
"Ayah." Suara kecilnya terucap dengan tatapan tak menyangka. Tak menuggu waktu lama Cia segera berlari menuju Devan serta kerumunan itu.
"Ayah?" Tatap Fika kebingungan setelah berhasil mendengar ucapan Cia.
Fika begitu sangat bingung kepada ucapan Cia yang menyebut pria itu dengan sebutan Ayah. Pria yang datang di acara Loli itu memang sangat tampan jadi tak heran jika gadis-gadis bersikap agresif.
Lari Cia cepat mendekati Devan yang kini masih berteriak meminta tolong sementara gerombolan gadis-gadis itu masih menjerit mengagumi wajah tampan Devan.
"Jangan sentuh pacar gue!!" teriak Cia cukup keras sambil berlari cukup kencang.
"Aaaaaaaaa!!!"
"Jangan sentuh!!!"
Gerombolan gadis-gadis yang masih mengerumuni Devan itu terdiam lalu menoleh setelah mendengar teriakan yang cukup keras di belakang sana.
Mereka semua terbelalak melihat Cia berlari dengan wajah yang cukup menyeramkan. Wajahnya nampak gagah yang diibaratkan seperti pahlawan yang akan menyelamatkan seseorang dari monster yang menyeramkan.
Devan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan seperti orang yang telah lari sejauh milyaran kilometer. Devan terdiam menatap ke sekelilingnya yang nampak terdiam, tak ada lagi teriakan agresif, tarikan bahkan kecupan di sana.
Devan mulai menggerakkan kepalanya ketika seorang gadis menghalangi pandangannya untuk menatap sesuatu yang berhasil menghentikan tingkah agresif gadis-gadis ini.
Devan belum tahu apa yang membuat mereka tiba-tiba jadi terdiam.
Senyum Devan membias indah menatap Cia yang kini masih berlari ke arahnya bahkan semakin mendekat. Putrinya itu kini menjadi seorang pahlawan yang siap untuk menolongnya.
Untuk pertama kalinya Devan bangga dengan Anak yang tidak ada gunanya itu dan sekarang Devan sadar jika Anaknya itu juga sedikit berguna. Cia datang di waktu yang tepat.
"Wohohoho!!!" Kagum Devan.
"Ayo Cia lari!!!" teriak Devan semangat membuat gadis-gadis itu mengerakkan kepalanya menatap Devan dengan wajah datar.
Devan yang masih tersenyum itu kini terdiam menatap gadis-gadis yang masih menatapnya dengan wajah yang amat menyeramkan. Devan mengigit bibirnya pelan lalu terdiam kaku, tak lagi tersenyum.
"Sorry," bisik Devan membuat semua gadis itu kembali menatap Cia.
"Ayo Cia!" bisik Devan lagi ketika gadis-gadis itu tak menatanya.
"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi berusaha mengumpulkan kekuatan dari tubuhnya yang sudah mulai kewalahan untuk menahan beban di tubuhnya yang kini masih memegang keresek berisi titipan itu.
Bruk
Tubuh Cia terhempas ke tanah cukup keras setelah kakinya tersandung oleh kakinya sendiri. Cia kini terbaring di tanah seperti seekor cicak yang menempel di dinding diiringi suasana yang nampak hening.
Fika memejamkan matanya seketika sambil meringis ketika ia menatap sahabatnya itu terhempas ke tanah cukup keras.
Sementara Adelio cukup terkejut di sana, rasanya Adelio ingin membantu gadis pemarah itu tetapi melihat pria yang dikerumunan itu adalah pacarnya Cia jadi Adelio mengurungkan niatnya untuk menolong gadis itu, ditambah lagi pria itu pernah mendorongnya cukup keras di saat Adelio berusaha melindungi Cia dari cup cake yang dilempar Loli.
Devan terbelalak menatap Cia yang kini sudah bertiarap di atas tanah, Cia bahkan tak bergerak sedikit pun setelah terjatuh. Apakah Cia pingsan di sana?
Para gerombolan gadis-gadis yang sedari tadi terdiam kini kembali berteriak sambil mengerumuni Devan yang kini kembali memberontak.
