
Cia mendecapkan bibirnya, lagi-lagi kalimat itu yang terlontar dari mulut Loli yang selalu tertuju untuknya. Loli tersenyum sinis lalu memutar tubuhnya melangkah pergi ke arah panggung.
Tuk Tuk Tuk
Suara pukulan dari jari telunjuk Loli yang menghantam pelan permukaan microphone yang terpasang di mic stand terdengar.
"Ehem, selamat malam para tamu undangan," sapa Loli membuat semua para tamu yang dari tadi sibuk dengan urusanya masing-masing langsung menatap Loli degan tatapan serius.
"Sekali lagi gue ucapkan selamat malam kepada para tamu undangan," ujar Loli lagi.
"Malam," ujar mereka kompak.
"Malam ini adalah acara ulang tahun gue yang ke tujuh belas tahun dan gue banyak ngucapin terimakasih kepada seluruh tamu undangan yang udah sempatin datang ke acara ulang tahun gue."
"Terima kasih kepada bapak dan ibu guru SMA Garuda bangsa yang telah menyempatkan hadir di acara ulang tahun saya." Tatap Loli ke arah guru-guru yang nampak duduk di sebuah meja khusus.
Hampir semua guru-guru SMA Garuda bangsa ada di acara ulang tahun Loli. Di malam ini telah ada Bu Nani, Bu Lia serta puluhan guru lainnya, tak ketinggalan juga Pak Yanto yang dari tadi tak berhenti menyantap hidangan yang ada.
"Untuk seluruh murid-murid SMA Garuda bangsa, kalian baca syarat pengumuman di mading kan?"
"Baca!!!" teriak mereka kompak.
Loli terseyum lalu mengangguk, percaya.
"Kalian tau nggak guys? Ada satu orang yang datang ke acara ulang tahun gue dan dia nggak bawa pacar." senyum sinis Loli terlihat sambil menatap tajam ke arah Cia.
"Siapa?"
"Siapa?"
"Siapa, yah kira-kira?" bisik mereka sambil menatap ke satu sama lain.
Cia mengigit bibir bawahnya pelan, kini orang yang di maksud Loli itu pasti adalah dirinya, yah siapa lagi.
"Kalian tau nggak? Dia bilang dia akan bawa pacarnya yang gantengnya di atas rata-rata, tapi nyatanya dia datang ke acara ulang tahun gue sendirian, hahahaha!!!" Loli tertawa membuat para tamu yang ada ikut tertawa.
Suara bisikan tamu-tamu yang menanyakan tentang orang yang dimaksud Loli itu semakin terdengar jelas bahkan sanpai ke telinga Cia.
"Siapa Lol?"
"Iya, siapa Loli?"
"Kasi tahu kita, Lol!
"Kita mau tau, Lol," teriak tamu-tamu yang kini sangat penasaran.
Fika semakin tersenyum bahagia, kali ini Cia akan benar-benar dipermalukan olehnya.
"Dia ada di tengah-tengah kita." Tatap Loli tajam menatap Cia yang terdiam.
Semua para tamu kini saling berbisik dan menatap satu sama lain menanyakan tentang orang yang dimaksud Loli.
"Orang itu adalaaaaaah...." Tatap Loli semakin tajam.
"Jagan Loli! Jangan sebut nama gue, please!"
"Devan lo di mana?"
"Please, Loli! Jangan sebut nama gue!"
"Gue nggak mau nangis!"
Cia menggeleng pelan menatap Loli dengan tatapan penuh harap.
"Adalaaaaah, Cia!!!" teriak Loli menunjuk.
"Cia?" tanya Haikal dan Adam kompak yang berdiri di belakang kerumunan para tamu yang kini saling berbisik.
Keduanya tak menyangka jika ada Cia di pesta ini. Terlebih lagi dengan Adam yang kini mengeliat di bahu Haikal. Adam tak menyangka jika kado yang ia siapkan tadi ternyata untuk gadis yang kini berdiri di atas panggung.
"Kal, kalau si Cia ada di sini berarti bos Ceo-".
"Diam lo!" pintah Haikal cepat berhasil membuat Adam menghentikan bisikkannya.
Adam yang nampak ketakutan itu kini mengerakkan kepalnya mencari sosok Devan.
Nafas Cia sesak ketika Loli berhasil menyebut namanya di atas panggung. Suara itu terdengar jelas dari speaker hitam yang terpasang di setiap sudut.
