
Cia melepas seragam sekolahnya itu lalu menggantung pelan di gantungan baju hingga menyisakan tank top berwana biru yang sekarang melekat di tubuh langsing Cia.
Pintu kamar Cia terbuka membuat Cia menoleh menatap Devan yang nampak berdiri sambil memegang ganggang pintu kamarnya.
"Ci!" panggil Devan.
"Apa?" Jawab Cia cepat.
"Tadi lo di antar pulang sama siapa?"
"Siapa?"
"Gue tadi liat kok ada yang antar lo."
Cia melangkah tak memperdulikan pertanyaan Devan. Devan melangkah mundur ketika Cia melangkah melintasi tubuhnya seakan tak peduli dengannya.
"Siapa Ci?" Tanya Devan lagi sambil mengikuti langkah Cia yang melangkah ke arah dapur.
"Temen."
"Temen apa demen?"
Cia yang mendengar ucapan Devan mulai menghentikan langkahnya yang sudah dekat dengan meja makan itu.
"Yah, temen lah, Terus apa lagi?" ujarnya tanpa menoleh.
Cia kembali melangkah hingga berhasil menggapai piring putih di lemari dan mengambil nasi di panci.
"Kok bisa diantar?"
Cia duduk di kursi meletakkan piring putih itu lalu menatap Devan yang masih menanti jawaban darinya.
"Ini nggak ada lauk?" tanya Cia menatap Devan serius.
Devan mendecapkan bibirnya lalu duduk di kursi berhadapan dengan Cia yang masih menatapnya serius.
"Di lemari ada telur goreng," jawabnya.
Cia kembali bangkit dari kursi, membuka lemari lebar-lebar lalu meraih piring berisi telur goreng kuah asam yang Fatima masak pagi tadi.
"Ci!"
Cia menoleh menatap Devan lagi ketika sudah duduk di kursi. Cia masih terdiam sambil menyirami nasi putihnya dengan kuah asam itu.
"Apa sih?"
"Kok, bisa dibonceng? Terus ini masih jam 12 loh, belum waktunya Lo pulang?"
Cia mengunyah nasi yang berada di mulutnya itu dengan cepat seakan tak berselera untuk menjawab pertanyaan Devan.
"Cia!" Fatima melangkah masuk ke dapur menatap Cia dan Devan yang duduk berhadapan.
"Ci, tas kamu mana?"
"Hilang," jawab cia santai.
"Loh, kok bisa hilang?"
"Nggak tau. Ayah ambillin kecap!"
Devan mendecapkan bibirnya mendapati perintah dari putrinya itu. Dengan malas ia meraih botol kecap yang tak jauh darinya lalu menjulurkannya ke Cia. Cia tersenyum menyambut botol kecap itu dengan tangannya.
"Tadi waktu Cia ke sekolah tas cia udah nggak ada," jelas Cia.
"Kok, bisa?" tanya Devan lebih agresif.
"Nggak tau." kembali mengunyah.
"Ma, tadi si Cia diantar pulang sama pacarnya," ujar Devan asal-asalan.
Mata Cia terbelalak mendengar perkataan Devan yang Cia sama sekali tidak menduga jika, Devan akan mengira Adelio adalah pacarnya.
"Yang bener, ci?" tanya Fatima.
"Nggak itu semua bohong!" Bantah Cia cepat sebelum Fatima salah paham.
"Terus kenapa diboncegin pulang?" Devan mengangkat kedua alisnya.
"Yah, bagus dong, Van jadi, kan ada yang jagain Cia di sekolah," jelas Fatima.
"Emang, Cia boleh pacaran?"
"Nggak! Nggak boleh!".
"Kenapa? Ma, aku boleh pacaran nggak?" Menatap Fatima serius.
"Boleh."
"Tuh, kan boleh."
"Nggak ! Nggak boleh!"
"Biarin ajah, devan!" Suara Fatima terdengar lembut.
"Emangnya gue nggak bisa ngejagain lo? Nggak mesti pacaran sama cowok kan biar ada yang jaga?!!"
"lagian kita nggak tau isi otaknya cowok," sambung Devan.
"Lo emangnya-" ucapan Cia terhenti menatap Fatima yang masih menatapnya. jika, Fatima mendengar Cia memanggil Devan dengan sebutan Lo pasti Fatima mengoceh lagi.
"Emm, Ayah emangnya bukan cowok? Terus emang dipikiran cowok apa?"