"Cia!!!" teriak Devan lagi.
Cia terbelalak ketika ia merasakan sesuatu yang hangat keluar dari hidungnya. Perlahan cia meraba bagian lubang hidungnya yang terasa basah.
"Hah!!!" Tatap Cia tak menyangka jika hidungnya telah mengeluarkan darah dan bahkan mengalir ke dagunya.
"Cia!!!" teriak Devan lagi.
Cia menoleh menatap Devan yang kini di perebutkan oleh gerombolan gadis-gadis yang kini masih menjerit.
Cia melotot sambil mengigit bibirnya dengan kesal. Bagaimana bisa ia jatuh dan mereka tak ada satu pun yang menolongnya. Mereka semua harus diberi pelajaran oleh Cia.
"Aaaaaaaa!!!" teriak Cia lagi lalu berlari.
Semuanya kembali menoleh menatap Cia yang lagi-lagi berlari dengan darah yang mengalir di hidungnya bahkan telah mengotori seragam putihnya yang telah kotor setelah Cia terjatuh tadi.
"Minggir lo!!!" teriak Cia memukul gadis-gadis itu dengan kresek hitam yang dipenuhi dengan titipan itu.
BRUK
Gadis-gadis itu terhempas satu persatu ke tanah ketika pukulan dengan beban berat itu menghantam tubuh mereka.
"Minggir lo semua!!!" teriak Cia penuh amarah dengan darah yang kini sudah berhenti mengaliri dari hidungnya.
Devan melongo bahkan matanya tak berkedip sama sekali menatap kagum dengan apa yang baru saja Cia lakukan kepada gadis-gadis itu.
"Cia! Cia! Cia!" Devan bersorak sambil menepuk kedua belah tangannya dengan senyum yang nampak bahagia.
"Ah Devan!!!" jerit salah satu dari mereka sambil mengeliat di bahu kiri devan.
"Ih apaan nih? Ciaaaa!!! Tolongin gue!!!" teriak Devan syok.
Cia dengan cepat menoleh menatap Ayahnya yang kini dipeluk oleh seorang gadis.
"Dasar menjijikan!" kesal Cia lalu mengerakkan kresek hitam itu dengan sekuat mungkin lalu menghempas tubuh gadis yang tak tahu malu itu, membuat gadis itu menabrak seorang gadis yang baru bangkit dari tanah dan kembali terhempas setelah ditabrak oleh gadis yang tak tahu malu itu.
"Van, nyalain motornya!!!" pinta Cia sambil menatap ke sekeliling gadis-gadis yang nampaknya berusaha bangkit dari tanah.
Devan mengangguk lalu menaiki motor merah milik dokter Yusuf dan segera mengstarternya dengan penuh kekuatan. Namun, sayang sekali motor merah nan butut itu tak kunjung menyala diiringi suara sentakan starter.
"Cepetan dong Van!!!" teriak Cia dengan raut wajah gelisah.
"Ayo cepetan!!!"
Devan dengan penuh kekuatan kini Devan menjerit berusaha mengeluarkan semua kekuatannya untuk membangkitkan mesin butut itu. Untuk pertama kalinya Devan menyesal telah memakai motor merah andalannya itu yang kini membuatnya sangat kesal, karena tak mau menyala. Jadi selama ini yang dikatakan Cia jika motornya itu terlalu butut dan jelek itu benar.
"Cepetan Van!!" teriak Cia lagi dengan wajahnya yang sangat gelisah sambil menatap gadis-gadis itu yang kini satu persatu mulai bangkit dari tanah sambil meringis sakit. Ternyata keresek hitam berisi titipan itu sangat keras dan berhasil membuat seluruh tubuh mereka terasa sakit.
Cia mengigit bibirnya kuat, tak tahu lagi harus berbuat apa agar gadis-gadis ini menjauh darinya dan Devan yang kini gelisah dan panik. Cia berfikir sejenak dan tanpa pikir panjang Cia meraih batu sebesar genggaman lalu mengancam gadis-gadis itu dengan tatapan yang dibuat sejahat mungkin.
"Sini lo maju!!!" teriak Cia dengan mata melotot.