia terhenti secara tiba-tiba dengan kedua matanya yang terbelalak setelah teriakan Devan terdengar cukup keras dari belakang sana.