Devan terdiam tak tau harus mengatakan apa kepada Cia.
"Emangnya siapa yang pacaran, sih?"
"Tuh, cowok yang tadi siapa?"
Cia menghela nafas panjang, bangkit dari kursi lalu meletakkan piring kotor dan gelas ke wastafel .
"Namanya Adelio, murid pindahan dari Makassar," ujar Cia.
"Jadi, udah dua hari si Fika nggak ke sekolah, makanya Cia datengin ke rumahnya dan ternyata Fika sakit dan berobat di sukabumi," jelasnya.
"Terus dibonceng sama adelao?"
Cia mengkerutkan alisnya tak mengerti dengan nama yang Devan barusan sebut.
"Adelao siapa?"
"Loh, itu yang tadi?"
"Adelio, Ayaaaaah!!!" Cia melangkah masuk ke dalam WC dan menutup pintunya rapat.
Fatima tersenyum lesuh di kursi meja makan. Wajahnyapun nampak pucat tak seperti biasanya.
"Devan beliin Mama obat, yah di apotik!"
"Emang, Mama kenapa?"
"Mama demam."
"Tas juga!!!" teriak Cia berlari keluar dari toilet.
"Di apotik nggak ada tas !"
"Ih, nggak peka banget sih, maksud Cia beliin Cia tas yang baru," Jelasnya.
"Iya, besok."
Devan melangkah keluar dari dapur membuat Cia berlari mengejar kepergian Devan.
"Sekarang !" tegas Cia yang sudah ada di hadapan Devan yang tak menghentikan langkahnya. Cia menatap Devan dengan senyuman penuh harap sambil melangkahkan kakinya mundur.
"Besok ajah, Ci!"
"Sekarang, gue maunya sekarang!"
"Gue banyak urusan di bengkel," ujar Devan terus melangkah.
Cia menghentikan langkahnya dengan wajah cemberut. Dengan cepat cia menarik lengan Devan membuat langkah Devan terhenti.
"Terus montir-montir bego itu kerjanya apaan?"
"Besok ajah, Ci!"
"Sekarang! pokoknya sekarang! Cia mau sekarang!!!" teriak Cia sembari menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang tengah mengamuk.
Devan menghela nafas berat. Anaknya ini memang keras kepala. Jika, seperti ini Cia akan terus memaksanya tanpa henti walau telah diberi tahu.
"Ok, kita beli tas baru."
"Hah? Yang bener?" tanya Cia dengan kedua matanya yang terbelalak kaget.
"Em, iya," jawab Devan dengan wajah putus asahnya.
"Yey !!! kita beli tasnya di brahmana, yah?"
"Aa?" Alis Devan mengkerut heran mendengar hal itu.
"Iya, kata Mamat ada tempat belanja yang baru buka satu Minggu yang lalu. Cia pernah lewat depan Brahmana dan gede banget, loh itu."
"Kenapa harus di sana sih, Cia? Kenapa nggak di pasar ajah?"
"Di pasar jelek nanti tas Cia hilang lagi!"
"Itu mah, Lo ajah yang ngilangin."
Dengan malas Devan melepas pegangan tangan Cia lalu kembali melangkah meninggalkan Cia yang kembali mengejarnya.
"Jadi, kita beli tasnya di Brahmana, yah?"
Devan terdiam di hadapan Cia yang nampak tersenyum manis, senyum tulus ini yang Devan selalu lihat ketika Cia meminta sesuatu kepadanya. Devan ikut tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan, mengiyakan kemauan Cia.
"Yes!!! Kita pergi beli tas baru!!!" Cia tersenyum dengan sorakannya sambil melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil yang akan bawa jalan-jalan oleh Ayahnya.
"Tapi, mandi dulu!"
Lompatan Cia terhenti lalu menatap Devan yang dengan wajah melongo.
"Apa?"
"Mandi!"
"Nggak usah, ah!"
"Ah, gue nggak mau bonceng orang bau! Entar kalau naik motor terus baunya ketiup angin terus nyebar ke mana-mana?"
Cia yang mendengar ujaran Devan dengan cepat mendekatkan hidungnya ke ketiaknya lalu menatap Devan yang kini telah melangkah pergi.
"Tai idung, Lo ajah tuh yang bau!!!" teriak Cia.
"Sepuluh menit!!!" Teriak Devan membuat Cia membulatkan kedua matanya terkejut.