Semua orang menoleh menatap Cia yang nampak tertunduk di sana. Cia malu sangat malu.
"Kalian tau nggak? Cia datang ke acara ulang tahun gue karena apa?"
"Karena apa?" tanya mereka lagi kompak.
Suara tawa itu terdengar nyaring di telinga Cia membuatnya terasa sesak. Rasanya Cia ingin menghilang dari tempat ini, tempat yang penuh dengan ejekan kepadanya.
Cia mampu merasakan panas di wajahnya yang nampak memerah berusaha menahan malu.
"Lo di mana Devan? Gue butuh lo sekarang!"
"Gue nggak mau nangis!"
Cia masih tertunduk, tak berani menatap wajah-wajah para tamu yang kini masih menatapnya.
Cia menarik nafas panjang berusaha menyingkirkan kalimat Loli yang begitu menyayat hatinya. Cia nggak mau nangis!
"Ashia Akanksha!" panggil Loli.
Suara Loli terdengar jelas di speaker membuat semua orang kembali menoleh menatap tubuh lemas Cia yang kini masih berdiri kokoh.
Cia mampu mendengar suara penuh tekanan di sana. Tak berani mengangkat pandangannya.
"Ashia Akanksha!!! Gue panggil lo, Cia!!!"
"Liat gue!"
"Ayo liat gue!!!" Nada suara Loli meninggi.
Cia tak tahu harus berbuat apa kali ini. Tatapan Cia yang sedari tadi menatap ke lantai kini memburam menahan genangan air yang kapan saja siap runtuh.
Cia berusaha menahan, ia malu jika harus menangis di hadapan banyak orang. Terlebih lagi dengan Loli.
"Ashia akanksha liat gue!!!" teriak Loli memecah keheningan.
Perlahan Cia mengangkat tatapnya, memberanikan diri untuk menatap Loli yang nampak tersenyum sinis ketika berhasil menatap mata Cia yang nampak memerah.
"Mana pacar lo?"
"Gue penasaran sama pacar lo itu? Atau..."
"Lo cuman mau datang ke acara ulang tahun gue karna lo itu mau makan gratis, iya kan?"
"Tahan Cia! Lo jangan nangis!"
"Please!"
"Lo harusnya sadar! Lo itu hanya perempuan pemarah, egois, kasar dan brandal yang nggak bakalan di cintai apa lagi punya pacar."
Fika, Adelio serta para tamu lainnya hanya mampu terdiam menatap ibah kepada tubuh Cia yang masih berusaha berdiri kokoh.
"Ashia Akanksha!!!" teriak Loli lagi.
Cia menatap ke arah sisi lain tak sanggup menatap wajah Loli yang masih berusaha menyudutkannya. Air matanya masih menggantung, nyaris jatuh.
"Kasian banget hidup lo."
"Anak yatim yang nggak punya Ayah, kasian banget." Loli tertawa licik.
Mata Cia yang memerah itu kini terbelalak kaget, entah mengapa loli mengatakan tentang Ayahnya itu. Cia menggerakkan kepalanya menatap Loli.
"Apa? Lo nggak terima?"
"Lo harusnya sadar, Ci! Kalau hidup lo itu menyedihkan."
"Nggak punya Ayah."
"Dan lo punya Ibu yang udah tua. Gue rasa Ibu lo itu cocoknya jadi Nenek lo deh, bukanya Ibu." Loli tertawa lagi.
Seketika air mata Cia runtuh satu persatu, rasanya ada sesuatu yang menghantam keras dadanya, Sesak.
"Lo nggak terima? Itu semua fakta." Loli tertawa.
"Mana pacar lo?"
"Mana mungkin Cia punya pacar," tambah Marisa yang berada di dekat panggung sambil tertawa.
"Oh iya buat lo Ogi."
Ogi yang dari tadi memaingkan gitarnya kini mengerakkan kepalanya menatap mantannya itu, Loli.
Cia terkejut, jadi idolanya itu sudah ada di tempat ini dan sedari tadi menyaksikan dirinya di sudut kan. Cia tak berani menoleh menatap Ogi.
"Lo tau nggak kalau Cia itu suka sama lo." Tatap Loli sambil tersenyum licik.
Ogi yang mendengar kalimat itu kini menggerakkan kepalanya menatap gadis degan gaun hitam yang nampak mematung membelakanginya.